
Seorang perempuan ber-dress keemasan dengan rambut disanggul—menyemprotkan parfum ke tubuh. Perempuan itu mengoleskan lipstik merah ke bibir, menambah senyuman sebagai sentuhan terakhir.
Perempuan itu berdiri. Dia menatap dirinya sendiri lewat pantulan cermin. Wajah cantik walau sudah mulai menua masih terpancar di wajah Sinta. Perempuan berumur 50 tahunan itu berjalan keluar dari kamar besarnya.
Langkah kakinya yang memakai sepatu hak menggema di seluruh ruangan rumah. Wanita itu nampak elegan sekarang. Sinta menuju ruang meja makan, di sana sudah tersaji berbagai jenis makanan. Tertata rapi, dengan piring dan gelas dibalik dengan kain putih di bawahnya. Lilin-lilin menyala di beberapa sudut meja makan panjang yang dilapisi oleh kain merah dengan hiasan keemasan di sekelilingnya.
Sempurna. Meja itu tampak sempurna, aura mewah bisa terpancar hanya dengan meja itu. Dari meja makannya saja kita bisa menebak seberapa anggunnya keluarga Dirgantara ini.
"Bunda." Suara Eleena, membuat Sinta menoleh. Dia mendekati anak gadisnya yang tampak kesusahan dalam mengikat tali di ikatan rambutnya.
Perempuan dengan rambut dikuncir setengah itu dipakaikan tali berwarna biru oleh ibunya. Tangan Sinta bergerak membentuk pita dari tali berwarna biru yang tadi Eleena pegang.
Eleena berbalik badan, tersenyum ke arah Sinta. Gadis itu berputar di depan Sinta, menunjukkan pada ibunya betapa indahnya gaun yang dia pakai hari ini.
Dress putih panjang sampai di atas mata kaki di bagian belakang tapi bagian depannya, panjang dress itu hanya sampai di bagian pahanya saja. Dengan kerah biru terpisah yang dipasang oleh Eleena serta tali pinggang putih yang melingkar di pinggangnya. Eleena yang bertubuh tidak tinggi itu memakai sepatu hak putih untuk acara makan malam hari ini.
"Cantik banget anaknya, Bunda." Sinta mencubit dagu Eleena gemas.
"Teman-teman Non El, kapan sampai di sini?" Seorang pelayan bergaun hitam putih seragam dengan pelayan di sebelahnya menghampiri Eleena dan Sinta.
"Bentar lagi, Mbak. Tunggu ya." Setelah mendengar jawaban Eleena, kedua pelayan berseragam senada itu pergi dari sana. Mereka kembali ke dapur, menyiapkan segalanya jikalau nanti ada kekurangan.
"Cantik banget, Bun. Bunda niat banget ih." Eleena mengelilingi meja makan yang sudah dihias sedemikian rupa itu. Mata Eleena dimanjakan dengan pemandangan itu. Gadis itu mengangkat pandangannya menatap Sinta. Meja makan saja bisa seindah ini jika dirancang oleh Sinta, Eleena tidak heran kenapa lukisan Sinta bisa membuat Arjuna jatuh cinta.
Karena memang benar, setiap yang dilakukan oleh Sinta adalah sebuah keanggunan dan keindahan.
"Bunda kira ini nggak bagus, Bunda takut," adu Sinta, mendekati Eleena.
"Ini bagus banget, Bun. Lebih dari bagus malah." Eleena mengelak ucapan Sinta. "Bunda ngapain sih, sampai sebegininya cuma buat ngundang Wisnu makan malam?" Pertanyaan itu keluar dengan begitu mulus dari mulut Eleena.
"Ya nggak papa, kesempatan karena Ayah kamu nggak ada di rumah."
Arjuna sedang melakukan perjalanan ke luar kota selama satu minggu lamanya. Sejak tiga hari lalu, Arjuna sudah tidak ada di rumah. Melihat kesempatan itu, Sinta berinisiatif mengadakan makan malam bersama orang lain di rumah mereka.
Wisnu Putra Aksanta. Hanya karena nama itu, dia bertengkar dengan Arjuna. Mereka tidak berbicara selama hampir tiga hari, dan itu hanya karena Putra Aksanta itu saja. Butuh waktu lama Sinta bisa mendapatkan perhatian Arjuna lagi.
Sejujurnya, mengundang Wisnu saat ini adalah salah satu hal ternekat yang pernah Sinta lakukan, selain dia pernah berpacaran dan kawin lari dengan Rama di masa lalu. Sinta pikir, tidak akan ada anggota Aksanta yang menarik perhatiannya lagi, tapi ketika pertama kali mata wanita itu bertemu dengan Wisnu, dia jatuh cinta dengan anak itu saat itu juga. Sinta mengundang Wisnu ke makan malam hari ini untuk membuktikan bahwa dengan adanya anggota Aksanta tidak akan mengubah apapun dalam hidupnya sekarang. Tidak akan ada efek buruk seperti yang dibicarakan Arjuna. Sinta ingin membuktikan bahwa hidupnya akan baik-baik saja meskipun dia berhubungan dengan Wisnu Putra Aksanta.
__ADS_1
Kaki-kaki itu melangkah masuk ke dalam sebuah pekarangan rumah besar. Salah satu tangan dari kumpulan orang itu memencet bel tempat kediaman keluarga Dirgantara. Keempat orang laki-laki dengan pakaian yang berbeda-beda berdiri di depan pintu bercat putih gading, menunggu pintu besar itu terbuka dan membiarkan mereka masuk ke dalam.
"Biar El aja." Eleena buru-buru membuka pintu utama rumah mereka. Tangan mungilnya membuka pintu besar itu dengan gagahnya.
Ada empat laki-laki yang berdiri di depan pintu bercat putih gading itu, tapi iris cokelat Eleena malah langsung menemukan iris hazel Wisnu.
Mereka tidak ada niatan untuk bertatapan, tapi setiap iris Eleena menatap iris hazel Wisnu, tatapan lelaki itu berubah menjadi sangat dalam. Eleena tak bisa menahan diri untuk tidak tenggelam pada tatapan itu.
"Indah," batin Eleena, semakin tenggelam pada iris hazel lelaki itu. Iris hazel Wisnu adalah hal terindah yang pernah Eleena lihat dari lelaki itu. Banyak orang di luar sana yang mempunyai iris hazel yang sama, tapi milik Wisnu ini berbeda. Iris hazel milik Wisnu seakan menyimpan begitu banyak hal sampai Eleena terhanyut di dalamnya. Iris hazel itu seakan memiliki magnet kuat sampai-sampai Eleena ditarik dan tak bisa lepas lagi.
"Halo, El!" Sapaan dari Arfin, membuyarkan semua tatapan. Eleena dengan kaku menoleh ke arah Arfin yang berada di sebelah kanan Wisnu.
Laki-laki itu merekahkan senyum. Menyodorkan sebuah kotak berwarna putih pada Eleena.
"Senada lagi," kata Arfin menyamakan warna dress Eleena dan warna kotak yang dia pegang. "Kita selalu sehati," lanjutnya dibarengi dengan kekehan di akhir.
"Hati kita selalu nyala." Eleena membalas dengan gaya yang sama seperti Arfin. Gadis itu mengambil kotak putih dari Arfin.
"Hadiah," ucap Arfin.
"Seharusnya nggak usah repot-repot. Kan Tante yang ngundang, kalian nggak perlu bawa hadiah." Sinta datang dari belakang menghampiri Eleena bersama keempat lelaki itu.
Wisnu masuk lebih dulu ke dalam rumah milik keluarga Dirgantara itu, baru setelah itu disusul dengan Arfin, Baim dan Gilang.
"Ini buat Tante." Wisnu menghampiri Sinta, memberikan kotak hadiah berwarna putih dengan pita emas di atasnya. Kotak itu cukup besar, lebih besar dari milik Arfin tadi.
Sinta dengan senang hati menerima hadiah itu. Lalu aktivitas mereka selanjutnya adalah berpelukan. Wisnu merasakan hangat dan nyaman dalam pelukan Sinta dan Sinta menemukan sebuah hal yang hilang dari dirinya dengan memeluk Wisnu.
Sinta melepas pelukannya, memberi elusan di surai rambut Wisnu. Laki-laki itu tersenyum malu. Dan itu merekahkan senyumannya. Mata Eleena membulat, dia tidak pernah tahu kalau Wisnu bisa senyum selebar itu. Tersenyum kecil saja sudah sebuah hal yang sulit untuk Wisnu tapi sekarang dia tersenyum dengan begitu lebar hanya karena elusan dari Sinta.
"Ini teman-teman saya Tante." Wisnu menyuruh ketiga lelaki itu untuk maju dan mendekat. Dia juga memberi isyarat agar mereka menyalami Sinta.
"Halo semuanya," ucap Sinta begitu lembut namun penuh semangat dan sangat ramah.
"Nama kalian siapa ya kalau boleh tahu?" tanya Sinta.
"Saya Arfin Tante."
__ADS_1
"Nama lengkapnya, Nak." Sinta menegaskan tapi dengan menunjukkan wajah baik hati. Buktinya saja perempuan itu tersenyum sebagai tanda penegasan.
Arfin cengengesan, menggaruk tengkuknya yang tak gatal. "Arfin Fano Alyas, Tan."
"Arfin Fano Alyas. Alyas, kamu anak keluarga Alyas ya?" Sinta berpikir sejenak saat Arfin menyebutkan namanya. Nama belakang Arfin terdengar tidak asing. Dia pernah mendengar ataupun membaca itu.
"Iya Tante. Saya anak bungsunya," jawab Arfin.
Sinta sedikit membuka mulutnya pertanda bahwa kegirangan karena tebakannya benar. Wanita itu pernah bertemu dengan keluarga Alyas saat acara perusahaan tahun lalu. Arjuna yang memperkenalkannya.
"Ih, seneng banget ada anak Alyas di sini." Sinta berucap seperti itu dengan sedikit menggoda Arfin.
"Biasa aja kok Tan, justru saya yang beruntung bisa diundang dinner di keluarga Dirgantara."
"Sama-sama beruntung." Eleena datang menyela pembicaraan Sinta dan Arfin. Kalau tidak begitu bisa panjang pembicaraannya nanti, hanya karena perihal siapa yang beruntung. Eleena sangat tahu seperti apa sifat Sinta dan Arfin. Mereka berdua itu sama.
"Ah iya." Sinta menyetujui. "Nama kamu, Nak?" Sinta menunjuk Gilang.
"Gilang Andrata, Tan. Saya teman Wisnu." Gilang menjawab sopan.
"Ya jelas teman Wisnu lah, kalau buka teman Wisnu, mana saya undang kamu." Sinta menjawab spontan, dan itu sedikit mengagetkan Wisnu serta yang lain. Siapa sangka bahwa Nyonya Dirgantara ini seasik itu ternyata.
Arfin dan Wisnu menertawakan Gilang yang malu karena tembakan Sinta sangat tepat sasaran.
"Kamu?" Sinta menunjuk Baim.
"Saya Baim Surya Tan. Panggil Baim aja," jawab Baim dengan gaya tengilnya seperti biasa. Melihat Sinta yang tak terlalu kaku, Baim rasa dia bersikap seperti dia yang biasanya, dalam artian tidak perlu sok pendiam.
"Saya Wisnu, Tante." Wisnu menyambung.
"Dah tahu." Sinta membalas ketus, memberi pukulan kecil di lengan Wisnu. Wisnu tertawa, dia bahkan mendekatkan dirinya ke Sinta, selayaknya seorang anak yang manja pada ibunya.
"Tante lucu," ucap Wisnu mengeluarkan nada manja sebagaimana dia berbicara pada Meethila di rumah.
Eleena semakin membulatkan mata mendengar dan melihat ini semua. Dia baru tahu kalau Wisnu punya sikap seperti ini. Siapa sangka Sinta yang baru bertemu dan mengenal Wisnu bisa membuat lelaki angkuh nan kasar itu bersikap manja padanya.
"Kaget kan? Wisnu emang gitu kalau udah nyaman. Masih banyak hal tentang dia yang harus lo tahu?" Arfin mendekat dan membisikkan hal itu pada Eleena.
__ADS_1
Arfin benar, banyak hal yang belum Eleena ketahui tentang sosok yang menjadi pacarnya itu.