Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Ajakan ke mall


__ADS_3

Mobil hitam berisi Eleena dan sang ayah melaju di jalanan. Berbaur dengan kendaraan lain yang menyusuri jalanan untuk sampai ke rumah.


"Kok Ayah jemput El?" tanya Eleena. Pasalnya Arjuna tidak mengabari gadis itu kalau dia akan menjemput. Mobil Eleena juga ditinggal begitu saja di kampus, meskipun tidak akan hilang karena akan dijemput oleh sopir tapi tetap saja Eleena butuh kejelasan akan hal ini.


"Biar kamu nggak sama dia." Arjuna menjawab ketus tak memandang ke arah Eleena sedikitpun.


Eleena sedikit tersentak, jarang sekali Arjuna bersikap ketus padanya. Dan kali ini Arjuna memberi hawa panas karena amarahnya pada Eleena.


"Kenapa sih Ayah nggak suka sama Wisnu?"


Nekat. Eleena itu nekat dan tak kenal takut. Arjuna atupun Sinta tidak pernah mengajarkannya untuk menjadi takut, apalagi takut untuk menanyakan sesuatu. Jika gadis itu tidak tahu dia diharuskan bertanya, dan gadis itu menggunakan ajaran Sinta dan Arjuna untuk bertanya hal yang ingin diketahuinya dari kedua orang tuanya.


"Intinya Ayah nggak suka!"


"Jawaban Ayah nggak ada alasan. Harus kasih alasan Yah, El nanya kenapa ayah nggak suka sama Wisnu, bukan Ayah suka sama Wisnu atau nggak."


Arjuna menghentikan mobilnya mendadak. Nyaris melemparkan tubuh Eleena jika saja gadis itu tidak memakai sabuk pengaman.


"Ayah!" jerit Eleena ketakutan, menutup matanya kuat.


"Ayah nggak pernah ngajarin El untuk kasar sama orang tua," ujar Arjuna, menatap ke arah Eleena.


Eleena membuka matanya, "El kasar?"


Arjuna mengangguk, "Kamu nanya alasan sama Ayah, itu udah termasuk kasar, Nak. Nggak semua hal tentang orang tua kamu harus tau," lanjut Arjuna.


Arjuna mengelus telapak tangan Eleena. "Sayang, soal hidup, Ayah udah berpengalaman. Ayah hidup lebih lama dari El. Ayah tau mana yang buruk dan mana yang enggak. Tugas kamu sebagai seorang anak, nurut sama orang tua bukan nanya alasannya apa. Terkadang, ada beberapa hal yang nggak harus kamu tahu, El. Kalau kamu tau, akan ada masalah yang nggak bisa kamu handle. Ayah mau jagain kamu, Nak. Jagain kamu dari Aksanta."


Kalimat panjang Arjuna itu mengakhiri percakapan Eleena dan dirinya. Mobil hitam kembali dilanjukan. Suara deru mesin dan klakson kendaraan lain serta suara-suara dari alam menjadi musik di tengah kesunyian yang tercipta.


Eleena melirik Arjuna. Dia belum puas. Gadis itu belum bisa menuntaskan rasa penasarannya. Jawaban Arjuna dan Sinta tidak ada bedanya. Kedua orang tua itu tidak mau berbagi ceritanya dengan Eleena.


"Kalau Ayah sama Bunda nggak mau bagi cerita sama gue, gue sendiri yang nyari ceritanya," batin Eleena siap melancarkan aksi yang ada di kepala.


...***...


"Bunda!" Eleena membuka pintu kamar Sinta. Masuk ke dalam kamar itu dan menghampiri ibunya dengan gaya berjalan layaknya anak-anak.


Eleena berhambur di pelukan Sinta. Sinta menyambut anaknya dengan antusias, mengelus surai Eleena dan memberi kecupan di sana.

__ADS_1


"Lucu banget anak Bunda." Sinta mencubit pipi Eleena gemas. Gadis tanpa kacamata saat ini serta kaos putih dan celana pendek yang sangat sederhana tapi mampu menambah kecantikan Eleena.


Sinta tidak bisa mengelak, kalau Eleena memang secantik itu. Anaknya lebih cantik darinya saat muda dulu. Bahkan Sinta tidak menemukan kemiripan dengan Eleena. Ah, jangankan menemukan kemiripan kalau Sinta bisa mengubah fakta tentang Eleena dia pasti akan melakukannya.


"Bunda, besok ada waktu nggak?" Eleena menaruh kepalanya di paha Sinta. Meminta wanita itu untuk mengelus kepalanya.


"Ada El," jawab Sinta.


Eleena menaikkan pandangannya, "Kalau besok Bunda ke mall, mau nggak?" Eleena menawarkan Sinta penuh pengharapan. Rencananya dan Wisnu bisa tercapai jika Sinta menyetujui tawarannya.


"Sama kamu?"


Skakmat. Sinta harus pergi sendiri bukan bersama Eleena. Namun, bagaimana caranya dia menolak.


"Kalau sama kamu, Bunda mau."


Bak tersambar petir, Eleena bungkam dengan pernyataan Sinta. Sungguh, ini di luar prediksi. Biasanya Sinta selalu mau jika ada ajakan ke mall tanpa harus ditemani. Mungkin Sinta bisa merasakan rencana licik Eleena makanya wanita itu mengajaknya pergi bersama.


"El, besok ada kegiatan Bunda—"


"Kalau gitu Bunda nggak mau pergi deh. Masa pergi sendiri, nggak asik."


"Bunda, pergi sendiri ya." Eleena bangkit, duduk di sebelah Sinta.


"Kenapa Bunda harus ke sana kalau kamu nggak ada, El."


"Refreshing Bun."


"Sama kamu lah, kamu kan juga butuh healing."


Kenapa sekarang semuanya sangat susah untuk ditangani. Mulai dari semuanya yang memberi pertanyaan membingungkan sampai Sinta yang sulit untuk diajak kerjasama.


Eleena harus memutar otak, mencari ide lain agar Sinta ingin ikut ke sana tanpa harus bersama dirinya.


"Besok El nggak bisa, Bun. Tapi ada orang yang mau ketemu Bunda," ucap Eleena.


"Siapa?"


"Aku nggak tau dia siapa. Tapi tadi ada orang yang nyamperin El. Dia bilang dia teman lama Bunda, mau ketemu sama Bunda di mall. El jawab iya, makanya kalau Bunda nggak pergi ke mall, pasti dia nungguin Bunda. El jadi nggak enak sama teman Bunda itu."

__ADS_1


Eleena jadi mahir berbohong sekarang. Entah belajar dari siapa gadis ini.


"Temen Bunda itu perempuan atau laki-laki?"


"Perempuan."


Eleena menjawab cepat. Tanpa berpikir. Dan lihatlah, kebohongan Eleena ini menghasilkan sebuah anggukan dari Sinta.


Eleena tersenyum sumringah, dia seperti memenangkan lotre. "Makasih banyak Bunda." Eleena mencium pipi Sinta, lalu pergi keluar dari kamar ibunya.


Sinta geleng-geleng kepala melihat anak gadisnya itu. Memang yang namanya anak muda, ada-ada saja tingkahnya.


Eleena masuk ke kamar, menutup pintu dan menguncinya. Gadis itu pergi ke balkon kamar. Mengetikkan beberapa digit nomor di sana.


"Wis, Bunda setuju," ucap Eleena pada Wisnu tanpa basa-basi terlebih dahulu.


"Bagus. Besok kita ke sana juga. Kita lihat kebenarannya."


Eleena mengangguk di balkonnya. Dia sudah sangat dekat untuk mengetahui kebenaran Sinta dan masa lalu wanita itu. Semua teka-teki ini harus hilang, Eleena harus mengetahui semuanya.


Wisnu menutup panggilannya. Di kamar, lelaki itu tersenyum penuh kemenangan. Memang belum membuahkan hasil rencana mereka, tapi setidaknya rencana ini adalah batu loncatan untuk kedepannya.


Suara ketukan pintu terdengar, belum sempat Wisnu menyuruh orang yang mengetuk pintu masuk ke dalam, wanita itu langsung membuka pintu dan duduk di sebelah Wisnu.


Meethila melirik ke arah pintu yang kini sudah tertutup, sebelum dia mengalihkan seluruh atensinya pada anaknya itu.


"Kamu nyembunyiin sesuatu dari Mama ya?" tanya Meethila.


Wisnu tentu saja menggeleng, karena lelaki itu tidak merasa menyembunyikan apapun selain rencana yang ia buat bersama Eleena.


"Eleena Safira Dirgantara. Itu nama lengkapnya pacar kamu, kan?"


Telak. Wisnu dibuat bungkam tak berkutik. Darimana Meethila tahu soal hal ini. Wisnu tidak pernah membicarakan Eleena pada Meethila lantas mengapa ibunya bisa tahu kebenaran ini.


"Kamu berani pacaran sama anaknya Tuan Arjuna Dirgantara? Kamu jangan gila, Wis." Meethila mendekatkan dirinya pada Wisnu.


"Mama nggak mau tau, pokoknya sebelum Papa kamu tau soal Eleena. Kamu harus putus sama dia. Cari pacar lain. Papa kamu bakal marah besar kalau dia tau kamu pacaran sama anak musuhnya." Meethila berucap seperti berbisik pada Wisnu. Meskipun pintu sudah tertutup rapat, kebenaran ini tidak boleh bocor sampai keluar.


Kepala Wisnu seakan ingin pecah. Semuanya berdatangan, kebohongan Wisnu mulai terungkap perlahan-lahan.

__ADS_1


"Yang satu aja belum kelar, napa sekarang Mama harus tau soal El. Sial banget sih, ege."


__ADS_2