
Mobil itu masih melaju membelah jalanan. Mobil yang berisikan dua orang anak muda yang berdiam diri tidak membuka suara untuk memecah kesunyian yang tercipta. Perjalanan mereka ini diisi oleh suara mesin mobil dan lajuan serta klakson dari kendaraan lain.
Wisnu fokus menyetir dan Eleena fokus membaca buku. Saat mobil yang dikendarai oleh Wisnu berhenti di lampu merah, Eleena mengeluarkan buku untuk dibaca agar tidak terlalu bosan dalam perjalanan menuju rumahnya.
Lelaki berkaos hitam dengan arloji mewah yang melingkar di tangan serta rambut yang menutupi dahi tidak mengalihkan atensi sama sekali pada Eleena yang membaca buku dalam diam di dalam mobilnya. Hingga di persimpangan kedua, mobilnya berhenti karena kemacetan jalan raya membawa Wisnu untuk melihat Eleena sejenak.
Perempuan berkaos merah muda dengan rambut kepangan khas, tapi kali ini dia tidak memakai pita atau bando sebagai pelengkap. Wisnu sudah membuka mulut untuk bertanya kenapa gadis di sebelahnya tidak memakai pita tapi karena suara klakson yang lebih dulu terdengar menghentikan niat Wisnu untuk menanyakannya.
Mereka kembali menikmati jalanan dalam diam. Wisnu membawa mobil dengan kelajuan yang sangat lambat dari laju yang biasa ia gunakan sama menyetir mobil seorang diri. Namun, selain hari ini ini dia baru diperbolehkan untuk membawa mobil sendiri lagi setelah sekian lama Rama menyuruh sopir untuk mengantar dan menjemputnya, ia juga membawa Eleena di sebelahnya.
Wisnu sebenarnya tidak terlalu hafal jalan menuju rumah Eleena, dikarenakan dia juga baru sekali datang ke rumah gadis itu. Dan saat itu ada kejadian membahayakan yang membuat Wisnu harus singgah sebentar di rumah Eleena sampai jam makan malam.
"Rumah lo arah mana?" Pertanyaan Wisnu ini mengalihkan atensi Eleena yang sejak tadi terpaku pada buku bacaan yang ia pegang di tangan. Gadis itu menoleh ke arah Wisnu yang hanya meliriknya sekilas untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan yang sudah lelaki itu lontarkan.
"Nanti belok ke kanan, terus ke kanan lagi nah dari situ lo lurus aja, nanti gue bilang stop kalau udah sampai di rumah gue."
Kalimat dari masing-masing manusia ini memecah keheningan yang terjadi sejak mereka pergi dari area kampus sampai dengan perjalanan yang akan mereka lalui nanti.
"Btw, lo udah suka sama gue? Lo udah mau jadi pacar gue?" tanya Wisnu sambil sesekali melirik Eleena.
"Nggak." Eleena menjawab lantang dan jelas membuat Wisnu bungkam. Eleena menutup buku yang masih berada di tangan, gadis itu memasukkan buku itu ke dalam tas berwarna putih. "Belok kanan." Eleena mengarahkan tangannya ke persimpangan yang terlihat di depan sana.
"Kenapa?" Wisnu bertanya untuk mendapatkan jawaban lebih lengkap atas tolakan Eleena padanya.
"Ya, sejauh ini gue nggak ketemu alasan gue harus mau sama lo. Mungkin, kalau gue udah bisa nemuin alasan untuk gue suka sama lo, kita bisa pacaran. Pura-pura." Eleena menjawab pertanyaan Wisnu jelas dengan memberi tekanan pada kata-kata terakhirnya. Dia harus menebalkan kata "pura-pura" itu agar bisa tertanam di dalam benaknya dan juga benak Wisnu agar mereka berdua masih terus mengingat tentang hal itu kalau suatu hari nanti mereka benar-benar menjalin hubungan untuk menyelamatkan hidup Wisnu dari Rama.
"Oh iya El, kenapa lo nggak bawa mobil, tumben?" tanya Wisnu setelah membawa mobilnya berbelok ke arah yang sudah Eleena katakan.
"Mobil gue lagi di service."
Wisnu dan Eleena kembali diam. Sebenarnya Wisnu tak enak berdiam diri seperti ini, lelaki itu merasa malu pada Eleena kalau dia hanya diam apalagi dia sendiri yang menawarkan untuk mengantar Eleena pulang setelah Arfin memberi kabar bahwa mobil Eleena sedang berada di bengkel untuk service rutin. Bisa dibilang, agenda Wisnu mengantar Eleena pulang adalah rencana Arfin untuk mendekatkan mereka berdua. Namun yang terjadi di sepanjang perjalanan, hanya ada kediaman dan kesunyian karena kedua anak muda ini tenggelam dalam pikiran masing-masing.
__ADS_1
"Ke kanan," ujar Eleena.
Wisnu tanpa membantah membelokkan arah mobilnya ke kanan. Lelaki itu disibukkan merangkai kata-kata dipikiran agar bisa ia bicarakan untuk memecah keheningan antara dia dan gadis di sebelahnya. Sedangkan Eleena disibukkan oleh kata-kata Arfin yang menyuruh dia untuk berpacaran dengan Wisnu. Eleena tahu niat Arfin baik ingin menolong temannya, tapi kenapa harus Eleena yang menjadi korbannya.
"Kenapa harus gue yang lo pacarin?" Pertanyaan Eleena sedikit membuat Wisnu tertegun. Dia bahkan sampai kepayahan menelan salivanya sendiri.
"Lebih ke... bokap gue yang mau."
"Maksud?" Eleena menoleh ke Wisnu setelah tadi dia fokus lurus ke depan menatap jalanan.
"Lo masih ingat nggak, lo bantuin bapak-bapak yang hp nya dicuri waktu itu?" Eleena mengangguk pertanda di tahu dan masih ingat jelas kejadian beberapa hari lalu, saat Eleena berhasil mengambil ponsel seorang pria dari tangan pencuri dan meyakinkan para laki-laki berseragam hitam untuk tidak main hakim sendiri.
"Sebenarnya, bapak-bapak itu, bokap gue," ucap Wisnu pada akhirnya.
"Apa?!" Mata Eleena membulat sempurna, dia bahkan masih harus mencerna dulu perkataan Wisnu, dia masih harus meyakinkan diri kalau yang dikatakan oleh Wisnu itu memang benar adanya. Eleena, gadis itu berarti menolong ayah Wisnu. Sebuah kebetulan untuk kesekian kali, dia pernah membantu anaknya dan Eleena ternyata juga pernah menolong ayahnya. Apa Eleena ditakdirkan untuk terus membantu anggota Aksanta.
"Gue jujur loh ya, itu memang bener," ucap Wisnu sambil mencubit kecil lehernya, benar-benar meyakinkan Eleena kalau untuk kali ini dia tidak berbohong.
"Kenapa gue harus ketemu sama bokap lo, Wis?" rengek Eleena.
"Ya mana gue tau, salah lo lah siapa suruh sok baik."
"Gila lo." Eleena mencubit lengan Wisnu, membuat sang empu memekik kesakitan. "Jadi, menurut lo gue harus jadi orang jahat gitu? Pas orang lain kesusahan gue diam aja, nggak bantu apa-apa?"
"Seharusnya gitu, karena gue juga gitu," balas Wisnu santai, walaupun tangan sebelahnya digunakan untuk mengelus lengan sebelah kiri bekas cubitan Eleena tadi.
"Oh, kalau gitu lebih baik gue biarin aja waktu itu lo sekarat," ketusnya.
"Ya jangan dong, kalau itu kan udah menyangkut nyawa manusia jadi harus berbaik hati." Wisnu menghentikan mobil di depan sebuah rumah. Rumah besar bak istana tempat tinggal dari keluarga Dirgantara.
"Gue kira lo udah lupa sama rumah gue." Eleena melepas sabuk pengamannya.
__ADS_1
"Kan gue cuma nggak tau jalannya bukan nggak tau rumah lo kayak gimana," titah Wisnu. Lelaki itu keluar dari mobil bersamaan dengan Eleena.
"Ngapain lo ikut keluar?" Eleena tersentak begitu melihat Wisnu sudah berada di sebelahnya.
"Mau ketemu sama nyokap lo." Lelaki itu merekahkan senyum ketika dia melihat ada siluet seorang wanita yang keluar setelah pintu bercat putih terbuka. Itu, Sinta. Wisnu mengenalinya.
"Wisnu?" Sinta membulatkan matanya begitu melihat bahwa laki-laki itu ada di depannya, berdiri di sebelah anaknya pula.
"Halo, Tante," sapa Wisnu. Sinta membawa Wisnu ke dalam pelukannya, memberi Wisnu elusan hangat di punggung.
"Kenapa kamu nggak bilang mau datang ke sini, Sayang?" tanya Sinta melepas pelukannya, mencubit hidung mancung Wisnu gemas.
"Mau buat kejutan untuk Tante. Bentar ya, Tan." Wisnu berjalan mendekati mobilnya, membuka pintu mobil di bagian penumpang. Dia mengeluarkan sebuah plastik dari dalam sana.
"Ini kue sama buah buat Tante." Wisnu menyodorkan dua buah plastik kepada Sinta dan diterima dengan senang hati olehnya.
"Makasih, Sayang kamu baik banget," puji Sinta. Wanita itu mengelus surai rambut Wisnu pelan. "Makasih ya kamu udah nganter anak Tante pulang." Sinta berganti menatap Eleena yang terdiam melihat interaksi antara dia dan Wisnu.
"Aku pulang duluan ya, Tan." Wisnu pamit menyalami tangan Sinta. Lelaki itu juga memberi sedikit kecupan di punggung tangan mulai berkeriput dari wanita ini.
Wisnu masuk ke dalam mobil, menurunkan kaca mobilnya. Dia melambaikan tangan kepada Sinta.
"Hati-hati, Sayang." Sinta melambaikan tangan pada Wisnu. Wanita itu tersenyum hangat saat mobil Wisnu menjauhi pekarangan rumahnya.
"Bunda udah sedekat apa sama dia?" Eleena bertanya saat mobil Wisnu sudah benar-benar lenyap dari pandangan.
"Dia baik, Nak. Wajar Bunda suka sama dia."
"Baik? Baik darimana, Bun?"
"Ada deh." Sinta berjalan duluan dari Eleena, diikuti oleh gadis itu di belakang. Mereka masuk ke dalam rumah secara bersamaan. Sinta mulai sedikit gelisah karena pertanyaan Eleena mengenai kedekatan antara dia dan Wisnu. Tidak mungkin Sinta mengatakan kalau dia merasa ada ikatan batin antara dia dan anak itu. Dan tidak mungkin dia mengatakan kalau Wisnu mirip dengan Rama, mantan suaminya di masa lalu.
__ADS_1