Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Valentine


__ADS_3

Seperti usulan Rama beberapa hari lalu Wisnu berakhir bersama Eleena sekarang. Mereka berdua duduk di mobil yang sama—mobil berwarna biru gelap dengan atap yang terbuka membiarkan angin singgah dengan senang hati ke mobil berlogo AK itu.


Mobil milik keluarga Aksanta melaju membelah jalanan padat di hari istimewa bagi insan yang memiliki pasangan. Hari yang dipenuhi oleh coklat, kata-kata romantis, bunga, dan baju couple menandakan bahwa mereka tengah berada dalam satu hubungan yang istimewa. Hari yang bisa membuat iri sebagian manusia karena di hari ini begitu banyak para pasangan yang menghabiskan waktu bersama untuk menambah rasa cinta di antara mereka.


Kalau kata Baim hari ini tuh, "Hari sial dan buat gue malas keluar rumah."


Menurut Gilang hari ini adalah, "Hari indah buat yang nggak jomblo kalau buat gue mah b aja."


Ada juga pendapat Arfin mengenai hari ini. Lelaki itu bilang, "Hari di mana gue bingung mau jalan sama cewek yang mana, pasti cewek-cewek gue pada ngambek karena gue nggak bisa jalan sama mereka."


Kalau menurut Wisnu sendiri hari ini adalah, "Hari istimewa buat mereka yang punya pasangan yang sempurna," gumam lelaki itu dengan tatapan lurus ke depan dan fokus pada kegiatan menyetirnya.


Eleena menoleh ke lelaki itu begitu kalimat Wisnu terdengar di telinga. Eleena sedikit bingung awalnya tapi dia sadar mungkin yang dikatakan Wisnu adalah mengenai hari ini.


Valentine Day. Atau orang-orang menyebutnya hari kasih sayang. Di mana para insan yang mempunyai pasangan menciptakan kenangan indah yang akan diceritakan jikalau mereka sudah masuk ke dalam tahapan pernikahan. Mereka akan mengenang kembali bagaimana usaha mereka untuk memberi kejutan pada pasangan masing-masing demi menciptakan suasana Valentine yang indah dan mengesankan.


"Makasih udah mau nerima ajakan gue, El. Kalau lo nggak mau udah habis riwayat gue sekarang," ucap Wisnu santai tanpa memandang gadis yang sedari tadi terus memandangnya setelah mendengar gumaman Wisnu.


"Gue nerima ini karena usulan dari Bunda," balas gadis itu.


"Tante Sinta? Kok bisa?" Wisnu menatap Eleena sejenak sebelum kembali memfokuskan pandangan ke jalanan karena hari ini sangat padat.


"Awalnya Bunda nanya gue pacaran sama lo atau nggak—"


"Terus lo jawab apa?!" sela Wisnu segera.

__ADS_1


Eleena menghela napas sejenak. Eleena paling tidak suka ada orang yang menyela pembicaraannya. "Gue jawab aja kita cuma temenan."


Wisnu ber-oh mendengar itu. Tak bisa Wisnu tutupi, mendengar jawaban Eleena tadi, dia merasa ada sedikit dari celah bagian hatinya merasa retak. Entahlah, apa karena Eleena yang mengatakan bahwa dia hanya teman pada Sinta atau ada hal lainnya.


"El, hari ini kita bersikap b aja ya," ucap Wisnu memberhentikan mobil begitu lampu berubah menjadi merah.


"Maksudnya?" Eleena memfokuskan seluruh atensi pada Wisnu.


"Gue yakin di taman pasti rame, jadi anak buah bokap gue nggak akan denger jelas apa yang kita omongin. Tapi yang pasti harus adalah dikit-dikit romantisnya," jelas lelaki itu menatap Eleena kali ini.


"Romantis ya." Eleena sedikit menggelengkan kepala sambil terkekeh kecil mendengar kata romantis dari Wisnu tadi. Menurutnya, itu agak sedikit klise. Romantis coba.


"Kayak gini loh." Tangan Wisnu bergerak, menyentuh telapak tangan Eleena yang berada di pinggir kursi sebelah kanan. Elusan tangan dari lelaki itu membekukan Eleena. Setiap gerakan dari Wisnu yang naik turun memberi atensi yang tak bisa Eleena mengerti apa ini.


Mobil Wisnu terparkir rapi di jejeran mobi lainnya di taman. Mata Eleena membulat sempurna. Ramai. Sangat ramai. Eleena tidak pernah menduga bahwa akan ada hari di mana taman yang sering ia kunjungi menjadia sangat ramai seperti ini.


"Masuk," ajak Wisnu. Eleena dan Wisnu masuk bersamaan. Begitu mereka melewati pintu ucapan selamat datang ada dua orang pelayan yang menyambut kedatangan mereka. Satunya perempuan dan satunya laki-laki.


"Selamat datang." Mereka menyambut kedatangan Eleena dan Wisnu. Wisnu disuruh untuk mengisi daftar nama di sebuah buku besar setelah pertanyaan, "Kalian pacaran ya?" Dijawab anggukan oleh Eleena.


Setelah selesai menulis nama dia dan Eleena di buku itu, Wisnu diberikan hadiah berupa gelang berwarna hitam dengan hiasan berbentuk hati berwarna silver di tengahnya. Begitu juga Eleena. Dia diberi gelang yang sama hanya saja gelang Eleena berwarna merah muda.


"Karena kalian pacaran, wajib pegangan tangan ya selama di sini." Eleena dan Wisnu sedikit tersentak, tapi dengan segera mereka bisa kembali pada ekspresi awal, yaitu menerima semua tingkah konyol dan tak masuk akal yang disediakan di tempat ini.


"Kita pegangan tangan nih?" bisik Eleena.

__ADS_1


"Turutin ajalah. Daripada lu diusir." Wisnu mulai menggenggam tangan Eleena dan membawa gadis itu menjauh dari pintu selamat datang.


Setiap Eleena melangkah, disitu dia melihat pasangan di mana-mana. Sama seperti Wisnu dan Eleena mereka semua berpegangan tangan. Hanya saja mereka berpegangan tangan dengan rasa cinta satu sama lain bukan karena paksaan atau suruhan seperti yang mereka lakukan ini.


"Jadi kita di sini mau ngapain sih?" tanya Eleena sedikit frustasi.


"Nurutin itu." Eleena mengikuti ke mana arah telunjuk Wisnu. Sebuah papan cukup besar dengan tulisan-tulisan di tengahnya sangat ramai dikerubungi oleh manusia.


"Gue nggak bisa lihat." Eleena yang memakai kacamata sudah menyipitkan matanya agar dia bisa melihat setidaknya satu saja kata yang ada di papan itu dari kejauhan beberapa meter ini.


Wisnu berdecak, "Lu udah pakai kacamata masih aja kagak bisa lihat," sindirnya.


Eleena mencubit telapak tangan Wisnu yang menggenggam tangannya. "Auu," pekik Wisnu kesakitan.


"Makanya maju lagi goblok, gue nggak bisa lihat kalau dari sini." Eleena berkata ketus memaksa Wisnu untuk mengikutinya menuju papan berisi tulisan yang tak bisa Eleena baca tadi.


Meskipun sudah berada dalam jarak dekat, Eleena masih belum bisa melihat. Dikarenakan papan itu terlalu dikerubungi oleh orang-orang yang mungkin juga penasaran akan apa isi dari papan itu.


Setelah dua orang di depan Eleena dan Wisnu pergi, mereka melangkah satu langkah. Berdiri tepat di depan tulisan yang membuat Eleena penasaran sampai-sampai mau berdesakan untuk membaca hal itu.


Mata Wisnu dan Eleena terbelalak. Mereka tidak bisa menyembunyikan raut terkejutnya ketika membaca itu. Ini taman, ini tempat orang-orang beristirahat setelah lelah beraktivitas seharian. Kini taman itu benar-benar berubah menjadi taman buvin karena hari Valentine.


"Habis riwayat gue," batin Eleena.


"Anjir, gimana gue lakuin ini? Kalau gue nggak ikutin ini gue bisa diusir, kalau gue diusir dari sini gue bisa diusir dari rumah juga," batin Wisnu.

__ADS_1


__ADS_2