Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Bar


__ADS_3

Kaki yang menggunakan flatshoes berwarna hitam terus melangkah tanpa menghiraukan ada kaki lain yang mengikutinya dari belakang.


Sebuah tangan besar mencengkram tangan yang berukuran lebih kecil darinya. Iris cokelat Eleena bertemu dengan iris hazel milik Wisnu. Wisnu menarik tangan Eleena mengikuti dia berjalan.


"Lepas." Eleena berusaha melepaskan tangannya dari cengkraman tangan Wisnu. Lelaki yang berjalan di depannya ini tidak peduli dengan teriakan dan usaha Eleena, kakinya terus berjalan mendekati mobil silver yang terparkir di depan kafe tempat Eleena mengistirahatkan diri sejenak dari kejenuhan tugas kuliah.


Wisnu membuka pintu mobilnya, memasukkan Eleena kasar ke dalam, langsung memasangkan sabuk pengaman pada gadis itu. Hal itu malah membuat Wisnu dan Eleena berada di jarak yang sangat dekat, tatapan tajam dari Wisnu mengintimidasi Eleena untuk kesekian kali.


Wisnu menutup pintu mobil, berlari kecil menuju bangku penumpang. Sebelum Eleena membuka pintu mobil, Wisnu mengunci pintu mobil segera. Gadis yang posisinya sudah membuka sabuk pengaman, menghentikan aktivitas membuka pintu kendaraan beroda empat yang kini ia tempati.


"Apa-apaan sih lo?!" Wisnu tidak peduli dengan teriakan Eleena, lelaki itu kembali mendekati Eleena memasangkan sabuk pengaman gadis itu. "Kalau lo mati gara-gara nggak pakai sabuk pengaman, gue yang kena," ucap Wisnu.


Wisnu kembali ke posisi semula, memakai sabuk pengaman juga. Sebelum Eleena bisa kembali berkomentar Wisnu membawa mobilnya menjauh dari kafe.


"Lo gila?" pekik Eleena. Wisnu hanya diam. "Turunin gue, brengsek!" umpat Eleena, menarik-narik handle pintu membuka mobil yang sedang melaju di jalanan.


"Maksud lo bawa gue apaan? Lo mau mati? Mau hukuman lo ditambah lagi?" Eleena terus mengomel namun tidak mendapat respon apapun dari lelaki disampingnya.


"Gue mau turun. Mau turun, mau turun. Turunin gue!"


Mobil Wisnu berhenti seketika, tubuh Eleena nyaris terlempar jika saja sabuk pengaman itu tidak menahannya. "Lo gila ya berhenti mendadak?"


"Lo bisa diam nggak sih?" Suara Wisnu pelan nan tegas membuat Eleena bungkam. Tatapan tajam yang selalu Wisnu tunjukkan pada Eleena menciutkan nyali gadis yang sedari tadi memberontak.


Wisnu kembali melajukan mobil, tapi kali ini Eleena diam. Seperti anak kecil yang baru saja dimarahi oleh ibunya. Walaupun gadis ini gelisah karena Wisnu membawanya ke tempat yang tak ia kenali tapi dia sama sekali tidak berani membuka mulut untuk bersuara, rasanya ada yang menyangkut di tenggorokan kalau ia mengeluarkan suara.


Eleena melirik jam tangan yang sudah mengarah ke angka 6. Ini sudah pukul 18.15 WIB, yang artinya waktu pulang Eleena sudah tiba. Gadis yang tadinya keluar dari kafe pukul 18.00 WIB dan hendak pulang agar ketika sampai di rumah, kondisi langit belum terlalu gelap. Namun kini semuanya sia-sia, lelaki rese maksudnya Wisnu membawa gadis mungil ketakutan ini entah ke mana.


Mobil Wisnu berhenti di lampu merah. Seharusnya ini kesempatan untuk Eleena melarikan diri, tapi semua anggota tubuhnya seketika kaku. Dia tidak bisa bergerak ke manapun.


"Bunda takut," batin Eleena.


Wisnu mengambil ponselnya, menekan beberapa digit nomor. Ia menempelkan ponselnya di telinga, mulai mengucapkan beberapa kata.


"Gue tunggu di sana."

__ADS_1


Wisnu mengakhiri panggilannya singkat, entah siapa yang dia hubungi. Wisnu kembali melanjutkan perjalanan. Perjalanan yang diisi kecanggungan dan kesenyapan, hanya terdengar deru napas dua manusia ini.


"Kok jauh."


"Diam." Bibir Eleena tertutup rapat. Hanya satu kata saja, Eleena sudah takut. Entah apa yang terjadi dengan gadis itu kali ini, dia yang biasanya bertengkar dengan Wisnu sebegitu hebatnya, kini hanya diam kala Wisnu membawanya pergi. Mungkin ini bisa masuk ranah penculikan, karena Wisnu membawa Eleena tanpa izin bahkan memaksa gadis yang terus menggenggam erat Tote bag yang ia bawa.


Mobil Wisnu berhenti. Eleena bisa merasakan bahwa tempat ini sangat tidak asing baginya, seperti tempat yang pernah ia kunjungi. Wisnu keluar lebih dulu, dan buru-buru Eleena membuka sabuk pengaman dan membuka pintu mobil namun ia kalah cepat dari Wisnu. Wisnu sudah lebih dulu membuka pintu mobil tempat Eleena duduk. Eleena memejamkan matanya sejenak, membuka kedua kelopak mata diiringi cengiran khas anak kecil yang ketahuan berbuat ulah oleh ibunya.


"Turun." Eleena menurut, dia keluar dari mobil, berdiri di samping Wisnu. Tapi gadis itu bukan perempuan bodoh dia menggunakan kesempatan itu untuk kabur dari sana, namun naas. Lagi-lagi tangan panjang Wisnu bisa menarik tangan Eleena cepat.


"Gue nggak ngasih lo hak untuk pergi Eleena," ujar Wisnu.


"Lo maunya apa sih?!"


Wisnu memunculkan senyum liciknya. "Gue mau, lo ngerasain apa yang gue rasain," balas lelaki itu pelan namun menusuk. "Lo udah buat gue malu, gue bakal buat lo malu juga, Nona."


Wisnu menarik tangan Eleena kasar, menyeret gadis itu untuk mengikuti arahnya. Ya, Eleena sekarang tahu apa tempat ini, ini adalah bar. Bar yang waktu itu tidak sengaja Eleena datangi karena mengikuti Melinda—sepupunya.


"Lepasin gue tolong!" Eleena terus memohon, berusaha melepaskan tangan Wisnu dari tangan mungilnya.


"El." Arfin berlari menghampiri Wisnu. Dia mengejar Wisnu yang sudah masuk ke dalam bar. Wisnu membawa Eleena ke hadapan Gilang dan Baim yang tengah asik meminum alkohol yang baru mereka pesan.


Wisnu melempar tubuh mungil Eleena kasar. Memaksa gadis itu duduk di sana.


"Kita main sekarang," ucap Wisnu membasahi bibirnya yang kering.


Arfin masuk ke dalam Bar, melihat di mana keberadaan temannya. Tempat ini yang ramai, mengharuskan Arfin untuk masuk lebih dalam agar bisa menemukan Wisnu dan membawa Eleena dari tempat ini. Arfin sangat tahu, Eleena tidak suka tempat seperti ini.


Wisnu duduk di sebelah Eleena, membuka dua kancing atas kemejanya. Gilang dan Baim saling melempar pandang, mereka tidak bisa membantu gadis ini. Mereka lebih menyayangi nyawa daripada Eleena.


"Lo mau ngapain?" Eleena memundurkan tubuhnya, saat Wisnu menjadi semakin dekat pada dirinya.


Wisnu mengelus pipi Eleena dan ditepis oleh sang empu. Eleena terpojok dia tidak bisa bergerak, Wisnu dan dirinya sudah tidak memiliki jarak. Wisnu dengan sangat lancang, merobek bagian bawah kemeja yang Eleena gunakan.


"Gila!" Eleena mendorong Wisnu menjauh, dia hendak pergi tapi Wisnu menarik tangan gadis itu. Membawa Eleena kedekapannya.

__ADS_1


"Lo nggak bisa lari ke mana-mana," bisik Wisnu, mencium telinga Eleena.


"Lepasin gue!" Eleena mendorong Wisnu kuat. Tubuh Wisnu terjatuh, menabrak meja menjatuhkan botol minuman di sana. Perhatian orang-orang seketika tertuju pada Eleena dan Wisnu.


Eleena berlari menjauhi Wisnu, tapi Wisnu tidak tinggal diam. Rasa benci dan jengkelnya pada Eleena membuat lelaki itu benar-benar kehilangan akal.


Eleena terjatuh ketika kakinya tersandung kursi bar. Wisnu mencengkram pipi tirus Eleena. Mata Eleena terpaksa harus bertemu dengan mata Wisnu lagi. Kali ini bukan hanya takut, tapi lebih dari itu. Batas ketakutan Eleena sudah keluar semuanya.


Orang-orang menatap Wisnu dan gadis malang yang sudah meneteskan air mata.


"Jangan," lirih Eleena. Wisnu semakin mendekatkan diri pada Eleena yang masih terduduk di bawah.


Wisnu menempelkan bibirnya pada bibir merah milik Eleena. ******* bibir merah Eleena dengan brutal. Eleena berusaha melepaskan tapi Wisnu semakin memperkuat ciumannya.


Bugh


Satu pukulan mendarat di pipi Wisnu. Lelaki itu langsung jatuh tersungkur. Arfin membantu Eleena yang sudah menangis histeris berdiri. Arfin membawa Eleena berdiri di sampingnya.


Wisnu berdiri, memegangi pipi yang muncul lebam akibat pukulan Arfin.


"Lo punya otak di pakai! Bukan cuma jadi pajangan doang!"


"Nggak usah ikut campur, bajingan!" balas Wisnu.


"Gue berhak ikut campur! El itu tanggung jawab gue! Lo nggak ada hak ngerusak dia, brengsek!"


Arfin kembali membogem pipi Wisnu. Wisnu nyaris saja terjatuh kalau Gilang dan Baim tidak menahannya.


Arfin membawa Eleena yang masih menangis keluar dari Bar. Wisnu dengan harga diri yang sudah terluka, membanting botol alkohol di hadapannya.


"Sabar, Tuan muda." Gilang mengelus pundak Wisnu.


"Arfin bangsat!" umpat Wisnu. "Lihat aja, Arfin lo bakal hancur. Gue nggak akan maafin lo Arfin!"


Wisnu mendorong Baim dan Gilang kasar menjauh dari hadapannya. Lelaki itu kembali ke meja mereka. Meminum alkohol dari botol tanpa ada jeda. Dia menghabiskan satu botol dalam sekali tegukan.

__ADS_1


Wajah Wisnu memerah, matanya juga memerah, amarah sudah memuncak. Wisnu benci pada semuanya. Termasuk Eleena dan Arfin yang merupakan temannya atau sekarang akan menjadi mantan temannya.


__ADS_2