
Tangan berbalut sarung tangan berwarna hitam membawa nampan yang di atasnya terdapat beberapa gelas kopi panas. Minuman warna hitam yang masih mengeluarkan asap.
Tangan itu menurunkan beberapa gelas kopi ke meja. Meja yang sedari tadi sudah diketuk-ketuk menggunakan jari. Mata itu melihat satu persatu gelas yang mulai tertata di meja. Namun orang yang ditunggu tidak kunjung tiba.
Pelayan perempuan itu menunduk untuk menghormati Rama sebelum ia pergi dari meja pria itu. Rama sudah bosan menunggu di sini selama hampir 15 menit. Jari-jarinya tidak berhenti untuk terus mengetuk meja, itu kebiasaan Rama kalau dia sedang bosan.
"Dia di mana?" tanya Rama pada sekretarisnya.
Laki-laki berjas hitam yang merupakan sekretaris Rama menggeleng pelan.
"Saya belum dapat kabar apapun, Pak. Beliau mungkin masih di perjalanan."
Decakan terdengar dari Rama. Sudah lebih dari 5 kali pria itu terus melihat jam yang melingkar di tangan. Rama sangat menghargai setiap waktu yang ada, setiap detik berharga baginya. Rama tidak suka jika ada orang yang selalu menyia-nyiakan waktu, dia akan marah besar jika orang yang tinggal di rumahnya tidak menghargai waktu yang ada.
Pintu restoran itu terbuka, menampilkan pria berjas coklat masuk ke dalam diiringi oleh 3 orang di belakang. Sama seperti Rama yang ditemani oleh 3 orang juga, salah satunya adalah sekretaris mereka.
Rama berdiri, menyambut kedatangan Arjuna dengan jabatan tangan. Mereka saling mengucapkan selamat datang dan duduk di kursi yang sudah disediakan.
"Maaf saya telat, Tuan Aksanta," ucap Arjuna setelah gelas putih berisi kopi di suguhkan padanya.
Tangan Rama sudah terkepal, dia sudah bosan menunggu kedatangan pria itu begitu lama dan dengan santainya dia hanya meminta maaf. Jika saja Rama tidak mengingat bagaimana kondisi perusahaannya sudah dipastikan Rama akan membuat perhitungan dengan Arjuna karena waktunya yang terbuang sia-sia.
Rama menampilkan senyum. "Ah, tidak masalah Tuan Dirgantara. Saya mengerti, mungkin banyak hal yang membuat Anda terlambat."
"Kondisi kota ini sangat padat, perjalanan saya jadi terhambat."
Rama dan Arjuna menyeruput kopi bersamaan sebelum mereka mulai masuk ke inti pertemuan ini.
"Oh ya." Arjuna meletakkan gelas kembali ke meja. "Masalah dokumen yang Anda kirimkan pada saya, saya sudah membacanya dengan seksama, Tuan Aksanta. Dan saya suka dengan penawaran yang ada buat," ucap Arjuna.
"Terimakasih."
"Dan keuntungannya juga." Senyum Rama lantas menghilang mendengar kalimat ini. Tidak salah, semua orang pasti mengharapkan keuntungan, Rama juga mengharapkan keuntungan dari Arjuna, tapi nada bicara Arjuna seakan merendahkan Rama.
"Jadi, bagaimana? Kita melakukan kerjasamanya?" tanya Rama kembali ke semula.
"Boleh, tapi alangkah lebih baiknya kita membaca dokumen satu sama lain, agar tidak ada kesalahpahaman," pinta Arjuna.
Rama menyetujui, dia memberikan dokumen mengenai perusahaannya dan Arjuna memberikan dokumen mengenai perusahaannya. Kedua CEO ini terlihat sangat fokus membaca kertas yang berada di tangan mereka.
Rama lebih fokus membaca kerugian dan kelemahan dari perusahaan Arjuna namun Arjuna lebih memilih untuk fokus pada kelebihan dan keuntungan yang akan dia peroleh jika bekerjasama dengan Rama.
PT. Aksanta, corp. Siapa yang tak tertarik jika mendengar nama itu. Semua petinggi di perusahaan bekerja keras untuk bisa menarik perhatian dari perusahaan keluarga Aksanta agar bisa bekerjasama dan membantu mereka, termasuk Arjuna. Maka tak heran, Arjuna agak sedikit terkejut saat Rama sendiri mengajukan untuk bertemu dan membahas masalah kerjasama perusahaan bersamanya. Hoki Arjuna untuk tahun ini sudah terpakai.
"Sudah." Arjuna mengembalikan dokumen itu pada asisten Rama. Begitupun Rama.
Sekarang kedua manusia itu sibuk berbincang mengenai keuntungan dan kerugian yang akan diterima nantinya. Pastinya jika ada keuntungan maka kerugian juga akan timbul, meskipun tidak sebesar keuntungan tetap saja kerugian akan tetap ada.
Setiap kata yang keluar dari mulut Rama dan Arjuna ditulis oleh orang yang sudah ditugaskan agar lebih pasti lagi dan meminimalisir kesalahan di masa depan.
Mereka berdua saling menandatangani dokumen. Itu membuktikan bahwa mereka sepakat untuk mengadakan kerjasama.
"Senang bisa bekerjasama dengan Anda, Tuan Aksanta," ujar Arjuna.
__ADS_1
"Saya juga."
Mata Arjuna diajak berkeliling untuk melihat interior dari restoran ini. Terlihat ada interior yang tidak asing, dan wangi parfum bunga mawar merah ini, Arjuna sangat mengenalnya.
Arjuna membuat senyuman dari sudut bibir. "Interior restoran ini sangat indah."
"Ini restoran milik keluarga saya. Ibu saya yang mengelola restoran ini."
"Anda sengaja membawa saya ke sini agar bisa memamerkan sesuatu, haha."
Rama menatap sinis Arjuna yang sedang menyeruput kopi.
"Tapi, gambar di sebelah sana." Arjuna menunjuk gambar bunga mawar merah dan putih yang berada di dinding tempat barista.
"Itu seperti gambar istri saya." Rama langsung menatap Arjuna. "Dan aroma di restoran ini, juga mirip dengan parfum yang sering istri saya pakai."
Tangan Rama terkepal. Salah satu alasan kenapa Rama tidak mau berhubungan dengan Arjuna, karena Arjuna adalah suami Sinta. Dan yang dikatakan oleh Arjuna tidak salah. Gambar bunga mawar merah dan putih itu terinspirasi dari lukisan Sinta yang diberikan pada Rama pada saat ulang tahun lelaki itu. Lukisan itu masih tersimpan rapi di dinding kamar Rama, dan juga dinding restoran ini. Begitu juga dengan aroma parfum mawar merah, itu juga terinspirasi dari Sinta. Rama mengenal Sinta dengan sangat baik, maka dari itu dia memasukkan hal yang berbau tentang Sinta tanpa diketahui oleh kedua orang tuanya.
Tak terasa sudah 30 menit Rama dan Arjuna saling berbincang. Berbicara mengenai bisnis dan pengalaman masing-masing.
Rama dan Arjuna saling berjabat tangan. "Sekali lagi, saya mengucapkan terimakasih karena sudah berkerjasama dengan kami Tuan Dirgantara."
"Hari itu saya yang meminta tapi kali ini Anda datang sendiri, Tuan Aksanta." Senyuman yang berusaha Rama tampilkan kini menghilang. Entah sudah keberapa kali Arjuna seakan meremehkan Rama.
Arjuna keluar dari restoran bersama 3 orang yang mendampinginya. Rama melihat mobil Arjuna yang kini sudah menjauhi dari sana.
"Aarrggghhh!" Rama membanting gelas putih berisi kopi, membuat perhatian para karyawan tertuju padanya.
Rama merapikan jas, keluar dari restoran meninggalkan kekacauan yang dia perbuat. Bahkan pria itu tidak meminta maaf telah menambah pekerjaan para pelayan di sana. Wisnu, adalah titisan Rama. Sikap kasar Wisnu berasal dari Rama, jadi istilah 'Buah jatuh tidak jauh dari pohonnya' itu benar.
"Arjuna sangat menghina saya hari ini," batin Rama. Bahkan saat mobil yang dikendarai supir pergi dari restoran, rasa kesal Rama masih tersimpan. Bagaimana cara Arjuna menyindirnya dan membanggakan Sinta yang seharusnya jadi milik Rama. Ego Rama terluka mengingat semua itu, bahkan sampai di malam hari, saat pria itu melihat lukisan bunga mawar merah dan putih, kekesalan akibat hinaan Arjuna masih ada.
"Seharusnya, aku dan kamu masih jadi kita, Sin." Rama bangkit, dia berjalan menuju lukisan berukuran kecil dan menempel di sudut kamar. Tangan besar Rama bergerak mengelus lukisan yang sudah berumur 23 tahun itu.
Lukisan ini hadiah pertama Sinta padanya saat mereka menjalin hubungan asmara. Rasanya dihari itu tidak ada yang menghalangi kisah cinta mereka, namun nyatanya hari ini, dua orang yang dulunya menjadi sepasang kekasih telah menjadi orang asing yang tak lagi memiliki rasa kasih.
Prangg
Suara barang pecah dari luar kamar, mengalihkan atensi Rama. Segera pria itu keluar memastikan apa yang terjadi di luar. Mata Rama menangkap Meethila dengan wajah pucat, duduk di kursi makan dan dibawahnya ada pecahan piring dan lauk yang berantakan di lantai.
Rama bergegas menghampiri Meethila, untuk menanyakan semua ini. "Hey, kenapa kamu kayak gini?"
"Aku mau Wisnu pulang." Rama kembali berdecak. Sudah bosan Rama mendengar ucapan Meethila ini.
"Aku mau Wisnu pulang, Mas," ulang Meethila.
Rama tidak menghiraukan, dia menyuruh pelayan di rumah membawakan makanan yang baru untuk Meethila. Seperti yang Rama minta, hidangan baru sudah tersaji di meja makan.
"Makan, kamu udah sakit. Kalau mau sembuh, makan, terus minum obat." Meethila menjauhi piring itu. Rama menghela napas panjang, dia beralih duduk di sebelah Meethila.
"Mau makan apa?" tanya Rama. Meethila menggeleng, dengan matanya yang sudah memerah dia menatap Rama. "Aku maunya Wisnu pulang," lirih Meethila.
Sudah 5 hari Wisnu tidak kembali ke kediaman keluarga Aksanta. Atau mungkin dia sudah lupa kalau ada keluarganya di sini. Wisnu tidak ada memberi kabar pada Meethila dan itulah yang menyebabkan kesehatan Meethila menurun. Dia terlalu sibuk menunggu anaknya untuk pulang. Apalagi Rama tidak memberinya izin untuk menghubungi Wisnu jadi mau tak mau dia yang menunggu kabar dari Wisnu, tapi kabar itu tidak kunjung datang.
__ADS_1
Rama mengambil beberapa obat yang berada di meja makan, dia membuka satu persatu obat itu dan menuangkan air di gelas. Pria itu menyodorkan minum dan obat pada Meethila.
"Minum obatnya kalau nggak mau makan." Meethila menggeleng.
"Kamu sakit, Meet. Sakit itu harus minum obat." Iris hazel Rama melihat bagaimana kacaunya penampilan Meethila kali ini. Bibir pucat dan pecah-pecah, wajah pucat seperti tak bernyawa dan rambut wanita itu yang berantakan. Kalau Rama boleh jujur, Rama tidak menyukai Meethila seperti ini. Meethila yang tidak bisa menjaga penampilan.
"Nggak semua obat bentuknya pil, Mas."
"Maunya apa?" Rama bertanya dengan nada lembut.
"Mau Wisnu. Aku mau anak aku pulang."
Rama yang sudah kehabisan kesabaran membuat obat-obatan di telapak tangan. Meethila menutup mata karena takut.
"Wisnu, Wisnu. Kenapa sih dia terus? Apa kamu nggak punya kegiatan lain selain nyebut nama dia? Kalau dia mau pergi ya udah biarin pergi aja, kalau dia mau pulang dia bakal pulang sendiri. Nggak usah terlalu peduliin anak nggak tau diri itu, Meet!"
Bentakan Rama pada Meethila mendatangkan kedua orang tua Rama.
"Ram, kenapa lagi?" tanya wanita tua itu mengelus pundak anaknya, menenangkan amarah anaknya.
Meethila menangis di kursi meja makan karena sikap kasar Rama yang kesekian kali padanya. "Kenapa, Sayang?" tanya ayah mertua Meethila.
"Dia mau Wisnu pulang," jawab Rama. "Untuk apa anak nggak berguna itu di suruh pulang."
"Ram, dia anak kamu, darah daging kamu, kamu nggak boleh gitu sama dia. Yang diminta sama Meethila nggak salah, Nak," jelas ibunya.
Saat kejadian seperti ini, tidak ada yang memihak Rama, semua memihak pada Meethila. Wanita dengan tangisan saktinya yang selalu menyita perhatian orang tua Rama. Hanya karena Meethila menantu pilihan mereka, kedua orang tua Rama selalu mementingkan Meethila dibanding Rama yang anak kandungnya sendiri.
"Ram," panggil ayahnya. Rama menoleh. "Suruh Wisnu pulang." Rama mengerutkan keningnya. "Papa tau apa yang udah dilakukan sama Wisnu, papa tau semuanya. Tapi kamu nggak bisa lupa dia Putra Aksanta. Satu-satunya pewaris Aksanta, hanya dia yang bisa kita harapkan."
"Pa—"
"Suruh Wisnu pulang dia putra Aksanta." Rama terdiam begitu potongan dari ayahnya terdengar di telinga.
Pria itu menyerah. "Iya, iya, aku suruh dia pulang." Tangisan Meethila perlahan berhenti.
"Wisnu bakal pulang, kan Mas? Aku telfon dia," ucap Meethila.
Meethila hendak mengambil ponsel di tangan Rama tapi sudah lebih dulu ditepis oleh sang empu.
"Kalau kita telfon nggak akan dijawab. Aku telfon orang suruhan aku aja."
Tangan Rama menekan beberapa digit nomor, menempelkan benda pipih itu di telinga.
"Cari keberadaan Wisnu Putra Aksanta sekarang juga. Saya mau kalian menemukannya besok."
Rama mematikan panggilan itu.
"Besok anak kamu pulang," ucap Rama pergi dari sana kembali masuk ke dalam kamar.
Rama lebih memilih untuk membaringkan tubuh di kamar setelah dia membanting pintu kamarnya. Pria itu menutup matanya perlahan sambil membayangkan bagaimana wajah Sinta dan kenangan indah mereka. Itu menjadi dongeng untuk Rama agar bisa tertidur. Jika Rama tidak meminum obat tidur, dia akan membayangkan wajah Sinta dan senyuman indah dari gadisnya itu.
Rama tidak lengkap jika Sinta tidak ada.
__ADS_1