Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Waktu bersamanya


__ADS_3

Rama mengatur peredaran napas berkali-kali. Menenangkan diri setelah melihat Wisnu kabur tadi. Rama merapikan jas, membetulkan jam dan bersiap menuju meja makan yang sudah kacau.


Satu persatu langkah Rama menimbulkan ketakutan di dalam hati, dia tidak menyiapkan jawaban untuk pertanyaan yang mungkin akan keluar dari bibir rekan bisnisnya. Rama bahkan tidak siap kalau pertanyaan dan pernyataan buruk akan dia dengar. Rama bahkan belum menyiapkan bagaimana ekspresi wajah saat ia sampai di meja makan. Dia sudah sangat malu karena tingkah Wisnu. Rama selalu berharap kalau Wisnu bukanlah anaknya tapi semesta tidak mendengarkan.


"Maafkan saya." Itu kata yang keluar dari bibir Rama begitu sampai di sana. Semua pasang mata langsung tertuju padanya.


Tatapan tajam dari rekan bisnis Rama mendirikan bulu kuduk Rama. Tatapan mata dengan sejuta pertanyaan siap menyerang Rama yang bahkan belum duduk.


"Wisnu mana, Om?" Lutut Rama melemas mendengar pertanyaan itu. Dengan senyuman yang terus terpampang di wajah sejak awal, Rama menjawab dengan hati-hati.


"Wisnu, dia ada urusan penting. Jadi dia pergi lebih dulu." Meskipun sudah memberi alasan yang sedikit masuk akal itu tidak mampu menghilangkan tatapan tajam dari mereka semua.


Rama ingin sekali menghilang sekarang juga. Tapi dia tidak bisa mempermalukan diri, sudah cukup Wisnu yang mempermalukannya, dia jangan.


"Saya kecewa dengan anda Tuan Aksanta." Suara itu menghentikan Rama yang ingin mendudukkan diri di kursi.


Rama kembali menegakkan tubuh. Dengan lutut yang lemas, tubuh bergetar dan dahi yang dipenuhi peluh, Rama tetap menampakkan senyum dan wajah santai.


"Saya tidak menyangka hal ini dari Anda," katanya sambil berdiri dari duduk diikuti yang lain.


"Maaf, Tuan Satya." Entah sudah berapa kali Rama meminta maaf untuk hari ini.


"Saya pikir, hal seperti ini tidak akan pernah terjadi di antara kita," sambungnya.


Rama sekarang benar-benar panik, jantungnya sudah tak bisa berdetak dengan santai, kedua tangannya benar-benar terlihat bergetar kalau dia menampakkannya.


"Maafkan saya Tuan Satya, ini murni kesalahan kami. Saya akan menyelesaikan semuanya. Saya janji," ucap Rama dengan suaranya yang bergetar.


"Yah, aku nggak suka deh," adu gadis seusia Wisnu itu. Dia memegang tangan ayahnya. "Aku udah nggak suka sama Wisnu."


Jantung Rama rasanya ingin berhenti saat itu juga. Rama bisa melihat kehancuran di depan matanya saat ini juga. Kata-kata menyeramkan yang kini sudah keluar. Kalau begitu hal menyeramkan juga akan menyerang hidup Rama.


"Tuan Satya, saya benar-benar minta maaf, sekali lagi saya meminta maaf atas tindakan anak saya tadi. Saya juga tidak mengerti kenapa dia melakukan hal seperti itu, jika Anda memberi saya waktu, saya akan membujuk anak saya. Perjodohan ini akan tetap terjadi, saya meminta waktu anda sebentar—"


Ayah Melia mengangkat tangannya menghentikan perkataan bertele-tele Rama.


"Saya tidak ingin mendengar apapun lagi, Tuan Aksanta," ucapnya.


"Tuan Satya, ini masih bisa kita selesaikan, saya—"


"Saya tidak ingin mendengar apapun lagi, Tuan Aksanta!" tegas Ayah Melia kembali memotong ucapan Rama.


"Saya menghentikan perjodohan ini."


"Tuan Satya—"


"Dan membatalkan kerjasama kita."


Jantung Rama seketika berhenti saat itu juga. Perkataan dari Ayah Melia menghentikan hidup Rama dalam sekejap. Rama tidak bisa berpikir apapun lagi. Bahkan saat mereka pergi dari meja makan, dia tidak mencoba untuk menghentikan malahan dia termenung menatap datar ke depan dengan pikiran kosong. Sampai-sampai elusan dari Meethila tidak lagi terasa.


Rama terduduk di lantai, dia tidak mampu lagi menahan lututnya yang melemas. Tatapan kosong Rama menandakan hidup Rama berakhir. Perjodohan, kerjasama, keuntungan, semuanya sudah hilang dalam sekejap. Padahal Rama sudah membayangkan betapa besar keuntungan yang akan dia peroleh dari perjodohan ini, betapa besar perusahaannya nanti jika meneruskan kerja sama dengan Tuan Satya. Namun sekarang, semuanya sudah selesai, keuntungan besar Rama menghilang. Dan itu semua terjadi karena anak itu. Wisnu yang harus bertanggung jawab atas semua ini, kerugian yang akan Rama alami itu semua tanggung jawab Wisnu. Tidak ada alasan Rama tidak membenci anak itu, dia benar-benar tidak menguntungkan.


Rama berdiri, menutup mata sejenak, menghirup oksigen dan mengeluarkannya perlahan-lahan. Rama menepis tangan Meethila yang mengelus pundak lebar Rama. Pria itu berjalan lebih dulu dari Meethila. Tentu saja sebagai istri yang baik Meethila mengejarnya.


"Mas Rama, tunggu aku!" jerit Meethila saat dia sudah tertinggal jauh karena langkah Rama yang lebih besar dari langkah Meethila.


Namun, alih-alih mendengar teriakan Meethila, Rama memasuki mobil dan meninggalkan Meethila sendiri di sana. Meethila menatap mobil putih yang kini sudah menjauhi restoran. Mereka pergi bersama dan pulang sendiri-sendiri. Dari semua perbuatan buruk Rama, Meethila tidak menyangka bahwa ia akan ditinggal. Rasa sedih ada dibenaknya, tapi kembali lagi ia sudah terbiasa. Semua masalah ada jalan keluar, kalau ia ditinggal dia tinggal menelpon sopir untuk menjemput. Rama sedang kalut sekarang, tidak baik Meethila mengganggu.


Dan di sini, Rama memukul setir mobilnya menyalurkan segala kekesalan dan kemarahan. Mobil Rama melaju dalam kecepatan yang lumayan tinggi. Syukur saja saat ini jalanan sepi, jika tidak akan ada tabrakan yang terjadi karena Rama mengendarai secara ugal-ugalan.


"AAARRRGGGGHHH!" Rama memukul setir mobilnya lagi.


Rama menghentikan mobil secara mendadak. Tubuhnya terlempar ke depan. Dia buru-buru melepas sabuk pengaman, keluar dari mobil. Jalanan sunyi, sangat tepat untuk melampiaskan amarah.


"AARRGGHH!" Rama memukul tembok di sebelahnya. Tanpa Rama sadari buku-buku tangannya mulai memerah bahkan mengeluarkan darah akibat pukulan bertubi-tubi yang Rama lakukan.


"Aku benci!" Rama mengacak-acak rambut. "Kenapa? Kenapa?!" Rama kembali memukul tembok, kini ia menambah menendang tembok juga.


"Wisnu Putra Aksanta, saya benci kamu." Sambil membayangkan wajah Wisnu, dia memukul tembok berkali-kali.


"Saya kehilangan semuanya, keuntungan, kerjasama, teman, dan kebahagiaan. Itu semua karena kamu, Wisnu." Tangan Rama terkepal.


Dia menendang ban mobilnya, menjambak rambut frustasi sambil terus berteriak. Tanpa Rama sadari ada sebuah mobil yang berhenti tak jauh dari ia menyiksa diri.


Mobil silver itu menurunkan seorang perempuan membawa payung di genggaman karena gerimis yang mulai berjatuhan. Netra hitam pekat milik perempuan itu melihat aktivitas pria di seberangnya yang sedang memukuli tembok. Ingin dia mendekat, tapi rasa takut lebih dulu menguasai.

__ADS_1


"Kasian," gumamnya melihat pria itu.


Perempuan berpayung biru terus melihat Rama memukuli dan menendang tembok. Sampai pada akhirnya, kedua kaki yang ia punya didekatkan pada Rama saat pria itu menghantam kepala di tembok berkali-kali.


"Berhenti, jangan gitu!" seru Sinta mendekat. Rama tidak mendengar, dia lelah, lebih baik dia pergi. Bahkan darah yang keluar dari sela-sela rambut tidak menghentikan Rama memukuli kepalanya sendiri.


"Jangan gitu!" Sinta menarik Rama, menghentikan aktivitas pria itu. Netra hitam pekat Sinta bertemu dengan netra hazel Rama.


Kedua insan ini saling melempar tatap seperti biasa. Darah yang bercucuran dari kepala Rama, perlahan memburamkam penglihatan. Rasa pening menyerang, perih yang ada di tangan juga mulai terasa. Rama jatuh di pelukan Sinta. Sinta melepaskan payungnya, memegangi Rama yang hampir jatuh ke tanah.


Berat tubuh Rama tidak mampu Sinta tahan, akhirnya Sinta menurunkan Rama yang setengah sadar. Dia sedikit menggeret Rama untuk meneduh karena gerimis kecil sudah berganti menjadi hujan. Sinta membawa tubuh Rama ke sebuah ruko kosong bertuliskan 'Ruko ini disewakan'.


Sinta menyenderkan tubuh lemah Rama. Dengan sedikit mata yang terbuka Rama memegang pergelangan tangan Sinta, menggeleng pelan bermaksud agar wanita itu tidak meninggalkannya.


"Maaf." Sinta melepaskan tangan Rama. Mengambil payungnya yang terjatuh. Dia masih sempat melihat Rama sejenak. Rama dengan darah di mana-mana, kondisi tubuh yang sangat jauh dari kata sehat.


Mata Rama juga memandang Sinta dari kejauhan, meskipun buram Rama bisa melihat Sinta menatapnya. Rama memunculkan senyuman kecil, sebelum akhirnya mata itu tertutup. Rama sudah kehilangan kesadaran.


Sinta berlari masuk ke mobil berwarna silver itu. Dia duduk di dalam, tapi perasaan tidak tenang. Apa pantas dia meninggalkan Rama sendiri, padahal keadaan Rama tidak bisa dibilang baik-baik saja. Sinta melihat mobil putih Rama, pemiliknya sudah terkapar, dan satu-satunya yang tahu hanya Sinta.


Sinta melirik kotak P3K di dalam mobil. Dia masih agak ragu untuk membantu Rama, secara mereka orang asing sekarang. Rama dan Sinta bukanlah sepasang kekasih seperti dulu lagi. Sinta menggeleng kuat, tangan putih itu mengambil kotak P3K dan membuka pintu mobil. Dia meninggalkan payung dan berlari menuju Rama yang kini pingsan.


"Rama." Sinta sampai di sana, dia agak sedikit terkejut ketika melihat kondisi Rama yang kini tidak sadarkan diri. Padahal tadi sebelum Sinta masuk mobil Rama masih sadar, tapi kini dia sudah kehilangan kesadaran.


"Rama, buka mata kamu." Sinta menepuk-nepuk pipi Rama beberapa kali. Tidak ada jawaban sama sekali.


Sinta yang mulai panik, membuka kotak P3K, tangan Sinta mengacak-acak kotak putih itu mencari di mana barang yang ia perlukan. Tangan Sinta mengambil buru-buru kapas ketika matanya melihat. Dia pelan-pelan membersihkan luka Rama dengan kapas yang sudah ditetesi alkohol terlebih dahulu.


"Rama, bangun." Sambil terus membersihkan darah Rama, Sinta bergumam berharap Rama membuka mata agar Sinta tidak terlalu panik.


Darah Rama begitu banyak, karena pria itu menghantam kepalanya cukup kuat ke tembok. Sinta agak kewalahan mengatasi luka Rama, tapi karena Sinta yang pernah menjadi anggota PMR sewaktu SMA bisa mengatasi ini perlahan-lahan.


Setelah luka di dahi Rama berhasil ia bersihkan, dia beralih membersihkan darah dari kedua telapak tangan Rama. Sinta melihat jelas pria ini memukuli tangannya sendiri ke tembok. Tangan Sinta yang cekatan membersihkan luka di punggung tangan Rama.


Mata Rama perlahan terbuka, walau masih agak buram, dia masih berusaha untuk melebarkan pandang. Rama bisa melihat rambut hitam panjang milik seorang perempuan sibuk mengobati luka yang dia punya.


"Sinta," lirih Rama pelan. Pergerakan Sinta terhenti, dia menengok ke Rama, senyuman terbit di wajah wanita itu.


"Rama, kamu udah sadar?" tanya wanita itu. Pandangan Rama sudah sepenuhnya terbuka, buram yang tadi menguasai kini hilang. Sekarang mata Rama bisa melihat jelas bahwa wanita yang mengobatinya adalah Sinta. Dan akan selalu Sinta.


Rama membetulkan duduknya untuk bisa lebih tegap, dan Sinta sigap membantu.


"Kamu pelan-pelan," katanya.


Sinta kembali mengobati luka Rama. Kini ia mengoleskan salep di luka bagian kepala Rama. Tangan putih Sinta masih terasa lembut saat kulitnya menyentuh kulit Rama walaupun tidak disengaja.


Sinta fokus mengobati luka Rama dan Rama fokus melihat siapa yang sedang mengobatinya. Kesigapan Sinta dan kekhawatirannya masih sama. Rama, terpesona lagi-lagi oleh perempuan yang sama.


"Kamu, nggak boleh kayak gini terus. Aku tahu kamu capek, tapi nyakitin diri sendiri juga nggak baik. Seharusnya semakin umur kamu bertambah, kedewasaan kamu juga bertambah, hilangkan jauh-jauh kebiasaan buruk nyakitin diri sendiri, Rama," omel Sinta dan itu disenangi Rama. Bahkan kekehan kecil muncul di wajah tampan mirip Wisnu itu.


Sinta terus mengomeli Rama karena melakukan hal yang sama bahkan setelah bertahun-tahun mereka berpisah. Sinta tahu betul Rama seperti apa. Dia orang yang tempramen, dan punya emosi tak terbendung. Jika dia sedang dilanda masalah, dia tidak segan untuk memukuli orang atau lebih sering dia memukuli diri sendiri. Itulah mengapa Sinta harus selalu berada di sisi Rama, dia harus selalu sigap kalau-kalau Rama menyakiti diri sendiri lagi.


Sinta pikir kebiasaan Rama ini akan hilang kalau Rama sudah tua, tapi ternyata sama saja. Rama tidak berubah, bahkan setelah 20 tahun mereka berpisah.


"Makasih," ucap Rama lemah. Sinta tidak menjawab, dia fokus merapikan kotak P3K yang tadi berantakan karena kepanikan yang dia alami.


Sinta berdehem untuk menjawab ucapan Rama tadi. Dia menutup kotak P3K setelah perban terpasang di dahi Rama.


"Masih ada yang sakit?" tanya Sinta.


"Ada." Rama menaruh tangannya di dada. "Sakit di sini belum hilang, Sin." Maksud Rama, luka yang ada di hatinya masih belum hilang.


Sinta tidak menghiraukan, dia berusaha terlihat biasa saja dihadapan Rama.


"Aku nggak tahu kenapa kamu lakuin ini," ujar wanita itu.


"Aku, capek Sin. Wajar lakuin ini," balas Rama.


Sinta menggeleng, "Nggak wajar, Ram. Sampai kapanpun hal seperti ini bukan hal wajar. Kenapa kamu nggak pernah ngerti, aku selalu bilang sama kamu jangan pernah nyakitin diri sendiri. Kamu mukulin diri kamu, emang apasih enaknya ngelukain diri sendiri?"


"Lega aja, Sin," jawab pria di depannya ini.


Sinta semakin tidak mengerti dengan sikap Rama. Sungguh, tidak ada yang berubah dari mantan Sinta ini.


"Kamu tuh ya, nggak pernah berubah. Udah tahu kalau nyakitin diri sendiri nggak pernah mau ngobatin. Harus diobati orang dulu baru mau, nanti infeksi baru tahu rasa."

__ADS_1


"Kamu masih kenal sama aku?"


Sinta terdiam, netra hitam pekatnya kembali menatap dalam netra hazel yang dulu pernah jadi tempat Sinta pulang. Sinta tidak bisa berbohong dan menolak fakta kalau Rama dulu pernah jadi tempat pulang terbaik yang ia punya. Rama adalah cinta terdahsyat dan luka terhebat dalam hidup Sinta.


"Kamu, pulang istirahat," kata Sinta hendak pergi dari sana.


"Kenapa Sin?" Langkah Sinta terhenti, pria yang sekarang ia belakangi berusaha untuk berdiri.


Rama berdiri walau harus menyandarkan tubuh ke dinding. "Kenapa kamu khianati aku?" Sinta lantas berbalik badan. "Aku sejahat itu sampai-sampai kamu khianati aku?"


Topik itu. Lagi-lagi topik sensitif itu diungkit oleh Rama. Di saat seperti ini pun Rama membahas hal itu, benar-benar sudah hilang akal.


"Aku sayang sama kamu, Sin. Tapi kamu khianati aku. Dan ujungnya apa? Kamu juga dikhianati sama orang itu."


"Aku nggak pernah khianati kamu Rama, berapa kali aku harus bilang," balas Sinta.


"Aku lihat kamu bareng sama laki-laki itu Sinta. Apa itu tidak bisa dijadikan sebagai bukti?"


"Ram, aku nggak pernah khianati kamu, dan laki-laki itu aku bahkan nggak kenal." Sama seperti dulu, Sinta tetap berusaha membela diri.


"Laki-laki lain berani mencium kamu, itu berarti dia punya hubungan dengan kamu Sin."


"Nggak Rama!" bentak Sinta. "Aku bilang nggak, ya nggak! Berapa kali aku harus bilang sama kamu." Suara Sinta mulai terdengar lirih.


"Seandainya kamu nggak punya hubungan dengan pria itu Sin, sekarang kita nggak akan jadi orang asing," ujar Rama.


"Kita jadi orang asing karena kamu yang ingkar janji. Kamu nggak bisa percaya sama aku seperti janji yang kamu ucapkan waktu itu. Kalau kamu percaya sama aku, kita nggak akan jadi asing sekarang, Ram."


Rama terdiam sejenak, sebelum kembali bersuara, "Aku ingkar janji? Lantas kamu gimana? Kamu juga ingkar janji Sin, kamu nggak bisa setia seperti janji yang kamu ucapkan waktu itu."


"Aku nggak setia?" Sinta tak habis pikir dengan pria dihadapannya ini. Entah terbuat dari apa hati Rama, dia tidak pernah percaya pada Sinta bahkan sampai saat ini juga.


"Iya Sin, kamu berhubungan sama laki-laki lain pada saat kita menikah dan kamu juga menikahi laki-laki lain sekarang," jelas Rama.


"Aku nikah karena kamu nikah lebih dulu Rama!" balas Sinta.


"Itu karena kamu khianati aku duluan!" Intonasi Rama mulai meningkat. "Kamu yang mulai duluan, kamu yang buat kita pisah, Sinta."


"Berhenti nuduh aku Rama!" bentak Sinta.


"Aku nggak nuduh itu benar!"


Kedua manusia ini sekarang saling melempar bentakan. Saling mencari pembelaan untuk diri sendiri.


"Udah Ram, aku capek sama kamu. Kamu sama aja ternyata, aku beruntung pisah sama kamu tau nggak." Sinta melangkah pergi, tapi mendengar suara seperti ada yang terjatuh membuat Sinta berhenti.


Rama sudah tidak bisa menahan keseimbangan, dia kembali jatuh ke lantai.


"Rama." Seperti biasa, Sinta selalu sigap menolong. Dia bahkan membopong Rama menuju mobilnya, padahal Rama sudah menuduh dia yang tidak-tidak.


Kaki Sinta berhenti bergerak. Ia melihat ada Meethila di depan, wanita itu mendekati mereka berdua mengambil Rama dari bopongan Sinta.


"Saya istrinya, kebetulan saya lewat di sini. Terimakasih." Belum sempat Sinta bertanya dia siapa, wanita itu sudah lebih dulu memperkenalkan diri.


"Baguslah kamu istrinya. Lain kali jaga suami kamu baik-baik, jangan biarin suaminya keliaran sampai sini. Apalagi nuduh orang lain." Pandangan Rama terangkat, begitu kata-kata Sinta terdengar.


"Oh ya, saya mau bilang, semangat ya kamu udah jadi istrinya. Semoga kamu kuat, dia orang gila soalnya." Setelah mengatakan itu, Sinta masuk kembali ke mobil. Menjalankan mobilnya pergi dari sana.


Meethila melihat mobil Sinta pergi, wanita itu sangat tahu siapa perempuan yang bersama Rama. Itu, Sinta—mantan istri Rama sekaligus perempuan yang sangat Rama cinta. Meethila melihat wajah itu setiap hari di nakas kamarnya. Wajah perempuan yang masih ada di hati Rama dan membuat Meethila tidak bisa masuk ke dalamnya.


"Ngapain ke sini?" tanya Rama lemas.


Meethila dibantu oleh sopir untuk membawa Rama masuk ke dalam mobil. "Tadi aku nyariin kamu. Malah nyasar ke sini, ya udah kita ketemu," jawab Meethila mendudukkan Rama di kursi penumpang.


Meethila menyuruh sopir untuk membawa mobil Rama pulang, biar Rama Meethila saya yang mengurusnya.


"Takdir mau aku ketemu sama kamu Mas, makanya aku dibuat nyasar ke sini tadi," ucap Meethila menghidupkan mobil.


Rama tersenyum, "Takdir mau aku ketemu sama Sinta, makanya bawa aku ke sini." Meethila terdiam, dia lebih memilih untuk menjalankan mobil.


"Sinta masih sama, dia masih perhatian kayak dulu. Aku masih sayang sama dia."


Meethila tetap menjalankan mobil meskipun hatinya terasa sangat sakit mendengar Rama terus memuji Sinta. Meethila tidak tahu kalau Sinta sangat berarti di hidup Rama, tapi yang lebih membingungkan kenapa Rama mau menikahinya. Alasan Rama dan Sinta berpisah masih sangat misterius bagi Meethila. Karena Meethila bisa melihat cinta Rama untuk Sinta masih ada, tapi Rama berpisah dengannya.


Semesta sudah mempertemukan Rama dan Sinta, dan Meethila meyakini setelah ini pertemuan mereka akan terjadi lagi. Takdir ingin membuka sesuatu lewat pertemuan mereka ini, dan Meethila harus siap jikalau dia tersingkir.

__ADS_1


__ADS_2