
"Kok ngampus?"
Itu kata-kata Eleena saat Arfin pertama kali menginjakkan kaki di lantai koridor dan bertatap mata dengan gadis itu. Gadis yang menguncir rambutnya setengah dengan pita berwarna biru di belakangnya senada dengan rok putih selutut dan baju sweater berwarna biru muda yang tengah gadis itu kenakan.
Kata-kata itu juga yang menghentikan langkah Arfin untuk meneruskan perjalanannya menuju kelasnya. Dia tidak bertemu dengan Wisnu dan yang lain pagi ini tapi dia malah bertemu dengan Eleena—gadis yang berhasil menjadi salah satu orang yang ia pikirkan lebih banyak akhir-akhir ini.
Eleena dengan bibir merah, bulu mata lentik, alis tidak terlalu tebal tapi tidak terlalu tipis juga dengan sedikit polesan warna coklat muda agar alis milik gadis itu sedikit berwarna. Kulit putihnya, tangan lembut Eleena dan jangan lupakan parfum gadis itu selalu menjadi pemabuk paling hebat untuk Arfin. Harum vanilla setiap kali Eleena berjarak beberapa langkah di depannya mampu menghilangkan kesadaran Arfin sesaat.
Arfin melirik gadis itu dari ekor matanya, dia tidak bisa berbohong kalau Eleena adalah gadis sempurna. Apa saja yang dilakukannya akan terlihat istimewa termasuk saat ini, saat gadis itu sedang menempelkan kain basah di atas dahi Arfin.
"Lo masih demam, seharusnya istirahat di rumah!" titah Eleena, menurunkan tangannya setelah meletakkan punggung tangan miliknya ke dahi Arfin untuk mengecek suhu tubuh dari lelaki yang langkahnya ia hentikan karena pertanyaan 'kok ngampus?'
Arfin hanya tersenyum mendengar titahan Eleena itu. Dia tidak membantah tapi tidak juga menjawab, entahlah padahal bibirnya ingin terbuka untuk membalas perkataan gadis itu. Namun, lidahnya tiba-tiba kelu karena wajah penuh khawatir yang gadis itu tampilkan ketika memeriksa suhu badannya.
"Lo kuat buat ngampus?" Pertanyaan Eleena itu tidak mendapat jawaban dari Arfin, malahan lelaki itu kehilangan keseimbangannya sehingga jatuh dalam dekapan Eleena. Jika saja Eleena tidak menahan bobot Arfin bisa dipastikan lelaki itu akan jatuh sekarang juga.
Eleena meletakkan tangan Arfin di pundaknya, dan tangan kirinya melingkar di pinggang Arfin. Dengan cekatan dan bertindak sigap Eleena menyuruh orang-orang di sana untuk menyingkir dari hadapannya.
Orang-orang yang ada di koridor hanya menonton saja bagaimana Arfin hampir terjatuh karena tidak sanggup menahan berat badan sendiri juga mengatasi rasa pening yang mendera ini.
Eleena adalah satu-satunya orang di sana yang rela membopong Arfin, membawa lelaki itu ke Unit Kesehatan yang tersedia di kampus mereka. Ruangan itu kosong, hanya ada beberapa kotak obat dan alat-alat untuk pertolongan pertama saja yang ada di sana.
Eleena membaringkan tubuh Arfin pelan-pelan, memastikan bahwa lelaki itu tidak lagi kesakitan saat dia membaringkan tubuhnya di ranjang. Mata Arfin perlahan menutup meski begitu Arfin masih memiliki kesadaran akan apa yang terjadi di sana.
Kepanikan Eleena mencari termometer untuk mengecek suhu tubuh Arfin lebih pasti bisa dilihat oleh Arfin meski samar-samar.
"Fin, lo nggak akan kenapa-napa, ada gue," ucap Eleena setelah mengetahui berapa suhu tubuh Arfin sebenarnya. Di benda itu terpampang angka 38° menandakan bahwa kondisi tubuh Arfin memang jauh dari kata baik-baik saja.
Eleena berusaha menenangkan dan meyakinkan Arfin bahwa dia akan baik-baik saja. Arfin sudah tak bisa menahan rasa sakit ini, mata Arfin kembali tertutup. Saat dia merasa ada pergerakan berupa elusan tangan di surai rambutnya, mata Arfin tertutup sempurna. Dia tidak mengetahui apa kejadian selanjutnya.
...***...
Arfin tersenyum, dia tidak tahu harus bersyukur atau bersedih karena dia pingsan tadi pagi. Senang karena kondisinya hari ini menjadi alasan Eleena berada di sisinya kali ini. Sedih karena Eleena menjadi sangat gelisah karena panas di tubuh Arfin tak kunjung menurun meskipun sudah di kompres sejak tadi.
"Fin, masih sakit nggak?" tanya Eleena, menggenggam tangan Arfin. Arfin berusaha untuk mengangguk, tapi karena kondisinya yang begitu lemah dan sedang terbaring sekarang Arfin jadi kesusahan untuk melakukannya, jadi Arfin berusaha memberitahu gadis itu lewat ungkapan kata-kata, "Masih." Suara Arfin pelan, terdengar seperti berbisik, menandakan bahwa tenaga Arfin memang terkuras habis sekarang.
"Duh, gue harus gimana ya? Gue nggak tahu harus ngapain kalau gini." Tangan Eleena kembali meletakkan kain basah ke dahi Arfin. Masih berharap bahwa kain itu bisa menyerap panasnya.
"Fin, kan gue udah bilang kalau sakit jangan dipaksa ngampus, kenapa lo nggak dengerin gue sih?!" Eleena mengelus tangan Arfin yang juga ada sedikit rasa panas di sana.
Arfin memunculkan senyum di wajah pucatnya itu, "Gue mau belajar," balasnya lemah namun jelas.
__ADS_1
"Boleh belajar, boleh ngampus, boleh ketemu sama teman-teman lo, boleh ketemu sama para cewek lo, tapi itu setelah lo beneran sembuh Fin. Kalau keadaan lo masih kayak gini, yang ada lo malah di sini sekarang dan nggak dapatin apa-apa."
Eleena benar, Arfin tidak mendapatkan apa-apa tapi dia mendapatkan satu hal, perhatian Eleena dan kekhawatiran gadis itu. Sebenarnya Arfin tidak suka Eleena seperti ini, tapi Arfin tidak munafik, dia merasa bahagia saat Eleena sekhawatir ini padanya.
"Maaf El, jadi ngerepotin," tutur Arfin. Eleena menggeleng, "Nggak ngerepotin kok, tapi lo buat gue cemas kayak gini."
Eleena tersenyum pada Arfin, dia menggenggam tangan Arfin seakan memberi kekuatan dari sana agar Arfin bisa segera lebih baik dan keluar dari ruang Unit Kesehatan ini karena ini sudah jam pulang.
Arfin berada di sana selama beberapa jam, mulai dari Arfin datang ke tempat ini sampai bel pulang berbunyi, keadaan Arfin belum menunjukkan tanda-tanda segera pulih maka dari itu, lelaki itu belum kunjung keluar dari tempat ini.
"Kok bisa sih lo sampai demam tinggi begini?" tanya Eleena masih dengan raut khawatir seperti tadi.
"Wisnu nggak ngasih tau lo?" Eleena menggeleng. "Katanya dia ngasih tau semuanya sama lo," lanjut Arfin.
"Dia nggak ngasih tau alasan lo sakit, cuma gimana keadaan lo aja."
Arfin tidak langsung menjawab, dia mengumpulkan dulu pasokan udara untuk mengisi dadanya yang terasa sesak bahkan untuk sekedar bernapas saja.
"Gue sibuk, El—"
"Sibuk sama cewek-cewek lo?" sela Eleena, Arfin berusaha menggeleng.
"Bukan itu," jawabnya tegas namun sedikit tertahan karena kondisi tubuhnya yang masih lemah. "Gue sibuk sama organisasi, tugas kuliah juga, dan beberapa kegiatan di rumah—"
"Ada apa di rumah lo?" Arfin tidak menjawab, malahan dia membuang arah pandangnya dari Eleena.
Pergerakan tangan Eleena perlahan semakin naik, sampai pergerakan tangan gadis itu menyentuh bagian atas dari sikut sebelah kiri Arfin.
"Auu...." Arfin meringis ketika tangan Eleena menyentuh bagian atas sikutnya. Buru tangan kanan Arfin menyentuh bagian yang baru saja disentuh oleh Eleena.
Raut wajah kesakitan Arfin muncul lagi. Setelah Eleena berhasil mengajak lelaki itu berbicara dan sedikit menghilangkan rasa sakit di wajah Arfin, kini karena gadis itu Arfin kembali kesakitan.
"Fin, kenapa?" Eleena panik, tapi Arfin tidak meresponnya, dia masih sibuk dengan rasa sakit di tangannya ini.
"El, gue mau duduk," pinta Arfin. Eleena membantu Arfin untuk menyenderkan tubuhnya setelah di belakang lelaki itu Eleena taruh bantal agar Arfin merasa nyaman.
Tidak ada yang berubah, Arfin masih memegangi lengan kirinya. Dan itu memunculkan rasa penasaran Eleena. Tanpa izin Eleena kembali menyentuh bagian yang tadi ia sentuh sampai Arfin merasa kesakitan seperti ini. Dan benar dugaannya, Arfin kembali meringis kesakitan.
Tanpa mengatakan apapun, Eleena menggulung lengan kemeja Arfin.
"El." Arfin berusaha untuk mencegah Eleena, tapi Eleena begitu cekatan jadi Arfin tak sempat menahan gadis itu untuk tidak menaikkan lengan bajunya.
__ADS_1
Mata Eleena membulat sempurna apa yang ia lihat dibalik lengan kemeja panjang Arfin. Sesuatu yang ditutupi oleh lelaki itu lewat kemeja panjang yang beberapa hari ini ia pakai.
"El ini—"
"Kenapa? Kok bisa kayak gini?" Tatapan Eleena tertuju pada Arfin sepenuhnya. Bukan tatapan khawatir lagi yang gadis itu tunjukkan melainkan tatapan menanti kebenaran dari mulut Arfin yang ia tampilkan.
Arfin sedikit tertegun melihat tatapan Eleena seperti itu. Sedikit merasa terintimidasi, tapi Arfin bingung dia harus mengatakan kebohongan seperti apa setelah Eleena melihat ada lebam yang cukup besar dan sudah mulai membiru di lengan Arfin. Lebam yang Arfin miliki hampir seminggu belakangan ini.
"Ini kenapa Arfin?" Eleena bertanya sekali lagi dan kali ini dengan sedikit penekanan.
Arfin menelan salivanya payah. "Pa... ini karena Papa." Cukup berat untuk Arfin mengatakan ini pada Eleena, tapi Arfin tak kuasa untuk menyembunyikan hal ini dari gadis ini, padahal Arfin saja tidak memberitahukan hal ini pada teman-temannya.
"Gue berantem lagi sama Papa, dia maksa gue buat pindah jurusan lagi, dia banding-bandingin gue lagi. Gue marah, jadinya gue dipukul." Mata Arfin memanas menceritakan hal itu.
"Mukulnya pakai apa?"
"Nggak pakai apa-apa, tangan kosong aja. Tapi, sakit...." Air mata Arfin turun, lelaki itu tidak pernah bisa menyembunyikan kesedihannya jika dihadapan Eleena.
"Papa ngancem kalau gue nggak pindah jurusan, gue bakal diusir dari rumah. Makanya gue takut El, itu alasannya gue datang hari ini, gue takut sama Papa, takut dipukul lagi...."
Eleena membawa Arfin masuk dalam pelukannya, memberikan rasa hangat pada lelaki itu. Arfin langsung mengeratkan pelukan itu begitu Eleena memeluknya. Tidak histeris, tapi Eleena bisa merasakan ada hal yang sangat menyakitkan dari tangisan Arfin ini.
"Lo sakit pasti karena ini, kan?" Arfin tidak menjawab, dia masih mengeluarkan semua air mata yang selama ia tahan.
"Fin, kenapa lo nggak cerita sama gue? Seharusnya dari awal cerita, jangan dipendem sendiri kayak gini, jadinya lo sakit. Gue nggak suka lo sakit, Fin," tutur Eleena berusaha memberi Arfin kekuatan lewat elusan di punggungnya.
"Fin, lo bisa banget nahan ini sendirian. Gue kalau jadi lo, kayaknya nggak kuat," ucap Eleena. "Fin, lo hebat. Nggak seharusnya bokap lo nyia-nyiain lo kayak gini."
"El, jangan kasih tau siapa-siapa ya?" Arfin tiba-tiba melepaskan pelukannya. Dengan wajah yang masih basah karena air mata, Arfin melanjutkan perkataannya,
"Jangan kasih tau hal ini sama temen-temen gue, tolong. Gue nggak mau mereka khawatir, apalagi Wisnu. Lo tau kan kalau Wisnu udah bertindak kayak gimana. Dia Putra Aksanta, gue takut kalau Wisnu tahu, perusahaan keluarga gue bisa bahaya."
Eleena tidak banyak bertanya apalagi membantah, dia langsung menganggukkan kepalanya. Bahkan disaat seperti ini, Arfin masih memikirkan keluarganya.
"Arfin!"
Pintu ruangan itu terbuka, menampilkan Wisnu dengan wajah panik setengah mati di sana. Wisnu segera menghampiri Arfin.
"Lo gila ya? Masih sakit tapi maksa ngampus, syukur tadi ada El, kalau dia nggak ada lo gimana?"
Wisnu membawa Arfin ke dalam pelukannya. Layaknya seorang kakak yang memeluk adiknya penuh kasih sayang saat sang adik kesakitan.
__ADS_1
"Jangan sakit, Fin," lirih Wisnu.