Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Perjodohan lagi


__ADS_3

Matahari mulai terbenam perlahan digantikan bulan mulai menampakkan diri di langit malam. Mobil silver itu melaju membelah jalanan ramai karena para manusia berpulangan setelah bekerja seharian. Mobil silver berlogo AK itu diisi oleh dua makhluk di dalamnya. Ada sopir berseragam putih duduk di kursi kemudi dan fokus menatap ke depan demi keselamatan orang yang duduk di bangku penumpang. Lelaki dengan rambut menutupi dahi walau perban yang melingkar di dahinya masih dapat dilihat.


Atensi lelaki itu sepenuhnya ada di dalam benda persegi panjang yang ia gunakan untuk menonton video-video lucu dari media sosial. Tangan lelaki itu bergerak untuk memutar video yang satu dengan video yang lain, belum lagi ada alunan musik disetel di dalam mobil membuat kondisi mobil serasa ramai walaupun hanya berisikan dua orang.


Wisnu kadang tersenyum bahkan sesekali juga tertawa terbahak-bahak karena video yang lewat di berandanya amat mengocok perut. Tawa Wisnu sampai mengundang perhatian dari sopir yang sedari tadi fokus menyetir. Pria itu melihat Wisnu dari kaca yang ada dalam mobil bagian atas. Pak Sopir memunculkan sedikit senyuman melihat senyum Wisnu selebar itu walau hanya karena video lucu saja, itu membuat hati pak Sopir merasa senang.


Apalagi tadi, saat Wisnu kumpul bersama teman-temannya. Seharusnya Wisnu sudah pulang sejak tadi, bahkan sebelum sore tapi karena dia pergi berkumpul bersama ketiga temannya jadi dia pulang terlambat. Tenang, ini bukan bar hanya tempat nongkrong anak muda zaman sekarang aja, cafe-cafe biasa bergaya gen z kesukaan anak zaman sekarang. Dan ajaibnya kali ini Arfin yang memberi rekomendasi cafe, biasanya anak itu memberi rekomendasi tempat bar tapi agaknya dia sudah sedikit berubah menjadi lebih baik, dan Wisnu yakini karena dia sudah sering bergaul dengan anak baik-baik seperti Eleena.


Mereka berempat banyak berbincang di cafe tadi, mulai dari masalah keluarga yang ada bahkan tadi di cafe Wisnu mulai bercerita kenapa dia harus kabur dari rumah. Dan juga pemaksaan Rama untuk melakukan perjodohan dan alasan kenapa ia tidak masuk ke kampus 2 hari lalu, bukan karena sakit tapi karena Wisnu yang sudah babak belur dipukuli oleh anak buah Rama. Dan Gilang juga bercerita bagaimana dia bisa membocorkan keberadaan Wisnu pada Abinya.


Baim dan Arfin di sana hanya mendengar dengan seksama karena mereka berdua memang benar-benar tidak tahu.


"Lo ngerahasiain hal sebesar ini dari kita? Lo anggap kita apaan?" tanya Baim sedikit menyolot.


Arfin yang duduk di sebelah Baim mengangguk mantap. "Parah banget, kita temenan udah lama loh tapi bisa-bisanya lo nggak ngasih tau kita," sambung Arfin.


"Ya maaf, namanya gue kagak dikasih izin sama Tuan Muda buat ngasih tau lu pada," jawab Gilang.


Mereka mulai kembali melanjutkan obrolan, kini topik pembicaraan mereka mulai mengarah ke mata kuliah paling menyebalkan di jurusan mereka masing-masing.


Ada Arfin yang mengeluh bahwa jurusan yang ia jalani sekarang kenyataannya tidak semudah yang dia bayangkan, bukan hanya karena dia ditentang oleh ayahnya tapi karena mata kuliahnya juga.

__ADS_1


"Sumpah gue kagak ngerti banget sama matkul Fonoligi, njir. Tu matkul apa nggak bisa ya dibikin simpel aja gitu mana dosennya bikin ngantuk banget. Godaan besar dah buat gue," keluh Arfin, menyedot jus yang ia pesan.


"Gue kira lo nggak bisa ngeluh soal jurusan lo," kekeh Baim diikuti oleh Gilang.


"Yeuu, tu jurusan ribet juga kali."


"Terus kenapa ambil itu, Fin?" Wisnu bertanya setelah dia meminum orange juice nya.


"Gue suka aja, gue suka sama hal yang berbau tentang sastra, seru tau. Gue bisa bebas berkhayal di sana, diajarkan gimana caranya nulis cerita buat novel, rasanya asik," balas Arfin mulai mengingat bagaimana senangnya dia saat dia mengerjakan ceritanya. Cerita Arfin yang ia tulis di laptop dari 3 bulan lalu sampai sekarang, tapi sayangnya belum kunjung selesai juga. Kalau Arfin bilang sih, dia orang sibuk makanya selesainya bisa lama.


Selain Arfin, Baim dan Gilang juga mengeluh soal mata kuliah mereka sesekali disambung oleh Wisnu dan disetujukan oleh lelaki itu ketika Baim dan Gilang membicarakan hal-hal menyebalkan dari dosen mereka. Walaupun tiga orang ini duduk di bangku yang lebih dekat dengan barisan belakang tapi tetap saja tidak bisa tidur kalau dosen killer sudah masuk.


Keempat lelaki ini berbincang sampai lupa akan waktu. Jika saja sopir Wisnu tidak mengingatkan Wisnu untuk pulang sebelum makan malam sudah dipastikan Wisnu belum berada di mobil dan sedang perjalanan pulang sekarang. Sebenarnya Wisnu sempat menolak ajakan untuk pulang dari sopirnya tapi begitu Pak Sopir mengatakan kalau Rama sudah menanyakannya Wisnu terpaksa duduk di mobil dan ikut pulang.


Wisnu turun dari mobil, meninggalkan sopir itu sendiri di sana dan melenggang pergi menuju ke dalam rumah. Begitu Wisnu menginjakkan kaki di lantai rumah, ada Rama yang sedang membaca buku di tangan dan di depan Rama ada segelas kopi hitam yang masih mengeluarkan asap terletak di meja.


Sebenarnya Wisnu sangat malas kalau harus bertemu dengan Rama apalagi harus menyalami pria paruh baya itu, tapi daripada dia dicap anak durhaka untuk kesekian kali, lebih baik dia menyalami Rama yang sedang duduk di sofa.


Selesai menyalami Rama, dia melangkahkan kaki menjauh dari sana tapi karena ada satu panggilan dari Rama lelaki itu menghentikan langkahnya. Rama meletakkan buku itu di meja, pria yang memakai setelan kaus hijau dan celana hitam berjalan mendekati Wisnu.


Wisnu segera berbalik badan, tidak sedikitpun bergerak dari tempat yang sekarang ini sudah ia pijak. Tidak melangkah maju maupun melangkah mundur, hanya tetap bagaikan patung yang tidak bisa bergerak.

__ADS_1


"Papa udah ketemu sama cewek baik-baik yang bisa dijodohin sama kamu." Rama berucap begitu jelas tanpa jeda, tidak membiarkan Wisnu menyela dan membuka mulut untuk membantah. Bahkan Meethila yang sedang menyiapkan makan malam di meja makan juga terhenti sebentar karena ucapan Rama yang begitu tiba-tiba. Rama memang orang yang selalu tiba-tiba, atau Rama yang tidak pernah memberitahu apapun pada Meethila.


"Maksud?" Wisnu memberanikan diri untuk bertanya.


"Perjodohan," balas Rama.


"Perjodohan bisnis lagi kayak kemarin?" Rama mengangguk. "Nggak mau. Aku nggak mau dijodohin lagi," jelas Wisnu.


"Kenapa?" Hanya satu pertanyaan dari Rama tapi berhasil membuat Wisnu bungkam. Dia seakan kehabisan ide untuk memberi argumen selanjutnya. Tatapan Rama terlalu mengintimidasi lelaki itu sampai-sampai pikirannya tidak bisa mencerna apa yang harus ia ucapkan.


"Apa kamu punya kekasih? Tidak kan." Wisnu diam. "Wisnu Putra Aksanta, saya sudah muak menghadapi sikap berandal kamu, kamu yang tidak bisa diatur dan selalu menyusahkan saya dan juga keluarga saya. Sudah cukup kamu membuat perusahaan saya mengalami kerugian dan juga membuat saya malu di hadapan teman bisnis saya sendiri, sekarang saatnya kamu menebus kesalahan kamu."


"Dengan perjodohan? Apa nggak ada alternatif lain, aku siap lakuin apa aja asal jangan dijodohkan, Pa." Wisnu mencoba untuk bernegosiasi dengan Rama agar pria yang merupakan ayahnya itu bisa mengubah keputusannya.


"Saya ingin kamu dipertemukan dengan gadis baik-baik agar kamu bisa menjadi baik juga. Ingat, kamu itu Putra Aksanta, kamu pewaris segala harta Aksanta, kamu harus menjadi pribadi yang baik agar bisa mengelola semua bisnis keluarga dengan baik juga." Wisnu mendengus kesal mendengar itu. "Dan, satu lagi, saya ingin cepat-cepat mengakhiri kerjasama dengan Arjuna Dirgantara begitu saya dapat investasinya." Begitu nama Dirgantara terdengar di telinga Wisnu, dia langsung mengangkat pandangan dan menatap Rama jelas.


"Jika kamu menerima perjodohan ini, kita akan mendapat keuntungan besar, Wisnu. Dan saya bisa mengakhiri kerjasama dengan Arjuna Dirgantara. Saya benci harus berhubungan dengan segala hal yang menyangkut dengan Agustama." Rama menutup matanya sejenak begitu nama Agustama ia sebut dengan bibirnya sendiri. Rasa benci pada keluarga Agustama begitu besar di hati Rama, tapi ia tidak bisa melupakan kalau kekasihnya dulu juga berasal dari keluarga Agustama. Kekasih yang dulu pernah menjadi istri dan sekarang sudah berubah menjadi orang asing.


"Pa—"


"Saya tidak menerima penolakan!" potong Rama tegas. Pria itu mulai melangkah menjauhi Wisnu yang masih belum bergeser sedikitpun dari tempatnya.

__ADS_1


Namun, Rama menghentikan langkahnya tiba-tiba. "Tapi, kalau kamu bisa membuktikan kalau kamu punya kekasih dalam dua bulan, yang bisa merubah kamu menjadi lebih baik, saya akan membatalkan perjodohan ini," ucap Rama tanpa berbalik badan.


Wisnu menatap heran punggung Rama yang kini mulai menjauh, Rama sangat buruk. Idenya buruk dan solusinya juga buruk, bagaimana Wisnu bisa menemukan seorang kekasih dalam waktu 2 bulan, dia bukan Arfin yang bisa mengenal gadis dalam 1 bulan dan memacari gadis itu di bulan berikutnya dan ketika bulan itu sudah berakhir hubungan mereka juga berakhir. Mungkin Wisnu bisa meminta bantuan Arfin untuk menyelesaikan masalah kali ini. Wisnu kali ini siap dengan solusi dari Rama, lebih baik dia menjalin hubungan dengan sembarang gadis daripada harus dijodohkan dengan orang yang tidak ia kenal sama sekali.


__ADS_2