
Hari berjalan seperti biasa. Universitas Binawa ramai setiap harinya, diisi oleh banyak mahasiswa dari berbagai fakultas menyebar di tempat itu. Bermacam gaya dan berbagai tingkah laku manusia bisa terlihat jika kalian berjalan-jalan di Universitas Binawa walau hanya sebentar.
Ada yang ramah, ada juga yang selalu menampakkan wajah penuh amarah. Ada perempuan cantik nan pintar yang memakai kacamata di wajah dan selalu menenteng buku setiap dia berjalan. Perempuan yang memakai almamater berwarna merah pertanda bahwa dia berasal dari fakultas Psikologi yang berada di Universitas itu.
Sistem di Universitas Binawa adalah, setiap fakultas akan mengenakan almamater yang berbeda agar bisa menjadi pembeda antara fakultas yang satu dengan fakultas yang lain. Ini juga memudahkan untuk bisa mencari teman yang satu fakultas dengan kalian.
Begitu juga dengan almamater berwarna hijau yang dikenakan oleh Wisnu, Baim dan juga Gilang. Saat mereka keluar dari aula kampus setelah rapat selesai.
Hari ini, ada agenda untuk rapat bersama seluruh mahasiswa yang berada di Universitas Binawa. Mereka membahas tentang acara yang akan diadakan oleh Universitas setiap tahunnya, yaitu acara anniversary kampus.
Para mahasiswa dari setiap fakultas diberi kesempatan untuk mengutarakan pendapat mereka bagaimana baiknya agar acara itu bisa berjalan dengan lancar. Wajib ada satu perwakilan dari setiap fakultas yang harus mengutarakan pendapatnya demi kebaikan bersama.
Seperti, dari fakultas Sastra ada Arfin sebagai perwakilan. Lelaki yang mengenakan almamater berwarna kuning itu mulai berbicara saat mic yang semulanya berada di tangan didekatkan ke bibirnya. Arfin memang terkenal pintar di kelasnya, lelaki itu juga menjadi mahasiswa aktif karena dia menjadi salah satu anggota organisasi yang bertugas berada di sekitar fakultas yang dia masuki. Selain terkenal dikalangan para gadis karena sikapnya yang sangat friendly dan suka gaet cewek sana-sini, Arfin juga terkenal karena dia anak organisasi.
Kalau dari fakultas Psikologi, ada Eleena sebagai perwakilannya. Bisa dilihat saat Eleena memegang mic, memberi saran kepada para panitia yang bertanggung jawab mengurus acara, mata Arfin tidak bisa berkedip. Ada sorot kagum yang tertanam begitu dalam ketika gadis itu berbicara di depan banyak orang. Namun Arfin tidak menyadari, selain dirinya yang menatap Eleena penuh kagum ada Wisnu yang diam-diam memperhatikan gadis itu. Sejak Eleena menginjakkan kaki di lantai aula bersama anak Psikologi lainnya, Wisnu tidak bisa melepas pandang darinya.
Gadis yang memakai kemeja berwarna lilac, dengan almamater merah yang memeluk tubuhnya dan kacamata yang terpakai di wajah serta pita berwarna lilac yang ikut menyempurnakan penampilan sederhana nan elegan gadis itu.
"Cantik banget." Wisnu tidak berbohong ketika dia mengatakan hal itu di dalam hatinya saat melihat Eleena. Untuk kali ini Wisnu bisa merasa kalau ada hal baik yang bisa dipandang dari gadis yang menolak dirinya untuk dijadikan sebagai pacar.
Oke, selanjutnya dari fakultas Ekonomi dan Bisnis, ada Wisnu sebagai perwakilan. Banyak pasang mata yang terlihat tidak percaya saat lelaki itu berdiri dan memegang mic untuk mengutarakan pendapat dan memberi saran. Apalagi yang seangkatan dengan Wisnu. Selama 5 semester mereka mengenal Wisnu, lelaki itu bahkan sering kali terlihat tidur saat rapat berlangsung, mengakibatkan dia tidak pernah tahu akan berita apa yang disampaikan oleh panitia dan mahasiswa lainnya. Namun untuk hari ini sepertinya ada sejarah baru dalam hidup Wisnu.
"Gue nggak nyangka anjir lo yang ngomong," ujar Arfin merangkul bahu Baim yang berdiri di sebelah Wisnu. Arfin terlambat keluar dari aula karena dia harus diskusi sebentar dengan pengurus fakultas Sastra.
"Gue disuruh sama bokap gue," jawab Wisnu malas. Arfin tidak bertanya kelanjutan dari ucapan Wisnu pada sang empu sendiri, malahan dia memberi isyarat pada Baim dan Gilang untuk memberitahunya lebih lanjut tentang kejadian sebenarnya yang menjadi alasan Wisnu harus berbicara di aula tadi.
"Dia dipaksa sama bokapnya, Fin. Biasalah, lo tau gimana Om lo itu." Baim menjawab dengan nada sinis, seakan dia sedang menyindir Arfin yang dekat dengan Rama, berbeda dengan dia dan Gilang yang kehadirannya saja tidak pernah dianggap ada oleh Rama.
"Gue mau tau cerita lengkapnya, pea." Arfin menoyor kepala Baim kesal. Baim punya kebiasaan setengah-setengah dalam menyampaikan berita.
"Jadi gini, Wisnu dipaksa sama bokapnya buat ngomong di depan tadi. Bokapnya udah wanti-wanti dia, katanya kalau dia nggak mau ikut berpartisipasi dalam rapat kali ini, dia bakal habis. Makanya ni anak minta bantuan gue sama Baim buat ngasih dia kata-kata buat diucapin di depan tadi," jelas Gilang.
Arfin manggut-manggut mendengar penjelasan Gilang yang begitu detail. Memang, kalau mau mendapatkan sebuah berita langsung saja bertanya pada Gilang, karena lelaki itu selalu detail dalam menceritakan sesuatu. Seperti waktu Arfin pergi ke toilet karena dia harus membuang sesuatu di sana, Gilang menceritakan kelewat detail pada Wisnu dan Baim bahkan sampai saat Arfin bertengkar dengan mahasiswa lain karena berebut untuk masuk lebih dulu. Gilang memang orang yang sedetail itu.
"Tadi lo kagum nggak sih sama El?" tanya Arfin pada Wisnu.
"Lumayan lah, ternyata tu cewek bisa juga public speaking."
__ADS_1
"Lo jangan sepele, Wis. El nggak cuma pinter dalam pelajaran aja, dia juga bisa public speaking, terus dia juga hobi baca buku, El juga bisa ngelukis tau, terus outfit El juga keren-keren." Arfin menjabarkan tentang Eleena dari apa yang dia tahu tentang gadis itu kepada teman-temannya.
Tanpa Arfin sadari, ada sebuah rasa aneh yang muncul dari Wisnu saat Arfin menceritakan Eleena dengan penuh bahagia. Wisnu sadar, Arfin sudah terlalu mengenal Eleena berbeda dengannya yang bahkan tidak tahu apa-apa tentang gadis yang akan dia pacari.
"Widih, kenal banget lo sama tu cewek," timpal Baim.
"I like her, Im. Jadi wajar gue kenal sama dia." Ini pertama kalinya Arfin mengungkapkan perasaannya pada ketiga temannya. Selama ini, mereka hanya menebak-nebak saja, ternyata memang benar.
"Beneran suka atau mau jadi target lo selanjutnya?" tanya Gilang.
"I love her, Lang. Kali ini gue serius," jawab Arfin, membawa pikirannya untuk memunculkan Eleena di sana.
Wisnu memisahkan diri dari mereka bertiga secara tiba-tiba. Lelaki itu mempercepat langkahnya untuk menjauhi teman-temannya. Mendengar mereka membahas Eleena dan mengetahui isi hati Arfin yang sebenarnya, membuat Wisnu merasakan perasaan kelewat aneh. Dia seakan tidak suka Arfin sebegitunya pada calon pacarnya padahal dia saja tidak pernah menyukai Eleena dalam hidupnya.
Mata Arfin terkunci pada seorang gadis di depan sana. Iris hazel milik lelaki itu diajak untuk memperhatikan gadis itu dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gadis dengan almamater merah yang terpakai di kedua pundak, dan pandangannya yang lebih fokus menatap buket bunga yang ia pegang. Wisnu bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri saat Eleena semakin mendekat. Dia tidak bergerak seakan menunggu gadis itu untuk melewatinya. Ini bukan pertama kali Wisnu merasa aneh saat melihat gadis yang berjalan menuju dirinya, tapi tetap saja Wisnu masih merasa aneh kalau perasaan ini tiba-tiba datang menghampiri.
Wisnu tanpa sadar melangkah mendekati gadis itu. Tanpa berkedip, Wisnu menabrak tubuh Eleena dengan sengaja. Membiarkan gadis itu terjatuh karena terkejut dengan begitu Wisnu bisa menangkap tubuh Eleena.
Wisnu menahan tubuh Eleena dengan kedua tangannya agar gadis itu tidak terjatuh ke bawah. Wisnu mempertemukan iris hazel miliknya dengan iris cokelat Eleena yang terhalang oleh kacamata untuk kesekian kali. Untuk kesekian kali juga, kedua manusia ini terlena akan satu sama lain. Untuk kesekian kali, rasa aneh yang tak bisa mereka mengerti datang lagi. Dan untuk kesekian kali, Eleena merasa kalau Wisnu itu berbeda dan untuk kesekian kali juga setiap melihat Eleena seperti ini, Wisnu merasa kalau dia ditakdirkan untuk gadis yang tubuhnya sedang ia tahan agar tidak jatuh. Seakan-akan mereka berdua adalah orang yang sudah dilahirkan untuk satu sama lain tapi mereka tidak mengetahui.
Eleena selalu merasa kalau pertemuannya dengan seseorang itu sebuah ketidaksengajaan. Seperti dia bertemu dengan Arfin dan mereka berakhir menjadi teman, Eleena menganggap hal itu sebagai ketidaksengajaan agar hidupnya tidak terlalu membosankan. Namun untuk pertemuannya dengan Wisnu, sejak pertama kali mereka bertemu saja Eleena bisa menduga kalau pertemuan mereka tidak akan terjadi hanya karena ketidaksengajaan. Tapi ada maksud lain kenapa Tuhan mempertemukan mereka berkali-kali meskipun itu karena ada suatu konflik yang membuat mereka bertengkar layaknya orang gila.
"Apa ini yang disebut takdir? Kenapa gue ngerasa kalau gue akan terus bareng sama dia sih?" batin Wisnu.
"Makasih," ucap Eleena pada akhirnya, memecah keheningan karena tatapan mereka berdua begitu dalam terhadap satu sama lain.
Wisnu juga tersadar dari lamunannya, dia melepaskan tangannya dari punggung Eleena agar gadis itu bisa berdiri sendiri. Eleena dan Wisnu kembali canggung sekarang. Gadis itu menunjukkan rasa canggungnya dengan membetulkan rambutnya yang sebenarnya tidak kenapa-kenapa. Dan Wisnu menunjukkan sisi canggungnya dengan membawa arah pandangnya ke sembarang arah.
"Lo nggak papa, El?" tanya Arfin, menghampiri Eleena dan Wisnu bersama Baim dan Gilang setelah mereka hanya berdiam diri membiarkan kedua manusia itu saling tenggelam dalam lamunan akan tatapan.
Eleena mengangguk kikuk menatap ke arah Arfin, dia berusaha untuk tidak menatap Wisnu lagi. Karena Eleena merasa kalau detak jantungnya akan menggila kalau menatap lelaki itu lebih lama.
"Sorry," ucap Wisnu kali ini. Dia berusaha untuk membawa tatapan Eleena lagi padanya. "Gue tadi melamun jadi nggak sengaja nabrak lo, sorry ya, gara-gara gue lo jadi jatuh lagi."
Tunggu, ini pertama kalinya Eleena mendengar seorang Wisnu Putra Aksanta meminta maaf padanya. Biasanya lelaki itu tidak akan pernah mau mengakui kesalahan meskipun memang dia yang salah.
"Lo okay, kan?" tanya Wisnu lagi dan dijawab dengan anggukan kecil dari Eleena.
__ADS_1
"El, bunga buat siapa?" Atensi Arfin tertarik pada buket bunga yang berada di tangan Eleena.
"Oh ini, gue mau kasih buat orang yang tadi udah ikut berpartisipasi dalam rapat." Arfin menaruh harapan besar pada ucapan Eleena. Secara dia tadi juga ikut berpartisipasi mewakili fakultas Sastra, jadi Arfin yakin kalau buket bunga itu pasti untuknya.
Tangan Arfin sudah terulur untuk mengambil buket bunga itu dari Eleena namun ketika buket bunga itu disodorkan kepada Wisnu dan melewati tangan Arfin begitu saja langsung membuat harapan Arfin hancur seketika. Bahkan tangan lelaki itu sampai menegang melihat bagaimana Eleena dengan senyuman memberikan buket bunga pada Wisnu tepat di hadapannya.
"Buat lo, lo tadi keren, gue suka. Gue denger dari temen lo yang ada di sana." Dia menunjuk Gilang, "Kalau lo baru pertama kali ikut berpartisipasi, meskipun dipaksa sama bokap lo tapi lo keren banget. Gue suka sama statement lo tadi."
Wisnu masih tidak menyangka kalau itu benar-benar untuknya, tapi laki-laki itu tetap mengambilnya dari tangan Eleena.
"Serius ini buat gue?" Wisnu menunjuk dirinya sendiri karena masih ragu.
Eleena mengangguk mantap. "Gue sebenernya nggak mau ngasih sih, tapi karena tadi temen lo bilang kalau ini pertama kali buat lo, gue pikir gue harus ngasih lo support biar lo sering-sering kayak gini lagi. Gimanapun nanti yang bakal megang perusahaan Aksanta itu lo, jadi saran gue apapun yang lo lakuin saat ini harus dari diri lo sendiri jangan karena suruhan bokap lo."
"Tumben banget lo bilang gini ke gue?" Wisnu masih terheran-heran karena sikap Eleena yang tiba-tiba berubah baik padanya.
"Sebenarnya, lebih ke Bunda gue sih yang nyuruh untuk baik-baik sama lo, tapi yang gue bilang itu bener kok, lo keren."
Wisnu terkekeh kecil, "Bilang makasih sama Bunda lo buat bunganya," ucap Wisnu.
"Kok lo tau ini dari Bunda gue?"
"Ya nggak mungkin aja dari lo soalnya," balas Wisnu.
"Ya sih lo benar ini dari Bunda gue, tapi tadi gue bingung mau ngasih pakai alasan apa, jadi gue bilang lo keren," ujar Eleena. Gadis itu melirik jam yang melingkar di tangan.
"Guys, gue pergi dulu ya, mau ada acara sama temen gue, bye!"
Eleena melangkah pergi dari sana.
"El!" panggil Wisnu. Perempuan itu menoleh, "Udah mau jadi pacar gue?" tanya Wisnu pada gadis yang sudah beberapa langkah di depannya.
"Mau." Eleena menjawab begitu saja lalu dia pergi dengan terburu-buru dari sana. Dia harus tepat waktu, mengobrol dengan Wisnu malah membuang waktunya.
Wisnu belum sempat mengucapkan lanjutan dari kata-katanya tetapi gadis itu sudah pergi begitu saja. Dengan terburu-buru tanpa memperhatikan Wisnu atau jangan-jangan dia juga tidak mendengar pertanyaan Wisnu dengan seksama. Tapi ya sudahlah, salah satu keinginan Wisnu bisa jadi kenyataan. Dia berpacaran dengan Eleena sekarang, dan dia akan mengatakan hal ini pada Rama. Perjodohannya akan dibatalkan dan dia bisa hidup damai, indahnya.
Berbeda dengan Wisnu yang merasakan lega karena dia sudah berpacaran dengan Eleena tapi Arfin malah merasakan ada sesak di dada. Seakan-akan dia kehabisan napas saat Eleena menyetujui untuk berpacaran dengan temannya. Arfin tahu, seharusnya dia merasa senang karena Wisnu sekarang sudah berpacaran dengan Eleena dan hidup lelaki itu akan lebih baik nantinya. Tapi melihat bagaimana Eleena memperlakukan Wisnu dengan baik, meskipun itu karena suruhan dari Sinta, tapi tetap saja itu membuat dada Arfin terasa sesak.
__ADS_1
"El, apa lo udah suka sama Wisnu?" batin Arfin memandangi tempat yang Eleena lalui tadi.