Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Tentang Wisnu


__ADS_3

Burung-burung bersama kawanannya terbang membelah langit indah yang sekarang sedikit gelap akibat gerimis kecil masih menimpa bumi dan seisinya. Kupu-kupu warna-warni hinggap di kelopak bunga yang berada di dalam sebuah pot di area Universitas Binawa.


Suara bel berbunyi, para mahasiswa berhamburan keluar dari kelas. Begitupun para dosen sudah mulai berpulangan. Area kampus yang semulanya senyap dan damai berubah menjadi ricuh, penuh dengan manusia di sekitarnya.


Mahasiswa dengan berbagai almamater menyebar cepat di area Universitas Binawa setelah bel pulang berdengung di telinga mereka. Dan seorang perempuan dengan rambut dikuncir kuda dengan almamater merah yang terpasang pas di kedua pundaknya. Gadis itu tidak sendirian karena ada gadis lain yang sedikit lebih pendek darinya dengan memakai almamater yang sama seperti Eleena.


"Mau ke mall nggak?" tanya Melinda di tengah perjalanan mereka melewati lobi kampus.


"Boleh." Eleena tidak menjawab lebih panjang, karena baginya menceritakan alasan pada Melinda tidak akan ada gunanya. Jika Melinda bertanya jawabannya hanya dua, Iya atau gadis itu akan mendapatkan masalah.


Melinda Putri Agustama, jangan pernah lupakan dia adalah anak bungsu keluarga Agustama. Jika ada satu orang saja yang mengusiknya apalagi sampai menolak ajakannya, Melinda tidak segan-segan membalas orang itu menggunakan kekuasaan yang ia punya.


"Gue nebeng di mobil lo aja ya, biar mobil gue diambil sama sopir," kata Melinda dan Eleena hanya mengangguk. Eleena menghela napas panjang, jika Melinda bukan sepupunya Eleena tidak akan mau berteman dengan gadis manja satu ini.


"Ganteng," gumam Melinda berhenti. Eleena yang sudah beberapa langkah di depan Melinda membalikkan tubuhnya untuk melihat apa alasan Melinda menghentikan langkahnya.


"Arfin!" Bukan Melinda yang menyapa melainkan Eleena. Arfin menoleh, segera lelaki itu menghampiri Eleena cepat. Begitu Arfin sudah berdiri di depan Eleena, Melinda mengepalkan tangan diam-diam. Saat gadis itu sudah membuka mulutnya untuk meneriakkan nama Arfin, Eleena sudah lebih dulu memanggil lelaki itu.


"Padahal gue duluan yang lihat dia," gumam Melinda sepelan mungkin agar tidak terdengar oleh dua orang yang sibuk berbincang tanpa memperdulikan kehadirannya.


"Lo mau ke mana El?" Bukan hanya tidak memperdulikan keberadaan Melinda, kedua manusia itu juga berjalan lebih dulu meninggalkan Melinda di belakang.


"Mau ke mall bareng sama Mel."


"Melinda sepupu lo itu?" tanya Arfin. Eleena mengangguk. Arfin mengintip dari ekor matanya ada siluet tubuh Melinda sedang mengejar mereka agar tidak tertinggal di belakang.


"El, bentar yuk." Saat Melinda sudah hampir berhasil menyamakan langkahnya dengan Arfin dan Eleena, Arfin menarik tangan Eleena untuk berbelok ke sebelah kiri. Mereka berjalan lumayan cepat agar Melinda tidak bisa mengejar.


"Gila!" umpat Melinda menghentakkan kakinya ke lantai. Gadis itu mengepalkan tangan kuat, sekali lagi Arfin menolak kehadiran gadis itu walau secara tidak langsung.


"Dia pikir dia siapa bisa ngehindar dari gue?!" sebal Melinda. Gadis itu memutar tubuhnya berjalan ke sisi kanan lobi kampus. Dia memegang tali tasnya kuat menyalurkan segala kekesalan di sana.


Melinda:


Gak jadi ke mall, gue badmood


"Aneh banget," cetus Eleena mematikan ponselnya setelah membaca pesan dari Melinda.


"Sepupu lo emang aneh," tambah Arfin. Eleena menoleh ke lelaki itu. "Dia sering banget nyamperin gue tiba-tiba, berlagak sok akrab sama gue," sambungannya.

__ADS_1


"Bukannya lo emang akrab sama semua cewek ya?" Eleena menyenggol pelan bahu Arfin.


"Semua cewek kecuali sepupu lo," balas Arfin.


"Lah kenapa?"


"Entahlah, gue risih sama dia," jawab Arfin cepat. "Gue tuh ya suka sama cewek yang deket sama gue tapi nggak berlagak sok akrab. Apalagi sampai gali-gali kehidupan pribadi gue."


"Apa yang dilakuin sama Mel?"


"Dia kepo banget, setiap ketemu selalu nanya alamat, kehidupan rumah kayak gimana. Gue jadi risih anjir." Arfin menjawab sambil terus berjalan membawa Eleena.


"Duduk yuk," tawar Eleena duduk di kursi panjang yang tersedia di dekat area parkir. Gadis itu berlari mendahului Arfin agar bisa duduk di sana. Arfin tersenyum kecil, menghampiri gadis itu lalu duduk di sampingnya.


"Mau pulang sama gue?" tanya Arfin. Eleena mengangkat bahunya pertanda dia tidak menerima atau menolak ajakan Arfin.


Arfin menghela napas pelan. Pandangan Arfin yang semula menatap tempat penuh dengan mobil dan motor kini berganti menatap gadis di sebelahnya yang sama-sama menatap lurus ke depan. Kacamata yang berada di wajah selalu berhasil membuat Arfin jatuh.


"Izin." Arfin menyelipkan anak rambut Eleena yang terlepas dari kuncirannya.


"Makasih." Arfin tersenyum. Eleena mengeluarkan kaca dari dalam ransel, dia melihat penampilannya dari pantulan cermin kecil itu.


"Pegangin." Eleena meletakkan kaca berukuran kecil berbentuk persegi itu ke tangan Arfin. Arfin mendirikan kaca itu menggunakan kedua tangannya dan menghadapkan cermin itu ke Eleena agar gadis itu bisa melihat dirinya sendiri dengan jelas.


"Thanks." Eleena mengambil kaca itu dari tangan Arfin kemudian memasukkan benda kecil itu kembali ke tempatnya.


"El, beberapa hari lalu Wisnu nanya soal lo, gue kasih tau yang gue tahu. Bolehkan?" Perhatian Eleena teralihkan sepenuhnya kala Arfin menyebut nama Wisnu di dalam kalimatnya.


"Dia nanya apa?"


"Semuanya. Lo suka apa, terus lo orangnya gimana, hobi apa, nggak suka sama hal apa."


"Kenapa dia nanya?" tanya Eleena lagi.


"Dia bilang buat jaga-jaga takut Om Rama nanya soal lo tiba-tiba. Kan lo pacarnya sekarang." Arfin menyenggol bahu Eleena pelan setelah dia mengucapkan status Eleena sekarang.


"El—"


"Wisnu nanya soal gue kalau gue tanya soal dia, lo mau jawab?" Eleena memotong kata Arfin yang baru saja dimulai.

__ADS_1


Senyum Arfin memudar perlahan. Sudah Arfin bilang, ada rasa sakit di lubuk hatinya melihat Eleena tampak bersemangat menanyakan soal Wisnu. Namun, Arfin buru-buru memunculkan senyum seperti tadi. Dia tidak enak kalau Eleena mengira dia tidak suka pada topik ini. Meskipun sebenarnya iya, tapi kita sebagai manusia harus pandai berpura-pura bukan agar tidak dijauhi teman.


"Wisnu. Yang lo tau soal dia apa?" Arfin menjawab pertanyaan Eleena dengan pertanyaan juga.


Eleena berpikir sejenak sebelum menjawab. "Dia anak tunggal, angkuh, sok, manja, aneh, boros, nyebelin, selalu pamer kekayaan, pamer nama belakang, dia juga orang yang pemarah, malas, dan kasar. Gue nggak tau hal baik apa tentang dia," jawab Eleena.


Arfin terkekeh mendengar Jawa Eleena. Laki-laki itu pikir jawaban dari gadis di sebelahnya ini akan berisi banyak pujian mengingat mereka pernah menghabiskan waktu satu harian bersama saat Valentine.


"Wisnu nggak seburuk itu kok," ujar Arfin. "Wisnu itu, memang pemarah tapi itu karena lo nggak kenal sama dia. Kalau lo udah deket sama dia, lo bakal tau Wisnu orangnya sebenarnya selembut itu."


"Tapi waktu itu lo dipukuli sama dia padahal kan lo temannya," sela Eleena.


"Iya. Tapi karena itu gue yang salah. Gue nggak nuruti apa yang Wisnu suruh sama gue. Wisnu itu orang yang ketika dia nyuruh orang lain harus dikerjakan kalau nggak dia bakal marah." Arfin membalas selaan Eleena.


"Teman gue itu." Arfin merangkul pundak Eleena, mendekatkan gadis itu padanya dan hebatnya Eleena sama sekali tidak risih. Baginya sikap Arfin yang seperti ini justru lebih menyenangkan daripada dia bersikap layaknya orang lain yang harus sopan.


"Orangnya ganteng. Dan lo harus yakini itu. Banyak cewek klepek-klepek sama dia tapi lo beruntung dia mau macari lo walaupun itu karena suruhan bokapnya. Terus, Wisnu itu orangnya sebenarnya lembut tapi dia selalu masang tampang jutek dan angkuh aja, padahal aslinya dia orangnya asik kok. Kadang gila juga kayak gue, Wisnu juga bisa perhatian parah. Kayak waktu dulu pas Baim kecelakaan dan kakinya patah, Wisnu orang yang paling sering jengukin dia di rumah sakit. Wisnu juga yang bayarin semua biaya rumah sakit dan karena itu dia harus berantem sama bokapnya."


Arfin memberi jeda, menghirup napas sejenak. "Prinsip hidup Wisnu, teman itu yang utama. Wisnu kalau udah sekali cinta sama orang dia nggak akan biarin orang itu sakit, jangankan sakit lecet aja nggak akan pernah."


"Berarti Wisnu nggak sayang sama lo sampai-sampai dia mukul lo?" tanya Eleena polos.


"Dia sayang sama gue, El. Malahan sayang banget." Arfin mengelus surai Eleena. "Gue yang paling kecil umurnya diantara kita berempat dan Wisnu memperlakukan gue kayak bener-bener adeknya. Wisnu mukul gue itu karena dia kesel aja, hatinya nggak baik. Tapi pas malemnya dia minta maaf kok sama gue, dia orangnya baik. Tapi nggak pernah memperlihatkan kebaikannya." Arfin melepaskan rangkulannya.


"Intinya ya El, kalau harus menjelaskan gimana Wisnu itu nggak akan bisa pakai kata-kata. Lo harus masuk dalam hidupnya lebih dalam, dan disitu lo bakal ketemu Wisnu yang aneh, lucu, romantis, tsundere dan rapuh." Tatapan Arfin sedikit sendu ketika mengatakan itu. Hanya dia, Baim dan Gilang sajalah yang tahu seberapa rapuh dan hancur Wisnu itu.


"Gue jadi penasaran sama dia," batin Eleena.


Di tengah pikiran Eleena yang sibuk akan Wisnu karena kalimat dan penjelasan panjang dari lelaki itu, mata Eleena yang teralasi oleh kacamata melihat Wisnu berjalan ke arah mereka.


"Wisnu." Eleena berdiri dari duduknya. Kala iris cokelat Eleena menemukan lambaian tangan Wisnu, gadis itu berlari menghampiri lelaki itu.


Eleena memeluk Wisnu tanpa aba-aba. Membuat lelaki itu sedikit tersentak. Bahkan Wisnu membeku sekarang. Namun itu tidak lama, karena sedetik kemudian Eleena mendorong Wisnu agar menjauhinya dan melepaskan pelukannya.


Eleena merutuki dirinya sendiri karena sudah berani melakukan itu. Dia tidak tahu apa yang dia lakukan, seakan-akan kaki dan tangan Eleena ingin memiliki Wisnu meski hanya lewat sebuah pelukan.


"Sakit lo?" Wisnu meletakkan punggung tangannya di dahi Eleena, tapi dia tidak merasakan ada hawa panas di sana. "Aneh." Wisnu menoyor kepala Eleena pelan.


"Apaan sih?!" Eleena memukul lengan Wisnu kuat berkali-kali lipat dari toyoran yang diberikan lelaki itu padanya.

__ADS_1


"Aneh banget cewek ini. Gue ke sini mau ketemu Arfin," gerutu Wisnu mengelus lengannya yang sakit dan membawa pandangannya menatap Arfin yang masih berdiri di tempat tak bergerak sedikitpun.


Eleena menatap Arfin juga. Gadis itu meninggalkan Arfin sendiri di sana demi menghampiri Wisnu. Arfin menampilkan senyum pada Eleena dan Wisnu yang menatapnya. Dia bahkan berjalan menghampiri mereka berdua. Dia bersikap seolah tak terjadi apa-apa dan yang dilihatnya bukanlah sebuah hal yang menyakitkan. Padahal dengan kesadaran penuh dan mata yang terbuka sempurna Arfin melihat perempuan yang ia sukai memeluk temannya sendiri.


__ADS_2