Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Dibohongi


__ADS_3

Kaki dengan sepatu sneakers berjalan melewati lorong panjang dengan banyak manusia berlalu-lalang. Sambil sesekali menyapa orang itu, Arfin terus melanjutkan perjalanannya. Sampai akhirnya dia berdiri di depan fakultas Ekonomi dan Bisnis—tempat Wisnu bersama dua orang temannya menimba ilmu.


Arfin melangkahkan kaki memasuki fakultas itu. Hampir setiap langkah Arfin menemukan ada seorang perempuan yang tersenyum padanya dan sebagai lelaki yang baik Arfin tentu saja membalas senyuman itu. Jika Arfin mengenal perempuan itu dia akan membalas senyumannya dengan sedikit tatapan dan senyuman nakal, tetapi ketika dia tidak mengenali siapa gadis yang baru menyapanya barusan Arfin akan membalasnya sebatas saja.


"Fin, tumben lo pagi-pagi ke sini?" Gadis itu mengeluarkan suara, berjalan beriringan bersama Arfin.


"Mau ketemu teman-teman gue, biasa." Arfin menatap gadis itu sejenak lalu kembali menatap lurus ke depan.


"Oh ya udah, gue duluan ya." Gadis itu melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan karena arah tujuan mereka berbeda.


Arfin membalas lambaian tangan gadis itu diiringi dengan senyuman manis. Gadis yang baru saja bebincang dengannya merupakan salah satu mantan Arfin juga. Gadis yang Arfin pacari sewaktu mereka masih menjadi mahasiswa baru semester satu dan hubungan mereka berakhir juga secara baik-baik tidak ada konflik. Maka dari itu mereka masih menjalin komunikasi yang baik sampai sekarang.


Arfin menghentikan langkahnya tepat di depan kelas Wisnu. Lelaki itu mengetuk pintu kelas berisi beberapa mahasiswa. Dan salah satunya ada Wisnu beserta Gilang dan Baim. Wisnu bersama dua orang laki-laki di kanan dan kirinya menoleh ke sumber suara ketukan itu.


Bukan Arfin yang menghampiri mereka, melainkan merekalah yang menghampiri Arfin.


"Arfin, main ke sini lagi." Gadis itu menyapa berbasa-basi.


"Iya nih, mau ketemu sama lo soalnya. Kangen gue." Arfin membalas seperti biasa, memberikan sedikit gombalan pada gadis itu. Gadis itu tidak merasa apa-apa malahan kadang dia geli dan memberikan reaksi berupa pukulan kecil pada Arfin atau bahkan putaran bola mata malas.


"Ngapain ke sini, Bro?" sambut Baim, menepuk pundak Arfin.


"Ngapain-ngapain. Tuan Muda lo tu noh, nyuruh gue ke sini!" Arfin membalas ketus, melepaskan tangan Baim kasar dari pundaknya. Baim merasa sedikit kesal dengan sikap Arfin kali ini dan lelaki itu memilih untuk pindah tempat berdiri di sebelah Gilang.


"Mana?" tanya Wisnu, berjalan di depan Arfin mengajak ketiga temannya itu untuk duduk di tangga.


Tangga yang menjadi penghubung antara lantai tiga dan empat. Mereka berempat duduk di dua anak tangga, namun sayangnya tidak ada yang berani protes. Siapa yang berani memprotes jika ada Putra Aksanta di sana. Jangankan dua buah anak tangga, kalau Wisnu mau mungkin dia bisa membeli Universitas ini.


Arfin menurunkan strap bahu ranselnya yang kanan dan menopang tas itu dengan di taruh di atas paha. Tangan lelaki itu bergerak membuka resleting tas dan mengeluarkan sebuah kotak berukuran sedang dengan warna putih.


"Nih." Arfin memberikan kotak itu pada Wisnu. Lalu kembali mengancingkan ranselnya lalu memakainya kembali dengan benar.


Wisnu membuka isi kotak itu. Senyum kecil terbit di wajah tampannya. Dua buah gelang, yang satunya terbuat dari tali berwarna hitam dengan tanda hati di tengahnya. Sedangkan yang satunya berwarna merah dengan tanda hati yang sama. Tak lupa ada mutiara putih di kanan dan kiri bentuk hati itu.


Selain gelang, ada juga satu amplop terlihat lusuh dengan stempel ala-ala kerajaan masa lalu di tengahnya. Di dalam amplop itu sudah pasti sebuah puisi.


Wisnu mengangkat pandangannya mengarah ke Arfin yang duduk di bawahnya.


"Makasih ya," ucap lelaki itu. "Susah nggak buatnya?" sambung Wisnu.


Arfin menggeleng, "Kagak. Gue juga udah sering buat beginian. Karena lo bilang temanya cinta, jadi gue buat bentuk hati. Nggak papa, kan?"


"Itu jadi yang terbagus." Arfin merasa bangga pada dirinya. Jarang sekali mendengar Wisnu memuji seseorang dan pagi ini dia memuji Arfin hanya karena sebuah gelang.


"Udah enam minggu." Suara Gilang seakan membuyarkan semua hal yang ada dipikiran para lelaki yang duduk di tangga itu.


"Lo janji cuma dua bulan sama El. Ini udah enam minggu, sisa dua minggu lagi," lanjut Gilang.


"Gue nggak akan lupa, Lang," balas Wisnu.


"Tapi, Wis." Wisnu menoleh ke Arfin. "Kalau seandainya, El belum mau putus sama lo, jangan putusin dia ya," ucap Arfin. Lelaki itu berdiri dari duduknya, menepuk kemejanya yang kotor karena duduk di lantai.


"Gue duluan ya. Jangan lupa kasih sama nyokap lo." Arfin pergi dari sana meninggalkan Wisnu bersama yang lainnya di tangga.


Wisnu menatap sendu Arfin yang kini perlahan hilang di pandangan. Entah berapa kali perasaan bersalah ini hinggap di hati Wisnu. Entah setiap melihat ketulusan Arfin untuk Eleena, atau setiap Arfin selalu menuruti keinginannya demi membahagiakan Eleena.


"Gue tahu itu buat siapa," kata Gilang berbisik pada Wisnu.


...***...


Eleena mengibas-ngibaskan tangannya mencoba menciptakan angin untuk mengurangi sedikit hawa panas yang hinggap. Matahari sangat terik, meskipun memakai kacamata Eleena tetap saja merasa silau. Padahal gadis itu sudah duduk di bawah pohon, tapi tetap sinar matahari lebih ganas.


Eleena menyeruput minuman dingin yang baru saja dia beli di kantin sebelum pergi ke taman ini. Eleena membuka ponselnya, mengetikkan beberapa kalimat di sana.


Wisnu:

__ADS_1


Abis bel, kita ketemu di taman ya


Ada yang mau gue omongin


^^^Anda:^^^


^^^Gue udah di taman^^^


Setelah mengetikkan kata-kata itu Eleena kembali menonaktifkan ponselnya. Gadis itu menghela napas kesal. Wisnu yang memintanya datang ke tempat ini, lelaki itu juga yang terlambat.


"Udah lama belum?" Eleena tersentak ketika Wisnu tanpa aba-aba duduk di sebelahnya. Tanpa memberikan tanda-tanda atau sebuah perasaan pada Eleena, lelaki itu sudah tiba di sebelahnya.


"Lo ngagetin tau nggak?!" Eleena memukul lengan Wisnu menyalurkan rasa terkejutnya di sana.


"Sakit woi!" Wisnu mengelus lengannya yang sakit. Pukulan kesekian kali dari Eleena untuknya padahal dia tidak punya salah apa-apa.


"Ngapain?" Eleena langsung bertanya ketus, membuang arah pandangnya dari Wisnu. Gadis itu enggan jika harus bertemu dengan iris hazel Wisnu lagi.


"Kagak sabaran amat lo," balas Wisnu sama ketusnya.


"El, lo sadar nggak sih hubungan kita udah berjalan enam minggu?" Eleena menoleh ke Wisnu, mengalihkan seluruh perhatiannya pada lelaki itu.


"Enam?"


Wisnu mengangguk, "Iya. Dan untuk dua bulan tersisa dua minggu lagi. Itu artinya hubungan kita bakal berakhir dalam dua minggu."


Ada sebuah sesak yang hinggap saat Wisnu menyelesaikan kalimatnya. Eleena tidak bisa mengerti kenapa dia tiba-tiba merasa sedih tapi untuk alasan yang sudah dia nanti sejak lama. Dua minggu, apa saja bisa terjadi dalam waktu dekat itu. Namun, hal yang pasti adalah Eleena akan kembali menjadi orang asing untuk Wisnu.


"Jadi, sebelum kita putus. Gue mau ngasih ini buat lo." Wisnu membuka ranselnya, mengeluarkan kotak putih yang sama persis seperti yang Arfin berikan padanya tadi pagi.


"Gift to you," katanya.


Eleena tersenyum lebar, dia merebut kotak itu dari tangan Wisnu dan segera membuka kotak berukuran sedang itu.


"Ih, gelang!" seru Eleena mengambil gelang berwarna merah dari sana.


"Mana mungkin gue lupa. Kalau gue udah berucap, gue nggak akan ingkar," jawab Wisnu penuh kebanggaan.


"Cantik ya, warna merah. Tau darimana lo warna kesukaan gue?" tanya Eleena.


Wisnu sedikit tersentak akan hal itu. Siapa yang tahu warna kesukaan Eleena. Wisnu bahkan tidak tahu bahwa gadis itu memiliki warna favorit.


"Dari Bunda lo lah." Akhirnya Wisnu menjadikan Sinta sebagai kambing hitamnya. Karena tidak mungkin dia mengatakan kalau gelang itu dibuat oleh Arfin jadi jelas saja lelaki itu mengetahui warna kesukaan Eleena.


"Sini gue pakaikan." Wisnu mengambil gelang itu dari Eleena, memasangkan gelang berwarna merah dengan bentuk tanda hati di tengahnya dan dua buah mutiara putih di kanan dan kiri bentuk hati itu dengan penuh kehati-hatian agar Eleena tidak merasakan sakit ataupun terluka jika dia melakukannya dengan kasar.


"Cantik." Eleena memutar-mutar pergelangan tangannya yang kini sudah memiliki dua buah gelang. Gelang mutiara pertama yang diberikan Wisnu di hari Valentine dan kini gelang berwarna merah.


"Sini gue pakaikan juga." Eleena mengambil gelang berwarna hitam dengan bentuk dan hiasan yang sama seperti miliknya ke tangan Wisnu.


"Kita couple!" Eleena menempelkan tangannya yang memakai gelang yang sama dengan Wisnu bersebelahan dengan tangan lelaki itu.


"Gue mau foto ini. Lucu banget soalnya," ujar Eleena.


"Gue aja." Tawaran Wisnu mengehentikan pergerakan Eleena yang hendak mengambil ponsel di sebelah kirinya.


Wisnu mengeluarkan ponselnya dari kantung celana. Beralih menuju kamera dan memotret dua tangan memakai gelang yang sama meskipun berbeda warna.


Eleena masih kegirangan dengan gelangnya. Dan Wisnu diam-diam memfoto gadis itu saat gadis itu tertawa melihat gelang itu. Wisnu melihat hasil potretnya. Cantik. Mungkin foto ini menjadi salah satu foto tercantik di galeri Wisnu.


"Ini pasti puisi, kan?" tanya Eleena menunjukkan amplop lusuh pada Wisnu. Wisnu hanya mengangguk.


"Bacanya di rumah aja ya, kayak biasa," ucap Wisnu.


"Aman. Aku selalu baca di rumah kok. Di kamar lagi, jadi nggak ada yang tahu." Eleena menaruh amplop itu ke dalam ransel cokelatnya.

__ADS_1


"Kamu cantik ya." Wisnu berucap tanpa sadar dan tentu saja itu didengar Eleena.


"A-apa?" Gadis itu menatap Wisnu linglung. Tidak percaya dengan apa yang baru di dengarnya barusan.


Wisnu memberikan senyuman bukan memberi jawaban. Malahan lelaki itu mengajak tangannya bergerak untuk merapikan anak rambut Eleena yang jatuh. Wisnu menaruh anak rambut gadisnya di belakang telinga.


"Imut." Wisnu menepuk kepala Eleena pelan nan lembut.


Rona merah menguasai wajah Eleena sepenuhnya. Detakan jantung juga sangat menggebu di dadanya. Oh Tuhan, Eleena ingin terbang. Perasaan seperti apa ini, Eleena ingin bebas tapi perasaan seperti ini menyenangkan Eleena juga.


"Kamu jantungan ya?" Wisnu berucap, mendekatkan telinganya di area dada sebelah kiri Eleena.


Lelaki itu tertawa. Dengan sangat jelas dia bisa mendengar detak jantung Eleena yang begitu kencang.


"Kamu kenapa?" Wisnu bertanya sambil tertawa karena detak jantung Eleena malah semakin terdengar jelas di telinganya.


"Ih apaan rese banget!" Eleena memukul lengan Wisnu lagi. Dan reaksi lelaki itu tentu saja sebuah ringisan.


"Love language kamu itu physical attack ya? Hobi banget mukul-mukul!"


"Iya. Kenapa emangnya? Nggak suka?"


"Suka-suka aja. Lama-lama jadi candu."


Sial. Wisnu itu sialan. Dari awal Eleena bertemu dengan lelaki itu, Eleena selalu saja mendapatkan kesusahan. Kini dia juga dapat kesusahan untuk mengatur detak jantung dan rona merah yang menguasai.


"Kamu suka ya sama aku sampai-sampai mukanya merah gitu?" Wisnu menggoda Eleena, dengan menunjukkan reaksi-reaksi menyebalkan.


"Apaan sih nyebelin!" Eleena merengek karena Wisnu menganggunya tapi si pengganggu malah tertawa.


Katanya, kita harus bahagia kalau melihat orang yang kita cintai bahagia. Namun, bagi Arfin itu bukan hal yang mudah. Lelaki itu datang ke taman dengan dua buah eskrim cokelat di tangannya malah menemukan pemandangan Eleena sedang bersenda gurau dan bercanda bersama Wisnu.


Semua Arfin lihat. Dari Wisnu duduk di sebelah gadis itu sampai Wisnu memberikan gelang buatannya pada Eleena. Serta puisi buatannya pada Eleena. Arfin membuat benda itu semalaman bahkan dia sampai kurang tidur juga, karena yang lelaki itu tahu bahwa itu hadiah untuk Meethila dan Arfin harus semaksimal mungkin membuatnya.


Namun nyatanya, Wisnu memberikan seluruh usahanya kepada Eleena dengan mengatasnamakan dirinya sendiri. Wisnu tidak menyebutkan Arfin sedikitpun di dalam semua hadiah yang lelaki itu berikan pada Eleena.


Arfin akui Wisnu memang kasar, Arfin juga mengakui Wisnu itu orang yang arogan dan angkuh. Namun baru kali ini Arfin merasa dibohongi oleh teman yang menjalin hubungan hampir enam tahun bersamanya.


Siapa yang menyangka kalau Wisnu bisa setega ini pada Arfin. Arfin berbalik badan, menutup mata sejenak. Lelaki itu mengepalkan tangan menyalurkan segala sakit hati dan juga sakit fisik yang ia punya.


Arfin berjalan pergi dari sana, membuang dua eskrim itu ke tempat sampah. Demi melihat pemandangan itu Arfin rela eskrimnya meleleh dan mengenai kemejanya. Arfin membuka ranselnya, mengeluarkan dua gelang berwarna merah. Gelang merah dengan boneka kelinci untuk Eleena dan boneka kucing untuk dirinya. Setelah membuat gelang Wisnu, Arfin juga membuat gelang untuknya dan Eleena. Tapi sekarang semuanya sia-sia. Tidak berguna lagi. Usaha Arfin mengurangkan jam tidurnya demi gelang Eleena berakhir sia-sia.


Arfin menatap lirih dua gelang merah itu. Dengan sakit yang menguasai, Arfin membuang gelang itu ke tempat sampah tempat dia membuang eskrim cokelatnya. Arfin menghela napas, pergi dari tempat itu buru-buru.


"Kok jadi pakai aku-kamu sih?" tanya Eleena, saat di sadar bahwa tata bahasa mereka berubah. Bahkan teknik berkomunikasi mereka juga tidak sama seperti biasanya. Mereka bukan sedang ada di event Valentine atau dibuntuti oleh anak buah Rama. Secara mereka sudah berhubungan selama enam minggu, jadi Rama sudah percaya dan tak lagi mengirimkan anak buahnya untuk membututi Wisnu.


"Iya juga ya," balas Wisnu yang juga baru sadar, jika ada yang berbeda dari mereka hari ini.


"Efek lo yang suka sama gue kali," ujar Eleena.


"Enak aja!"


Ting


Wisnu membuka pesan yang masuk ke ponselnya. Pesan yang berasal dari Gilang.


Gilang:


Arfin lihat semuanya


Wisnu sontak berdiri dari duduknya. "Kenapa Wis?" tanya Eleena yang ikut berdiri juga.


Wisnu mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Arfin di setiap sisi taman itu.


"Arfin pasti salah paham," batin Wisnu.

__ADS_1


...***...


Haloha gess, sorry banget ya aku gak update kemarin, padahal udah nulis separuh eh malah ketiduran, hehe. Jadi untuk kemarin aku update hari ini dan jadwal hari ini juga akan update nanti yaa, stay tuned aja


__ADS_2