Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Eleena menghilang


__ADS_3

Lelaki dengan kemeja putih yang dilapisi oleh jas hitam serta dasi hitam sebagai pelengkap. Dia keluar dari mobil, mengecek kondisi mobil hitamnya yang tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Wisnu memeriksa berulang kali, mencoba menghidupkan mobilnya tapi nyatanya mobil itu tidak menunjukkan tanda-tanda ingin dijalankan oleh Wisnu.


"Arrgghh, sialan!" Wisnu menendang ban mobilnya menyalurkan kekesalan di sana karena kendaraan ini tidak kunjung menyala dan bisa Wisnu gerakkan.


Wisnu mengacak rambutnya frustasi, kalau mobilnya berulah seperti ini bisa telat dia datang ke kantor nanti.


"Padahal baru di service tapi kenapa masih bisa mogok sih?!" Wisnu mengeluarkan ponsel, menekan beberapa digit nomor di sana untuk menghubungi seseorang.


"Pak datang ke sini ya, mobil saya mogok. Bawa mobil yang lain, nanti saya shareloc." Wisnu mengakhiri panggilannya setelah dia rasa bahwa sopir di rumahnya sudah mengerti apa yang dia katakan dan perintahkan.


Wisnu menghela napas, dia duduk di dalam mobil tak bisa bergerak itu. Sambil menunggu tidak ada salahnya dia bermain ponsel sebentar. Atensi Wisnu sepenuhnya teralihkan pada game online yang sedang ia mainkan, sampai akhirnya sebuah pesan masuk membuyarkan seluruh perhatiannya. Itu, pesan dari Gilang.


Gilang:


Tuan Muda, Arfin sakit lagi. Gue sama Baim lagi jenguk dia di rumahnya, lo mau ke sini juga?


send a photo


Gilang juga mengirimkan sebuah foto pada Wisnu. Foto berisi Arfin yang sedang terbaring lemas dengan wajah pucat dan tangan yang terpasang infus.


"Arfin sakit lagi. Udah berapa kali dia sakit belakangan ini?"


Wisnu kembali mengingat berapa banyak kejadian Arfin sakit sekarang. Padahal yang dia tahu, dulunya Arfin bukanlah seorang laki-laki yang mudah jatuh sakit. Makanya dia berani untuk mengikuti organisasi, tapi sekarang, Wisnu rasa kesibukan Arfin tidak sebanyak itu. Tidak seharusnya lelaki itu bisa sampai jatuh sakit.


Wisnu menelepon Gilang segera, dia ingin mengetahui lebih lanjut tentang kondisi di sana.


"Hal—"


"Arfin gimana?" Wisnu memotong sapaan Gilang. Gilang berjalan menjauh dari kamar Arfin, memastikan dirinya benar-benar sendiri untuk berbicara lebih leluasa dengan Wisnu.


"Nggak okay sih."


Terdengar helaan napas berat dari Wisnu. "Wis, kayaknya ada yang aneh nggak sih dari Arfin. Belakangan ini dia sering banget sakit dan keluhannya selalu sama, dia selalu ngeluh kalau kepalanya sakit," ujar Gilang sedikit mengecilkan suaranya agar tidak terdengar oleh siapapun.


"Gue rasa juga gitu."


"Wis." Gilang kembali menengok keadaan sekitar memastikan untuk kesekian kali kalau dia benar-benar sendiri di sini. "Gue ngeliat pipi Arfin agak merah. Terus, tangannya juga banyak lebam juga. Gue rasa, dia juga sama kayak lo, sering dipukuli sama bokapnya."


Dugaan Wisnu benar, kondisi Arfin yang seperti ini pasti masih ada kaitannya dengan ayahnya.


"Selain itu, apalagi yang lo lihat dari Arfin?"


"Nggak ada sih. Cuma itu aja, tapi Wis gue jamin kalau lo ke sini pasti lo bakal marah."


"Kenapa?"


"Nggak ada yang ngurus Arfin. Bokapnya sama abang-abangnya sibuk kerja sedangkan nyokapnya, kayak acuh tak acuh gitu sama anak sendiri. Sekarang aja, cuma gue sama Baim yang jagain dia," jelas Gilang.


Tangan Wisnu terkepal, mendengar itu memunculkan amarah Wisnu. Wisnu tidak suka dengan kekerasan meskipun dia orang yang keras. Teman-temannya begitu berharga dalam hidup Wisnu, terutama Arfin.


Mereka berdua berasal dari kasta yang sama walau kasta Wisnu lebih tinggi tapi setidaknya mereka sama-sama anak konglomerat juga. Wisnu memahami apa yang dirasakan Arfin sebagai anak yang mempunyai nama belakang. Paksaan, kekangan, aturan dan segala hal yang seharusnya tak pernah ada di dunia.


"Kenapa ya Arfin belakangan ini sering sakit?" tanya Wisnu.


"Karena lo kali." Wisnu yang mendengar jawaban Gilang itu tentu saja mengerutkan kening.

__ADS_1


"Kenapa gue? Apa yang gue lakuin."


"Wis, kalau sampai Arfin sakit gini karena hubungan lo sama Eleena, gue kecewa sama lo."


"Apanya yang salah dari hubungan gue? Gue sama El udah putus!"


"Tapi perasaan lo belum putus. Kita berempat itu laki-laki Wis, kita bisa ngerti perasaan satu sama lain apalagi mengenai cinta. Jangan sampai, perasaan gila lo itu, buat Arfin terus drop. Lo bayangin, Arfin itu bukan tipikal orang yang gampang untuk over sharing ke orang lain, tapi dia berani untuk over sharing sama Eleena. Itu tandanya dia udah kelewat nyaman sama Eleena. Dan lo, udah ngambil kenyamanannya."


...***...


Wisnu sampai di sebuah bangunan besar bertingkat dan juga mewah. Dia masuk ke dalam setelah pintu kaca otomatis terbuka dan juga dua orang penjaga menundukkan kepala sebagai tanda penghormatan padanya.


Setelah drama mobil mogok di tengah jalan tadi, akhirnya Wisnu sampai juga ke kantor Rama. Atau mungkin miliknya, karena sebentar lagi gedung bertingkat nan mewah ini akan menjadi miliknya seutuhnya. Rama tidak mempunyai anak lagi selain dirinya, itu otomatis Wisnu akan mendapatkan segalanya. Mulai dari perusahaan, rumah, villa, apartemen dan semua aset berharga keluarga mereka yang saat ini dipegang oleh Rama.


Terkadang, Wisnu sedikit mensyukuri dia terlahir sebagai Putra Aksanta. Dia bisa menjadi raja dengan banyak harta. Wisnu melirik jam tangan silver yang melingkar, jarum jam terus berjalan detik tak pernah berhenti, waktu Wisnu tinggal sedikit lagi.


Wisnu mempercepat jalannya, memasuki lift dengan terburu-buru. Perjanjiannya dengan Rama dia akan tiba dalam waktu 60 menit dari rumah. Tapi nyatanya, musibah mobil mogok saja sudah menelan waktu Wisnu 15 menit. Kini ia tersisa lima menit lagi untuk datang ke ruangannya Rama.


Entah dengan tujuan apa Rama meminta Wisnu untuk datang ke kantornya. Lengkap dengan pakaian rapi ala-ala dia datang ke meeting besar.


Wisnu dengan dua orang di belakangnya yang mengikutinya sejak lelaki itu menginjakkan kaki di sini. Maklum, Wisnu itu Putra Aksanta jadi harus dijaga sebaik-baiknya.


"Aku membencimu Alrama Aksanta!"


Teriakan itu terdengar jelas hingga mendengungkan telinga Wisnu saat dia baru saja membuka pintu kaca ruangan Rama. Iris hazel lelaki itu langsung menangkap tiga orang yang kelihatannya tidak dalam keadaan bersahabat. Mata Wisnu membulat kala dia tahu, bahwa tiga orang itu adalah Rama, Sinta serta Arjuna. Apa ini lelucon Rama membuat Wisnu bertemu dengan kedua orang tua Eleena.


Plakk


Tamparan itu mendarat dengan sangat jelas dan keras di pipi kanan Rama. Tamparan pedas yang berasal dari tangan halus Sinta.


"Di mana El? Di mana kamu nyembunyiin dia?" Sinta mencengkeram erat kerah baju Rama. Rama melepaskan tangan Sinta dari kerah kemejanya kasar sehingga Arjuna harus memegangi istrinya agar tidak terjatuh.


"Bukan aku yang gila, kamu yang gila Rama!" balas Sinta membentak Rama.


"Aku mau tahu di mana kamu nyembunyiin El. Di mana?!"


"Aku nggak tau Sinta Dela Agustama!" Suara Rama meninggi, sangat. Semua orang yang mendengar teriakan Rama di sana pasti akan ketakutan.


"Jaga ucapan Anda Tuan Aksanta," imbuh Arjuna memperingatkan Rama karena intonasi suaranya.


"Jangan suruh gue yang jaga sikap. Istri lo yang seharusnya jaga sikap, bangsat!"


Ups. Umpatan Rama yang menyakitkan.


"Aku nggak akan kayak gini kalau kamu nggak mulai duluan Rama!" sela Sinta.


"Kamu selalu nyalahin aku. Kenapa aku selalu salah di mata kamu?!"


"Ya itu karena memang kamu salah Rama. Dari dulu kamu yang salah, dulu, sekarang bahkan di masa depan sekalipun kamu yang. bersalah!" Sinta tak bisa mencegah air matanya untuk tak jatuh membasahi wajah.


"Rama, gue nggak mau berlama-lama di tempat lo ini—"


"Gue juga nggak pengin lo di sini. Mending pergi aja lo sana!" Rama tidak membiarkan Arjuna untuk menyelesaikan kalimatnya.


Arjuna menghela napas, kebiasaan Rama dengan amarahnya yang meluap-luap tak akan pernah berakhir.

__ADS_1


"Di mana anak gue Ram?" Arjuna menanyakan hal itu pada Rama.


Rama mendengus, "Lo nanya anak lo sama gue? Sakit lo ya. Gue nggak suka sama anak lo, gue nggak peduli dia di mana. Untuk apa gue tahu keberadaan dia!"


"Itu dia masalahnya. Kamu nggak suka sama El, kamu pasti mau nyoba nyakitin dia," tambah Sinta.


"Aku nggak seburuk itu, Sin. Aku bukan orang kurang kerjaan yang mau nyakitin orang lain—"


"Tapi kamu nyakitin aku Rama! Kamu aja bisa nyakitin aku, nyakitin El bukan hal yang sulit buat kamu lakuin."


"Aku nggak tau apa-apa, Sin."


"Nggak mungkin kamu nggak tau. El nggak pulang ke rumah udah dua hari. Pasti kamu yang nyembunyiin dia!"


"El nggak pulang?" Suara dari Wisnu mengalihkan atensi tiga orang ini. Mereka sontak menoleh bersama-sama ke arah Wisnu.


Wisnu yang sejak tadi hanya berdiri di ambang pintu kini memberanikan diri masuk ke dalam ruangan yang hawanya menjadi panas karena perseteruan ketiga orang di dalamnya.


Wisnu menoleh ke Sinta. "Tan, El belum pulang?"


Sinta mengangguk dan menjatuhkan seluruh air matanya. "El nggak pulang ke rumah udah dua hari, handphone nya juga nggak aktif. El nggak pernah kayak gini."


"Rama, gue nggak peduli ya mau seberang besar lo benci sama gue. Tapi main-main sama anak gue, itu kesalahan besar!"


"Udah gue bilang gue nggak tau apa-apa. Jangankan ngelakuin hal yang aneh-aneh ke anak lo, gue aja nggak mau ngeliat mukanya!"


"Rama!" Sinta mendorong Rama kuat, nyaris membuat Rama terjatuh jika Wisnu tidak menahan Rama.


"Aku nggak mau denger drama kamu lagi. Sekarang kasih tau aku, di mana kamu nyembunyiin El!" Dada Sinta naik turun, matanya memerah karena air mata dan amarah.


"Kamu sama keluarga kamu itu licik Rama. Kalian nggak berbeda, sama-sama biadab."


"Jangan bawa-bawa keluarga aku di sini."


"Kenapa? Nggak suka? Nyatanya, keluarga Aksanta memang seburuk itu!"


"Sinta Dela Agustama!"


"Apa Alrama Aksanta?!"


Perseteruan ini semakin panas. Baik Sinta maupun Rama tidak ada yang mau mengambil jalan tengah.


"Denger ya Sinta, walaupun kamu sama anak kamu nggak ada bedanya, sama-sama buruk. Tapi aku bukan orang gila yang ngilangin dia, aku nggak sekeji itu," ujar Rama.


"Jadi El di mana?" Tubuh Sinta merosot. Dia terduduk di lantai ruangan Rama menangis histeris di sana. Arjuna bahkan sampai harus memeluk Sinta dan mengelus rambutnya untuk memberi wanita itu sedikit ketenangan.


"Kamu sabar ya, aku bakal cari El. El kita bakal pulang lagi ke kita, El nggak akan kenapa-napa," ucap Arjuna lembut.


Rama memalingkan wajahnya, mengepalkan tangan melihat Arjuna memeluk Sinta. Dia memang sedang marah pada Sinta tapi tetap saja, batinnya tak terima melihat Sinta dipeluk laki-laki lain di hadapannya.


Wisnu berlari keluar dari ruangan Rama tiba-tiba. Berlari untuk keluar dari gedung besar ini. Dia tidak memperdulikan dua orang yang meneriaki namanya dan menyuruh laki-laki itu berhenti.


Wisnu masuk ke mobilnya, menancapkan gas langsung membawa mobil itu keluar dari area kantor dengan kecepatan tinggi.


"Nggak mungkin El hilang," ucap Wisnu, terus menancapkan gas.

__ADS_1


Mobil Wisnu mengebut di jalanan melewati setiap kendaraan dengan brutal.


"El, kamu di mana?" batin Wisnu, melewati mobil yang didalamnya berisi Eleena mengetuk kaca mobil dengan mulut terlapisi selotip.


__ADS_2