
Pria berjas putih dengan earpieces stetoskop ditempelkan di kedua telinga dan bell nya ia letakkan di dekat area dada Arfin yang masih belum membuka sejak 15 menit lalu. Lelaki dengan rambut yang ditata rapi sehingga jidatnya bisa dilihat secara nyata oleh mata manusia tampaknya belum memberikan tanda-tanda akan segera membuka mata.
Dengan wajah pucat dan bibir yang mengering, Arfin berhasil membuat tiga orang laki-laki di kamar tamu milik Baim merasa khawatir tak terbendung. Apalagi Wisnu, sejak Arfin kehilangan kesadarannya Wisnu tidak bisa mengkondisikan kepanikan yang ia punya. Wisnu terus menggerakkan kaki dan menggigit ujung bibirnya kuat sampai terluka demi menyalurkan rasa paniknya.
Ketika dokter itu menaruh stetoskop di atas lehernya dan berbalik badan menghadap Wisnu dan yang lainnya, Wisnu segera mendekat. Dia juga orang pertama yang menanyakan bagaimana kondisi Arfin yang sebenarnya pada dokter keluarga yang dia panggil datang ke sini.
"Teman kamu tidak apa-apa, hanya saja dia sedang demam sekarang dan saya rasa dia sedikit cemas akan sesuatu sehingga itu mengganggu kesehatannya." Dokter itu menjelaskan dengan saksama menggunakan bahasa yang bisa dimengerti oleh Wisnu, Baim dan Gilang.
Tak lupa, dokter itu mengeluarkan kertas dari tasnya, menulis resep obat untuk Arfin konsumsi agar kesehatannya membaik.
"Beli obat ini di apotek, lalu berikan pada pasien." Dokter yang berusia sama dengan Rama itu menepuk pundak Wisnu, "Jangan khawatir dia akan segera sadar sebentar lagi," sambungnya.
Dokter itu pamit, keluar dari kamar. Baim mengambil kertas berisi resep obat dari tangan Wisnu. "Biar gue aja yang beli, lo di sini, nemenin Arfin. Kalau dia bangun, dia pasti nyari lo." Arfin melenggang pergi dari kamar itu, menyusul sang dokter agar bisa menemani dokter itu keluar dari rumahnya.
Mata Wisnu masih tak bisa lepas dari Arfin yang masih belum menunjukkan tanda-tanda akan membuka mata. Lelaki itu duduk di ujung kasur, perlahan tangan Wisnu bergerak meletakkan punggung tangannya di dahi Arfin. Benar kata dokter, panas.
Wisnu masih tak menyangka bahwa teman tampannya itu bisa berakhir seperti ini sekarang. Setahu Wisnu, Arfin bukanlah orang yang mudah sakit, bahkan Wisnu bisa menghitung jari kapan Arfin sakit sejak mereka berteman saat SMA dulu. Atau mungkin, Wisnu yang tak tahu soal kesehatan Arfin yang sebenarnya. Bukankah di masa seperti ini, manusia sering menyembunyikan rasa sakitnya agar terlihat kuat di depan orang-orang.
"Bangun Fin," gumam Wisnu, mengelus telapak tangan Arfin.
Gilang menghela napas, dia mendekati Wisnu, berdiri tepat di belakang laki-laki itu.
"Sesayang itu lo sama Arfin. Waktu gue sakit aja, lo nggak sepanik ini." Gilang memberikan kata-kata untuk mencairkan rasa cemas Wisnu karena kondisi Arfin.
"Lo beda, Arfin juga beda," balas Wisnu datar tanpa melihat Gilang sedikitpun. Tatapan lelaki itu tak bisa lepas dari Arfin.
"Arfin udah gue anggap adek gue sendiri, Lang." Ya, Gilang menyetujui hal itu, bahkan tanpa Wisnu katakan pun dia dan Baim sudah paham betul.
Arfin itu yang termuda di antara mereka berempat. Dan Arfin juga satu-satunya anak bungsu di antara mereka bertiga yang anak tunggal di keluarganya. Namun, meskipun Arfin adalah anak bungsu tapi lelaki itu tidak mendapatkan kasih sayang dan perhatian penuh di rumahnya. Sampai-sampai Arfin mencari perhatian dan kasih sayang itu dari mereka, terlebih pada Wisnu.
Jika Wisnu dan Arfin tidak lahir di tahun yang sama, orang-orang pasti akan menebak kalau mereka adalah kakak dan adik yang selalu bersama. Meskipun sikap mereka bertolak belakang, tapi Arfin dan Wisnu memiliki satu prinsip yang sama, yaitu "Pertemanan di atas segalanya, lo bisa kehilangan yang lain asal jangan sahabat."
Jari Arfin bergerak, dan Wisnu dapat merasakannya. Perlahan-lahan mata yang sedari tadi terkatup sempurna kini mulai terbuka. Walau yang pertama kali Arfin lihat adalah bayang-bayang buram seseorang, tapi Arfin masih terus berusaha untuk mengumpulkan kesadarannya.
__ADS_1
"Wisnu?" tanya Arfin lemas saat bayangan buram yang tadi ia lihat perlahan sedikit lebih jelas dan menampilkan wajah tampan Wisnu walau belum sepenuhnya.
"Iya, ini gue. Lo nggak papa?" Wisnu membantu menaikkan bantal Arfin agar lelaki itu bisa lebih nyaman setelah berbaring hampir 20 menit lamanya.
Arfin memegangi kepalanya yang masih nyeri. Gilang ikut duduk di ujung kasur sebelah kiri Arfin, berhadapan dengan Wisnu.
"Kepala gue sakit," keluh Arfin.
"Kata dokter lo demam, terus banyak pikiran makanya lo pingsan," ujar Gilang.
"Lo mikirin apa sampai bisa sakit gini? Mikirin Eleena? Kalau karena gue pacaran sama Eleena lo sampai sakit kayak gini, gue mending putus aja sama dia, masalah bokap gue belakangan."
Arfin menggeleng lemah, "Bukan itu. Masalah rumah," balas Arfin lemas karena memang pusing itu masih berada di kepalanya.
"Rumah lo kenapa?" tanya Gilang.
"Biasa. Gue disuruh pindah jurusan, padahal ini udah nanggung. Masa gue semester lima pindah jurusan sih, males banget gue ngulang," jawab Arfin. Tangannya terulur untuk mengambil gelas di nakas, tapi buru-buru Wisnu membantu menuangkan air ke dalam gelas dan memberinya pada Arfin.
"Baim mana?" Arfin menyeka air di mulutnya, lalu meletakkan gelas itu kembali ke nakas.
"Beli obat lo, bentar lagi dia ke sini," jawab Gilang.
"Sorry ya, gue jadi ngerepotin." Ucapan Arfin ini langsung mendapat gelengan tegas dari Wisnu.
"Lo nggak ngerepotin tapi bikin khawatir," ketus lelaki itu. "Kok bisa lo sakit, biasanya nggak pernah," lanjut Wisnu.
"Kan gue juga manusia," balas Arfin, menampilkan wajah polosnya.
"Gue tau, tapi maksud gue jarang banget lo sampai pingsan."
Gilang di sana hanya menjadi penyimak pembicaraan Arfin dan Wisnu saja. Wisnu tidak memberikan Gilang sedikit kesempatan untuk bertanya-tanya pada Arfin.
"Lo, nggak aneh-aneh, kan?"
__ADS_1
"Ya nggak lah. Lo pikir gue ngapain, gue masih waras kali." Siapa sangka Wisnu akan memberi Arfin pertanyaan aneh seperti ini. Walaupun Arfin suka bermain dengan para gadis tapi dia masih laki-laki baik-baik.
"Ada yang lo sembunyiin dari kita?"
...***...
"Fin, lo nggak papa kan?" Suara lembut Eleena di seberang sana terdengar candu bagi Arfin yang menyenderkan punggungnya ke pembatas kasur.
"Nggak papa kok," balas Arfin sedikit menyempilkan tawa di sana agar Eleena tidak khawatir. Pasalnya saat gadis itu menelepon Arfin, nada bicaranya langsung terdengar khawatir.
"Kata Wisnu lo sakit? Kok bisa?"
"Gue juga manusia, El. Wajar sakit." Arfin berdehem singkat, "Wisnu nelepon lo tadi?"
"Iya. Dia ngasih tau kalau lo sakit, gue khawatir banget Fin. Kok bisa sih Lo sampai pingsan."
"Wisnu nyeritain apa aja ke lo soal kondisi gue?"
"Semua," jawab Eleena cepat. "Fin, lo kalau ada apa-apa cerita aja sama gue, kita temen, kan? Seharusnya nggak boleh ada yang lo tutupin, gue nggak suka lo sampai sakit gini," lanjutnya.
Arfin tersenyum mendengar itu, "Gue nggak papa kok El."
Mata Eleena melirik jam dinding yang ada di kamarnya. "Udah jam sembilan, lo udah minum obat?"
"Udah."
"Sekarang lo tidur, istirahat. Jangan mikirin yang macam-macam, besok kalau masih sakit nggak usah ngampus aja kalau bokap lo marah bilang sama gue, biar gue labrak."
Arfin tidak bisa menyembunyikan kegeliannya mendengar ancaman dari Eleena untuk sang ayah. "Bisa-bisanya lo mau labrak bokap gue," kekeh Arfin masih terus tertawa.
"Iya lah. Orang yang udah nyakitin orang sebaik dan sespesial lo nggak boleh di diamin." Tawa Arfin berhenti. "Seharusnya bokap lo bersyukur bisa punya anak setulus lo dalam hidupnya. Gini ya, Fin, yang gue tau lo itu orang yang pantas dicintai dan dapatin banyak kasih sayang," ujar Eleena.
Pandangan Arfin berubah sendu. Kata-kata Eleena masih indah, sama seperti pemiliknya. Namun, Arfin harus mengkoreksi sedikit dari kata-katanya, di mana gadis itu mengatakan bahwa Arfin layak untuk dicintai namun nyatanya gadis itu tidak mencintai Arfin.
__ADS_1