
Semesta. Satu kata yang akan memiliki banyak makna kalau ditelaah oleh banyak manusia. Satu kata yang bisa berbeda arti jika diartikan oleh manusia yang lain. Semesta beserta isinya adalah ciptaan Tuhan. Dunia memang sementara tapi itu cukup untuk membuat hidup seseorang terasa berat dan berantakan.
Tidak jarang juga kalau semesta membuat orang lain menangis karena candaannya. Padahal kalau ada yang sedang bercanda, seharusnya manusia tertawa tapi karena ini candaan dari semesta mereka malah menangis sampai kehilangan suara.
"Dunia nggak akan tahu apa yang kamu mau, sampai kamu mengatakan hal itu."
Itu kata-kata yang terbenam di dalam benak Sinta setiap kali wanita itu berdiam diri di dalam kamar dan tidak memiliki pekerjaan untuk dilakukan. Kata-kata yang dia dapatkan puluhan tahun lalu masih bisa dia ingat jelas, bahkan sosok yang menyampaikan kalimat itu padanya, Sinta juga masih ingat.
Saat hidup Sinta hancur berantakan, saat semesta tak berpihak padanya, saat setiap langkahnya terasa berat, saat dia merasa kalau dia tertinggal dari orang-orang, sosok itu datang seakan memberi pelukan erat agar perempuan itu bisa menghilangkan sesak yang bersemayam di dada.
Sosok bertubuh lebih tinggi darinya dengan dahi yang ditutupi oleh rambut, lelaki itu datang untuk mengambil Sinta yang sudah jatuh ke dalam jurang yang begitu dalam. Jurang yang membuat Sinta tidak bisa keluar darinya meskipun dia sudah melompat seperti orang gila. Namun lelaki itu dengan suka rela mengulurkan tangannya menarik Sinta keluar dari sana.
Lelaki itu memberi Sinta kecupan, memberinya pelukan hangat dan membiarkan pakaiannya basah karena tangisan kepedihan Sinta.
Lelaki itu sedia memberi Sinta kalimat-kalimat indah setiap kali perempuan itu merasa bahwa semesta bertindak tak adil pada dirinya. Laki-laki dengan senyuman hangat, dan elusan hangat yang selalu Sinta rasakan, serta rasa aman yang selalu ada setiap kali perempuan itu bersamanya. Lelaki itu, Rama.
"Selalu Rama, bukan Juna."
__ADS_1
Kadang perempuan itu harus menerima kenyataan bahwa Rama lah orang yang paling ia cinta dalam hidupnya. Kenyataan bahwa Rama adalah orang yang selalu ia cari setiap kali dia ingin meminjam pundak dan membiarkan dia menangis tanpa suara atau histeris sekalipun.
Seperti saat itu, saat Sinta dihantam habis-habisan oleh semesta. Waktu Sinta benar-benar dibuat seolah boneka yang semulanya adalah benda yang paling dirawat lalu setelah mereka bosan perempuan itu akan dicampakkan begitu saja.
Kejadian yang membuat Sinta takut pada keluarganya sendiri. Bukan, bukan saat keluarganya menentang keras hubungan dia dan Rama. Tetapi saat Sinta dipermalukan di depan banyak orang hanya karena dia seorang anak perempuan. Nyatanya menyandang nama Agustama di belakang namanya menjadi kutukan untuk Sinta. Perempuan itu seakan terpenjara karena nama itu ada di dalam namanya.
Keluarga Agustama bukan keluarga yang mengutamakan suara perempuan. Atau bisa dibilang, keluar Agustama adalah penganut patriarki keras. Sinta benar-benar diperlakukan layaknya seorang babu karena dia adalah anak perempuan. Walaupun Sinta adalah murid pintar tapi keluarganya tidak pernah memandang Sinta, karena bagi keluarganya Sinta adalah beban yang sebentar lagi akan hilang kalau perempuan itu segera menikah. Maka dari itu Sinta sudah mendapat tawaran perjodohan bahkan sebelum dia lulus dari SMA.
Sinta masih ingat jelas bagaimana keluarganya memaki Sinta karena perempuan itu bersikeras ingin berkuliah seperti kakak laki-lakinya.
"Kamu anak perempuan, Sinta jangan jadi beban dengan lanjut pendidikan!" bentak sang Papa tepat di depan gadis itu sampai membuat mata Sinta terpejam ketakutan.
"Turuti apa kata Papa sama Mama, Sin. Jangan bandel," timpal kakak laki-lakinya.
Sinta lari masuk ke dalam kamar, menangis sejadinya tanpa suara di dalam sana. Mungkin, kalau mereka mengatakan itu saat dihari biasa Sinta tidak akan sesakit ini. Namun, mereka mengatakan hal itu di depan banyak orang, saat keluarga mereka sedang mengadakan acara keluarga. Hanya karena sang kakak menemukan Sinta sedang mencari info tentang dunia perkuliahan perempuan itu langsung dibentak dan dihina habis-habisan bahkan oleh keluarganya sendiri.
Sinta tidak pernah menduga hal itu akan terjadi dalam hidupnya. Sejak kejadian kemarin yang membuat Sinta malu setengah mati, kedua orang tuanya dan kakak laki-lakinya tetap tidak meminta maaf. Mereka malah kembali membentak Sinta tiap kali perempuan itu hendak menyentuh buku untuk dibaca.
__ADS_1
Sebuah fakta, Sinta itu pintar. Bahkan lebih pintar dari kakak laki-lakinya sendiri, tetapi karena di keluarga ini anak perempuan adalah seorang beban yang tidak bisa apa-apa karena mereka ujung-ujungnya akan menjadi istri orang, jadi kemampuan Sinta tidak pernah dipedulikan oleh keluarganya. Mereka hanya fokus pada kakak laki-laki Sinta karena kakak laki-laki Sinta adalah penerus perusahaan nantinya.
Di tengah Sinta tidak mendapat perhatian dari rumah jadi tidak ada salahnya kalau Sinta mencari perhatian itu di luar. Saat perempuan itu tiba di hadapan Rama dengan sebuah senyuman manis di sana, setelah dia dan Rama merencanakan untuk bertemu diam-diam setelah acara keluarga di rumah Sinta selesai.
Sinta sudah bilang, Rama adalah orang yang paling mengenal Sinta melebihi apapun. Buktinya, meskipun Sinta menampilkan senyuman padanya Rama masih bisa tahu kalau ada sesuatu yang coba gadis itu sembunyikan darinya.
"Kamu nggak papa?" Hanya satu kalimat yang keluar dari mulut Rama tapi rasanya Sinta sudah sesak tiada tara.
Rama menepuk pundak kanannya saat mereka sudah duduk di atas rumput di sebuah taman. "Nangis sekarang, terus cerita sama aku." Rama dengan suka rela memberikan pundaknya untuk Sinta. Dia dengan baik hati, membiarkan gadis itu menangis dalam diam dan bajunya basah karena tangisan Sinta.
Lelaki itu tidak berkomentar, dia membiarkan Sinta untuk meluapkan semua emosi yang perempuan itu punya. Dia hanya terus mengelus telapak tangan Sinta dengan hati-hati seakan pertanda bahwa dia ada di samping gadis itu, selalu.
"Sin, jangan pernah berpikir kalau kamu sendiri hidup di dunia ini, ada aku. Akan ada aku, selalu ada aku, cari aku kalau kamu lagi lelah sama semesta. Cari pelukan aku kalau kamu mau berkeluh kesah, cari tangan aku untuk menutupi telingamu saat petir menyambar, cari aku saat kondisimu sedang tidak baik-baik saja, dan cium aku saat kamu sedang dilanda kebahagiaan yang tiada tara."
Sinta gagal, dia menangis lagi, untuk kesekian kali dia menangis karena orang yang sama. Kenangan indah tentang Rama begitu banyak, sampai-sampai Sinta sudah tak bis lagi menghitungnya. Waktu yang Sinta habiskan bersama Rama hanya sekitar 3 tahun, tapi itu sudah cukup untuk membuat wanita itu gila dan jatuh terhadap laki-laki yang sekarang menjadi orang asing di dalam hidupnya.
Kenyataan bahwa waktu yang ia habiskan bersama Arjuna jauh lebih banyak ketimbang Rama membuat Sinta mengasihani dirinya sendiri. Dia menyayangi Arjuna karena laki-laki itu adalah orang yang bersedia menerima Sinta dalam keadaan hamil dan mau menerima Sinta apa adanya. Arjuna menunjukkan cintanya yang begitu besar pada Sinta tapi butuh waktu yang lama untuk Sinta bisa melupakan Rama. Namun meskipun begitu, Sinta tidak pernah untuk tidak menangis setiap kali mengingat Rama. Baik itu kenangan indah bersama Rama maupun saat Rama, meninggalkan ia sendiri hanya karena tidak percaya pada wanita itu.
__ADS_1
Sinta membenci Rama, sangat. Tapi hati Sinta tidak bisa berbohong, kalau wanita itu merindukan Rama. Dia merindukan Rama untuk ada di sampingnya, bukan Arjuna. Sinta membutuhkan pundak Rama sekarang, bukan pundak Arjuna walaupun pria itu bersedia untuk memberikan pundaknya. Di dalam hidup Sinta, Rama akan tetap jadi pemenangnya, meskipun Rama adalah sumber terbesar luka yang ada dalam hidup Sinta. Selalu, Rama bukan Arjuna.