Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Surat pemanggilan


__ADS_3

Plakk


"Anak nggak tahu diri!" bentak Rama setelah memberi tamparan kepada anaknya. Karena kuatnya tamparan yang diberikan Rama, Wisnu terjatuh ke belakang, punggungnya menghantam sofa yang ada di belakang. Wisnu bisa merasakan punggungnya mulai terasa nyeri.


"Sayang." Meethila menghampiri Wisnu. Dia membantu putranya itu untuk berdiri. "Semuanya bisa diselesaikan baik-baik. Kamu nggak perlu mukul Wisnu kayak gini, dia anak kamu Ram," ucap Meethila memegangi tubuh Wisnu yang oyong.


"Justru karena dia anak aku, aku punya hak mukul dia. Bahkan aku juga bisa bunuh dia sekarang!"


"Rama!" jerit ibunya. "Ini cuma kesalahan kecil, kamu nggak perlu marah sebesar ini ke Wisnu."


"Ini bukan kesalahan kecil, Ma." Rama menutup matanya sejenak menstabilkan emosi yang sudah meluap di dalam dirinya. "Bisa nggak, Mama sama Meethi nggak usah belain Wisnu terus. Dia jadi anak pembangkang gara-gara kalian!" pekik Rama.


"Emangnya ada apa sih? Kenapa kamu semarah itu sama Wisnu?" Meethila bertanya pada Rama tapi matanya menatap Wisnu. Tangan Meethila tidak lepas dari Wisnu, dia terus menopang tubuh Wisnu dengan tangannya.


"Anak nggak tahu diri ini buat masalah lagi!"


"Bukan aku yang salah, Pa!" balas Wisnu meninggikan suaranya. "Cewek rese itu yang mulai semuanya!" Meethila mengelus-elus pundak Wisnu bermaksud menyuruh Wisnu untuk tenang.


"Introspeksi diri, Wis. Jangan suka nyalahin orang lain terus," ujar Rama. Rama melempar surat yang ada ditangannya ke wajah Wisnu. "Papa udah bilang sama kamu, jangan berteman sama mereka. Kamu berteman sama Arfin aja jangan sama dua teman kamu yang miskin itu. Itu bawa pengaruh buruk ke kamu!" tegas Rama.


"Jangan bawa teman-teman aku dalam hal ini, Pa. Mereka nggak ada kaitannya," jawab Wisnu. Meethila berjongkok mengambil surat yang dilempar Rama tadi.


"Jelas ada. Kamu berteman sama orang miskin, makanya tingkah kamu sama kayak orang miskin!"


"Papa!" bentak Wisnu, mengepalkan tangannya. "Jangan bawa teman-teman aku," ulang Wisnu.


Meethila membaca isi dari surat itu. Surat yang ternyata adalah surat pemanggilan untuk kedua orang tua Wisnu atas masalah yang terjadi hari ini di kampus. Kejadian yang membuat sebagian mahasiswa menengok ke Wisnu dan Eleena.


"Memalukan, kan dia," ucap Rama mengambil kasar surat dari tangan Meethila. "Saya nggak akan pernah datang ke kampus kamu lagi. Itu buat malu saya!" Rama kembali melempar surat pemanggilan itu ke wajah Wisnu.


Rama pergi dari sana diikuti oleh ayah dan ibu Rama. Meethila menyuruh Wisnu duduk, dia menuangkan minum untuk Wisnu. "Minum dulu, Sayang." Meethila menyodorkan segelas air itu ke Wisnu.


"Wis, kamu tunggu di sini ya, mama nanti balik lagi. Mama mau nenangin papa kamu dulu." Meethila mengelus pundak Wisnu. "Ucapan papa kamu tadi, jangan dimasukin ke hati ya." Meethila bangkit berjalan menyusul Rama dan kedua orang tuanya.


"Gila!" Wisnu memukul meja di depannya.


Meethila mengejar Rama dan kedua orang tuanya. "Rama!" panggil Meethila saat ia tiba di ruang tamu rumah mereka.


"Rama, aku pikir kita harus bicara tentang masalah Wisnu dan mengambil jalan keluarnya." Meethila menaruh telapak tangannya dipundak Rama namun segera ditepis oleh sang empu. Meethila tak mempermasalahkan hal itu, dia sudah biasa mendapat perlakuan seperti ini dari Rama.


"Ram, seharusnya kita mendengar cerita dari Wisnu, kan. Jangan langsung mukul dia kayak tadi, dia anak kamu, darah daging kamu," jelas Meethila. Rama duduk di sofa, meneguk air untuk menenangkan diri.

__ADS_1


"Yang dibilang Meethi benar, siapa tahu memang bukan Wisnu yang salah," balas ibu Rama. "Kasih kesempatan anak kamu untuk bicara, Ram," lanjut ibunya.


"Mau sampai kapan?" Rama bangkit. "Mau sampai kapan kalian belain anak nggak guna kayak dia. Dia cuma bisa buat masalah, buat malu nama keluarga!" pekik Rama.


"Jangan gitu, dia anak kamu." Ibu Rama mengelus pundak anaknya.


"Ram, kamu sayangi Wisnu sama kayak anak kamu sayang ke kamu." Meethila mendekati suaminya, memegang tangannya malau langsung dihempaskan.


"Kalau dia sayang sama aku dia nggak akan buat malu nama aku, Meet!" bentak Rama.


"Kamu jangan kasar sama istri kamu, Rama!" Kali ini ayahnya Rama ikut berbicara.


Rama mendengus, "Semuanya aja nggak boleh!" teriak Rama. "Aku marah sama Wisnu nggak boleh karena dia cucu kesayangan Mama, aku marah sama Meethi juga nggak boleh karena dia menantu kesayangan kalian. Mau apa sih sebenarnya?!" Rama membanting vas bunga dari meja. Kepingan kaca berserakan di lantai karena vas bunga yang pecah.


"Ram." Meethila di dorong oleh Rama hingga wanita itu terjatuh saat ia hendak mendekati Rama.


"Mama!" jerit Wisnu, yang dari tadi melihat keributan antara Rama dan yang lainnya. Wisnu menghampiri Meethila yang terjatuh di lantai, syukurnya bukan di tempat yang penuh dengan pecahan kaca.


"Papa udah gila!" umpat Wisnu. "Diam kamu!" bentak Rama.


"Ini semua gara-gara kamu, Wis! Kamu jadi anak nggak berguna buat keluarga." Wisnu membantu Meethila berdiri, memegang tubuh ibunya sembari mendekati Rama. "Aku nggak akan jadi berguna, kalau punya ayah kayak anda," cetus Wisnu di depan mata Rama.


"Wisnu!" Meethila menangkap tangan Rama yang ingin memukul Wisnu lagi. Wanita itu menggeleng pada suaminya. Rama menghempaskan tangan Meethila kasar. Menendang kaki meja yang ada di sana.


"Rama, jangan bicara seperti itu kepada istri kamu," peringat ibu Rama padanya.


"Dia menantu pilihan Mama, bukan istri pilihan aku. Dia menantu dan ibu terbaik buat kalian, tapi bukan istri terbaik buat aku."


"Papa!" Wisnu hendak menonjok Rama, tapi dengan cepat Meethila menghentikan anaknya itu. "Aku nggak pernah ngasih Papa hak untuk ngehina Mama aku," ujar Wisnu. "Papa boleh benci sama aku, tapi jangan pernah benci sama Mama," sambungnya.


"Banggakan aja terus dia, istri yang nggak bisa ngasih keturunan." Air mata Meethila langsung turun saat itu juga. Wanita itu tidak mengharapkan hal ini dari Rama.


"Meethi, kalau aja rahim kamu nggak bermasalah, aku nggak akan punya anak kayak dia." Meethila mengangguk pelan, "Maaf," cicitnya.


Rama berganti menatap ibunya, "Mama salah pilih pasangan buat aku," hardik Rama pergi dari ruangan itu. Rama menghentikan langkahnya, melirik ke orang-orang yang di belakangnya.


"Satu lagi, saya nggak akan ke kampus kamu. Kamu bisa suruh Mama kebanggaan kamu itu untuk datang ke sana," jelas Rama benar-benar pergi meninggalkan kekacauan yang terjadi karenanya.


Meethila menangis mengingat bagaimana kejamnya perkataan Rama kepada dirinya. "Mama kenapa sih?" Meethila mendongak menatap Wisnu. "Kenapa Mama diam aja? Kenapa Mama diam waktu papa ngomongin Mama yang enggak-enggak. Wisnu benci sama Papa, Wisnu juga benci sama Mama yang mau dikasari terus sama papa. Wisnu benci semua orang di rumah!" teriak lelaki itu merasa frustasi.


Wisnu berlari pergi dari ruangan itu. "Wisnu," panggil Meethila mengejar anaknya. Wisnu masuk ke kamar, menutup kasar pintu kamar dan mengunci pintu kamarnya. Lelaki itu terduduk dibalik pintu kamar, mulai meneteskan air mata walau Meethila terus mengetuk-ngetuk pintunya berkali-kali tapi Wisnu tak juga membukakan pintu untuk ibunya.

__ADS_1


"Maafin Wisnu, Ma. Aku cuma beban buat Mama, seharusnya Mama nggak ditakdirkan buat jagain aku," lirih Wisnu menatap kosong jendela kamar.


...******...


"Siapa namanya? Kamu bermasalah sama siapa?" tanya Arjuna, saat ia selesai membaca surat pemanggilan dari kampus yang baru diberikan Eleena padanya.


"Sama cowok nyebelin yang waktu itu El ceritain Ayah," balas Eleena yang masih jengkel karena sikap Wisnu tadi.


"Nama. Ayah nanya nama," tegas Arjuna. Eleena sedikit tersentak saat Arjuna menatapnya tajam, membuat Eleena merasa terintimidasi.


"Itu, Wisnu. Wisnu Putra Aksanta—" Arjuna sigap membekap mulut Eleena dengan tangannya. Dia menggeleng, "Jangan sebut nama itu di sini." Arjuna menarik tangan Eleena melihat-lihat sekeliling untuk memastikan keadaan aman. "Ikut Ayah." Arjuna membawa Eleena masuk ke salah satu kamar yang ada di rumah mereka.


"Dengerin Ayah, El. Jangan pernah sebut nama 'Aksanta' di sini. Apalagi di depan bunda kamu," peringat Arjuna. Eleena mengangguk kaku.


"Masalah kamu di kampus, besok ayah aja yang datang. Jangan biarin bunda kamu datang ke kampus," ucap Arjuna.


"Tapi kenapa? Kenapa bunda nggak boleh tahu? Kan bagus kalau bunda tau, biar si cowok nyebelin itu dapat balasan," ujar Eleena.


Arjuna menggeleng, "Bunda kamu nggak boleh tau. Titik." Arjuna keluar dari kamar meninggalkan banyak teka-teki dikepala Eleena. "Ayah kenapa sih?" Eleena menggaruk kepalanya bingung atas sikap Arjuna barusan.


"Ar." Langkah Arjuna terhenti saat Sinta memanggilnya. "Ini apa?" Sinta menyodorkan surat yang tadi dibaca Arjuna.


"El buat masalah dan kamu nggak ngasih tau aku." Arjuna mengambil surat itu dari tangan Sinta menaruhnya kembali di atas meja.


"Itu, cuma masalah kecil, Sin. Besok aku datang aku beresin semuanya," ucap Arjuna lembut.


"Aku ikut kalau gitu."


"Jangan!" Sinta hampir tersedak. "Kamu nggak bisa datang ke kampus El," lanjut Arjuna.


Sinta mengerutkan keningnya, "Kenapa? Eleena anak aku."


Arjuna terdiam sejenak, matanya mencari-cari hal apa yang bisa dijadikan alasan agar Sinta tidak datang ke sana.


"Oh iya aku lupa." Arjuna menepuk jidatnya. "Tadi Papa kamu baru aja nelfon aku. Dia bilang mama kamu sakit, jadi kamu harus ke sana besok." Arjuna mengatakan itu dengan penuh keyakinan agar Sinta percaya pada perkataannya.


"Mama sakit? Kenapa mama nggak ada ngabarin aku." Sudah Arjuna tebak pasti Sinta panik kalau mendengar kebohongan yang disampaikan Arjuna.


"Aku pergi ke rumah mama sekarang." Arjuna mencegah Sinta untuk mengambil kunci mobil.


"Sayang, ini udah malam. Besok aja ya kalau mau ke rumah mama kamu. Rumah mama jauh, aku nggak bisa nganter kalau malam. Aku takut kamu kenapa-napa juga," tutur Arjuna. Dia membawa Sinta masuk ke kamar mereka. Menyuruh Sinta untuk tidur.

__ADS_1


"Sekarang kamu istirahat aja, biar besok bisa jagain mama kamu." Arjuna mengecup kening Sinta. "Jangan cemas ya," pesan Arjuna pada istrinya. Sinta mengangguk. Arjuna keluar dari kamar mereka, menuju ruang kerjanya.


__ADS_2