Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Jangan bongkar identitasmu


__ADS_3

Malam hari tiba ketika sang surya yang sudah seharian menyinari bumi dengan sinarnya yang kadang terasa sangat panas jika menyentuh kulit. Dan bulan yang kini hanya bekerja sendirian untuk menyinari semesta di malam ini.


Mobil hitam berlogo AK melaju membelah jalanan, menyalip beberapa mobil dan kendaraan lainnya di jalan. Tidak ugal-ugalan tapi memang begitu gaya Wisnu menyetir mobil.


"Lo gila ya, pelan-pelan dong!" protes Eleena pada Wisnu karena kelajuan yang digunakan lelaki itu terbilang cukup berbahaya. Eleena bahkan harus memegang kuat sabuk pengamannya agar tidak terpental akibat laju Wisnu.


"Kita harus cepat, nanti bokap gue marah," balas Wisnu yang diiringi dengan decakan karena dia kalah cepat dari lampu yang menjadi penanda boleh atau tidaknya seorang pengemudi melewatinya. Yang biasa dipanggil dengan sebutan lampu merah.


Wisnu diam-diam menyalahkan Eleena yang mengomel padanya sampai-sampai dia harus kalah cepat dari lampu menyebalkan ini. Wisnu melirik jam tangan bermerek mahal yang melingkar di tangan. Kalau Eleena tebak jam itu bernilai puluhan atau mungkin ratusan juta.


Wisnu menggoyangkan kakinya yang berpijak di alas mobil, dia tidak bisa lebih lama lagi menunggu lampu ini untuk berubah warna menjadi hijau, sebab dia akan terlambat dan drama dari Rama akan terdengar di telinga, Wisnu malas.


Begitu iris hazel Wisnu menangkap lampu itu sudah bertukar warna menjadi hijau, dia buru-buru menginjak pedal gas dan melajukan mobil dengan kecepatan seperti tadi.


"Pelan-pelan ege!" umpat Eleena. "Nanti lama," balas Wisnu dengan balasan yang sama.


"El," panggil Wisnu tanpa menoleh. Tapi Eleena menoleh pada Wisnu untuk mendengar kelanjutan dari ucapan Wisnu. "Thanks ya lo udah mau datang, dan makasih juga lo udah mau jadi pacar gue," lanjutnya.


"Sebenarnya gue nggak mau."


"Yang mana? Nggak mau datang atau nggak mau jadi pacar gue?" Wisnu bertanya untuk menghilangkan kebingungan atas jawaban ambigu Eleena.


"Dua-dua," balas gadis itu ketus, melipat kedua tangan di tangan.


Kalau bisa dibilang, bersama Wisnu sekarang ini adalah sebuah musibah, karena dia sama sekali tidak ingin berlama-lama bersama lelaki yang sekarang ini tengah mengendarai mobil. Eleena masih belum bisa memaafkan kesalahan Wisnu yang dengan sangat lancang pernah menempelkan bibir miliknya dengan bibir mungil nan tipis Eleena.


Dan kenyataan bahwa dia di sini sebagai pacar Wisnu adalah musibah baru bagi Eleena. Gadis itu bahkan tidak sadar kenapa dia mengucap hal itu pada lelaki di sebelahnya beberapa hari lalu saat mereka mengadakan rapat bersama di kampus.


"Kok gue iyain sih anjir?!" Eleena mengacak rambutnya frustasi kala dia mengingat apa yang terjadi antara dia dan Wisnu di lobi kampus.


Eleena baru saja tiba di rumah setelah pertemuannya dengan beberapa klien Sinta di cafe. Gadis itu disuruh untuk mengikuti ibunya agar bisa lebih mengenal dunia bisnis. For your information, bisnis Sinta bukan hanya cafe saja melainkan juga usaha pembuatan tas dan juga ada butik. Dan Arjuna menyuruh Eleena untuk belajar beberapa hal itu bersama Sinta padahal Eleena sudah berkali-kali mengatakan kalau dia tidak tertarik dengan bisnis dan semacamnya tapi tetap saja Arjuna menyuruh gadis itu untuk belajar hal itu.


Eleena mendudukkan diri di pinggir kasur. Dia menatap dinding bercat coklat muda dengan frustasi.


"Gue beneran udah jadi pacar Wisnu?" Eleena mencoba mengingat pertanyaan dan jawaban yang dia berikan pada lelaki itu tadi. Sekuat tenaga Eleena mencoba pertanyaan lain untuk diucapkan Wisnu padanya di dalam otaknya tapi gagal. Pertanyaan Wisnu maukah Eleena menjadi pacarnya dan jawaban 'iya' dari Eleena tidak bisa dirubah.


Eleena membaringkan tubuhnya frustasi, dia bahkan sampai harus menggelengkan kepala kuat agar fakta bahwa dia telah menjadi pacar Wisnu sekarang, akan segera menghilang.


"Gue nggak mau jadi pacar Wisnu!" Eleena merengek di dalam kamarnya, memukul-mukul bantal yang dilapisi oleh kain bermotif bunga-bunga.

__ADS_1


Gadis itu bahkan sampai harus memberantakan kasurnya sebagai bentuk kekesalan karena jawaban Eleena yang tidak fokus mengubah hidup gadis itu.


"Gue nggak mau jadi pacar dia," gumam Eleena pelan di dalam mobil yang masih menuju kediaman Aksanta.


"Yang ngundang lo makan malam ini bokap gue, jadi gue harap lo baik-baik ya sama dia," ucap Wisnu mulai memelankan lajunya guna lebih nyaman mengobrol bersama Eleena. Karena sepertinya tidak hanya ini yang ingin disampaikan Wisnu pada perempuan yang sekarang sudah berganti status menjadi pacarnya itu.


"Ya gue tau." Eleena menjawab malas sambil memutar kedua bola matanya.


Wisnu tidak berbohong, keadaan yang membuat dia harus bersebelahan duduk dengan Eleena itu karena Rama. Bahkan agenda Wisnu harus menjemput gadis itu dari rumahnya dan meminta izin pada Sinta juga karena Rama. Namun Wisnu harus bersyukur karena tidak ada Arjuna di rumah saat Wisnu meminta izin untuk membawa Eleena pergi bersamanya demi memenuhi perintah Rama. Jika Arjuna ada di sana sudah dipastikan Arjuna tidak akan mengizinkan anak semata wayangnya itu untuk bertemu dengan Rama. Apalagi konflik antara ayahnya dan Arjuna mungkin lebih buruk dari yang pernah lelaki itu bayangkan.


Satu hari setelah Wisnu mendengar Rama bersumpah untuk tidak membiarkan keturunannya dekat dengan keturunan Arjuna, esoknya pria itu masuk ke kamar Wisnu. Dia awalnya bertanya pada Wisnu apakah dia sudah punya pacar atau belum, mengingat waktu yang diberi Rama juga sudah tersisa 14 hari lagi.


Wisnu mengangguk kaku, "Udah kok Pa."


Rama menautkan alis sedikit tidak percaya pada jawaban anak pembangkangnya itu. "Bohong?"


Wisnu menggeleng, "Bener. Tanya aja sama Arfin kalau nggak percaya."


Kebiasaan Wisnu adalah selalu membawa nama Arfin jika Rama tidak percaya pada apa yang dia ucapkan. Karena dia tahu kalau Rama lebih mempercayai ucapan Arfin ketimbang Wisnu yang anaknya sendiri. Tapi Wisnu tidak pernah menyebut nama Gilang dan Baim di depan Rama. Kalau dia melakukan itu sama juga dia mencari kematian pada dirinya, secara Rama sangat tidak suka pada kedua laki-laki asik itu.


Hanya karena status mereka yang di bawah Wisnu atau bahkan ayah mereka berdua saja bekerja di bawah Rama. Namun karena Arfin adalah satu-satunya teman dekat Wisnu yang sekasta dengan lelaki itu, Rama selalu memuji dan menyanjung Arfin setiap kali mereka bertemu.


"Halo Om," sapa Arfin di seberang sana.


Rama menurunkan ponsel itu dari telinganya, tangan pria itu bergerak memencet simbol speaker dari ponsel itu. Dia ingin Wisnu mendengar pembicaraan mereka.


"Fin, Om mau nanya," ucap Rama.


"Ya Om, nanya apa?" Arfin tampak santai berbicara pada Rama. Salah satu kelebihan Arfin yang bahkan tidak bisa Wisnu kuasai adalah berbicara dengan santai dengan Rama seperti yang anak itu lakukan sekarang ini.


"Wisnu udah punya pacar ya?"


Pertanyaan Rama ini mendapatkan jawaban hening dari Arfin. Lelaki itu cukup lama terdiam seakan dia tidak suka untuk menjawab pertanyaan kali ini. Bahkan karena Arfin yang tak kunjung menjawab, Rama sampai menatap Wisnu tajam karena pria itu sudah menarik kesimpulan kalau anaknya ini berbohong agar terhindar dari perjodohan.


"Udah kok, Om." Saat Rama mau membuka mulut untuk menceramahi Wisnu, jawaban Arfin sudah lebih dulu terdengar.


"Beneran?" Rama masih tidak percaya pada kebenaran ini.


"Bener kok Om. Ceweknya baik, cantik juga, anaknya sopan. Pacarnya Wisnu teman Arfin, dia cewek baik-baik, sesuai sama tipe yang Om mau," jelas Arfin.

__ADS_1


"Oke, terimakasih Arfin sudah ngasih tau Om," kata Rama. Wisnu harus kagum dengan efek Arfin pada hidup Rama. Pria yang tidak pernah meminta maaf dan berterimakasih itu mengucapkan hal itu pada Arfin. Sebenarnya kalau sesuai kasta, kasta Arfin tentu saja lebih rendah dari Wisnu, tapi yang membuat Wisnu heran kenapa Rama begitu menghormati keluarga Alyas. Kalau alasannya cuma karena kerjasama perusahaan, mungkin tidak. Karena Rama saja tidak pernah seperti itu pada rekan kerjanya yang lain.


Setelah panggilan itu terputus, Rama memfokuskan pandangannya ke Wisnu.


"Udah percaya, kan?" tanya Wisnu.


Rama mengangguk. "Malam minggu kamu ajak dia ke sini, Saya mau tau gimana orangnya." Ucapan Rama itu seperti perintah. Setelah mengucapkan kalimat itu pria yang merupakan ayah Wisnu itu langsung keluar dari kamar tanpa penjelasan lebih lanjut. Bahkan Wisnu tidak sempat diberi kesempatan untuk beragumentasi.


Selain ingatan tentang kejadian yang menjadi alasan Wisnu bisa bersama Eleena sekarang, Wisnu juga sedang mencari hal lain yang seharusnya ia bicarakan pada Eleena. Sesuatu penting yang dengan sialnya Wisnu lupa sekarang padahal jarak rumahnya hanya tinggal beberapa meter saja. Wisnu harus mengingat itu, hal itu—


Wisnu mengerem mendadak, membuat tubuh Eleena yang sedari tadi diam terlempar ke depan tapi syukur tertahan karena ada sabuk pengaman yang ia pakai.


"Gila lo!" umpat Eleena.


Wisnu membetulkan posisi duduknya, dia menghadap Eleena fokus.n


"El, tolong banget nanti pas bokap gue nanya nama lo, lo jangan sebutin nama belakang lo, please." Eleena mengerutkan kening atas ucapan Wisnu kali ini.


"Kenapa? Kenapa gue harus sembunyiin nama belakang gue? Bukannya keluarga lo nyari yang sekasta ya?"


"Bukan masalah sekasta atau nggak El, tapi nama belakang lo itu, bokap gue nggak suka." Eleena semakin mengerutkan kening karena kebingungan sudah menguasai.


"Gue denger bokap gue bilang kalau dia benci banget sama Dirgantara," ujar Wisnu.


"Ya nggak lah, kalau lo nggak tau perusahaan keluarga lo sama perusahaan Ayah itu kerjasama," balas Eleena dan Wisnu tidak lupa akan hal itu.


"Nah itu dia, gue juga nggak tau pasti kenapa bokap gue bisa bilang gitu, tapi tolong ya lo jangan bongkar identitas lo di depan bokap gue?" Seumur-umur Eleena baru melihat laki-laki memohon karena sudah pasrah seperti ini.


"Lo tau nggak, kalau keluarga Aksanta sama Agustama itu musuhan?" Pertanyaan Wisnu kali ini mengalihkan atensi Eleena yang tadi tidak mau menatap lelaki itu.


"Gue pernah dimarah banget cuma karena nyebut nama Agustama di rumah gue, dan karena kebetulan nyokap lo itu anggota Agustama, mungkin aja itu jadi salah satu alasan bokap gue nggak suka sama Dirgantara juga." Wisnu mengetahui nama belakang Sinta yang sebenarnya dari wanita itu sendiri ketika dia dirawat di kediaman Dirgantara karena dipukuli oleh orang suruhan Rama. Namun pada saat itu Wisnu tidak mengungkapkan identitasnya karena takut Sinta berpikir buruk tentang keluarganya nanti.


Eleena juga ingat tentang masalah ini. Dia juga pernah ditahan oleh Arjuna saat hendak menyebutkan nama Aksanta di rumah mereka. Dan jangan lupakan bagaimana Keluarga Sinta memaki Arjuna hanya karena ayahnya itu bekerjasama dengan perusahaan Aksanta. Sekarang semuanya terasa masuk akal di pikiran Eleena.


"Tolong ya El, jangan ungkapin. Bantuin gue lah, gue nggak tau harus nyari pacar di mana lagi," pinta Wisnu hampir memelas.


Eleena mengangguk dan memberikan ruang bagi dada Wisnu untuk bernapas lega. Eleena menyetujui bukan untuk membantu lelaki itu melainkan membantu Arjuna. Eleena tahu bagaimana perjuangan Arjuna hanya untuk menjalin kerjasama dengan perusahaan Aksanta, jadi Eleena tidak ingin menghancurkan usaha Arjuna selama ini.


Wisnu kembali melajukan mobilnya, dalam waktu singkat dia mulai membawa mobil hitam berlogo AK itu masuk ke dalam pekarangan rumah besar Aksanta.

__ADS_1


Satu hal yang tidak Eleena mengerti, kenapa keluarga Agustama sangat membenci Aksanta. Begitupun dengan Wisnu yang juga masih bingung kenapa Rama bisa begitu membenci Dirgantara tapi dia malah menjalin kerjasama dengan perusahaan mereka. Rama juga secara tidak langsung menyukai Eleena—Putri tunggal keluarga Dirgantara.


__ADS_2