
Kedua manusia itu belum beranjak dari tempatnya. Kedua sejoli yang berpegangan tangan seakan termenung setelah membaca tulisan yang ada di papan bernuansa merah mudah itu. Papan yang berisi:
Happy Valentine Day Everyone 👋
1. Bagi setiap pasangan (pacaran atau sudah menikah) akan mendapatkan gratis biaya masuk selama 5 jam
2. Bagi setiap pasangan wajib berpegangan tangan selama mereka berkeliling di taman ini agar terhindar dari hal yang bernama penipuan
3. Aktivitas para pasangan akan diawasi oleh beberapa penjaga yang berjaga disekeliling taman
4. Setelah membaca tulisan ini kalian akan diarahkan untuk membeli bunga dan coklat (bagi pria)
5. Setelah itu kalian akan diarahkan untuk menikmati berbagai hiburan dan juga permainan dengan sedikit tantangan (challenge untuk menguji kesetiaan)
6. Setelah puas bermain bersama setiap pasangan akan diarahkan menuju pusat karya (menciptakan hadiah bagi satu sama lain serta surat, wajib!)
7. Sebelum pulang para pasangan akan diajak untuk ke tempat dansa. Berdansa bersama sembari mengingat keindahan bersama, suka, duka yang sudah dilalui bersama-sama sampai saat ini
8. Jika semua rules sudah dilakukan silahkan pulang dengan perasaan gembira. Semoga dengan apa yang kalian lakukan di sini bisa menambah rasa cinta, sayang dan rasa kepercayaan satu sama lain
Wish You All The Best Guys, Enjoy ❤️
note: event ini hanya berlaku sampai dengan tanggal 20 Februari
Hanya karena kalimat panjang dari sebuah papan berhasil membuat Eleena dan Wisnu terdiam cukup lama. Mereka bahkan tidak sadar bahwa mulut mereka terbuka sedikit.
"Udah belom?" Suara dari orang di belakang Wisnu serta tepukan di pundak Wisnu menyadarkan lelaki itu. Dengan perasaan linglung Wisnu mencari sumber suara itu.
"Kita mau gantian," kata perempuan yang berada di sebelah pria yang menepuk pundak Wisnu.
Wisnu mengangguk kaku, dia menarik tangan Eleena kasar menjauh dari sana meskipun gadis itu masih tenggelam dalam lamunan akan apa yang tadi dia baca.
"Ini gila," parau Eleena dengan tatapan kosong. Isi dari papan merah muda itu terlalu mendominasi bahkan Eleena sampai tidak sadar Wisnu berada di depannya sambil berkacak pinggang.
__ADS_1
"El," panggil Wisnu. Tidak ada jawaban. "Eleena." Wisnu memanggil lagi tapi tetap tidak ada jawaban. Tatapan Eleena begitu lurus entah menatap apa. Wisnu sampai harus membalikkan badan untuk melihat ke mana arah tatapan gadis itu. Dan tebakannya benar, pandangan Eleena tidak bisa lepas dari papan bernuansa merah muda yang isinya adalah keramat.
"Eleena Safira Dirgantara." Wisnu menggoyangkan tubuh Eleena pelan dan itu berhasil membawa Eleena kembali ke alamnya dan pergi dari alam bawah sadar karena papan itu.
"Gue di mana?" Eleena linglung menatap sekitar. Sekelilingnya begitu familiar tapi ada beberapa hal asing yang tak Eleena kenali seperti banyak balon merah muda dan pasangan bucin yang berlalu lalang di sini.
"El—"
"Kita pulang aja yuk, gue takut di sini." Eleena ingin menarik tangan Wisnu tapi karena bobot Wisnu lebih besar dari tubuhnya tarikan Eleena tak membuat Wisnu bergerak dari tempatnya, bahkan sedikit saja tidak.
"Pulang? Gila kali pulang," ujar Wisnu. Eleena menatap Wisnu. "Jadi lo lebih milih buat gila di sini?"
"Sebenarnya nggak mau, tapi kalau gue pulang ke rumah bukan cuma gila yang ada gue bisa tinggal nama."
Eleena merenungi ucapan Wisnu ini. Gadis itu memacari Wisnu karena kasihan dan ingin menyelamatkan lelaki ini dari amukan ayahnya. Karena terakhir kali Eleena melihat keadaan Wisnu dipukuli oleh anak buah Rama begitu kacau. Kalau Eleena tidak sampai di sana, bisa dipastikan kondisi Wisnu lebih buruk dari itu atau mungkin lelaki itu tidak ada lagi di sini sekarang.
Selain memikirkan keselamatan Wisnu, Eleena juga punya alasan lain; kebahagiaan Sinta. Sinta begitu bahagia mengusulkan ide yang ternyata gila ini padanya tadi malam. Meskipun mendapat pertentangan dari Arjuna, Sinta tetap mengusahakan supaya Eleena bisa ke tempat ini bersama Wisnu.
"Jadi, sekarang kita gimana?" tanya Eleena. Wisnu mengangkat bahunya acuh, dia juga tidak tahu apa gunanya mereka berada di sini.
Wisnu belum menjawab, tapi ketika Eleena melangkah maju dia juga ikut melangkah karena takut akan tertinggal oleh gadis itu.
"Kayaknya ini mau ngelakuin first rules deh," ucap Eleena.
"Loh yang pertama emang apaan?"
"Lo bakal disuruh ngambil coklat ege." Eleena memukul lengan Wisnu kesal untuk kesekian kali dan kesekian kali juga lelaki itu harus memekik dan mengelus lengannya yang sakit.
"Nggak ada bedanya sama Gilang," batin Wisnu kesal pada Eleena. Wisnu kira hanya Gilang yang memiliki kebiasaan memukul lengan orang lain meskipun dia tidak pernah mendapatkan pukulan dari Gilang, tapi tetap saja Wisnu selalu mendapat keluhan dari Arfin dan Baim setiap kali Gilang memukul lengan mereka.
Mereka berdua ikut bergabung bersama kerumunan ini.
"Jangan lupa pegangan tangan semuanya!" seru sang instruktur.
__ADS_1
Wisnu sontak menggenggam tangan Eleena cepat. Dan Eleena tidak bisa membantah itu karena hal ini merupakan bagian wajib dari aturan.
"Sekarang saya minta para laki-laki berjalan ke sebelah kiri untuk menuju tempat yang sudah diisi oleh teman saya ya." Instruktur itu menunjuk ke sebuah tempat terbuka yang diatasnya di taruh sebuah atap dari spanduk. Seorang wanita memakai masker yang menjaga aneka bunga dan coklat yang dimasukkan ke tempat yang dingin mengingat cuaca belakangan ini sangat panas dikhawatirkan coklat akan meleleh.
"Beli coklat sama bunga ya semuanya!" seru sang instruktur.
Wisnu awalnya ragu untuk ikut, tapi melihat banyaknya para laki-laki meninggalkan kekasih mereka hanya untuk menuju tempat itu akhirnya Wisnu ikut. Wisnu menjadi salah satu orang yang ikut berkontribusi dalam antrean panjang demi mendapatkan bunga dan coklat.
Wisnu berdesakan mencoba mengambil bunga dan coklat tapi syukurnya keadaan berdesakan itu dapat ditangani oleh penjaga yang berada di sana sehingga tidak terjadi keributan.
Eleena terkekeh kecil dari kejauhan melihat Wisnu yang terlihat bingung coklat apa dan bunga apa yang harus dia ambil untuk Eleena.
Disaat laki-laki lain sudah kembali pada pasangan mereka, Wisnu berdiam diri di sana. Bergelut dengan pikirannya karena sibuk memikirkan apa bunga dan coklat kesukaan Eleena.
"Gue telpon aja kali ya," gumam Wisnu. Namun belum sempat Wisnu melakukan niatnya itu dia segera tersadar kalau ada penjaga di sekitar mereka. Jika dia menelepon Eleena pasti mereka akan curiga apakah Eleena dan Wisnu benar-benar seorang kekasih atau hanya pura-pura.
"Gue nggak suka sama mawar putihnya jadi gue buang, nggak papa kan?" Ya Wisnu ingat sekarang. Wisnu mengambil buket bunga yang berisi banyak bunga tapi tidak ada mawar putih di dalamnya.
Setelah itu, dia harus memilih coklat. Wisnu tidak mau lagi berlama-lama di sini, semua laki-laki tadi sudah kembali pada pasangan mereka tinggal Wisnu sendiri di sini dan tanpa pikir panjang lelaki itu mengambil coklat dengan bungkus berwarna ungu dan ada gambar coklat di tengah-tengahnya.
Setelah mendapatkan itu semua, Wisnu sedikit berlari agar tidak tertinggal oleh yang lain.
"Ini El." Wisnu sedikit ngos-ngosan tapi dia tetap menyodorkan dua buah benda itu pada Eleena.
"Omo, thank you so much." Eleena mengambil buket bunga dari tangan Wisnu. Dia mencium harum dari setiap bunga.
"Gue ingat lo nggak suka sama mawar putih jadi nggak gue ambil mawar putihnya." Eleena menatap Wisnu segera. Lelaki yang masih berusaha untuk menormalkan napas membuat Eleena kembali kehilangan akal.
Eleena sedikit kaget Wisnu masih mengingat akan bunga apa yang dia suka dan tidak. Eleena pikir lelaki itu akan mengambilnya secara asal tapi melihat buket bunga yang berisi bunga-bunga kesukaan Eleena dan coklat yang berada di tangan Wisnu merupakan coklat kesukaan Eleena, gadis itu yakin kalau Wisnu memikirkan hal ini terlebih dahulu sebelum mengambilnya.
...***...
Hai semuanya, sebenarnya ini belum selesai sih tapi kalau aku satukan bakal panjang banget jadi aku pisah kayak chapter yang "Perjalanan kencan Putra Aksanta"
__ADS_1
Nantikan part 2 nya besok ya, see you 👋💜