
Barang itu terjatuh dari dalam tas seorang wanita saat wanita itu menggeledah isi tasnya. Tanpa memeriksa lagi, wanita itu berjalan meninggalkan jam tangan yang terjatuh di jalan.
Rama melihat. Pria itu berlari kecil mengambil jam tangan itu dan segera menghampiri pemiliknya.
"Permisi!" Suara Rama sedikit lantang memanggil orang itu. Wanita yang merasa bahwa suara Rama tertuju padanya, membalikkan badan.
Permainan semesta lagi. Takdir dunia membawa iris hazel Rama bertemu dengan iris cokelat Sinta. Sebuah ketidaksengajaan menciptakan tatapan dalam dari dua insan. Bukan pertemuan pertama, tapi rasanya masih sama. Ada sedikit rasa canggung dan takut untuk mendekat, tapi Rama punya alasan kenapa dia memanggil Sinta.
"Ini." Rama menyodorkan jam tangan yang tadi ia temukan di jalan. "Tadi jatuh dari tas kamu."
Sinta agak ragu, tapi setelah melihat lekat jam tangan yang berada di tangan Rama, Sinta memberanikan diri untuk mengambilnya. Dengan gerakan pelan dan sedikit takut, Sinta mengambil jam tangannya dari Rama dan memasukkannya ke dalam tas.
"Ma-makasih," ucap Sinta tanpa menatap Rama.
"Lain kali hati-hati, Sin," ujar Rama, menampilkan senyum kecil.
Sinta membalasnya dengan anggukan, masih enggan untuk menaikkan pandangan dan melihat Rama. Namun, dari genangan air yang menjadi jarak di antara mereka berdua, Sinta bisa melihat pantulan Rama sedang tersenyum dari sana. Indah, masih sama dan tak akan berubah.
"Rama!" Sinta mengangkat pandangan dan Rama membalikkan tubuh kala suara itu menggema di telinga.
Wanita itu. Salah satu orang yang menjadi alasan kenapa Rama dan Sinta bisa berakhir menjadi orang asing. Wanita yang berjalan ke arah mereka, memberi ketakutan pada Sinta. Tatapan tajam dan sinis yang wanita itu tujukan padanya, membuat Sinta harus mundur perlahan.
Wanita itu datang, dia menatap Sinta seakan menerkam dan menghabisi perempuan itu sekarang juga. Seorang wanita yang berumur puluhan tahun lebih tua daripada Sinta, wanita yang merupakan ibu Rama, Sinta takut padanya.
"Jangan sama dia!" Wanita itu berkata tegas, menarik tangan Rama pergi dari tempat itu segera.
Tidak banyak berkata, tapi langsung bergerak. Ibu Rama tidak mengomentari apapun di mobil saat dia melihat dengan mata kepalanya sendiri Sinta dan Rama bertemu lagi. Tapi, tentu saja wanita tua itu tidak akan tinggal diam. Wanita yang merupakan nenek Wisnu itu melapor kejadian singkat yang ia lihat tadi pada suaminya.
Dan lihatlah, saat semua orang selesai makan malam, saat Wisnu hendak berjalan masuk ke kamar, keributan di kediaman Aksanta dimulai.
Plakk
Suara tamparan begitu keras, menggema di seluruh ruangan. Bahkan Wisnu sampai harus menutup telinga jika dia tidak ingin terjadi sesuatu pada telinganya. Wisnu yang baru saja bangkit dari duduk, melihat bagaimana tamparan keras itu dari kakeknya menjatuhkan Rama ke lantai.
__ADS_1
Bukan hanya warna merah yang terpampang, tapi sebuah luka di bagian bibir bawah menjadi corak baru di wajah Rama. Pria paruh baya itu menaikkan pandangannya, menatap orang yang sudah memberinya tamparan.
"Kamu tahu gila? Kamu adalah orang gila dari segala yang gila yang pernah saya temui sepanjang hidup saya, Rama!"
Bukan hanya tamparan, tapi suara itu juga begitu keras hingga menggelegar ke seluruh sisi rumah bak istana ini.
"Mama nggak ngerti kenapa kamu kayak gini, Rama." Wanita yang menjadi biang keributan ini dimulai bersuara. Dia tidak membantu Rama bangun, malahan dia hanya menatap anaknya yang tumbang karena tamparan suaminya.
Meethila tentu tidak tinggal diam, begitu melihat Rama tersungkur, Meethila segera membantu suaminya itu berdiri. Sebagai istri yang baik, Meethila memegangi Rama agar tidak oyong atau kehilangan keseimbangan karena perih tamparan itu pasti masih begitu terasa.
Urat-urat dari pria yang merupakan ayah Rama terlihat. Wajah merah, mata berapi-api sudah sangat memberitahu bahwa pria itu berada di puncak kemarahannya.
"Kamu itu aib keluarga, Rama!" Tidak bisa menahan, ayah Rama mendorong pria itu kasar, membuat Rama kembali terjatuh ke lantai, sampai belakang kepalanya harus terkena ujung meja kaca.
"Mas." Meethila menghampiri Rama, dia membantu Rama lagi.
"Kalau ada yang lebih dari kata gila yang bisa saya ucapkan pada kamu. Saya, akan mengucapkannya segera, Rama," kata pria itu.
"Memang nggak menjalin hubungan, Pa!" Rama memotong. "Aku sama Sinta nggak ada hubungan apa-apa. Aku cuma—"
"Kamu nggak usah motong ucapan Papa kamu, Ram," imbuh ibunya.
"Aku nggak motong, Ma. Cuma Papa harus tahu, apa yang sebenarnya terjadi."
"Memang kejadian sebenarnya apa?" tanya ayah Rama.
"Tadi—"
"Sudah aku bilang, Pa. Dia ketemu lagi sama Sinta dan itu udah direncanakan. Mereka tatapan cukup lama, itu udah jelas."
Ibu Rama tidak memberikan Rama kesempatan untuk berbicara barang sedetikpun. Tidak ada salahnya kan sekarang Rama mengepalkan tangan.
"Lagi dan lagi. Dia bertemu dengan anak itu. Untuk kesekian kali, kamu ketemu sama anggota Agustama lagi. Apa kamu tidak muak Rama terus bertemu dengan wanita sialan itu."
__ADS_1
"Mama!" Rama membentak perkataan ibunya. "Sinta bukan wanita sialan, dia perempuan baik-baik," lanjut Rama.
"Mau dia perempuan baik-baik atau bukan, saya nggak akan pernah peduli." Ayah Rama mulai kembali bersuara.
"Kamu, melanggar janji kamu. Bertemu dengan anggota Agustama merupakan sebuah dosa, Rama. Dan kamu sudah melakukan sebuah dosa."
"Sinta itu bukan dosa. Dia anugerah, karena Tuhan mau aku ketemu sama dia lagi," balas Rama.
"Tutup mulut kamu, Rama!" lantang ayahnya. "Berani membantah saya, itu artinya kamu berani untuk mengambil resiko kedepannya."
"Pa, aku nggak pernah nyesel pernah ketemu sama Sinta. Dan sekarang pun aku nggak pernah nyesel udah ketemu Sinta. Aku akan terus berharap takdir mempertemukan aku sama dia lagi."
Selesai kalimat itu terucap satu bogeman mendarat mulus di wajah Rama. Entah sudah berapa kali Rama tersungkur ke lantai. Bak kesetanan, ayah Rama menarik kerah baju Rama, memberi pukulan demi pukulan pada anaknya yang berusia 50 tahun.
Tidak ada yang bisa membantu. Saat Rama sudah terlihat begitu lemas karena setiap pukulan yang diberikan oleh ayahnya, orang-orang di sana tidak ada yang berani membantu. Meethila berdiri diam tak bergerak dari tempat, sedangkan Wisnu, kaki lelaki itu bergetar melihat bagaimana kakeknya memberi pukulan pada ayahnya.
Pukulan terakhir. Rama sudah tidak punya tenaga lagi. Semua bagian tubuhnya sakit.
"Peringatan terakhir. Jangan pernah bertemu dengan Anggota Agustama." Ayah Rama menekan setiap kalimatnya.
"Kamu sudah pernah melakukan dosa, Rama. Jangan berbuat dosa lagi karena kamu bertemu dengan wanita itu. Jika sekali lagi saya tahu kamu bertemu dengan wanita itu, saya bisa pastikan bahwa kamu akan mati ditangan saya."
Kalimat menyeramkan itu terlontar kelewat jelas dari ayah Rama. Pria tua itu pergi dari tempat itu. Tidak memperdulikan bagaimana Rama memegangi kepalanya yang sudah bersimbah darah karena pukulan dari ayahnya.
"Rama, ingat apa yang sudah dilakukan Agustama padamu, Nak. Jangan pernah bertemu dengan anggota mereka lagi, jangan mengulang kesalahan lagi." Wanita yang semula memberi senyum tapi ketika dia mengucapkan empat kalimat terakhir, senyum di wajahnya hilang.
Mengikuti jejak suaminya, ibu Rama juga meninggalkan Rama sendiri di sana. Dan berakhir, Meethila yang membantu Rama untuk berdiri. Dengan membopong Rama, Meethila berusaha membawa suaminya itu pergi dari sini.
Wisnu sadar bahwa Meethila terlihat kepayahan membawa Rama, jadi lelaki itu berinisiatif untuk membantu ibunya. Mereka memasukan Rama ke dalam kamar, membaringkan di kasur. Dan dengan telaten, begitu kotak obat keluar, Meethila mengobati luka Rama satu persatu.
Wisnu tidak pernah terpikir bahwa dia bisa melihat kejadian tidak enak seperti ini. Melihat amukan dari kakeknya seperti ini, dan melihat Rama yang tak berdaya, semua hal ini baru baginya.
Hanya karena Sinta Dela Agustama, Alrama Aksanta mendapatkan pukulan yang mengerikan, ini merupakan salah satu tanda tanya untuk Wisnu.
__ADS_1