
"Fin gue ke rumah lo."
Panggilan itu terputus setelah suara Wisnu mengakhiri percakapan mereka. Arfin menurunkan ponsel yang semulanya ia tempel di telinga. Lelaki yang berada di kamar bercat sky blue itu menatap datar jendela yang sudah ditutup oleh tirai.
Kenapa disaat malam seperti ini Wisnu harus datang ke rumahnya. Arfin paling tidak suka jika ada kunjungan malam. Bukan sombong atau apa hanya saja malam itu adalah waktu istirahat dan Arfin ingin menggunakannya setelah seharian dia memaksakan diri untuk tetap hidup dan menjalani dunia yang fana ini.
Arfin memakai sendal keluar dari kamar. Wisnu adalah pengemudi gila, dia akan segera tiba di rumah Arfin dalam waktu singkat.
Arfin menghela napas berat, dia baru saja turun dari rooftop setelah melihat langit malam tanpa kehadiran bulan dan bintang. Tidak ada yang istimewa di langit malam, jadinya Arfin hanya menghabiskan waktu selama beberapa menit saja di sana. Lagipun dari langit sudah memunculkan tanda-tanda akan turun hujan.
"Ngapain?" Suara berat dan sedikit membentak mengalihkan atensi Arfin. Lelaki itu membalikkan tubuhnya melihat orang yang bertanya hal itu padanya. Arfin tidak heran lagi karena ayahnya lah yang selalu berbicara dengan kasar pada dirinya.
"Nunggu Wisnu," jawab Arfin cepat tanpa bertele-tele karena dia malas harus berkomunikasi lebih panjang dengan ayahnya.
"Kenapa dia mau ke sini?" Kali ini pertanyaan itu datang dari laki-laki yang duduk di sofa sambil bermain ponsel di tangan. Itu kakak kedua Arfin.
"Nggak tau, tiba-tiba aja dia mau datang." Arfin mengalihkan pandangannya pada laki-laki yang duduk di sebelah kakak keduanya. Laki-laki dengan wajah serius, memakai piyama dan kacamata bertengger di hidung serta tatapan fokus mengarah pada layar laptop yang menyala.
"Bang." Arfin memanggil kakak pertamanya, tapi hanya dibalas deheman oleh sang empu. "Bolehkan Wisnu ke sini?" Arfin bertanya hati-hati. Seharusnya untuk pertanyaan seperti ini dia bertanya pada ayahnya tapi dia tahu kalau ayahnya akan dengan senang hati menerima kedatangan Wisnu. Ingat, dia itu adalah Putra Aksanta, semua akan tunduk padanya jika tahu nama belakang dari laki-laki itu.
Bukan tanpa alasan Arfin bertanya seperti itu. Kakak pertama Arfin kurang menyukai Wisnu. Laki-laki yang sibuk berkutat dengan laptopnya itu bahkan pernah meminta Arfin untuk tidak berteman dengan Wisnu lagi.
Arfin memberanikan diri duduk di sebelah kakak pertamanya setelah melihat ayah mereka pergi meninggalkan ruangan itu.
"Boleh kan Bang?" tanya Arfin lagi.
__ADS_1
"Emang kalau gue bilang nggak boleh dia bakal balik ke rumahnya gitu? Nggak kan, jadi ya sama aja." Laki-laki itu menjawab ketus tanpa menatap Arfin barang sedetik pun. Kakak pertama Arfin itu sibuk, dia harus mengurus segala hal mengenai perusahaan. Memang perusahaan keluarga Alyas masih dipegang sepenuhnya oleh ayah mereka tapi tetap saja sebagai anak pertama otomatis dia akan lebih sibuk dari yang lainnya. Dia yang harus lebih mengerti tentang perusahaan karena perusahaan itu suatu saat akan menjadi miliknya juga.
"Maksud gue kalau lo nggak ngijinin dia masuk sini, gue bawa dia ke luar gitu."
"Ke mana?" tanya kakak kedua Arfin setelah Arfin menyelesaikan kalimatnya.
"Ke taman rumah aja," jawab Arfin.
Perkataan Arfin kali ini mengalihkan perhatian kakak pertamanya dari pekerjaan yang sedang ia urus di laptop. Untuk kali ini dia menyempatkan untuk menatap adiknya yang paling kecil.
"Wisnu di luar aja," ucapnya tegas tapi dengan intonasi yang pelan. Arfin mengangguk mendengarnya.
Begitu dia mendengar suara bel dari luar, segera Arfin bangkit dari duduk dan berlari kecil menuju pintu utama. Dia membukakan pintu untuk temannya, seperti yang dibilang oleh kakak pertamanya Arfin tidak mengajak Wisnu untuk duduk di dalam melainkan membawa lelaki itu menuju taman sebelum Wisnu sempat mengucapkan salam pada pemilik rumah.
"Jadi apa? Kenapa lo datang ke rumah gue tiba-tiba?" Arfin langsung bertanya ketika mereka sudah duduk di kursi putih di taman rumah keluarga Alyas.
"Gue nggak ngerti lagi ege, tapi sumpah lo harus bantuin gue." Wisnu sedikit merengek dan agak frustasi ketika menyampaikan itu.
"Maksud?" Arfin mengerutkan kening.
"Bokap gue nyuruh gue ngerayain Valentine bareng sama El!"
Mata Arfin membelalak tak percaya mendengar berita ini. Rama meminta Wisnu untuk mengajak Eleena merayakan hari valentine kalau begitu Wisnu akan pergi bersama Eleena dan mereka akan menghabiskan waktu bersama selama beberapa jam, menciptakan kenangan indah untuk cerita di masa depan karena Wisnu tidak mungkin bisa menolak perintah dari Rama.
"Gue harus gimana, Fin," cicit Wisnu.
__ADS_1
Arfin kembali memfokuskan pikirannya pada Wisnu bukan pada khayalan atau hal-hal buruk yang mungkin akan terjadi kedepannya.
"Gue nggak mau jalan sama tu cewek," sambung Wisnu. "Kenapa?"
"Males gue." Wisnu menjawab santai. "Gue... juga takut nyakitin perasaan lo sih kalau gue jalan bareng ngerayain Valentine bareng dia," lanjut Wisnu.
Arfin menghela napas pelan. Wisnu dan Arfin memiliki pemikiran yang sama, mereka selalu mengutamakan perasaan seorang teman jika ingin melakukan segala sesuatunya.
"Ya udah jalan aja," ucap Arfin jelas.
Wisnu menautkan alis. "Lo serius?" Wisnu tidak mengerti kenapa Arfin bisa dengan mudahnya menyuruh Wisnu untuk mengikuti perintah dari Rama. Arfin itu menyukai Eleena dan dia rela gadis yang dia sukai menghabiskan waktu bersama orang lain yang notabenenya adalah temannya sendiri.
"Nyawa lo lebih berharga dari perasaan gue, Wis. Kalau lo nggak nurut sama bokap lo, bisa-bisa lo dipukuli lagi sama anak buahnya kayak kemarin apalagi sekarang pergerakan lo di pantau. Lo bakal makin susah gerak, jadi turutin aja apa kata bokap lo. Pas valentine nanti lo ajak El jalan, gue bantu lo buat yakini dia dan nanti ketika lo jalan sama El lo—"
"Terus lo gimana?" Wisnu memotong perkataan Arfin. Arfin terdiam sejenak tidak menjawab. "Lo nggak papa?"
Arfin menelan ludahnya. "Gue nggak papa. Pas lo jalan sama El gue bisa jalan sama temen cewek gue. Gue punya banyak cadangan, Wis tenang aja." Arfin berusaha meyakinkan Wisnu kalau dia benar-benar ikhlas jika lelaki itu berjalan bersama perempuan yang Arfin sukai demi menyelamatkan nyawanya dari amukan Rama.
"Gue nggak ngerti gue harus bilang makasih pakai cara apa lagi sama lo," ujar Wisnu.
"Pakai cara lo jangan suka sama El. Dan pastiin setiap pergerakan lo sama dia, dia nggak akan baper. Udah itu aja," jelas Arfin.
Wisnu menatap wajah pucat Arfin di malam hari. Kelihatannya cuaca dingin ini membuat tubuh Arfin sedikit kedinginan. Apalagi lelaki itu memakai kaos lengan pendek dan celana pendek juga pasti hawa malam yang sedikit mendung ini menusuk kulit Arfin.
"Fin lo sakit ya? Muka lo pucat." Wisnu memberanikan diri untuk bertanya, karena bukan hanya sekali dia melihat wajah Arfin pucat seperti ini. Sudah sering dia melihat wajah pucat temannya ini.
__ADS_1
"Gue nggak papa, cuma kan gue anak organisasi jadi gue nggak bisa ngatur waktu aja sih jadinya gue kecapekan." Arfin menjawab dengan sesantai mungkin. Berusaha untuk terlihat baik-baik saja di depan Wisnu padahal kepalanya rasanya sudah mau pecah karena pening yang melanda. Ditambah hawa dingin yang menusuk kulitnya, rasanya pandangan Arfin memburam tapi dia harus tetap sadar sampai Wisnu pulang.