
Seperti biasa, malam hari di kediaman Aksanta, di dalam sebuah kamar bercat putih gading, ada seorang laki-laki menidurkan tubuhnya dengan menumpu kepala menggunakan salah satu tangan. Matanya menatap langit-langit kamar membiarkan pikiran merayap ke mana-mana.
Wisnu melirik ke arah jam dinding di sebelah kiri kamar. Lelaki itu tersentak, lompat dari kasur. Wisnu lupa, lelaki itu lupa kalau dia seharusnya tidak berada di kamar. Bagaimana kalau mereka sudah datang dan Wisnu tidak membukakan pintu, bisa-bisa akan ada keributan di rumah ini.
Wisnu menarik gagang pintu, keluar dari kamar dengan langkah sedikit tergesa-gesa. Lelaki itu menuju ke ruang tamu yang berhadapan dengan ruang makan keluarga mereka. Sebuah pintu putih besar yang disebelahnya ada beberapa sofa berwarna cream sebagai penambah keindahan rumah. Dan ada Rama yang sedang membaca majalah, duduk di sofa.
Suara bel terdengar, dan Rama menoleh ke arah pintu utama karena itu. Pria berumur 50 tahunan menatap Wisnu yang berjalan sedikit terburu-buru.
"Siapa?" tanya Rama, menghentikan langkah Wisnu sejenak. "Aku ngundang teman, Pa," jawabnya.
"Arfin?" tanya Rama lagi. Wisnu mengangguk, "Ya udah, bukain pintunya." Wisnu sedikit lega karena kali ini Rama tidak marah. Biasanya pria itu akan marah kalau Wisnu mengundang teman-temannya ke rumah mereka.
"Halo," sapa Arfin, sedikit memberi kesan berisik ketika berhasil memasuki kediaman Aksanta. Arfin menghampiri Rama begitu dia melihat Rama duduk di sofa. "Hai, Om," sapa Arfin menyalami Rama saat pria itu sudah berdiri dari duduknya.
"Loh, kok rame? Katanya cuma Arfin aja." Kalimat Rama ini agak sedikit membuat Baim dan Gilang tertegun.
Wisnu sadar sekarang kenapa Rama tidak marah ketika tadi Wisnu memberitahu bahwa temannya akan datang. Rama hanya tahu kalau Arfin yang datang, bukan Baim dan Gilang. Wisnu pikir Rama sudah menyukai Baim dan Gilang, tapi nyatanya sama saja.
"Ah iya, Om. Tadi Baim sama Gilang aku yang ngajak. Biasa, buat temen pulang nanti," jawab Arfin santai dan tidak terlihat kebohongan di dalamnya.
"Oh, buat teman pulang aja? Kenapa kamu nggak bawa sopir kalau takut pulang sendiri, Fin?"
"Aku nggak mau langsung pulang, Om, nanti mau main sebentar sama mereka berdua abis dari sini." Arfin berusaha terlihat sesantai mungkin.
"Halo, Tuan." Gilang mendekati Rama, hendak menyalami pria itu namun tangan Gilang sudah ditepis sebelum berhasil menyentuh tangannya. Gilang menunduk, dia berjalan mundur perlahan, berdiri di sebelah Baim seperti tadi.
"Ya sudah, kamu boleh main sama Wisnu, tapi jangan sampai ada keributan ya," kata Rama. Arfin dan Wisnu mengangguk. Rama menepuk pundak Arfin pelan sebelum pergi dari tempat itu membawa majalah di tangan.
__ADS_1
"Kalau lama di sini nggak papa, kan Om?" Arfin bertanya dengan nada tinggi agar Rama bisa mendengar. Rama berbalik badan, "Boleh, asal kamu nggak dimarah sama Papamu aja nanti." Rama menyertakan kekehan diujung kalimatnya, lalu kembali melanjutkan langkah.
"Gue iri banget sama lo yang bisa sesantai itu ngomong sama Tuan Rama," ucap Baim pelan agar tidak banyak orang yang mendengar, terutama para pelayan di rumah itu.
Baim dan Gilang bernasib sama, mereka berdua tidak disukai oleh Rama. Hanya Arfin yang diterima Rama untuk menjadi teman Wisnu, dikarenakan Arfin adalah satu-satunya yang sekasta dengan Wisnu, berbeda dengan mereka berdua yang hanya anak dari karyawan Rama. Rama selalu menganggap Baim dan Gilang sebagai bawahan Wisnu sama seperti dia menganggap kedua ayah mereka.
Baim dan Gilang ingin bersedih atas nasib mereka, tapi itu tidak berguna, jadi ya mereka harus menerima saja kalau kasta mereka itu memang seharusnya berada di bawah Wisnu atau kasarnya adalah menjadi pelayan Wisnu untuk selamanya. Seperti yang dilakukan kedua ayah mereka untuk Rama.
"Kok lo bohong sama bokap gue?" Wisnu memukul lengan Arfin. "Kalau gue jujur, mati lo," balas Arfin menohok.
"Ngomong-ngomong, kenapa lo minta kita semua ke sini, Tuan muda?" Gilang bertanya.
"Ada hal urgent banget yang harus gue kasih tau sama lo berdua." Wisnu melirik ke sekitar seakan-akan memantau sesuatu. "Nggak enak di sini, kita ke rooftop aja."
"Yes, ke rooftop, malam-malam ke rooftop." Arfin senang bukan main kala Wisnu memutuskan mereka akan pergi ke rooftop, seperti yang kita semua tahu, Arfin sangat menyukai rooftop apalagi saat malam hari. Karena lelaki itu bisa melihat indahnya bulan dan bintang di malam hari di rooftop. Saking senangnya, Arfin bergoyang layaknya anak kecil yang diperbolehkan untuk membeli coklat dan permen oleh orang tuanya.
Keempat laki-laki itu tiba di rooftop rumah Aksanta. Sudah ada kursi yang tersedia di sana. Tanpa minta izin sama Wisnu, Baim dan Gilang sudah duduk lebih dulu, begitu juga Arfin. Wisnu duduk di antara Arfin dan Gilang. Arfin duduk di sebelah kanan Wisnu, Gilang duduk di sebelah kiri Wisnu dan Baim duduk di sebelah Gilang.
"Indah banget ya," gumam Arfin memandangi bulan bertabur bintang di langit malam.
"Gue belum punya pacar, njir," ujar Wisnu. "Lo tau, udah tinggal satu bulan lagi dari waktu yang dikasih sama bokap gue. Kalau gue nggak bisa dapat pacar secepatnya, gue bakal dijodohin sama dia. Gue nggak mau dijodohin." Wisnu menjelaskan dengan nada kesal dan sedikit ada rengekan. Kenyataan bahwa dia belum kunjung mendapatkan seorang kekasih membuat hidup Wisnu sedikit tidak tenang, apalagi Rama selalu saja bertanya apakah dia sudah punya pacar atau belum.
"Jadi lo maunya gimana?" tanya Baim.
"Ya bantuin gue kek, buat nyari pacar," balas Wisnu.
"Gue udah ngasih banyak rekomendasi cewek, lo malah lari," timpal Arfin. "Cewek-cewek lo nggak ada yang benar, Fin." Wisnu menoyor kepala Arfin pelan. "Ya kali gue pacaran sama cewek aneh." Wisnu geli kalau harus mengingat bagaimana perjalanan kencan yang ia hadapi. Harus bertemu dengan berbagai cewek aneh yang sangat jauh dari tipe yang Rama inginkan.
__ADS_1
"Tapi." Belum selesai Wisnu mengucapkannya, semua sorot mata teman-temannya sudah mengarah padanya. "Kayaknya ada satu cewek yang udah narik perhatian bokap gue," sambungnya.
Baim menepuk pahanya. "Nah itu dia, gas ajalah pacarin. Lu nggak usah ribet pakai kenalan segala, soalnya bokap lo udah ngasih lampu hijau ke tu cewek."
"Namanya siapa?" tanya Arfin, pandangan lelaki itu mulai berubah serius.
Wisnu agak sedikit bimbang untuk menjawab pertanyaan Arfin ini. Wisnu tahu kalau Arfin mungkin akan sakit hati kalau mengetahuinya, tapi yang Wisnu tahu hanya Arfin yang bisa membantu lelaki itu sekarang.
"Eleena." Nama itu berhasil menundukkan sedikit pandangan Arfin. Ada rasa sakit di bagian sana yang tak bisa Arfin jelaskan. Yang lelaki itu tahu, ada rasa kecewa yang sangat jelas tertanam di dalam hatinya.
"Fin, sorry, gue tahu lo nggak akan suka kalau gue minta tolong hal ini sama lo, tapi sumpah lo harus bantuin gue sekarang." Arfin sedikit menaikkan pandangan. "Fin, bantuin gue," lanjut Wisnu.
"Bantuin gimana?" Arfin tahu bantuan seperti apa yang Wisnu butuhkan, tapi lelaki itu pura-pura tidak tahu saja.
"Fin, gue tau lo naksir sama tu cewek, dan lo yang paling dekat sama El juga. Lo, paling dipercaya sama dia dibanding gue. Jadi, gue minta tolong banget sama lo, bujuk dia buat jadi pacar gue. Gue janji, gue nggak akan suka sama dia, gue bakal jaga perasaan lo, Fin. Gue cuma butuh status sebagai pacar aja biar bokap gue percaya, dan gue nggak dijodohin. Tolong bantuin gue Fin, lo bisa percaya sama gue, gue nggak akan khianati lo, beneran."
Kata-kata Wisnu itu meluluhkan hati Arfin, lagi. Kata-kata Wisnu yang selalu berusaha untuk meyakinkan dirinya agar melakukan sesuatu untuknya, selalu berhasil membuat Arfin menurut, untuk kesekian kali. Arfin mengangguk pelan sebagai persetujuan atas ucapan Wisnu. Senyum Wisnu merekah, lelaki itu memeluk Arfin.
"Thanks Fin, gue akan berterimakasih sama lo seumur hidup gue, thank you banget." Arfin masih diam belum mengeluarkan kata-kata untuk diucapkan.
Wisnu melepaskan pelukannya, dia tersenyum ke arah Arfin. Arfin perlahan memunculkan senyum juga, tak tega kalau teman-temannya melihat ada rasa kecewa pada dirinya. Arfin harus jadi sumber kebahagiaan mereka, karena itu tugas Arfin dari dulu.
"Gue beruntung banget punya teman kayak lo, Fin," ucap Wisnu.
"Gue juga," balas Arfin.
Keempat lelaki itu menyenderkan bahu ke kursi, memulai kembali perbincangan di bawah langit malam yang tak berkaitan dengan Eleena. Seakan-akan hal berbau Eleena tadi hanya sebuah iklan saja. Dan seperti biasa, Arfin selalu ikut bergabung menjadi yang paling ceria dan heboh di antara mereka, Arfin dan Baim posisinya sebagai penyair suasana, tanpa kehadiran mereka berdua, tongkrongan rasanya sepi layaknya tak ada penghuni.
__ADS_1
Namun, kala rasa pusing itu singgah lagi pada Arfin, lelaki itu mulai diam. Tak melanjutkan obrolan bersama teman-temannya. Dia lebih memilih untuk menyenderkan punggung ke kursi dan memejamkan mata sejenak, berharap bahwa rasa sakit ini akan hilang.
Wisnu melirik Arfin yang menutup mata di kursinya. Wisnu beruntung mendapatkan apa yang dia inginkan, termasuk memiliki teman seperti Arfin. Wisnu percaya bahwa persahabatan itu di atas segalanya, jadi seperti apa yang telah dia ucapkan, Wisnu akan memenuhi janjinya dan tidak mengecewakan Arfin—salah satu teman terbaik.