
"Ikuti ke manapun mereka pergi, kalau kondisi sudah aman. Jalankan perintah saya."
Setelah kata-kata itu terdengar jelas di telinganya, pria bermasker hitam itu menutup panggilannya. Dia bergegas masuk ke dalam mobil putih, menyuruh orang di sebelahnya untuk menekan pedal gas dan membututi mobil biru berlogo AK itu.
Mobil biru dengan atap terbuka yang kini ditutup oleh Wisnu setelah dia merasakan bahwa terik matahari sangat menyengat siang ini. Lelaki itu dengan diam mengendarai mobilnya, membiarkan suara deru mesin dan kendaraan sekitar menjadi musik bagi kedua orang di dalam mobil ini.
Wisnu tidak membuka obrolan dan Eleena juga diam saja. Gadis itu tidak menyentuh ponselnya meskipun ada beberapa pesan masuk. Dia sibuk memandangi jalanan penuh dengan kendaraan berlalu lalang. Sesekali, Eleena melirik Wisnu sekilas berharap bahwa lelaki itu akan paham dan membalas menatap Eleena.
Namun nyatanya setelah tiga kali Eleena melirik Wisnu, lelaki itu sama sekali tidak memindahkan tatapannya dari ramainya jalanan. Dia terlalu fokus mengendarai mobil birunya ini. Eleena menghela napas, menyenderkan punggungnya ke kursi dan perlahan menutup mata. Perjalanan membosankan ini membuat Eleena mengantuk. Sudah 20 menit mobil ini berjalan tanpa tahu ke mana arahnya.
Eleena menutup matanya, membawa dirinya untuk masuk ke alam bawah sadar dan melupakan dunia sejenak. Eleena tidak menyadari saat gadis itu mulai tertidur, ada sosok Wisnu yang memandangi wajah damainya dalam diam. Lelaki itu memanfaatkan lampu merah untuk memandangi wajah gadisnya puas. Mungkin, setelah hari ini Wisnu tidak bisa melihat Eleena sedalam ini.
"El, gue bingung sama perasaan gue sendiri. Apa gue suka sama lo, El?" batin Wisnu, tidak melepaskan pandangannya dari Eleena hingga suara klakson kendaraan di belakangnya menyadarkannya dari lamunan.
...***...
Wisnu menghentikan mobilnya, dia melepaskan sabuk pengamannya. "El, turun udah sampai," ucap Wisnu membuka pintu mobilnya.
Namun sayangnya Eleena tidak merespon, kaki kiri Wisnu yang sudah keluar dari mobil terpaksa dinaikkan kembali. Lelaki itu melihat kekasihnya yang masih berada di dalam tidur lelapnya.
"El bangun, kita udah sampai," ucap Wisnu lagi. Alih-alih memberi respon, Eleena malah memalingkan wajahnya karena merasa terusik dengan suara Wisnu.
Wisnu mendekat, dia menepuk pipi Eleena pelan berusaha membangunkan gadis itu.
"El bangun kita udah sampai loh." Wisnu berucap itu berulang kali. Pelan memang dan tepukan yang diberikan Wisnu juga kelewat sangat lembut sampai-sampai Eleena tidak merasakan apa-apa.
"Eleena Safira Dirgantara, bangun Sayang." Eleena membuka matanya kala suara lembut itu menusuk telinganya. Kalimat itu begitu asing di telinga Eleena apalagi saat mendengar suaranya, sangat berbeda dengan suara kedua orang tuanya saat membangunkan dirinya.
Begitu mata Eleena terbuka sempurna, dia langsung menemukan iris hazel Wisnu berada dalam jarak yang sangat dekat dengan dirinya. Wajah Wisnu dan dirinya hanya berjarak beberapa senti saja, Eleena sampai bisa melihat setiap inci dari wajah tampan nan tegas milik Wisnu. Belum lagi aroma parfum Wisnu begitu melayang di indera penciuman Eleena.
"Ngantuk banget ya, sampai-sampai susah dibangunin." Wisnu berujar sembari menjauhkan dirinya dari Eleena. Wisnu yang semula berada di depan Eleena kini kembali duduk rapi di kursinya.
"Kalau emang masih ngantuk lanjut aja tidurnya, kita langsung ke tempat tujuan nggak usah di sini." Wisnu bersiap memakai sabuk pengamannya kembali tapi sayangnya pertanyaan Eleena kali ini menghentikan pergerakannya. "Emangnya ini bukan tempat tujuannya?"
Wisnu menoleh ke Eleena, "Gue mau ngajak lo nonton El," balas Wisnu.
"Nonton? Kita putus di bioskop?"
"Ya enggak lah."
"Jadi, gimana sama putusnya?"
Wisnu terdiam sejenak, dia menghela napas pelan. "Ada tempatnya. Tapi sekarang, gue mau nyiptain kenangan bareng sama lo. Terakhir kali, sebelum kita putus."
Ucapan Wisnu itu membuat Eleena tersenyum. Ternyata Wisnu berdiam diri sejak tadi, tapi sudah ada banyak hal yang dia rancang. Eleena bahkan tidak pernah berpikir bahwa untuk sekedar mengucapkan kata perpisahan saja Wisnu harus menciptakan kenangan untuknya terlebih dahulu.
Wisnu memesan dua buah tiket film yang tak Eleena ketahui. Tapi Eleena tebak dia akan memilih film horor sama seperti Arfin waktu itu. Laki-laki kan suka sekali dengan film horor atau film action, namun sayangnya itu bukan genre favorit Eleena. Sembari menunggu Wisnu datang setelah memesan tiket dan memberi popcorn serta minuman, Eleena tidak bisa menghilangkan raut bosannya. Dia sudah membayangkan bahwa dia tidak akan menikmati filmnya. Eleena akan sibuk menutup mata dan meyakinkan diri bahwa dia akan baik-baik saja setelah menonton film horor ini.
"Ayuk." Wisnu datang, mengajak Eleena. Dengan tangan yang sudah penuh dengan makanan, Eleena berinisiatif mengambil popcorn berukuran besar dari tangan Wisnu.
"Besar amat dah popcorn-nya."
"Kan gue juga mau makan, bukan cuma lo aja," balas Wisnu ketus, seperti biasa.
__ADS_1
Eleena berjalan di sebelah Wisnu. Terlihat mungil sekali gadis itu, tingginya dan tinggi Wisnu sangat jomplang mungkin jika dilihat sekilas mereka sangat cocok untuk menjadi kakak-adik bukannya sepasang kekasih.
Mereka berdua masuk ke dalam, duduk di antara penonton lainnya. Eleena memutuskan untuk makan popcorn terlebih dahulu sebelum film di mulai, karena ketika film itu sudah mulai Eleena tidak akan sempat untuk memakannya yang ada dia sibuk mencari bagaimana agar tidak takut untuk melihat adegan demi adegan di filmnya nanti.
"Jangan dihabisi dong, gue juga mau." Wisnu mengambil popcorn itu dari tangan Eleena setelah melihat Eleena dengan sangat lahap memakannya sampai-sampai popcorn yang semula penuh kini hanya bersisa setengah saja.
"Ih, minta dong." Wisnu menepis tangan Eleena yang hendak mengambil popcorn-nya. "Ini punya gue, orang gue yang beli," balas Wisnu.
"Oh gitu, perhitungan banget sama cewek diri sendiri." Eleena membuang wajahnya dari Wisnu, membetulkan posisi duduknya dan melipat kedua tangan di dada memberi pertanda bahwa dia kesal pada Wisnu.
"Kan bentar lagi lo bakal jadi mantan gue, nggak papa dong."
Jawaban Wisnu ini di luar prediksi Eleena. Eleena spontan menengok ke arah Wisnu, menatap lelaki yang tanpa beban mengatakan hal itu jelas. Pandangan Eleena perlahan berubah sendu, disaat Eleena ingin menghabiskan lebih banyak waktu bersama Wisnu, lelaki itu selalu mengingatkannya bahwa waktu mereka bisa seperti ini hanya hitungan jam saja. Entah kapan Wisnu akan mengucapkan kata itu dan mengakhiri hubungan Eleena dan dirinya dalam sekejap.
Eleena kembali mengarahkan tatapannya ke layar bioskop yang sudah menampilkan filmnya. Begitu film itu menampakkan wajah para pemainnya Eleena langsung menutup mata, dia begitu takut sampai tak sanggup untuk melihat film itu lagi.
Wisnu melirik gadis di sebelahnya ini, Eleena yang menutup mata dan mencengkram kuat kemejanya seakan menyalurkan segala ketakutan di sana.
"Kenapa?" tanya Wisnu.
"Takut," cicit Eleena tanpa membuka mata. "Gue nggak bisa nonton horor."
Wisnu tertawa kecil mendengar suara imut Eleena ini. Gadis dengan rambut terikat setengah ini begitu lucu dengan menutup mata penuh ketakutan.
"Ini bukan film horor." Wisnu menurunkan tangan Eleena yang menutupi mata gadis itu. "Kita nggak lagi nonton horor," tambah Wisnu mengelus surai Eleena.
Eleena membuka matanya perlahan, mengintip adegan apa yang sedang berlangsung di layar lebar itu. Dan hebatnya, adegan itu menampakkan sepasang kekasih yang sedang berdebat kecil. Eleena dengan wajah polosnya menoleh ke Wisnu.
"Ini bukan horor ya?" tanya Eleena. Wisnu tersenyum, tak tahan melihat keimutan dari gadis ini. Gadis di sebelahnya ini sangat kecil dengan wajah polosnya, Wisnu seakan ingin mencubit pipi gadis itu hingga merah sampai dia menangis karena terlalu imut.
"Kita nikmati film ini bareng." Wisnu mengalihkan pandangannya ke depan, fokus menonton adegan yang sedang ditayangkan.
Eleena menatap Wisnu penuh kekaguman. Sikap Wisnu yang mengerti hal-hal kecil tentang Eleena ini lah yang berhasil meluluhkan Eleena. Semakin lama lelaki itu semakin membuat perasaan Eleena tak karuan. Wisnu bisa mengerti tentang Eleena bahkan sebelum gadis itu mengatakannya. Wisnu tidak banyak bicara tapi langsung bertindak.
Kadang Wisnu bisa berubah menjadi sangat romantis. Eleena tersenyum kecil berusaha menyembunyikan senyum sumringahnya agar tidak dikatakan gila oleh Wisnu. Eleena mengikuti arah pandang Wisnu, menonton film itu. Walau sesekali dia melirik Wisnu, tapi Eleena kali ini menikmati film dengan genre kesukaannya.
Tanpa sadar, Eleena meletakkan kepalanya di pundak Wisnu. Tangan Wisnu yang mengelus bahu Eleena dan kepala Eleena yang berada di pundaknya. Mereka sedang menonton film bersama dengan popcorn di tengahnya dan adegan romantis yang ditampilkan. Ini kencan sesungguhnya.
...***...
Mobil biru berlogo AK itu berhenti. Kedua manusia di dalamnya keluar. Sekilas, tidak ada hal istimewa di taman ini, hanya taman biasa pada umumnya. Tapi ketika Wisnu mengambil tangan Eleena, menggandeng gadis itu untuk mengikutinya. Dari situ Eleena sadar bahwa ada sesuatu yang lebih dalam dari taman ini.
Taman ini bukan taman asing. Eleena sudah sering datang ke tempat ini. Tapi mungkin yang paling bersejarah, taman ini menjadi saksi betapa banyak hal yang dia ciptakan bersama Wisnu saat hari valentine dulu.
Setiap tempat yang dilewatinya, Eleena teringat akan masa lalu. Tempat ini, tempat Eleena dan Wisnu berbaris untuk membaca instruksi permainan, dan di sini juga Wisnu membelikan Eleena cokelat kesukaan dan buket bunga tanpa mawar putih di dalamnya.
Tempat dengan banyak pintu ini juga sangat spesial bagi Eleena. Dia memasak dan berbagi makanan dengan Wisnu. Karena Eleena tidak mengikuti aturan yang ada dia dikenai hukuman harus berfoto bersama Wisnu. Dan sampai sekarang foto-foto itu masih ada di buku memories milik Eleena.
Dan di sini tempatnya. Sebuah ruangan terbuka dengan meja bundar berlapis kain putih dan vas bunga berisi mawar berada di tengah-tengah. Meja itu sudah dihias sangat cantik, dan dikelilingi oleh kelopak bunga. Tanpa melepas gandengannya, Wisnu membawa Eleena untuk pergi ke sana.
Wisnu menarik kursi Eleena, mempersilahkan gadis itu untuk duduk. Mereka duduk berhadapan dengan hidangan yang sudah tersaji di depan. Dua buah spaghetti di atas piring putih. Suasana hampir sore, Eleena melirik jam tangan yang melingkar, jarum jam sudah mengarah ke angka lima. Dan entah kenapa jantung Eleena tiba-tiba berdegup kencang. Dia tidak siap jikalau Wisnu mengatakan kalimat itu di tempat seindah ini.
"Gue mau buat perpisahan yang indah. Biar lo ingat gue, bukan sebagai pribadi yang buruk lagi." Wisnu mengatakan itu tanpa memandang Eleena, dia malah sibuk memasukkan spaghetti ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Dimakan," titah Wisnu.
Eleena menurut. Mereka makan dalam diam, diiringi dengan alunan biola yang entah di mainkan siapa. Harum bunga mawar dan juga lilin menyebar ke seluruh sisi taman ini.
"Sudah?" tanya Wisnu. Eleena mengangguk kecil. Wisnu berdiri dari duduknya, dia mengulurkan tangannya dan Eleena tanpa ragu menerima uluran tangan itu.
"Kita dansa, mau?" Eleena tersenyum kecil, gadis itu mengangguk.
Wisnu memberi isyarat pada seseorang di seberang sana. Alunan musik biola yang sedari tadi terdengar, kini disanding dengan alunan piano juga jangan lupakan gitar juga ikut mengambil alih menciptakan harmonisasi yang indah. Menambah kesan romantis pada dansa kedua orang itu.
Diam-diam ada yang memotret mereka dengan kamera. Dia memotret Eleena dan Wisnu yang sedang berdansa bersama. Orang itu tentu saja suruhan Wisnu. Dia memotret Eleena dan dirinya sejak tadi, mengambil foto sebanyak mungkin untuk Wisnu simpan dan diingat sebagai salah satu kenangan indah.
"Wis, hari ini kenapa lo mendadak jadi indah?" tanya Eleena di sela-sela dansa mereka.
"Gue mau ngasih yang terbaik buat lo," balas lelaki itu. "Gue mau nunjukin ke lo, kalau pacaran sama gue nggak seburuk itu. Setidaknya, kita punya banyak kenangan indah bersama, walau cuma hari ini aja."
"Wis, do you love me?" tanya Eleena lagi.
Wisnu tidak memberi jawaban, dia terus melanjutkan dansanya. Membuat Eleena menjadi malu karena sudah menanyakan hal itu. "Lupain pertanyaan yang tadi," ucap Eleena, memalingkan tatapannya karena sudah malu atas respon Wisnu.
"Kenapa emangnya kalau gue suka sama lo, kita bakal tetap putus juga, kan?"
Eleena perlahan menaikkan pandangannya lagi, menatap Wisnu. "Walaupun kita putus. Setidaknya, gue tahu apa isi hati lo gue."
"Emangnya lo suka sama gue, El?" Wisnu melempar Eleena dengan pertanyaan yang sama. Dan sama seperti Wisnu, gadis itu juga terdiam untuk pertanyaan kali ini.
Untuk urusan perasaan, mereka juga bingung dengan perasaan masing-masing. Ada rasa tertarik, saling nyaman dan saling membutuhkan. Tapi, apakah itu bisa dimasukkan ke dalam kategori cinta? Jujur, Wisnu bukan orang yang ahli mengenai cinta, hingga dia tersesat dengan perasaannya sendiri.
Musik belum berhenti, tapi tarian mereka berhenti. Wisnu menghentikannya. Lelaki itu menarik napas panjang, siap untuk mengucapkan kalimat yang seharusnya sejak dulu ia ucapkan.
"El, thank you so much buat semua yang udah lo lakuin ke gue. Makasih buat bantuan lo dan kerja samanya juga. Gue hutang budi sama lo karena lo udah mau bantuin gue sampai sejauh ini. Makasih lo juga udah mau jadi teman gue."
"El, gue tau mungkin selama sama gue lo banyak susahnya tapi itu bukan hal yang disengaja. Dan maaf juga, karena gue lo harus dimaki sama bokap gue sampai sebegitunya. Bokap gue emang salah, tapi tolong jangan benci sama dia ya."
"El, gue lakuin ini semua buat ngasih ingatan di memori lo bahwa sama gue ada enaknya juga. Gue tau ini terlalu kurang karena gue mempersiapkan ini cuma satu hari aja, tapi semoga lo suka ya."
Kalimat panjang itu terlontar begitu lembut dari bibir kemerahan Wisnu. Mata Eleena sampai berkaca-kaca mendengarnya. Gadis itu seakan begitu terharu dan tak menyangka bahwa manusia seperti Wisnu bisa mengatakan kata-kata seindah ini juga. Eleena yakin, Wisnu sudah mengumpulkan kata-katanya dan berlatih sebelum lelaki itu mengatakannya pada Eleena. Terlihat dari betapa gugupnya Wisnu mengatakan itu.
Di bawah langit ciptakan Tuhan, diiringi oleh alunan musik merdu serta aroma lilin dan bunga mawar yang semerbak. Disaksikan oleh senja dan burung yang berterbangan, Wisnu mengatakan, "Let's break up. Hubungan kita sampai di sini aja. Thank you and sorry."
Air mata Eleena langsung jatuh mendengar itu. Tak perlu alasan yang jelas, tapi Eleena begitu emosional sekarang. Senja yang dulunya diimpikan Eleena untuk ia nikmati bersama pasangannya, kini malah senja menjadi saksi hubungannya bersama Wisnu berakhir karena pertentangan dari Rama.
"Gue antar lo pulang ya. Terakhir kalinya." Hati Eleena begitu sesak, ada rasa sakit yang tak bisa diungkapkan.
Wisnu menarik tangan Eleena, membawa gadis itu untuk pergi dari sana. Meninggalkan musik, aroma dan segala keindahan yang tercipta.
Dengan senja yang perlahan menghilang dan langit yang sudah berubah menjadi gelap, mobil biru melintas di jalanan dengan dua orang yang semulanya adalah kekasih kini berubah menjadi orang asing. Setelah ini, tidak ada lagi yang namanya list untuk mencintai Wisnu. Setelah ini tidak ada lagi perlakuan romantis dari Putra Aksanta. Setalah ini, mereka akan kembali menjadi orang asing, sama seperti pertama kali bertemu.
Mobil Wisnu berhenti di depan pagar rumah Eleena. Wisnu melepaskan sabuk pengamannya. Lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari dalam kantung celananya. Wisnu memasangkan sebuah jepitan di rambut Eleena. Jepitan berbentuk hati berwarna merah untuk Eleena.
"Hadiah terakhir, dari gue."
Ucapan itu menjadi penutup perjalanan mereka. Eleena keluar dan melambaikan tangan kepada mobil biru Wisnu menghilang dari pandangan.
__ADS_1
Malam ini, bulan menjadi saksi Eleena menangis karena hubungannya selesai. Eleena Safira Dirgantara dan Wisnu Putra Aksanta, selesai.