Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Drama makan malam


__ADS_3

Tangan itu sibuk berkutat dan menekan berbagai jenis aplikasi yang terdapat di benda pipih miliknya. Handuk yang ia taruh sembarangan, dan rambut yang belum disisir. Kaos hijau dan celana pendek krem terpakai di tubuh yang saat ini sedang disenderkan di kursi hotel, tempat ia tinggal sekarang.


Suara ketukan pintu membangkitkan Wisnu dari duduk. Dia membuka pintu dan mengambil makanan yang tadi ia pesan. Setelah selesai memberi beberapa lembar uang pada sang pengantar, Wisnu kembali menutup pintu.


Ada pizza, burger, ayam goreng, dan cappucino. Wisnu menaruh semua makanan itu di meja kecil depan kursi yang tadi ia duduki. Matanya melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul 19.00 WIB, itu artinya waktu makan malam sudah tiba.


Di rumah Wisnu pukul segini mereka semua sedang makan malam bersama di meja makan. Walau terkesan formal karena tidak ada kehangatan tapi itu jadi salah satu hal baik dari keluarganya.


"Kangen mama," gumam Wisnu. Sudah 5 hari dia tidak pulang ke rumah, tidak bertemu dengan Meethila. Lelaki itu merindukan ibunya, wanita yang ada di saat semua orang mencela Wisnu. Wanita yang selalu jadi garda terdepan jika Wisnu dan Rama bertengkar. Sudah lama Wisnu tidak melihat ibunya itu.


Iris hazel Wisnu melirik benda pipih yang tergeletak di meja. Ingin rasanya dia menelepon Meethila untuk meluapkan rasa rindu, tapi dia tidak ingin pulang ke rumah apalagi bertemu dengan Rama.


Ponsel Wisnu berdering. Baru saja lelaki itu berpikir ingin menelepon Meethila. Namun bukan panggilan dari Meethila ternyata melainkan panggilan dari Gilang.


"Kenapa Lang?" tanya Wisnu begitu panggilan Gilang ia jawab.


"Lo okay di sana?"


"Iya."


"Wis, gue denger dari bokap gue kalau bokap lo lagi nyari keberadaan lo. Makanya tadi bokap gue nanya sama gue, gue tau lo di mana apa gak—"


"Terus, lo jujur?" potong Wisnu.


"Kagak. Tenang aja, keberadaan lo aman. Tapi Wis, lo harus hati-hati, kalau bisa lo pindah hotel aja. Lo tau sendiri gimana bokap lo, dia pasti udah nyuruh anak buahnya buat nyari keberadaan lo."


"Gue harus pindah hotel berarti."


Gilang mengangguk. "Iya Wis, lo lindungi diri lo, gue bakal jagain lo juga dari sini, dari bokap gue."


"Tapi Lang—"


Panggilan dari Gilang terputus begitu saja. Wisnu mengerutkan kening heran, Gilang tidak biasa mematikan panggilan secara sepihak, tapi kenapa tiba-tiba seperti ini.


Sedangkan di sini, Gilang sudah berkeringat dingin sampai-sampai ponselnya tak sengaja ia jatuhkan. Kehadiran ayah Gilang yang begitu tiba-tiba di kamarnya, mengagetkan Gilang. Makanya dia buru-buru mematikan telepon dengan Wisnu agar tidak ketahuan.


Gilang sudah keringat dingin apalagi ketika ayah Gilang mendekati anaknya dengan raut wajah yang mencurigakan.


"Dia di mana?" tanya pria paruh baya itu.


Gilang menelan salivanya payah. "Di-dia siapa?" tanya Gilang gugup.


"Di mana Wisnu Putra Aksanta, Gilang?"


Pertanyaan dari ayahnya ini seakan membuat lidah Gilang kelu, dia tidak tahu lagi apa kata yang harus ia keluarkan.


Gilang menggeleng kaku. "Di-dia, nggak tau di mana?"


"Abi tau kamu nyembunyiin Wisnu, dia tinggal di hotel. Di hotel mana? Dan mau pindah ke hotel mana?"


Pertanyaan bertubi-tubi dari Abinya itu membuat tangan Gilang sampai bergetar. Peluh sudah memenuhi dahi, Gilang merasa dia sebaiknya menghilang saja.


"Gilang nggak tau Abi. Gilang nggak tau. Yang Gilang tau, kalau aku ngasih tau Abi Wisnu di mana, Abi bakal di pecat," jawab Gilang. Tangan pria itu mengelus kepala Gilang pelan dengan menampilkan sedikit senyuman.


"Abi tau kamu khawatir sama pekerjaan Abi. Dan sekarang Abi ditugaskan buat nyari keberadaan teman kamu, kalau Abi nggak tau dia di mana, udah jelas Abi bakal dipecat."


Gilang menunduk malu. Dengan rayuan dari Abinya untuk memberi tahu di mana keberadaan Wisnu, akhirnya Gilang menyerah. Dia memberitahu Wisnu berada di hotel mana, dan sudah berapa lama dia meninggalkan rumah.


Yang dibilang oleh Abinya benar, Wisnu memang berkuasa tapi kuasa sepenuhnya masih berada dalam kendali Rama. Mereka memang harus menuruti keinginan Wisnu tapi harus menjalankan perintah dari Rama. Hidup keluarga Gilang tergantung dari keluarga Aksanta.


"Sorry, Wis. Gue lebih sayang sama keluarga gue," batin Gilang begitu Abinya keluar dari kamar.


...***...


Suasana makan malam keluarga Dirgantara kali ini terasa berbeda. Apalagi saat Arjuna mengundang keluarga Agustama untuk makan malam bersama mereka dalam rangka berlangsungnya kerjasama antara dia dan Rama. Arjuna ingin membagi kebahagiaan ini bersama keluarganya.


Tidak ada canda tawa pada makan malam kali ini, yang ada malah tatapan tajam antara satu sama lain. Tapi tatapan tajam itu kebanyakan tertuju pada Arjuna—Pria yang sedang sibuk menghabiskan makanan dipiring.


"Saya pikir, kita harus bicara Arjuna Dirgantara." Suara tegas yang berasal dari pria tua yang duduk di depan Arjuna, membuat Sinta sedikit ketakutan. Karena Sinta yakin akan ada keributan yang terjadi di rumahnya ini, dari intonasi ayahnya pada Arjuna saja Sinta bisa menyimpulkan kalau dia sedang marah.


Sinta mengelus pundak Eleena. "El, kamu sama Melinda pergi ke kamar ya. Kakek kamu mau bahas urusan orang dewasa," ujar Sinta.


Eleena mengangguk saja, dia mengajak Melinda pergi dari meja makan. Eleena mau membawa Melinda ke kamarnya, tetapi Melinda lebih dulu menghentikan Eleena. Dia sekarang menarik tangan Eleena untuk bersembunyi di balik dinding sebelah meja makan.


"Gue mau tau, apa yang diomongin sama Kakek," ucap Melinda.


"Nguping itu nggak baik, Mel," peringat Eleena. Namun Melinda malah menempelkan jari telunjuk di depan bibir untuk menyuruh Eleena diam.

__ADS_1


"Gue yakin ini kaitannya sama keluarga Aksanta." Ucapan Melinda kali ini meyakinkan Eleena untuk ikut menguping pembicaraan para orang tua.


"Jadi, apa yang ingin Papa bicarakan sama saya?" tanya Arjuna.


Pria itu bersikap dia tidak melakukan apa-apa.


"Kamu tau salah kamu di mana?" tanya ayah mertuanya. Arjuna menggeleng.


"Kenapa kamu mengundang saya ke sini?"


"Untuk merayakan saya sudah bekerja sama dengan perusahaan Aksan—"


"Jangan sebut nama itu." Belum sempat Arjuna menyempurnakan nama itu tapi ibu mertuanya langsung menyela.


"Jangan sebut nama itu," ulang wanita tua itu. "Saya tidak mengerti kenapa dari sekian banyak perusahaan ternama di negeri ini kamu memilih untuk bekerjasama dengan perusahaan keluarga itu," lanjutnya.


"Ma, itu kesempatan yang bagus. Dan kabar baiknya Rama sendiri yang menawarkan kerjasama itu pada saya." Begitu nama Rama keluar, Sinta langsung menoleh pada Arjuna begitupun yang lainnya.


"Mama ngelarang dia nyebut nama keluarganya tapi disebut nama anggotanya," sindir pria—kakak ipar Arjuna.


"Rama nawarin kerjasama?" tanya Sinta. "Kenapa?"


"Ini yang membuat mama nggak suka kalau nama dia terdengar, kamu pasti langsung membahas tentang dia."


"Ma, aku nggak bermaksud untuk bahas Rama sekarang. Tapi aku bahas kerjasama mereka, itu hal yang sangat langka, Keluarga Aksanta apalagi Rama sangat amat tidak mungkin untuk mengajukan kesepakatan kerjasama terlebih dahulu. Mereka selalu ditawarkan bukan menawarkan—"


"Tau banget soal keluarga mereka," sela kakak laki-laki Sinta.


Sinta menghela napas. "Bang, yang aku omongin itu nggak salah."


"Salah, kamu udah nyebut nama itu," sambung ayahnya.


Ibu Sinta menatap sekeliling rumah dengan tatapan menjijikkan. "Rumah ini sudah tercemar karena nama itu disebut."


"Nama Aksanta nggak seburuk itu, Ma."


"Sinta!" bentak pria tua. Pria tua itu mendekati putrinya. "Kamu sadar apa yang kamu lakukan? Kamu ngucap nama itu lagi, kamu akan ternoda lagi, Sayang."


Sinta menghela napas berat, mereka kembali berdebat karena Aksanta.


"Saya mau, kamu batalkan kerjasama itu," suruh ayah Sinta.


"Pa, ini kesempatan besar. Kita akan mendapat banyak keuntungan jika bekerjasama dengan perusahaan Aksanta," balas Arjuna.


"Aksanta, Aksanta terus. Banyak hal yang perlu diucap selain Aksanta." Kakak laki-laki Sinta kembali bersuara.


"Saya mau kamu batalkan kerjasama itu," ulang ayah Sinta.


Arjuna menggeleng, "Tidak bisa, Pa." Semua pasang mata tertuju padanya. "Saya dan Rama sudah menandatangani dokumen, jika saya membatalkan kerjasama itu, sama juga saya mempermalukan diri saya sendiri."


Kakak laki-laki Sinta mendengus, lalu dia bertepuk tangan. "Keren, keren." Kakak laki-laki Sinta menatap Arjuna tajam dalam jarak mereka yang dekat. "Kamu melakukan kesalahan besar," tegasnya.


"Itu akan menguntungkan untuk saya, dan lagipun saya tidak akan mundur dari kerjasama ini. Saya sudah berusaha untuk bisa bekerjasama dengan mereka dan saya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini," balas Arjuna.


"Kamu udah lama mengajukan kerjasama dengan mereka?" tanya ibu Sinta. Arjuna mengangguk.


Plakk


Ibu Sinta menampar pipi Arjuna. Eleena dan Melinda yang mengintip dari balik dinding mengalihkan pandangan sejenak. Mereka tidak menduga akan ada tamparan di perdebatan kali ini.


"Kamu sudah kehilangan akal?" Ibu Sinta tidak habis pikir dengan isi pikiran menantunya itu.


"Saya tidak ingin mempermalukan diri saya dengan mundur dari kerjasama ini. Sudah cukup dia yang mempermalukan saya, sekarang giliran saya yang mempermalukan dia."


Sinta memegang lengan Arjuna membawa Arjuna menatap dirinya. "Maksud kamu? Kamu ngelakuin apa sama Rama?"


"Hanya mengatakan 'Dulu saya yang menawarkan kerjasama dan sekarang Anda yang mengemis kerjasama dengan saya'."


Sinta menghela napas pasrah. "Kenapa kamu ngomong kayak gitu sama Rama, dia bakal marah besar sama kamu, ego Rama terluka, Jun."


"Nggak usah ngomongin Rama lagi, Sinta!" lantang kakaknya.


"Aku nggak ngomongin Rama, aku lagi bahas kerjasama mereka, sama kayak kalian. Dan lagipun kalau Arjuna memang mau bekerjasama dengan Rama itu tidak masalah. Bukan masalah besar, perusahaan Aksanta bekerjasama dengan perusahaan Dirgantara, bukan perusahaan kita. Bukan perusahaan Agustama, Bang. Keluarga kita nggak ada kaitannya sama hal ini, jadi buat apa kita membesarkan masalah ini," jelas Sinta.


"Jelas ada hubungannya Sinta!"


"Apa hubungannya?!"

__ADS_1


"Perusahaan Dirgantara berada dibawah naungan perusahaan Agustama." Sinta dan kakak laki sama-sama menoleh pada ayah mereka.


Pria tua itu mendekati Arjuna kembali, berdiri tepat di hadapan Arjuna.


"Kita yang menyelamatkan perusahaan Dirgantara, sampai perusahaan itu bisa sebesar ini sekarang. Perusahaan Dirgantara masih berada dalam naungan perusahaan kita. Kalau mereka bekerjasama dengan Aksanta, secara tidak langsung kita juga akan bekerjasama dengan mereka."


"Tapi Pa—"


"Kita dan perusahaan Dirgantara masih berkaitan," potong pria itu.


Kakak laki-laki Sinta menggelengkan kepala. "Aku nggak bisa bayangin waktu aku meeting ketemu sama Rama, Pa."


"Udahlah, nggak usah nyebut nama itu lagi. Hawanya jadi panas," sambung ibu mertua Arjuna.


"Keluarga saya tidak pernah ingin berhubungan apapun dengan Aksanta barang sedetik pun. Dan kamu." Ayah mertua Arjuna menunjuknya. "Kamu membuat keluarga saya berhubungan lagi dengan mereka."


"Apa hal dulu akan terjadi lagi?" tanya kakak Sinta.


"Jaga bicara kamu, Bang!" bentak ibunya. "Mama tahu adek kamu memang sudah tidak waras, tapi mama berharap ketidak warasannya dulu sudah menghilang sekarang."


"Aku nggak waras?" tanya Sinta menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kamu yang mulai semua ini. Coba aja kalau kamu nggak ketemu sama dia," balas ibunya.


"Aku setuju, semua ini berawal dari Sinta," tambah kakak laki-lakinya.


Sinta mendengus, dia menggelengkan kepala heran. "Aku masih nggak ngerti segitu nggak sukanya kalian sama keluarga Aksanta. Mereka nggak seburuk itu, kok."


"Mereka lebih buruk, Sinta Dela Agustama!" lantang kakak laki-lakinya. "Maaf, aku lupa kamu udah jadi Nyonya Dirgantara."


"Jangan pernah lupa sama apa yang mereka lakukan sama kamu, Sin. Mereka menghancurkan hidup putri mama."


"Kejadian itu udah lama, Ma. Nggak usah diingat lagi," tepis Sinta.


"Harus terus dibahas, biar kamu ingat. Dan jauh-jauh dari Aksanta," balas ibunya.


"Saya tidak suka apapun yang berbau dengan Aksanta. Saya membenci Aksanta sampai saya merasa saya gila," ucap pria tua itu.


Pandangan pria tua itu kembali pada Arjuna. "Saya tidak mau tahu, Arjuna Dirgantara. Kamu yang bekerjasama dengan mereka, usahakan jangan pernah pertemukan keluarga saya dengan mereka," jelasnya pelan nan tegas.


Arjuna melirik Sinta yang memandang arah lain. "Tapi sudah ada yang bertemu dengan anggota Aksanta."


Sinta sontak menoleh pada Arjuna. Begitupun tatapan yang lain, tertuju pada Sinta mengikut arah pandang Arjuna.


Tatapan yang lain membuat Sinta ketakutan. Begitu juga dengan Eleena. Gadis yang masih bersama Melinda di balik dinding, merasa gelisah. Dia merasa ucapan dari ayahnya itu mengarah padanya. Apa yang akan mereka lakukan saat tahu Eleena selalu terlibat pertengkaran dengan Putra Tunggal Aksanta itu.


Ibu Sinta menghampiri putrinya. "Kamu bertemu dengan anggota Aksanta?"


Sinta tidak memberi jawaban apapun, dia hanya diam.


"Kamu bertemu dengan Rama?" Kini ayahnya yang bertanya, membuat Sinta merasa sangat terpojok. "Kamu bertemu Rama?" ulang ayahnya.


Sinta mengangguk pelan, tak berani menatap ayahnya.


Pria tua itu menjatuhkan salah satu kursi di meja makan, menimbulkan suara yang cukup keras.


"Sejak kapan? Kapan kamu ketemu sama dia?"


"Be-berapa hari lalu, tapi itu nggak sengaja, sumpah—"


"Sinta!" bentak ayahnya. "Kenapa kamu tidak ada kapoknya terus bertemu dengan dia. Ingat semua hal yang pernah dia lakukan padamu, ingat bagaimana dia dan keluarganya mempermalukan kita, ingat bagaimana dia mengambil kebahagiaan yang kamu punya."


Sinta tidak kuasa untuk menahan air matanya. Kemarahan ayahnya selalu membuat Sinta ketakutan. Dia bertemu dengan Rama secara tidak sengaja, jadi ini bukan salahnya.


Melinda sangat fokus mengintip dan mendengar setiap kata yang keluar dari mulut para orang tua.


"Apa hubungan tante Sinta sama Tuan Rama?" tanya Melinda tiba-tiba.


"Apa mereka sepasang kekasih dulunya?" Eleena lantas menggeleng kuat.


"Nggak mungkin, Mel. Nyebut nama Aksanta aja udah hal yang sulit buat dilakuin, jadi nggak mungkin Bunda punya hubungan sama keluarga Aksanta."


Melinda diam sejenak. Dia memunculkan senyuman dari sudut bibir. "Gue makin penasaran sama problem keluarga kita sama Aksanta apaan," gumamnya.


Eleena diajak untuk ikut penasaran oleh masalah keluarga mereka. Apa yang menyebabkan keluarga Agustama membenci keluarga Aksanta sampai ke tulang-tulangnya. Pasti ada sesuatu di balik itu semua, tapi apa. Dan Wisnu, apakah dia tahu masalah keluarganya dengan keluarga Agustama? Atau akar permasalahan mereka masih jadi rahasia?


Kepala Eleena dipenuhi dengan kebingungan. Yang pasti sekarang, Eleena harus sebisa mungkin menutupi kalau dia terus-terusan bertemu dengan Putra Aksanta. Eleena ketakutan, permusuhan keluarga Aksanta dan Agustama ternyata lebih serius dari yang pernah Eleena bayangkan.

__ADS_1


__ADS_2