
Sang surya sudah menyinarkan sinarnya dengan ganas. Terik matahari kali ini membuat banyak dari populasi manusia merasa kepanasan yang teramat sangat. Hampir semua mahasiswa Universitas Binawa keluar dari kelas dengan membawa kipas, baik kipas elektronik yang berukuran kecil dan mudah dibawa ke mana-mana atau kipas manual dari buku pelajaran yang dikibas-kibaskan.
Tak sedikit juga ada kumpulan mahasiswa yang menenteng es di tangan mereka sambil berjalan keluar dari kampus. Bahkan ada seorang mahasiswa yang membuka kemeja berlengan panjang dan menyisakan kaos putih yang menjadi pelapis kemeja. Bahkan ada seorang mahasiswi yang makeup-nya sudah mulai meluntur karena peluh yang memenuhi wajah.
Ada banyak para mahasiswa mengeluh soal panas siang ini, salah satunya ada Arfin. Lelaki itu keluar dari kelas dengan mengipasi diri menggunakan buku. Arfin juga mengelap peluh di dahi. Karena cuaca panas ini Arfin terpaksa mencari tempat untuk berteduh padahal dia berniat untuk turun ke bawah dan menghampiri mobil untuk dibawa pulang ke rumah.
Arfin menjadi salah satu dari sekian banyak mahasiswa yang berteduh di bawah atap yang berbatasan dengan lahan luas tanpa atap mengarah ke perpustakaan kampus. Arfin duduk di bangku panjang yang sudah tersedia di sana. Arfin duduk beriringan dengan seorang gadis menenteng beberapa buku di tangan. Arfin menoleh ke arah gadis yang wajah gadis itu tidak terlihat sepenuhnya karena anak rambut yang menutupi sebagian wajah, apalagi dia juga menghadap ke arah lain. Yang bisa Arfin lihat gadis itu memakai kacamata di wajah, Arfin melihat intens gadis berkemeja putih celana hitam ini, dengan segera begitu dia mendapati jepitan berwarna hitam dihiasi oleh manik-manik putih disekitarnya Arfin bisa langsung menebak kalau ini adalah Eleena.
"El," panggil Arfin. Gadis itu menoleh, dia membuat iris cokelatnya bertemu dengan iris hitam Arfin. Arfin sedikit terkekeh. "Kejutan banget ya gue ketemu lo di sini."
"Panas banget woi, nggak tahan kalau harus turun ke bawah," balas Eleena menambah kecepatan dari kipas angin eletronik berukuran kecil yang baru ia keluarkan dari dalam ransel.
"Sama, pengin banget rasanya gue semburin diri sendiri pakai air." Eleena sedikit melebarkan senyum kala Arfin mulai mengajaknya bercanda agar tidak terlalu bosan menunggu hawa panas ini sedikit mereda.
Mereka sudah banyak berbincang via chat tapi kalau bertemu secara langsung, rasanya kurang afdol kalau tidak mengobrol juga. Mereka berdua menghabiskan cukup banyak waktu untuk saling bertukar cerita tentang kehidupan masing-masing. Bahkan Eleena mendadak menjadi ahli kejiwaan profesional ketika Arfin menceritakan tentang sikap kasar ayahnya dan juga drama dari keluarganya, belum lagi beberapa waktu belakangan ini Arfin merasa sedikit sedih tetapi kesedihan itu tidak tahu dari mana asalnya.
Eleena memberi Arfin solusi dari setiap masalah yang ia keluhkan dan menyiapkan jawaban saat pertanyaan Arfin dilayangkan padanya. Sama seperti sebelumnya, Arfin kembali terlena akan Eleena, setiap kata yang keluar dari bibir gadis yang tengah bercerita dan duduk di sebelah Arfin ini begitu indah. Sudah Arfin bilang, dia belum pernah bertemu dengan tipe gadis seperti ini, gadis yang pertama kali membuat Arfin merasa bersalah kala dia ingin berniat buruk padanya. Eleena adalah gadis pertama yang berhasil membuat Arfin merasa minder untuk mengajaknya berpacaran. Padahal seperti rencana awal, Arfin seharusnya sudah memulai hubungan asmara dengan Eleena, secara mereka sudah mengenal selama 1 bulan lebih, tapi baru kali ini rasanya Arfin tidak berani. Arfin seakan melakukan kesalahan kalau dia mempermainkan hati Eleena. Arfin tidak ingin kehilangan Eleena dalam hidup.
Perbincangan mereka yang cukup panjang kembali membawa Arfin memutar ingatan saat Eleena membantu dirinya dari kemarahan dan hantaman Wisnu saat lelaki itu menyatakan kalau dia tidak bisa berbuat buruk pada Eleena.
Eleena memang marah, gadis itu terlihat sangat kecewa atas niat buruk Arfin padanya, tapi Eleena tetap membantu mengobati lebam dan luka Arfin akibat pukulan penuh amarah dari Wisnu.
Eleena membopong Arfin yang lebih berat dan lebih besar dari gadis itu sendiri. Namun, dia melihat bahwa kondisi Arfin tidak meyakinkan untuk membiarkan lelaki ini berjalan sendirian, karena tadi pada saat lelaki itu berdiri saja dia sudah kehilangan keseimbangan sehingga jatuh ke pelukan Eleena.
Eleena membawa Arfin masuk ke dalam mobil miliknya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Gadis itu bahkan tidak meminta izin pada sang empu ketika hendak membawa mobil itu keluar dari pekarangan kampus.
"Mau bawa gue ke mana?" Arfin masih berusaha untuk bertanya dengan intonasi yang cukup jelas agar Eleena bisa mendengar, padahal Arfin rasanya sudah ingin pingsan karena rasa pusing yang begitu mendominasi.
"Ke rumah lo."
__ADS_1
"Emang tau rumah gue?" Arfin bertanya lagi. Eleena mengedikkan bahu, tatapannya terlalu fokus ke depan tak sedikitpun mengarah pada Arfin yang tanpa sadar terus memandangi gadis itu sejak pertama kali Eleena membawa Arfin dari taman depan kampus sampai masuk ke dalam mobil.
"Nanti lo yang arahin," kata Eleena.
"Gue bisa pulang sendiri, El," balas Arfin dan mendapat gelengan tegas dari Eleena dan kali ini disertai dengan tatapan mata juga walau hanya sebentar. "Lo tadi berdiri aja udah nggak kuat, gimana mau nyetir, yang ada nanti terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," jelas Eleena.
Ah, yang dikatakan Eleena ada benarnya juga. Arfin memang sudah terbiasa dengan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang ini tapi dia tidak tau kapan naas dia datang menimpa, jadi alangkah lebih baiknya Arfin menurut saja pada gadis ini.
Eleena dan Arfin sempat terdiam selama beberapa saat, sampai akhirnya Arfin membuka mulut untuk memulai obrolan lagi. "Lo, masih marah sama gue, El? Apa lo udah maafin gue? Lo baik banget sama gue."
Eleena tidak menjawab pertanyaan Arfin ini, baginya membahas hal sensitif seperti itu sekarang tidak berguna. Eleena rasanya ingin jauh-jauh dari fakta kalau Arfin menipu dan mengkhianatinya, memanfaatkan kepolosan Eleena untuk melakukan hal keji seperti dipikirannya itu.
"Arah mana?" tanya Eleena saat mereka sudah berada di persimpangan jalan. "Kiri, nanti ada simpang lagi belok kiri lagi." Setelah jawaban Arfin itu, mereka tidak lagi saling berbicara. Kalaupun harus berbicara itu hanya mengenai alamat rumah Arfin saja.
Perjalanan dihiasi sunyi dan rasa canggung yang menghampiri membuat Arfin tidak sadar kalau mobil Eleena sudah sampai di depan rumahnya. Arfin baru tersadar saat kaca mobil Eleena diturunkan, dia bisa melihat bentuk rumahnya dari ekor matanya. Arfin segera membuka sabuk pengaman, keluar dari mobil Eleena. Lelaki itu mengucapkan terimakasih pada Eleena karena sudah mengantarnya pulang ke rumah, namun sebelum mobil Eleena bisa pergi Eleena melihat dari kaca jendela yang terbuka ada seorang pria paruh baya sedikit lebih tua dari Arjuna.
"Ngapain aja kamu sampai lebam gitu?" Suara lantang dari ayah Arfin menggelegar saat Arfin baru saja membuka pagar rumah dibantu oleh penjaga di sana.
Arfin tidak membuka mulut, dia hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Mau sampai kamu jadi berandal?" tanya pria itu. "Berandal apanya sih Pa, aku nggak ngapa-ngapain," balas Arfin.
"Kalau kamu mau jadi anak baik-baik seharusnya jadi seperti abang-abang kamu." Mulai, pria itu memulai pembicaraan yang sama bahkan sebelum Arfin menginjakkan kaki masuk ke dalam rumah.
"Udah deh Pa, Arfin capek."
"Capek apa? Kamu masih muda juga udah ngeluh capek, sampai kapanpun kamu nggak akan bisa capek, Fin, karena apa? Karena setelah lulus nanti kamu jadi pengangguran karena ngambil jurusan itu. Sudah Papa bilang sama kamu, ganti jurusan tapi kamu terlalu bandel."
Arfin menghela napas, "Nanti aja ya Pa bahasnya, masih ada temen aku." Pria tua yang merupakan Ayah Arfin menengok ke arah Eleena, efek usia dia tidak terlalu jelas melihat wajah Eleena dari dalam mobil meskipun jarak mobil itu dengan dirinya tidak terlalu jauh.
__ADS_1
"Biarin aja, biar dia tau anak kayak apa kamu ini. Nggak bisa banggain orang tua sedikitpun." Perkataan itu bukan ditujukan pada Eleena, tapi rasanya Eleena merasa sesak mendengar itu. Bagaimana Arfin bisa tahan mendengar kata-kata menyakitkan itu setiap hari.
"Pa, udah deh."
"Udah apanya? Kamu mau pindah jurusan?"
"Pa, aku udah semester empat, aku tegasin sekali lagi aku nggak akan pindah jurusan." Arfin menekan 5 kata terakhirnya.
"Arfin, kenapa kamu tidak pernah mendengar ucapan Papa?!"
"Aku mau hidup dengan caraku sendiri, bukan diatur sama orang lain, apalagi Papa!"
Perdebatan mereka terjadi, apalagi setelah Arfin mengeluarkan kata-kata itu satu tamparan mendarat mulus di pipinya, sampai-sampai Eleena harus memalingkan wajah sejenak. Seharusnya Eleena pergi saja, tapi dia penasaran akan hal yang terjadi selanjutnya, maka dari itu dia ingin melihat drama ini sampai akhir.
"Sekarang Papa tau kenapa kamu bisa lebam gini, nggak ada orang yang suka sama anak pembangkang seperti kamu, Arfin."
"Papa udah!" Arfin berteriak. "Biarin El pergi dulu, kalau mau berantem sama aku, nanti, Pa." Arfin sudah terlihat sangat pasrah saat ini.
"Arfin kamu harus jadi anak yang sukses kayak Abang-abangmu, kamu seharusnya bisa menghandle perusahaan juga bukan malah jadi pengangguran nantinya." Arfin tidak menghiraukan perkataan Papa nya yang ini, malahan dia menghampiri Eleena untuk segera pergi dari sana.
"El, pergi." Rasanya Arfin sudah tidak bisa lagi berdiri tegak, begitu dia sudah mendekat ke mobil Eleena, lelaki itu terjatuh ke tanah tapi tidak ada yang peduli, malahan Eleena yang panik. Gadis itu sudah membuka sabuk pengaman, tapi Arfin segera berdiri, Eleena bisa melihat wajah Arfin kelewat pucat menggeleng pelan sembari menyuruh Eleena pergi dari sana.
"You oka?" Alih-alih menjawab, Arfin menyuruh gadis itu pergi sekali lagi. Dan kali ini Eleena menurut, dia membawa mobilnya menjauhi rumah besar Arfin.
Namun, Eleena bisa melihat kondisi Arfin dari rear view mirror di dalam mobil. Lelaki itu terjatuh ke tanah dan tidak lagi mampu berdiri, tapi tetap sama tidak ada yang membantu Arfin. Ingin rasanya Eleena memutar balikkan mobil menolong Arfin. Tetapi begitu pria itu menyeret Arfin masuk ke rumah Eleena langsung mengurungkan niat.
Eleena sangat iba pada Arfin. Dia kira kehidupan Arfin tidak seburuk itu ternyata lebih buruk dari yang ia bayangkan. Eleena tidak bisa marah lebih lama pada Arfin apalagi sampai memutus hubungan pertemanan mereka. Arfin itu rapuh dia butuh rumah untuk bersandar, dan Eleena siap menjadi bahu sandaran Arfin. Eleena percaya pada Arfin, lelaki itu benar-benar orang baik.
Arfin memunculkan senyum yang tak bisa diartikan kala mengingat kejadian hari itu. Arfin merasa semakin jatuh dalam pesona Eleena tapi disatu sisi dia malu pada perlakuan Papanya hari itu, entah apa yang akan Eleena pikirkan tentang keluarganya nanti.
__ADS_1
Untuk kesekian kali Wisnu menjadi saksi momen kebersamaan Arfin dan Eleena. Wisnu yang menenteng botol berisi minuman yang ingin ia beri untuk Eleena saat melihat gadis itu dari kejauhan seketika pupus saat ia melihat kalau Arfin ada di sebelahnya. Hati Wisnu seakan teriris, Arfin Fano Alyas mengalahkan Wisnu Putra Aksanta dalam hal mendapat perhatian dari Eleena Safira Dirgantara.