Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Arfin mundur


__ADS_3

Hari ini, hari yang paling dibenci oleh kebanyakan manusia. Hari yang mengingatkan mereka kalau kesenangan dan istirahat sudah berakhir dengan cepat. Hari di mana tingkat kemalasan melambung tinggi daripada biasanya. Ini hari Senin.


Wisnu mematikan alarm yang terus berbunyi. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, dia memakai sendal dan beralih menuju kamar mandi. Siap tak siap, mau tak mau dia harus pergi ke kampus sekarang juga.


Wajah bantal Wisnu terlihat begitu dia membuka baju dan bersiap untuk mandi. Dari luar pintu kamar mandi terdengar shower menyala. Wisnu membersihkan diri sambil sesekali menimbulkan siulan. Tak ada siapapun di sini, jadi dia memunculkan siulan agar tidak terlalu sunyi.


Wisnu mengeringkan rambut dengan handuk. Bagian bawah tubuh lelaki itu ditutupi dengan handuk putih, dan bagian atasnya dibiarkan terbuka begitu saja. Perut sixpack-nya terlihat begitu dia sampai di depan cermin.


Seperti kebanyakan laki-laki pada umumnya, Wisnu juga memerlukan waktu singkat untuk bersiap. Sekarang dia hanya tinggal memakaikan parfum ke tubuh, agar para gadis terpikat dan semakin mendekat. Wisnu menggeleng, kenapa dia memikirkan gadis sekarang, sudah seperti Arfin saja.


Ah iya, Arfin. Entah sudah berapa lama Wisnu tidak bertemu dengan lelaki itu. Di kampus, Arfin tidak terlihat oleh mata Wisnu, atau Wisnu yang tidak ingin melihatnya juga. Wisnu masih menyimpan sedikit amarah untuk Arfin karena kejadian di bar beberapa hari lalu.


Wisnu mengambil tas, keluar dari kamar. Seperti yang dia bilang waktu itu, Wisnu benar-benar menginap di hotel. Dia enggan kembali ke rumah yang penuh keributan. Di hotel sebentar untuk mencari ketenangan, tidak begitu buruk, kan.


Wisnu masuk ke dalam mobil, seperti biasa dia melajukan mobil dengan kecepatan lumayan tinggi. Seakan jalanan miliknya, dia tidak peduli pada sekitar. Wisnu memutar lagu menemani mobil yang sedang melaju. Alunan nada indah terlantun, inilah kehidupan impian Wisnu. Hidup jauh dari keributan dan Rama tentunya.


Wisnu sudah 3 hari tidak pulang ke rumah, dan seperti yang ia duga, tidak ada yang mencari keberadaannya. Tapi tak apa, Wisnu senang karena dia bisa terhindar dari Rama sejenak.


Wisnu turun dari mobil begitu mobil terparkir di parkiran luas kampus. Dia melihat sampah plastik di bawah kakinya, dan spontan lelaki itu membuang sampah itu ke tempat seharusnya.


"Kenapa gue gini?" Wisnu menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Hukumannya sudah berakhir, tidak perlu dia terlihat seperti anak rajin.


"Tuan muda!" Wisnu menengok ke sumber suara, senyuman kecil terbit di wajah tampan mirip Rama. Dia melangkah agar bisa lebih dekat dengan dua sahabatnya.


"How are you?" tanya Baim, menepuk pundak Wisnu. Wisnu mengangkat bahunya sebagai jawaban.


"Aman?" Kini Gilang bertanya.


Wisnu menengok ke sebelah kiri tempat Gilang berada. Dia mengangguk kecil, "Sejauh ini aman."


"Ke kelas bareng?" tawar Baim.


Wisnu dan Gilang saling bertukar tatap, sebelum mereka mengiyakan dan pergi menuju kelas bersama. Wisnu tidak ada membuka mulut saat mereka berjalan melewati lobi kampus yang panjang. Kampus mereka besar, kampus ternama di kota, banyak murid-murid yang berambisi besar untuk masuk ke kampus ini. Namun, bagi Wisnu itu mudah. Dia memanfaatkan kekuasaan ayahnya untuk masuk ke kampus ini, maka dari itu Wisnu tidak pernah peduli pada nilai. Karena, dia yakin Rama akan mengurus segalanya, Wisnu hanya tinggal datang ke tempat ini saja.


"Lo pada udah ketemu sama Arfin nggak sih?" Pertanyaan Baim ini mengalihkan atensi Wisnu yang sedari tadi hanya terdiam.


Ketiga lelaki itu duduk di kursi begitu sampai di kelas. Mereka duduk di barisan ketiga dari belakang.


Baim mendekatkan kursinya pada Wisnu yang duduk di tengah antara dia dan Gilang.


"Gue udah lama nggak ketemu sama tu playboy," ujar Baim.


"Gue takut," balas Gilang. Wisnu mengerutkan keningnya menatap Gilang yang tak menatapnya. "Gue takut tu anak depresi dan ngelakuin hal yang nyakitin diri," lanjut Gilang.


"Nggak mungkin," tepis Baim.

__ADS_1


"Mungkin aja, Im. Kita udah lama nggak ketemu sama dia, dan gue juga susah banget hubungi Arfin. Kalau itu benar gimana?" Gilang memancing atensi Wisnu dan Baim dengan spekulasi yang dia pikirkan.


"Kalau dia beneran bundir, pasti kita udah dapat kabar," sambung Baim.


Wisnu terdiam, seketika pikiran mengenai Arfin terputar kembali. Perkataan Gilang memang sedikit berlebihan, tapi dia tidak salah. Arfin sangat berbeda di antara mereka bertiga. Dia paling nekat melakukan hal di luar nalar setelah Wisnu. Bukan hal mustahil kalau Arfin melakukan hal seperti itu. Rasa bersalah muncul di benak Wisnu. Lelaki itu merasa kalau Arfin menjauh sekarang karena dirinya. Apa dia terlalu berlebihan marah dengan Arfin. Wisnu takut sekarang.


...***...


Wisnu bersama kedua temannya keluar dari kelas begitu matkul terakhir selesai. Mereka melangkah keluar dengan raut wajah gembira seakan beban besar sudah lepas. Padahal itu hanya matkul sulit saja. Sepanjang jam matkul terakhir tadi, Wisnu sibuk berkutat dengan ponsel, Baim tertidur dan Gilang yang tiba-tiba rajin dan menyimak penjelasan dari dosen. Bisa dibilang, yang paling rajin di antara mereka itu Arfin dan Gilang. Tapi niat Arfin belajar mengalahkan Gilang. Bahkan Arfin sebenarnya adalah yang paling pintar di antara mereka berempat.


Namun, entah mengapa sekarang kepintaran Arfin tidak dia gunakan. Dia menghilang tanpa bilang, menimbulkan kecemasan. Wisnu mengajak kedua temannya pergi ke suatu tempat begitu ada pesan masuk dari ponselnya.


Mata yang sedari tadi melihat aktivitas Wisnu, Gilang dan Baim, kini kaki yang ia punya diajak melangkah untuk mengikuti ke mana mereka bertiga berjalan. Dia berjalan dengan pelan dan hati-hati agar tidak diketahui sedang memata-matai.


"Ganteng!" Langkah itu terhenti begitu panggilan suara cempreng menembus pendengaran.


Lelaki itu menghela napas, memunculkan senyuman paksa dan menoleh ke gadis yang sudah menunggu dia berbalik badan.


"Mau ke mana?" Melinda bertanya dengan semangat.


"Ada deh," balas Arfin. Tenyata orang yang sedari tadi memata-matai Wisnu dan kedua temannya itu Arfin. Entah apa maksudnya mengikuti mereka secara diam-diam.


"Gue denger, lo lagi berantem ya sama temen-temen lo?" tanya Melinda.


Arfin menggeleng. "Nggak. Hubungan gue baik-baik aja."


"Enak nggak, temenan sama putra Aksanta?"


Arfin terdiam sejenak, sebelum menjawab. "Enak."


"Tapi menurut gue, putra Aksanta itu angkuh, dia juga orang yang sok. Semena-mena juga sama orang lain, hobi memanfaatkan dan memancing keributan," ucap Melinda.


Arfin melepaskan tangannya dari Melinda. Tatapan tak suka terlihat dari mata Arfin pada Melinda. "Lo nggak ada hak ya, jelek-jelekin teman gue. Lo nggak tau apa-apa soal Wisnu." Meskipun yang dikatakan oleh Melinda itu memang benar, tapi tetap saja Arfin tidak suka keburukan Wisnu diceritakan oleh orang lain, apalagi di depannya sendiri. Bagaimanapun Wisnu tetaplah teman Arfin.


"Tapi tabiat keluarga Aksanta memang begitu, mereka hobi playing victim," balas Melinda.


Arfin lupa, kalau Melinda bagian dari keluarga Agustama. Arfin lupa kalau keluarga Agustama sangat membenci keluarga Aksanta sampai ke tulang-tulangnya. Arfin kira Melinda tidak peduli dengan permasalahan keluarga mereka, tapi ternyata Melinda sama saja. Arfin semakin tidak menyukai gadis ini.


Arfin meninggalkan Melinda tanpa berbicara. Sang empu yang ditinggalkan tentu saja mengejar. Bahkan dia berusaha menghentikan Arfin.


"Gue sibuk. Nggak usah kepo deh!" sentak Arfin, menghentikan ocehan Melinda yang mencoba menghambat jalannya.


Arfin pergi, dan Melinda terdiam. Gadis itu sangat tidak menyangka seorang Arfin Fano Alyas menyentak dirinya. Dia pikir, dia itu siapa. Secara harta saja keluarga Alyas kalah dari keluarga Agustama. Dan sekarang putra mereka menunjukkan tanda-tanda penolakan pada Melinda—putri bungsu keluarga Agustama. Arfin mencari bahaya dalam hidupnya.


...***...

__ADS_1


Wisnu sudah sampai di tempat yang sudah dijanjikan, bersama Baim dan Gilang. Namun orang yang mengirim pesan padanya belum datang. Hingga membuat Baim dan Gilang merasa bosan.


"Mana sih Arfin," gerutu Gilang.


"Itu." Suara Baim mengarahkan mata Wisnu dan Gilang pada seorang lelaki berpakaian kemeja berwarna biru berlengan pendek dan celana jeans hitam.


"Sorry, gue telat," ucap Arfin begitu tiba di depan Wisnu.


Wisnu tidak mengatakan apapun begitu juga dengan Gilang dan Baim. Mereka terdiam saat tatapan tajam Wisnu mengarah pada Arfin. Wisnu memang tidak mengatakan apapun dari bibirnya, tapi seakan dia memberi isyarat pada Arfin untuk langsung berbicara pada intinya.


Arfin menutup mata sejenak, mengatur peredaran napas. "Gue minta maaf." Arfin membuka matanya, langsung menatap mata hazel millik Wisnu.


"Wis, gue nggak bisa lakuin itu. Gue, nggak tega sama El. Gue nggak bisa bantuin lo untuk balas dendam sama El." Arfin berhenti sejenak. "Gue, nggak bisa renggut kesucian El, dia terlalu baik untuk dapetin hal itu—"


Bugh


Belum sempat Arfin menyelesaikan kalimatnya, pukulan Wisnu sudah lebih dulu mendarat di pipi. Arfin jatuh tersungkur. Wisnu mencengkram kuat kerah baju Arfin membawa lelaki itu kembali berdiri.


Bugh


Wisnu memukuli Arfin lagi. Tapi kali ini Baim dan Gilang tidak tinggal diam, mereka mencoba menghentikan Wisnu yang terus memukuli Arfin. Namun sulit menghentikan Wisnu sekarang, dia terus menghantam Arfin dengan pukulan, diarea wajah, perut dan sesekali memberi tunjangan pada lelaki yang sama sekali tidak ada melawannya.


Wisnu mendorong Arfin kasar, membiarkan lelaki yang memunculkan cairan merah di wajahnya terjatuh di tanah.


"Do you like her?" tanya Wisnu. Arfin tidak menjawab, dia sibuk memegangi perutnya yang terasa perih.


"Gue kecewa sama lo," ungkap Wisnu. "Gue pikir, lo bakal selalu mihak teman lo, tapi nyatanya karena cewek rese itu, lo ninggalin temen lo."


"Gue nggak ninggalin lo, Wis! Gue cuma nggak bisa lakuin yang lo minta. Gue nggak sekejam itu sampai harus lakuin hal serendah itu ke El," balas Arfin.


"Do you like her, Arfin?" tanya Wisnu lagi. Namun Arfin tidak juga menjawab. Dia juga bingung harus menjawab apa untuk pertanyaan seperti ini. Dia bingung dengan perasaannya sendiri, Arfin merasa nyaman dengan Eleena dan juga kasihan dengan apa yang terjadi pada gadis itu beberapa hari lalu di bar.


"Wis, gue minta maaf sama lo. Gue bakal tebus semua kesalahan gue, tapi nggak dengan nyakitin El, apalagi sampai renggut keperawanannya kayak gitu," jelas Arfin.


"Bukannya lo bilang, kalau lo bakal deketin dia pelan-pelan? Buat dia jatuh cinta sama lo, supaya dia rela nyerahin badannya sendiri ke elo?" tanya Gilang.


Arfin tidak langsung menjawab, dia menatap Wisnu yang masih memunculkan amarah pada dirinya. "I-itu dulu. Gue pikir, gue bisa lakuin itu. Tapi, El terlalu baik, gue udah terlanjur nyaman sama dia. Dia perempuan yang bisa buat gue ngerasa gue juga manusia. Dia perempuan baik-baik, gue salah banget berpikir bakal ngerusak dia. I'm sorry, Wis."


Wisnu melayangkan tangannya hendak memukul Arfin lagi, tapi dia berhenti. "Do you like her?" tanya Wisnu lagi. Karena Arfin tak kunjung menjawab, Wisnu langsung menjatuhkan pukulan itu di bagian bawah wajah tampan Arfin.


"Kalau lo beneran suka sama dia, mati lo sama gue, Fin," ancam Wisnu. Dia merapikan pakaiannya, berjalan pergi dari sana.


Baim dan Gilang menatap Arfin iba. Ingin rasanya mereka membantu teman mereka yang satu ini, tapi Wisnu lebih berbahaya. Mereka tidak ingin bernasib sama seperti Arfin, maka dari itu mereka memiliki pergi mengikuti Wisnu.


"Sorry, Fin," ucap Baim, pergi.

__ADS_1


Arfin memegangi perutnya yang terasa nyeri. Dan memar-memar diwajahnya juga terasa sangat sakit. Belum lagi sakit kepala yang sangat menyebalkan ini. Arfin berharap akan ada orang yang menolongnya, Arfin sangat kesakitan.


__ADS_2