Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Perseteruan


__ADS_3

Eleena keluar dari kelasnya. Terkesan buru-buru karena dia baru saja menerima pesan dari seseorang. Eleena sedikit berlari untuk keluar dari area fakultas Psikologi. Dia melihat pesan dari nomor itu.


"Semoga Bunda nggak ketemu," batinnya, menambah laju jalannya.


Eleena sampai di sana. Area luar lobi kampus dan dia gagal. Sinta sudah bertemu dengan Wisnu terlebih dahulu sebelum dia bisa mencegahnya. Eleena berdecak, kemudian dia berlari menghampiri Wisnu dan Sinta yang sedang berbincang santai, layaknya tak memiliki masalah.


"Bunda!" seru Eleena, berdiri di sebelah Sinta.


"El, kamu udah pulang." Sinta mengelus pipi anaknya.


"Langsung pulang yuk, Bun," ajak Eleena, menarik tangan Sinta untuk menjauh dari sana.


"Tunggu dong, Sayang. Bunda masih ngobrol sama Wisnu." Sinta melepas tangan Eleena dan beralih lagi pada Wisnu.


"Kamu nanti pulang di jemput atau pulang sendiri, Nak? Kalau dijemput, biar Tante aja yang antar," kata Sinta, dengan senyuman. "Kita jalan-jalan sebentar. Tante udah lama nggak ketemu kamu," ucap Sinta memberi elusan di kepala Wisnu dengan lembut.


Wanita itu menatap iba saat dia melihat ada perban yang tertutupi di sela-sela rambut Wisnu. Dia yakin, kalau perban itu didapat dari Rama. Pria itu sangat kasar bahkan untuk anaknya sendiri.


"Sen—"


"Wisnu Putra Aksanta!" Belum sempat Wisnu menyelesaikan kalimatnya, suara besar dan teriakan Rama sudah lebih dulu terdengar.


Wisnu berbalik, dia menengok dari mana suara Rama itu berasal. Eleena sedikit memiringkan kepalanya untuk melihat sosok yang sedang berjalan mendekati mereka. Gadis itu membulatkan matanya sempurna, langkah besar Rama mengikis jarak di antara mereka.


Wisnu menelan salivanya payah, karena Rama sudah berada di depannya sekarang. Tingginya dan Rama yang terbilang sama, membuat Wisnu sangat ketakutan karena mata hazelnya langsung berhadapan dengan mata hazel Rama.


"Saya sudah bilang, jangan dekati dia." Rama beralih menatap Eleena yang berada di sebelah Sinta dan memegang erat tangan ibunya itu.


Rama dan Sinta bertemu lagi. Tapi kali ini, sorot mata Rama tidak menunjukkan ada keramahan dan kerinduan di dalamnya. Melainkan rasa marah dan dendam yang bersemayam di sana.


"Dia anakmu, kan?" tanya Rama pada Sinta.


Sinta tentu saja mengangguk.


"Dia merenggut anakku dariku," lanjut Rama.


"Maksud kamu?" Sinta mengerutkan keningnya keheranan.


"Dia menjalin hubungan sama Wisnu."


"Kenapa emangnya? Mereka anak muda, wajar kalau memang saling cinta."


Jawaban Sinta itu mengejutkan Wisnu dan Eleena. Siapa sangka kalau Sinta malah menyetujui hubungan mereka, berbeda dengan Rama yang menentang keras.

__ADS_1


"Lagipula Wisnu baik," tambah Sinta.


"Dia anakku, Sinta." Suara Rama memelan.


"El juga anak aku. Dia anak baik."


Rama melirik Eleena tajam, dan Eleena harus menundukkan kepalanya agar tidak bertemu dengan iris hazel Rama.


"Aku nggak suka sama ayahnya," gumam Rama tapi mampu di dengar Sinta karena jarak mereka yang terbilang sangat dekat.


"Apa masalah kamu sama Juna?" Sinta memberanikan diri bertanya.


"Seharusnya kamu nggak usah tanya itu, jawaban itu sudah jelas. Dan nggak perlu pakai alasan."


"Tapi aku tetap butuh alasan."


"Selama puluhan tahun kamu tinggal sama dia, nggak mungkin kamu nggak tau alasannya."


"Ram, Juna nggak seburuk yang kamu kira."


"Tapi dia lebih buruk dari yang aku pikirkan," balas Rama.


Sinta menghela napas. Sulit sekali untuk menyakini Rama bahwa kebencian pada Arjuna itu konyol. Sama seperti keluarga mereka yang bermusuhan tanpa alasan yang jelas.


"Percaya lagi sama Juna, itu sama aja gali lubang maut untuk diri sendiri."


"Dan kamu tau, Sinta. Buah itu jatuh nggak pernah jauh dari pohonnya. Jika ayahnya saja suka merebut milik orang lain, apa bedanya dengan anaknya," sambung Rama.


"Jaga ya ucapan kamu, Rama!" bentak Sinta.


"Kita bicara fakta sekarang."


Eleena terus menundukkan kepalanya merasa malu karena kalimat Rama begitu menyakiti perasaannya.


"Pa, jangan ngomong yang enggak-enggak soal, El." Wisnu ikut campur, dan karena itu dia mendapat dorongan keras dari Rama. Jika saja Sinta tidak sigap menolong anak itu, sudah dipastikan dia akan terjatuh.


"Rama jangan kasar sama anak kamu!" bentak Sinta.


"Daripada sibuk mengajariku cara menjaga anak yang baik, lebih baik kamu mengajari anak kamu untuk berhenti berpura-pura baik di depan orang lain."


"Ram, kamu udah kelewatan." Sinta menatap Rama penuh kekecewaan.


"Dia yang kelewatan. Berani-beraninya dia pacaran sama anak aku!" bentak Rama.

__ADS_1


"Cinta itu nggak buruk, Ram. Kalau mereka emang saling cinta, kenapa harus ditahan," balas Sinta, masih berusaha mengontrol intonasi suaranya agar tidak meninggi dan menimbulkan keributan di sini.


"Kalau dia cinta sama anak aku itu buruk namanya!"


"Maaf, Tuan..." cicit Eleena, bersembunyi di belakang tubuh Sinta.


"Saya tidak heran kenapa kamu tidak mengerti yang namanya sopan santun, karena ayahmu saja memang tidak pernah tahu apa itu sopan santun," ujar Rama.


"Rama!"


"Apa?!"


"El anak aku. Aku membesarkannya, aku mengajarinya apa itu kebaikan dan sopan santun, aku mendidiknya untuk menjadi orang baik. Jadi, jaga ucapan kamu!" Sinta sudah tak bisa untuk menahan emosinya lagi. Sudah lama dia tidak merasa semarah ini pada Rama dan dia pikir semua masalah di antara mereka sudah selesai dan terlupakan, tapi nyatanya masalah mereka akan tetap berlanjut.


"Iya, anak kamu. Murahan! Sama kayak ibunya yang murahan!"


"Rama!"


Plakk


Sinta memberi tamparan keras di pipi Rama, hingga wajah pria itu tertoleh dan meninggalkan bekas merah. Mata Sinta memerah, dadanya naik turun karena emosi yang sudah sangat memuncak di kepala.


"Aku muak sama kamu!" lantang Sinta.


Keributan di antara dua orang ini, berhasil menyita perhatian orang-orang sekitar. Semua pasang mata perlahan tertuju pada Rama dan Sinta. Keributan di kampus yang awalnya terjadi antara Wisnu dan Eleena kini malah terjadi di antara dua orang tua mereka.


Rama memegangi pipinya yang panas karena tamparan Sinta. Pria itu menatap Sinta tajam dengan wajahnya yang sudah memerah dan urat-urat leher terlihat.


"Sinta Dela Agustama!" bentak Sinta.


"Nyonya Dirgantara, Tuan Aksanta."


"Aku nggak pernah peduli kamu menikah sama siapa. Bagi aku, kamu tetap anggota Agustama."


"Agustama yang licik, dan suka menjebak orang lain," lanjutnya.


Sinta mendengus, "Mama benar. Aksanta itu kasar, dan akan selamanya kasar. Dari dulu, kamu dan keluarga kamu nggak pernah berubah. Selalu kasar, dan aku beruntung kita nggak pernah bersama," balas Sinta.


"Aku membencimu Sinta Dela Agustama."


"Saya juga membenci Anda, sangat, Tuan Alrama Aksanta."


Mereka saling memberikan tatapan tajam pada satu sama lain, sebelum menarik tangan Eleena dan Wisnu untuk pergi dari sana. Mereka berjalan ke arah yang berbeda meninggalkan banyak kebingungan dan keributan di Universitas Binawa.

__ADS_1


Nyatanya, Aksanta dan Agustama memang bukan diciptakan untuk satu sama lain. Baik dulu, ataupun sekarang. Mereka dilahirkan untuk saling bermusuhan.


__ADS_2