Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Bantuan Eleena


__ADS_3

"Tolong kirimkan satu ciptaan-Mu untuk membantuku, Tuhan," batin Wisnu saat dia bisa melihat kalau jarak mobil dan dirinya hanya dua langkah saja.


Ketika sudah satu langkah lagi tersisa, Wisnu menggunakan sisa tenaganya yang ada untuk mendorong kuat salah satu pria di sebelah kirinya agar pria itu tumbang. Dan rencana Wisnu ini berhasil, dorongan dari Wisnu melepaskan cengkraman tangan pria itu dari bahunya.


Wisnu kembali lagi seperti tadi mencoba berlari dalam keadaan kaki yang melemas. Keadaan Wisnu yang sudah sangat lemah menjatuhkan tubuhnya saat dia baru saja beberapa langkah berlari dari mereka.


"Tuan, jangan memberontak lagi, itu hanya akan menyakiti Anda," ujar salah satu pria begitu melihat Wisnu terjatuh.


Mereka kembali menarik Wisnu untuk berdiri. Wisnu masih menggeleng meskipun cairan merah kental sudah keluar dari salah satu lubang hidungnya.


"Saya tidak akan pulang," balas Wisnu pelan hampir tidak terdengar karena lemahnya kondisi tubuhnya sekarang.


Mereka membawa Wisnu mendekati mobil seperti tadi dan sama seperti tadi juga Wisnu memberontak untuk yang kesekian kali. Berteriak untuk minta dilepaskan walaupun tenaganya sudah hampir habis.


Dan keajaiban itu ada. Sebuah mobil merah tiba di tempat itu, dari dalam mobil itu seorang gadis melihat ada seorang laki-laki yang sepertinya sedang dipukuli oleh beberapa pria. Tanpa pikir panjang gadis itu membawa mobilnya mendekati para pria dan lelaki malang itu.


Mobil merahnya ia hentikan di sebelah mobil hitam. Buru-buru ia keluar dari dalam mobil, menghampiri lelaki malang yang tidak berdaya itu.


"Berhenti!" lantang Eleena begitu dia bisa melihat para pria itu. Iris hazel Wisnu kembali bertemu dengan iris cokelat Eleena untuk kesekian kali.


Namun bukan tatapan tajam yang Eleena lihat, merupakan tatapan lemah dan pasrah yang tampak dari lelaki yang sudah babak belur ini.


"Lepaskan dia!" perintah Eleena.


Para pria itu tertawa mendengar ucapan Eleena. Mereka meremehkan Eleena, mereka tidak tahu Eleena itu siapa. Gadis itu melangkah untuk mendekat.


"Kamu siapa?" tanya salah satu pria, menghentikan langkah Eleena.


"Apa kamu ada hubungannya dengan Tuan Wisnu?" tanya pria yang lain.


Eleena tidak langsung menjawab, dia menatap Wisnu terlebih dahulu. Pandangan Wisnu yang sayu dan kondisi tubuhnya yang begitu buruk, Eleena tidak tega untuk mengatakan dia tidak berhubungan dengan Wisnu.


"Saya, temannya Wisnu," jawab Eleena mantap.


Pandangan Wisnu yang semulanya menatap jalanan, kini ia angkat perlahan setelah mendengar jawaban Eleena. Gadis yang selama ini ia benci dan ia rusuhi, hari ini gadis itu menjawab dengan lantang dan menatap para pria bertubuh kekar tanpa rasa takut sedikitpun.


Gadis yang bertubuh lebih kecil dari Wisnu sangat berani membalas tatapan tajam dan menakutkan dari para pria ini.


"Saya mau, kalian lepaskan Wisnu," perintah Eleena lagi.


Salah satu pria itu maju berdiri di hadapan Eleena.


"Kamu nggak usah ikut campur, ini urusan kami dengan Tuan Wisnu."


Eleena mendengus dia memunculkan kekehan. "Kalau Tuan Rama tahu apa yang kalian lakukan pada anaknya, sudah dipastikan kalian akan dipecat. Hidup kalian akan tamat." Eleena begitu lantang mengatakan itu. Padahal ucapannya itu salah. besar, karena Rama-lah dalang di balik ini semua.


"Ini perintah Tuan Rama. Mereka meminta kami untuk membawa Tuan Wisnu." Senyuman yang tadi Eleena perlihatkan karena merasa dirinya keren sudah mengatakan kata-kata itu pada para pria ini seketika menghilang. Eleena dibuat bungkam dengan jawaban dari pria di depannya ini.


Eleena agak sedikit memiringkan kepala agar bisa melihat Wisnu. Gadis itu merasa prihatin terhadap Wisnu. Dia tidak menyangka kalau Rama tega melakukan ini pada anaknya sendiri. Eleena memang tidak tahu apa masalah yang terjadi pada Rama dan Wisnu tapi kekerasan bukan jalan keluar.


Yang dibicarakan oleh neneknya itu benar, Keluarga Aksanta sangat kasar, mereka sering melakukan kekerasan bahkan terhadap anak mereka sendiri, satu-satunya penerus keluarga.

__ADS_1


Eleena berlari menerobos pria besar di hadapannya, ia mendekati Wisnu dan memberi sedikit pukulan pada pria yang memegangi Wisnu itu.


Wisnu terjatuh, lelaki itu melihat bagaimana Eleena menyerang para pria yang bertubuh lebih besar darinya. Eleena memberi mereka tunjangan di area vital untuk melemahkan mereka. Eleena juga melayangkan pukulan dari ranselnya.


Wisnu begitu kagum dengan Eleena yang begitu mudah menghajar para pria di depannya. Wisnu tidak bisa melakukan apa-apa. Para pria itu sibuk dengan Eleena yang menyerang. Namun Wisnu tidak tinggal diam, dia berusaha untuk berdiri.


Eleena yang melihat Wisnu yang sudah berdiri, meneriakkan sesuatu. "Wis, lari ke mobil gue!"


Wisnu mengangguk lemah, memegangi perutnya yang masih terasa nyeri. Dia mencoba melangkah tapi rasa pusing dan pandangannya yang mulai memburam membuat Wisnu agak kesulitan untuk berjalan.


Dan kondisi Wisnu itu dimanfaatkan salah satu dari mereka untuk mendekati lelaki itu. Eleena tidak tinggal diam, tangan gadis itu meraih sebuah tongkat yang tergelak di jalanan, dia memukul bagian belakang kepala pria itu sebelum dia berhasil menggapai Wisnu.


"Wis, ke mobil gue!" teriak Eleena lagi.


Gadis itu menyodorkan tongkat kayu itu pada pria yang hendak mengepungnya. Eleena memukul mereka, tapi tongkat itu ditangkap oleh tangan pria besar di depan Eleena.


Eleena mulai panik, dan Wisnu masih berusaha mencapai mobil Eleena yang sebenernya tidak jauh. Karena keadaannya yang sangat lemas Wisnu berjalan sangat lambat.


Eleena menendang bagian bawah pria di depannya ini. Gadis itu berlari menghampiri Wisnu. Dia menarik Wisnu menuju mobilnya. Gadis itu membuka pintu mobil dan memasukkan lelaki itu ke dalam. Eleena buru-buru masuk ke dalam mobilnya, dia melajukan mobilnya cepat sebelum para pria itu berhasil mengejar mereka.


Eleena semakin menambah laju mobil begitu dia melihat para pria itu mengejarnya menggunakan mobil dan juga motor. Eleena melajukan mobil itu melebihi kecepatan yang biasanya Wisnu lakukan. Wisnu agak sedikit terkejut dan takut karena tingkat kecepatan ini sangat berbahaya.


Eleena membawa mobilnya berbelok ke arah kanan. Wisnu bisa melihat walaupun samar ada sebuah rumah besar tak jauh dari sana. Eleena memencet klakson mobilnya berkali-kali agar para penjaga di sana mendengar dan segera membuka gerbang untuknya.


Syukur para penjaga di rumah Eleena sangat cekatan, begitu mendengar suara klakson yang begitu panjang mereka langsung membukakan gerbang karena tahu itu adalah mobil Eleena. Begitu mobil Eleena memasuki pekarangan rumahnya, gerbang itu buru-buru ditutup, tak membiarkan orang suruhan Rama untuk masuk ke dalam.


Mobil hitam itu berhenti dan dua motor di belakang juga ikut berhenti. Mata salah satu pria di dalam melihat nama yang terpampang di depan rumah besar itu. Mereka tiba di kediaman keluarga Dirgantara.


Pria itu mengeluarkan ponsel dari dalam saku dan kembali menghubungi Rama.


"Wisnu sudah pulang?"


"Maaf Pak, saat kami ingin membawa Tuan Wisnu pulang, tapi ada seorang gadis yang membawa Tuan Wisnu kabur—"


"Nggak guna!" potong Rama kasar. "Bisa-bisanya kalian kalah sama seorang gadis? Dasar nggak berguna!"


"Maaf, Pak."


"Sekarang kalian di mana?"


"Di kediaman keluarga Dirgantara, Pak. Tadi Tuan Wisnu di bawa ke sini."


"Kediaman Dirgantara?"


Pria itu mengangguk, "Iya, Pak."


"Kalian pergi dari sana sekarang, jangan buat keributan apapun. Urusan Wisnu biar saja yang urus," jelas Rama.


"Baik, Pak."


Panggilan itu berakhir. Pria yang menghubungi Rama memberi isyarat pada pria yang duduk dibangku kemudi untuk pergi dari sana. Mobil hitam itu pergi diikuti oleh dua motor di belakangnya.

__ADS_1


Dan di sini, Eleena sedang membopong Wisnu untuk masuk ke rumahnya. Wisnu yang lemah tapi tetap saja berat.


"El." Sinta mendekat begitu dia melihat Eleena membopong seorang lelaki. Sinta melihat lelaki itu intens, ini lelaki yang sama yang waktu itu ia temui di kampus dan juga pusat perbelanjaan.


"Teman kamu kenapa?" tanya Sinta panik.


"Dia dipukuli orang jahat, Bun," jawab Eleena. Eleena tampak sangat keberatan membawa Wisnu yang setengah sadar, Sinta yang menyadari itu membantu Eleena untuk membawa Wisnu ke kamar tamu. Mereka membaringkan tubuh Wisnu.


"El, kamu rawat dia sebentar ya, Bunda mau telepon Dokter dulu," kata Sinta keluar dari kamar.


Eleena juga ikut keluar dari kamar itu. Dia pergi ke kamarnya mengambil kotak P3K yang ada di sana. Eleena sedikit berlari setelah menemukan kotak itu agar tidak terlalu lama membiarkan Wisnu sendiri di kamar tamu.


Eleena membuka kotak itu. Hal pertama yang dia lakukan membersihkan darah dari wajah Wisnu. Banyak sekali cairan merah yang terlihat dari lelaki satu ini.


"Sorry ya, nggak bisa bawa lo ke rumah sakit. Gue panik tadi, lagian rumah sakit juga lumayan jauh kalau dari sini," ucap Eleena membersihkan luka di dahi Wisnu. Wisnu agak meringis begitu kapas Eleena menyentuh luka di dahinya.


"Kenapa lo nolong gue?" tanya Wisnu pelan.


Eleena berhenti sebentar, bahkan disaat seperti ini pun lelaki satu ini tetap saja bertingkah angkuh.


"Cuma gue yang ada di sana. Kalau gue tinggal lo bisa mati," balas Eleena ketus.


"Kok bisa lo lewat jalan itu? Itu jalanan sunyi," tanya Wisnu lagi. Meskipun keadaannya sangat lemah sekarang dia tidak bisa untuk mengistirahatkan bibirnya sebentar.


"Lo sendiri kenapa di sana?" balas Eleena balik bertanya. Wisnu diam, dia juga bingung bagaimana menjawab pertanyaan gadis yang sedang membersihkan lukanya ini.


"Jalan itu dekat kalau mau ke kampus. Gue sering kok lewat jalan itu." Eleena mulai menjawab, pandangan Wisnu kembali tertuju pada Eleena.


"Kalau gue lewat jalan biasa, bisa-bisa gue telat ke kampus apalagi jalan itu sering macet." Eleena benar, jalanan yang biasa Wisnu lewati untuk sampai ke kampus sangat sering terkena kemacetan.


"Lo berani banget," ucap Wisnu seperti berbisik.


Eleena terkekeh kecil, "Gue udah biasa, Wis. Dan kebetulan hari ini gue ketemu sama lo di jalan yang sering gue lewatin." Eleena meletakkan kapas yang sudah ia gunakan untuk membersihkan luka di dahi Wisnu.


"Gue ketemu sama lo hari ini takdir," lanjut gadis itu membersihkan darah yang keluar dari hidungnya.


Iris Wisnu tidak bisa lepas dari gadis yang fokus mengobati lukanya ini. Eleena begitu baik hati, Wisnu tidak pernah menyangka hal ini. Jantung Wisnu kembali berdetak lebih kencang dari biasanya apalagi saat mereka berdua terlampau sangat dekat. Seakan-akan Eleena akan jatuh menimpa tubuhnya yang kini terbaring tak berdaya.


"El, Dokternya udah datang," ujar Sinta begitu tiba bersama dengan seorang pria yang memakai jas putih khas para dokter.


Eleena berdiri, dia meletakkan kapas yang tadi ia gunakan untuk membersihkan luka Wisnu.


"Kamu pergi ke kampus, Sayang. Biar teman kamu Bunda yang jaga." Eleena menurut, dia memakai ranselnya lagi dan memeluk Sinta sebelum pergi.


Eleena berhenti saat dia sudah melewati pintu kamar. Gadis itu berbalik badan, dia memanggil ibunya.


"Bun, kalau ada orang yang nyari Wisnu jangan dikasih tau ya dia di rumah kita. Takutnya orang jahat yang mau nyakitin Wisnu datang lagi," ujar Eleena. Sinta mengangguk sembari tersenyum. Tatapan Sinta seakan meyakinkan Eleena kalau Wisnu akan baik-baik saja berada di rumah ini.


Eleena menatap Wisnu sejenak yang ternyata dibalas oleh Wisnu. Kedua iris mereka sempat bertemu beberapa saat sebelum Eleena berbalik badan dan menghilang dari pandangan Wisnu.


"Takdir yang ngatur pertemuan kita, El. Seharusnya gue sadar kita akan terus berhubungan," batin Wisnu.

__ADS_1


Lelaki itu bahkan tidak fokus lagi pada dokter yang memeriksa keadaannya. Ia terlalu terlena karena Eleena. Saat bersama Eleena rasanya berbeda. Bagaimana gadis itu melawan para pria menyeramkan itu, memberi mereka tatapan tajam, bahkan membawa Wisnu melarikan diri dari mereka sampai mengobati lukanya, Eleena begitu hebat. Mungkin kata hebat saja tidak cukup untuk Wisnu ucapkan pada Eleena.


Wisnu sekarang mengetahui apa alasan Arfin sampai bisa jatuh pada gadis itu. Tatapannya yang teduh, irisnya yang cantik dan kelembutan di setiap sentuhan yang ia dapat kala Eleena mengobati luka, semua itu begitu istimewa. Wisnu sekarang mengakui, Eleena begitu istimewa.


__ADS_2