Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Terkejut


__ADS_3

"Lo udah putus sama Wisnu?" Gilang menghampiri Eleena, berdiri tepat di depan gadis itu.


Eleena sedikit mendongak untuk menatap wajah Gilang yang datar tanpa senyuman ke arahnya. Bahkan wajah itu terkesan seperti wajah marah dan kesal pada Eleena.


Eleena sedikit tertegun, saat tatapan Gilang semakin tajam kala gadis itu menatap bola matanya. Padahal yang Eleena tahu, Gilang bukanlah orang yang angkuh dan pemarah seperti Wisnu. Tapi hari ini, Gilang terlihat tidak ada bedanya dengan teman angkuhnya itu.


Eleena menggeleng pelan sebagai jawaban untuk pertanyaan Gilang. Dan karena jawaban Eleena ini, dia dapat mendengar decakan dari Gilang. Bahkan Gilang langsung membuang arah pandangnya begitu tahu jawaban dari gadis di depannya.


Tanpa perlu penjelasan lebih lanjut, Gilang langsung pergi meninggalkan Eleena. Menjauhi gadis itu dengan wajah tampak marah dan kesal serta tangan yang terkepal kuat.


Eleena menatap punggung Gilang perlahan menghilang. Ada keanehan pada teman Wisnu yang satu ini. Sepanjang Eleena mengetahui tentang Gilang, dia adalah lelaki yang sangat berbeda jauh dengan Wisnu Eleena sering melihat Gilang bercengkrama atau bercanda bersama mahasiswa lainnya, berbeda dengan Wisnu yang tampak enggan berteman dengan siapapun.


Namun, yang namanya manusia pasti memiliki sisi lain masing-masing dan bisa berubah. Jadi wajar saja kalau Gilang juga sedikit berubah.


Eleena berbalik badan tidak mau lagi memikirkan soal Gilang. Lagipula untuk apa gadis itu memikirkan Gilang dan apa yang terjadi padanya, Gilang bukanlah orang penting dalam hidupnya.


Membahas soal orang penting, Eleena tersadar. Dia berhenti melangkah, Eleena menepuk dahinya sendiri. Eleena berbalik badan, mulai sedikit berlari.


"Gilang!" panggil Eleena sedikit menjerit. Eleena berlari mencoba menghampiri Gilang yang sudah semakin jauh dari pandangan.


Bisa-bisanya Eleena lupa menanyakan di mana Arfin berada. Sudah hampir satu minggu Eleena tidak bertemu dengan Arfin lagi. Arfin kembali menghilang seperti waktu itu.


"Gilang!" jerit Eleena lagi, tapi sayangnya Gilang masih belum mendengar.


Eleena semakin menambah laju larinya, berharap bahwa dia bisa mencapai Gilang dan membuat lelaki itu berhenti. Namun sayangnya, meskipun Eleena sudah berlari kencang tetap saja dia kalah dengan langkah besar Gilang.


"Gilang—" Napas Eleena tersengal. Gadis itu berhenti, memegangi kedua lututnya mencoba mengatur napas karena sesak akibat berlari tapi orang yang dipanggil sejak tadi tidak menoleh sedikitpun.


"Napa lo?" Pandangan Eleena terangkat. Gadis itu menengok ke sebelah kiri, dia menemukan ada lelaki jangkung berdiri di sebelahnya. Itu Baim.


"Lo temen Wisnu, kan?" tanya Eleena, masih menormalkan napasnya. Baim mengangguk.


"Baim? Itu nama lo kan?" Baim mengangguk lagi. Sudah berapa bulan Eleena mengenal Wisnu, tapi gadis itu tidak mengenal semua teman-temannya. Eleena hanya mengenal Arfin saja, Gilang dan Baim hanya sekedar mengingat wajah tanpa mengetahui nama.


"Im, Arfin mana?" Eleena langsung bertanya jelas. Tak mau berbasa-basi dan mengulur waktu, ditakutkan gadis itu akan lupa lagi nantinya.


"Kenapa nanya Arfin lo?" Baim balas bertanya.


"Dia kan teman gue," jawab Eleena cepat.


Baim sedikit merasa iba dengan Arfin begitu mendengar jawaban Eleena. Seperti ada sebuah rasa sakit di lubuk hati Baim untuk Arfin. Baim tahu, betapa Arfin mencintai Eleena. Selain Gilang, dia juga menjadi saksi bagaimana Arfin diam saja dan terus mengalah membiarkan Wisnu menghabiskan waktu bersama Eleena.


Seandainya saja Arfin tahu jawaban Eleena saat ini, Baim tidak bisa membayangkan betapa kecewanya lelaki itu.


Baim menghela napas sebelum menjawab. "Arfin sakit. Dia udah seminggu nggak datang ke kampus."


"Sakit apa?" tanya Eleena.


Baim mengangkat kedua bahunya, lalu tanpa mengeluarkan kata-kata Baim pergi meninggalkan Eleena sendiri di tempatnya.


"Arfin sakit apa lagi?" gumam Eleena.


...***...


Gilang berdiri di depan pintu besar bercat putih. Lelaki itu menghela napas, mencoba untuk mempersiapkan diri menghadapi hal yang mungkin akan sangat mengerikan. Gilang memencet bel yang berada di sebelah kiri pintu.


Dengan rasa takut dan juga panik, Gilang berusaha menormalkan napas agar tidak terlihat seperti orang pecundang hanya karena ingin bertemu dengan Rama. Tangan Gilang yang memegang berkas dan dokumen mendadak sedikit bergetar ketika pintu itu mulai terbuka.

__ADS_1


Ekspresi wajah Gilang berusaha terlihat santai dan tidak tegang, tapi Gilang tidak bis membohongi perasaannya. Dia sangat takut, terlalu takut. Bertemu dengan Rama sama saja seperti bertemu dengan hantu baginya atau bahkan lebih menakutkan daripada bertemu dengan hantu. Rama tidak pernah menyukainya, baik sebelum dia mengenal Gilang atau sesudah mengenal Gilang.


Gilang menghela napas sekali lagi, saat pintu sudah terbuka sempurna dan seorang pelayan menyuruhnya masuk ke dalam Gilang dengan ragu tapi terpaksa masuk menginjakkan kakinya ke dalam rumah besar bak istana milik kediaman Aksanta.


Langkah Gilang satu persatu terdengar bergema di penjuru ruangan, dan karena itu Gilang menghentikan langkahnya dikhawatirkan karena langkah kakinya akan menimbulkan keributan di rumah ini. Walaupun sebenarnya kehadiran Gilang lah pemicu keributan yang utama.


Suara langkah kaki dari seberang terdengar di telinga Gilang. Lelaki yang semula masih bisa mempertahankan rasa takutnya sekarang sudah tak terkendali lagi. Gilang tegang, dia takut, seakan-akan lelaki itu hendak menemui ajalnya padahal hanya ayah dari temannya. Gilang menghela napas lagi, menutup mata sejenak untuk menenangkan diri. Dia sudah siap kalau seandainya Rama akan memaki dan memarahinya, Gilang siap.


"Gilang." Mata Gilang terbuka saat suara yang menembus indera pendengarannya sangat jauh berbeda dari suara Rama yang biasa dia kenal.


"Nyonya." Gilang menyalami Meethila—orang yang tadi memanggil Gilang. Percaya atau tidak, ada sedikit rasa lega di hati Gilang karena dia tidak langsung bertemu dengan Rama.


"Kamu mau nganter berkas ya?" tanya Meethila menengok beberapa dokumen dan berkas di tangan Gilang.


Gilang mengangguk, "Iya Nyonya. Saya disuruh sama Abi untuk mengantar ini pada Tuan Rama. Kira-kira Tuan Rama di mana ya, Nyonya?"


"Mas Rama lagi nggak di rumah. Kamu kasih sama saya aja berkasnya nanti saya kasih sama Mas Rama," balas Meethila.


Gilang tersenyum, dia dengan senang hati memberikan beberapa dokumen dan berkas itu pada Meethila.


"Nyonya, Wisnu di mana ya? Kok dia udah dua hari nggak ngampus?" tanya Gilang sopan.


"Wisnu di kamar." Meethila hanya menjawab demikian seakan sengaja tak mau memberitahu Gilang lebih lanjut lagi. Wanita itu pergi dari ruangan itu meninggalkan Gilang.


Gilang berjalan menuju kamar Wisnu. Pertemanan dia dengan Wisnu sudah terjalin bertahun-tahun, meskipun dia berakhir dimarahi oleh Rama, tapi Gilang tetap nekat memasuki kamar temannya itu. Seperti sekarang ini.


Gilang tak mengetuk pintu, dia langsung masuk ke dalam. Sampai-sampai kehadiran lelaki itu mengagetkan Wisnu yang sedang menyandarkan punggungnya ke pembatas kasur.


"Buat kaget njir!" umpat Wisnu begitu dia melihat sosok Gilang dengan jelas ada di hadapannya.


"Tuan Muda, lo kenapa?" Gilang tidak bisa menyembunyikan raut keterkejutannya melihat kondisi Wisnu seperti ini.


"Kok lo bisa gini?" Gilang duduk di sebelah Wisnu.


"Bokap gue tau soal Eleena."


"Hah?"


"Si Rama tau Eleena anak Dirgantara," jelas Wisnu.


Ternyata selain terkejut karena melihat kondisi Wisnu seperti ini, ada yang lebih mengejutkan lagi. Siapa yang menebak kalau kebohongan dan kepura-puraan ini akan berakhir seperti ini.


Gilang tidak pernah memikirkan bahwa indentitas Eleena bisa terbongkar pada Rama. Karena mendengar Wisnu menyusun rencana sebaik mungkin, celah untuk Rama mengetahui yang sebenarnya sangat kecil. Tapi lihatlah, ini terjadi.


"Kok bisa?" tanya Gilang.


Wisnu menghela napas, mulai menceritakan tentang kejadian dua hari lalu di mana nyawanya hampir saja melayang karena Rama. Kejadian yang membuat Wisnu sampai takut untuk keluar kamar dan bertemu dengan Rama.


Saat teriakan Rama menggelegar di seluruh ruangan, Wisnu bergegas keluar dari kamar untuk menghampiri ayahnya yang jelas-jelas berteriak memanggil nama lengkapnya. Begitu Wisnu sampai di sana, lelaki itu langsung mendapat tawaran dan sebuah kebenaran bahwa Rama mengetahui soal identitas asli Eleena—gadis yang selama ini Wisnu pacari agar terhindar dari perjodohan gila Rama.


"Kamu masih punya akal? Atau akal kamu sudah hilang?" tanya Rama pada Wisnu yang tersungkur di lantai.


Meethila menghampiri anaknya, membantu Wisnu untuk berdiri tapi bentakan Rama langsung membuat Meethila mundur beberapa langkah. "Jangan ada yang menolong dia!" bentak Rama.


Orang-orang di sana mulai berjalan mundur, menjauhi tempat Rama dan Wisnu. Amarah Rama kali ini sepertinya berbeda dari amarah laki-laki itu biasanya. Wajah pria itu memerah, dan urat-urat di lehernya sampai terlihat.


Wisnu kembali berdiri, tapi tamparan Rama kembali dilayangkan ke pipi kirinya dan membuat lelaki itu tersungkur lagi. Kali ini Rama tidak memberi kesempatan untuk Wisnu berdiri lagi, dia langsung menarik baju Wisnu, memaksa lelaki itu berdiri dan menabrakkan punggung anaknya itu ke dinding dengan keras.

__ADS_1


"Auuu," ringis Wisnu kesakitan saat hantaman dinding sangat keras mengenai punggungnya.


"Kamu gila? Atau sudah tidak waras Wisnu Putra Aksanta?" Suara Rama memelan tapi sangat menusuk di Wisnu. Bahkan embusan napas Rama sama seperti sebuah pisau tajam untuk Wisnu.


"Kamu tau dia siapa, kan? Kamu tau betapa saya membenci keluarganya, kamu juga tau betapa saya membenci nama belakangnya." Rama menghantam punggung Wisnu berkali-kali ke dinding. Sampai-sampai Wisnu dibuat sangat lemas dan tak lagi memiliki tenaga karena rasa sakit di punggungnya sudah menjalar ke mana-mana.


Meethila hendak maju untuk menolong Wisnu, dia tidak tega melihat Putra semata wayangnya itu diperlakukan seperti itu oleh suaminya sendiri. Tapi sayangnya langkah Meethila dihentikan oleh tatapan ayah mertuanya yang menyuruh wanita itu untuk tetap berada di tempatnya dan jangan ikut campur dengan amarah Rama saat ini. Karena mereka tahu, jika ada yang ikut campur, bukan hanya Wisnu saja yang akan habis tapi Meethila juga akan habis. Dia sangat tahu betapa besar rasa benci Rama pada Dirgantara, dan apa alasannya dia sangat tahu itu. Jadi dia tidak bisa membantu Wisnu kali ini, karena yang dilakukan oleh lelaki itu saat ini memang sudah kelewatan.


"Kamu gila! Gila dan Gila!" Rama membanting tubuh Wisnu, memberi pukulan pada lelaki itu berkali-kali tanpa ampun. Dia menyalurkan seluruh rasa sesak, benci dan muaknya dengan memukuli anaknya tanpa ampun.


"Kamu dilahirkan hanya untuk membuat saya menderita, Wisnu Putra Aksanta!" Rama mendorong tubuh Wisnu keras sampai dahinya tergores ujung meja berlapis kaca dan berakhir kaca itu pecah.


"Pa, maaf..." lirih Wisnu, sudah sangat lemas tak sanggup lagi menerima kekerasan dari Rama.


"Maaf? Bahkan kematian kamu tidak bisa membayar rasa malu yang kamu berikan pada keluarga saya, anak sialan!" Rama menarik baju Wisnu lagi, membuat lelaki itu berdiri dan memberi pukulan di wajah lelaki itu serta memberi tinjuan di daerah perut Wisnu.


Wisnu mengerang kesakitan, meminta orang di sekitarnya untuk menolong di dari amukan Rama saat ini, tapi naasnya tak ada satupun orang yang mau membantu dirinya. Bahkan Meethila pun hanya berdiri diam di tempatnya sambil menangis histeris.


"Eleena Safira Dirgantara, itu namanya, kan?" tanya Rama, tapi Wisnu tak memberi jawaban apapun.


Rama mendorong Wisnu lagi, membenturkan kepala anaknya ke dinding sehingga darah segar mengalir dari sela-sela rambut Wisnu. Wisnu jatuh, dia melemas. Semua anggota tubuhnya sakit, dia sudah tidak tahan lagi.


"Pa, aku minta maaf." Wisnu memegangi kaki Rama, memohon ampun pada pria itu.


Tapi, alih-alih memberi jawaban, Rama justru menghempaskan tangan Wisnu dari kakinya. "Jangan ada yang mendekati dia!" gertak Rama lalu pergi dari sana.


"Mama..." lirih Wisnu, menatap Meethila. Lelaki itu menangis, rasa sakit ini mengalahkan seluruh keberanian Wisnu untuk tidak menangis.


Wajahnya lebam, dahinya terluka dan mengeluarkan darah belum lagi darah dari sela-sela rambutnya. Wajah tampan dari lelaki itu dialiri oleh darah segar sekarang. Punggung lelaki itu sangat sakit sekarang, Wisnu hanya bisa merasakan rasa perih dan sakit tak terbendung di seluruh anggota tubuhnya.


Wisnu bahkan tidak memiliki tenaga untuk sekedar berdiri dari posisinya yang saat ini terduduk dengan menyenderkan tubuh ke dinding.


"Kamu selesai sekarang." Suara Rama yang datang entah dari mana, memberi rasa sesak di dada Wisnu. Napasnya memburu, dada lelaki itu naik turun tak mampu mengatur napas dengan normal lagi.


Apalagi saat iris hazelnya menemukan bahwa ada sebuah benda tajam berada di tangan Rama. Rama mendekati Wisnu, mendekatkan benda tajam itu ke area perut Wisnu tapi syukurnya benda tajam itu tak sempat untuk mengenai perut Wisnu.


Ayah Rama mengambil pisau itu dari tangan Rama kasar, melempar benda tajam itu asal.


"Saya tau kamu marah padanya. Tapi ingat, dia Putra Aksanta. Kamu nggak memiliki hak untuk merebut itu darinya. Saya nggak akan pernah setuju kamu menghilangkan satu-satunya pewaris Aksanta hanya karena kemarahan kamu, Rama," jelas pria tua itu.


"AAARRRGGGGHHHH!" Rama berteriak, mengacak rambutnya depresi pergi dari sana meninggalkan semua orang. Dia masuk ke kamarnya, membanting kuat pintu kamar sampai suara bantingan itu menggema di seluruh ruangan.


"Sayang." Meethila menghampiri Wisnu, dia begitu tidak tega melihat anaknya seperti ini. Meethila buru-buru menelepon seorang dokter untuk datang ke rumah mereka. Dengan meminta bantuan dari pelayan, Meethila membawa Wisnu masuk ke kamar, membaringkan tubuh anaknya itu ke kasur.


Meethila membersihkan darah Wisnu yang terus bercucuran sebelum dokter datang ke rumah mereka dan memeriksa kondisi anaknya lebih lanjut.


Dan karena kekerasan dari Rama, Wisnu berakhir mendapatkan alat oksigen untuk membantunya bernapas. Jangankan untuk bergerak dari posisinya, Wisnu bahkan sulit untuk mengeluarkan kata-kata. Rama hari ini begitu gila.


Wisnu bercerita begitu detail sampai membuat Gilang merinding, dan tak berani sanggup untuk membayangkan betapa kejamnya kejadian hari itu.


"Gue hampir mati, Lang. Mungkin kalau kakek nggak nahan bokap gue, gue tinggal nama sekarang," ujar Wisnu, menatap kosong dinding kamarnya.


"Duh, kasian banget Tuan Muda gue. Sakit nggak?"


"Sakitlah tolol!" umpat Wisnu saat tangan Gilang menyentuh lukanya yang diperban.


"Maaf," cicit Gilang. "Jadi, sekarang lo mau gimana? Maksud gue, rencana dan hubungan lo gimana?"

__ADS_1


"Nggak tau lah Lang. Gue cape, itu entar aja." Wisnu menghela napas berat, dia benar-benar sudah sangat pasrah akan nasib hidupnya ke depannya.


__ADS_2