Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Bertemu kembali


__ADS_3

Bola mata berwarna cokelat terang itu melihat satu persatu gaun yang tersaji di pusat perbelanjaan yang saat ini tengah ia kunjungi. Gadis dengan rambut dikepang dan dress berwarna biru laut, masuk ke dalam. Memilah satu persatu pakaian yang akan ia beli nantinya.


"Bun, ini bagus nggak?" Eleena mengarahkan piyama berwarna matcha pada Sinta yang menemani anaknya berbelanja.


Sinta mengangguk tersenyum sebagai jawaban. Eleena tersenyum sumringah kala Sinta menganggukkan kepala. Tangan gadis itu kembali memilih pakaian yang ada di depannya.


Sinta melihat seksama gaun yang ada di sekelilingnya. Merasakan bahan dari gaun itu, termasuk pemilihan warna yang cocok untuk wanita seusianya.


Sinta mengunci pandangannya pada gaun berwarna ungu muda, berlengan pendek yang terdapat ikat pinggang di tengahnya. Kaki Sinta melangkah mendekati daun yang berhasil mencuri perhatian wanita berusia 50 tahun ini.


Sinta menyentuh kainnya, merasakan bagaimana bahan gaun itu. Sinta memunculkan senyum dari sudut bibir. Mengambil gaun dan bersiap untuk membayar.


"Bunda udah selesai?" tanya Eleena saat melihat Sinta menuju tempat kasir. Sinta mengangguk, "Iya. Nanti Bunda tunggu kamu di luar ya."


Sinta memberikan gaun itu pada pihak yang bertanggung jawab di sana. Salah satu dari mereka menyebutkan berapa nominal harga dan yang lain memasukkan gaun ke dalam kantong belanja yang sudah disiapkan.


Sinta mengambil belanjaannya dengan senyuman ramah. Dia keluar dari sana, mempersilahkan pengunjung lain masuk ke dalam.


Sinta duduk di kursi yang disediakan di luar toko. Matanya mencari seseorang yang juga ada di sini. Arjuna, pria itu bersama Sinta dan Eleena. Lebih tepatnya menemani Eleena dan Sinta untuk belanja. Namun sekarang entah di mana pria itu berada. Ada sangat banyak orang di sini, sangat sulit untuk mata Sinta melihat di mana suaminya sekarang. Apalagi mengingat usia wanita ini yang tak lagi muda.


Sinta melirik ke dalam toko, putrinya masih sangat sibuk memilih baju bagus di dalam. Sinta yang bosan mengeluarkan ponsel dari dalam tas. Dia juga butuh hiburan.


Sinta memeriksa perkembangan kafe yang dia kelola dari beberapa file yang telah dikirimkan oleh manager kafe. Kafe yang awalnya dia buat karena dia sedang gundah dan bingung, kini kafe itu berkembang sangat pesat. Apalagi Sinta yang banyak merenovasi kafe sesuai dengan perkembangan zaman yang ada.

__ADS_1


Kalau anak muda zaman sekarang akan bilang begini, "Tempatnya gen z banget."


Sinta masih ingat betul, 10 tahun lalu ia pertama kali membuka kafe ini. Tepat di ulang tahun anaknya yang ke-10, kafe ini ia dedikasikan sebagai hadiah untuk anak yang sangat ia sayang di dunia. Walaupun mereka tidak begitu dekat.


Selain hadiah untuk sang anak, kafe ini juga sebagai kenangan perasaan Sinta pada Rama yang sudah berakhir. Karena wanita itu pernah berjanji pada dirinya sendiri, jika perasaannya pada Rama sudah benar-benar hilang, dia akan membangun usaha baru sebagai apresiasi para diri yang sudah bisa merelakan lelaki brengsek seperti Rama.


Sinta kembali mematikan ponsel, memasukkan kembali ke dalam tas. Tangan wanita itu bergerak mengambil botol air yang ada di dalam tas yang ia letakkan tepat di sebelah. Tangan Sinta yang agak bergetar membuka penutup botol, dengan terburu-buru memasukkan banyak air ke dalam tenggorokan.


Sinta mengusap peluh yang membasahi dahi, mengingat Rama kembali membuat Sinta terluka. Kisah wanita itu dengan Rama sudah berakhir sangat lama, tapi tak bisa dipungkiri kalau luka yang tercipta karena kejadian itu masih membekas. Bahkan tidak bisa Sinta hilangkan kalaupun ia ingin.


Kekecewaan, kebencian, dan rasa muak Sinta pada Rama sangat besar. Bahkan kalau dihitung jumlahnya, Sinta sendiri tidak bisa menghitungnya. Awalnya Sinta kira cinta yang ia beri untuk Rama sangat besar bahkan kalau suatu saat ia membenci lelaki itu, dia tidak akan bisa mengalahkan rasa cinta yang ada. Namun nyatanya kebencian Sinta mengalahkan rasa cinta yang dulu pernah tercipta untuk Rama. Cinta tulus yang disia-siakan oleh lelaki yang tak punya akal.


"Tante." Suara Wisnu mengalihkan perhatian Sinta. Wanita itu mengangkat kepalanya, menerbitkan senyum dari wajah yang sudah ada keriput di bagian bawah mata.


"Kamu ngapain di sini? Belanja juga kayak Tante?" Wisnu sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan Sinta yang ini.


"Ada urusan Tante, makanya ke sini." Sinta bisa melihat jelas kebohongan dari ucapan Wisnu, dikarenakan pandangan mata Wisnu yang tidak menentu, sudah pasti orang tahu dia sedang menipu.


Namun Sinta tidak menghiraukan, malahan wanita itu tersenyum kecil. Kita tidak tahu, kan apa alasan orang lain berbohong. Selama tidak merugikan, ya tidak apa-apa, tapi sebaiknya jangan.


"Kamu anak muda yang rajin ya ternyata," puji Sinta.


"Oh ya, kira-kira kamu masih berantem sama mama kamu?" Wisnu sedikit menundukkan kepala, pertanyaan sensitif untuknya.

__ADS_1


"Udah nggak sih Tan, tapi mama masih belum mau ngomong sama aku. Makanya aku mau beli sesuatu di sini." Wisnu menjawab dengan pelan tercampur kesedihan yang terpancar di mata.


"Sendiri?" tanya Sinta lagi. Wisnu mengangguk pelan.


Sinta melanjutkan kembali obrolan mereka. Mungkin sekitar lima menit, mereka habiskan untuk berbicara dan mengenal satu sama lain. Namun disaat mereka tengah asik mengobrol, mata Wisnu menangkap siluet tubuh Rama di sebuah cermin yang terpajang di mana-mana. Dia bisa melihat jelas, Rama dengan kaos putih sedang berjalan ke arahnya di tengah-tengah keramaian mall tempat dia berpijak.


"Tante, aku izin ya." Wisnu memotong perkataan Sinta, melenggang pergi dari sana sebelum Rama bisa melihat keberadaannya. Sangat membuang waktu kalau ia harus berdebat dan mendengar ceramah dari lelaki paruh baya yang sangat menyebalkan di hidupnya. Tapi dia pula yang menjadi ayah Wisnu.


Sinta memandang heran punggung Wisnu yang perlahan menghilang dari pandangan. Wanita itu kembali mengarahkan pandangannya ke depan, dan lagi-lagi, iris mata hitam milik Sinta bertemu dengan iris mata hazel milik seseorang. Iris mata yang dulunya Sinta kagumi, namun kini sangat Sinta benci.


Tatapan Sinta terkunci beberapa saat dengannya. Tak bisa ia menggerakkan pandangan ke arah lain, seakan-akan iris mata hazel itu menghipnotis Sinta. Untuk kesekian kalinya, Sinta yang sudah menjauhkan Rama dari hidupnya, kini ia kembali dipertemukan di tempat yang tak semestinya.


Sinta masih mengingat beberapa hari lalu ia bertemu dengan Rama di taman, dan kini ia kembali bertemu di pusat perbelanjaan.


"Apa ini semesta, kenapa aku bertemu dengannya lagi?" Mata Sinta mulai memanas.


"Aku kamu bisa melihat kerinduan di mataku Sinta?"


Kembali sama, tidak menggerakkan bibir tapi seakan sedang bertukar pikir.


Dan untuk kesekian kalinya juga, Arjuna harus melihat pertemuan istrinya dengan mantan suaminya. Sesak kembali menyerang Arjuna, tapi kakinya terasa berat untuk digerakkan. Dia hanya bisa diam, melihat kontak mata yang terjadi antara Rama dan Sinta. Hingga ada seorang wanita yang membawa Rama untuk pergi dari hadapan Sinta.


"Jangan pernah melihatnya lagi!" Dia itu, ibunya Rama. Salah satu orang yang menjadi alasan kedua insan yang semulanya saling mencintai dan berharap untuk saling memiliki berubah menjadi asing dan timbulnya rasa benci.

__ADS_1


__ADS_2