Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Ide Rama


__ADS_3

Mobil hitam itu melaju membelah jalanan. Menampilkan ada 2 manusia di dalam. Gilang dan Wisnu. Kedua manusia itu duduk dengan diam tanpa mengeluarkan suara sejak masuk di dalam mobil milik Wisnu.


Semalaman Wisnu menginap di rumah Gilang. Dia sangat malas kalau harus menghadapi banyak pertanyaan dari keluarganya nanti, maka dari itu dia lebih memilih untuk pergi dari rumah sejenak. Dan rumah teman yang selalu siap untuk ia singgahi hanya Gilang. Mereka sudah mengenal sejak mereka masih kecil jadi orang tua Gilang selalu menyambut Wisnu jika lelaki itu datang ke rumah mereka.


Selain teman Gilang, Wisnu juga anak dari bos ayah Gilang. Jadi mau tak mau mereka harus bersikap sopan. Wisnu datang ke kediaman Gilang dalam keadaan cukup kacau, pipinya yang merah dan jas Wisnu yang terlepas. Semuanya kacau, Wisnu hanya meminta izin untuk menginap di rumah Gilang tanpa mengatakan apapun lagi.


Gilang melihat aktivitas Wisnu dari ekor mata. Lelaki itu sangat fokus membawa mobilnya membelah jalanan. Gilang masih ingat, Wisnu yang marah-marah padanya begitu Gilang membawa Wisnu masuk ke dalam kamar. Gilang sendiri juga ketakutan mendekati Wisnu saat lelaki itu membanting vas bunga di meja belajar Gilang. Baru sampai saja Wisnu sudah menghancurkan banyak hal.


Namun, Gilang tidak memarahi lelaki itu sama sekali. Gilang tahu betul kalau Wisnu seperti itu, ada masalah yang terjadi. Gilang mencoba menenangkan Wisnu perlahan. Dia membiarkan Wisnu berpikir tenang sejenak. Gilang juga meminta Wisnu untuk mengistirahatkan badan bukan bertanya tentang kejadian yang menimpa.


Hanya Gilang yang sangat paham bagaimana Wisnu sebenarnya. Gilang tahu, apa yang Wisnu butuhkan saat ini, hanya ketenangan bukan gangguan. Bahkan sampai sekarang Gilang belum menanyakan apa yang terjadi tadi malam pada laki-laki yang menyetir secara ugal-ugalan.


"Lo mau tau?" tanya Wisnu tanpa memandang Gilang sedikit pun.


"Mau." Gilang tahu ke mana arah pembicaraan mereka ini, makanya dia langsung menyetujui tanpa bertanya. Gilang sudah memahami Wisnu bahkan tanpa Wisnu berbicara terlebih dahulu.


Wisnu menghentikan mobil. Menyuruh Gilang turun. Mereka berhenti di salah satu tempat makan yang sudah buka pagi hari.


Wisnu sengaja tidak sarapan dan mengajak Gilang buru-buru pergi dari rumah, karena dia memang mau Gilang menemaninya sarapan di luar. Begitu makanan mereka tiba, Wisnu memulai obrolan.


"Gue dijodohin," ujar Wisnu. Gilang yang belum selesai mengunyah tersedak karena ucapan Wisnu barusan. Dia kebingungan mencari keberadaan air, dan Wisnu terpaksa memberi segelas air miliknya pada Gilang.


Gilang meminum air itu sampai habis tak bersisa. "Lo serius njir?" Gilang tidak menduga kalau masalah seperti ini akan dia dengar langsung dari Wisnu.


"Buat apa gue bohong?" Wisnu balik bertanya. "Gue nggak ngerti ya sama pemikiran Rama kayak mana." Wisnu bahkan sudah tidak menggunakan embel-embel 'Papa' pada Rama.


"Kok bisa cok?" Gilang masih terheran karena berita ini. Bahkan dia yang ingin memasukkan lauk ke mulutnya agak sedikit ragu karena takut tersedak lagi, jika Wisnu memberi informasi tambahan.


"Gue juga nggak tau gimana. Yang jelas, dia maksa gue buat nikah sama anak teman bisnisnya itu. Kalau gitu udah pasti demi keuntungan bisnis. Licik banget dia," jawab Wisnu, menyendokkan nasi ke mulut.


"Gue kira perjodohan karena bisnis cuma ada di novel-novel," beo Gilang. Dia menuangkan air ke dalam gelas kosong miliknya, juga ke gelas Wisnu yang habis karena dia minum tadi.


"Bagi orang kaya hal ini wajar, Lang. Bahkan Rama sama nyokap gue juga nikah karena perjodohan. Gue tau dari tukang kebun rumah," ucap Wisnu.


"Gue nggak habis thinking sama hal ini." Gilang masih terus geleng-geleng kepala mendengar kabar perjodohan Wisnu ini. Hal ini tidak pernah terpikir sama sekali.

__ADS_1


"So, lo terima?" Pertanyaan Gilang menghentikan Wisnu yang hendak meneguk air. Lelaki itu melirik Gilang sejenak sebelum menghabiskan air di dalam gelas.


Wisnu menggeleng, "Nggak. Gue tolak. Bahkan gue kabur dari sana, gue tolak mentah-mentah di depan Rama sama temen bisnisnya itu."


"Oh ****, lo berani banget kabur," balas Gilang.


Wisnu berdehem. "Makanya gue lari ke rumah lo. Kalau gue pulang ke rumah gue, udah pasti habis riwayat gue sama si Rama. Dan lo tau Lang?" Gilang menggeleng. "Rama nggak nyariin gue. Yang nelfonin gue cuma mama, yang lain nggak ada. Gue jadi makin yakin nggak bakal pulang," lanjutnya.


"Tapi lo nggak bisa gitu juga Wis. Kalau bokap lo tau, lo di rumah gue, bisa tamat keluarga gue sekarang."


Wisnu menelan kunyahan terakhirnya. "Lo tenang aja, keluarga lo nggak akan kena masalah."


"Jaminannya?"


"Gue nggak akan tinggal di rumah lo lagi, Lang. Gue tinggal di hotel aja, dan di mana hotel gue nanti, lo nggak boleh ngasih tau yang lain. Bahkan orang tua lo, kalau lo mau mereka selamat, selamatin gue dulu," jelas Wisnu.


Gilang mengangguk mengerti. Dia akan mengikuti rencana ini. Gilang bahkan menawari Wisnu untuk mencarikan hotel untuknya. Gilang ingin bermain aman sekarang.


Mereka berdua sudah duduk di dalam mobil. "Jangan kasih tau yang lain soal ini Lang. Cukup lo yang tau," ujar Wisnu, melajukan mobil pergi dari tempat itu.


...***...


Sinta keluar dari kafe saat dia selesai memenangkan diri. Namun takdir semesta membawa wanita malang itu bertemu dengan Rama lagi. Mereka baru bertemu kemarin malam tapi sekarang mereka bertemu lagi. Sinta tidak bisa menghitung berapa banyak pertemuan antara dia dan Rama sekarang.


"Hai Sin." Seakan semuanya baik-baik saja, Rama menyapa Sinta hangat.


"Kok bisa ketemu lagi?" tanya Sinta lagi.


Rama mengangkat bahunya. "Takdir, mungkin," jawabnya.


"Kamu ngapain ke sini?"


"Kamu juga ngapain ke sini?" Rama balik bertanya. Sinta menghela napas panjang, pria ini mulai kembali menyebalkan.


"Aku mau nganter anak aku ke kampus. Kita singgah ke kafe ini sebentar." Sinta mengalah, dia menjawab terlebih dahulu. Dia tak ingin berlama-lama berada di dekat Rama.

__ADS_1


"Anak kamu pasti cantik," puji Rama. Sinta mengerutkan kening, bagaimana Rama tahu kalau anaknya adalah perempuan. Rama saja tidak pernah bertemu dengan Eleena.


"Aku duluan," pamit Sinta.


"Sinta Dela Agustama." Panggilan Rama menghentikan langkah Sinta yang baru 3 langkah di depan Rama.


Pria itu mendekati Sinta, berdiri di depan wanita yang kini diam mematung. "Aku kangen sama nama kamu, Putri Agustama," ujar Rama.


Sinta mengepalkan tangan, raut wajah Rama seakan menghinanya. Sinta sudah lama tidak mendengar nama aslinya. 'Agustama'.


"Sinta Dela Dirgantara. Nama aku sekarang itu," balas Sinta. Dia pergi mendahului Rama.


Rama memegang pergelangan tangan Sinta. Dia membuat Sinta berbalik badan. "Tapi dulu kamu pernah menjadi Sinta Dela Aksanta."


Sinta membuang arah pandangnya dari Rama. Kenapa Rama harus mengingatkan hal itu lagi pada Sinta. Sinta yang semulanya adalah putri bungsu keluarga Agustama, kemudian dia menjadi istri dari putra tunggal keluarga Aksanta. Dan sekarang julukan 'Nyonya Dirgantara' tersandang pada dirinya. Sinta sendiri juga bingung apa nama dirinya sebenarnya. Terlalu banyak pergantian.


Setiap anak perempuan dari keluarga ternama. Atau, anak perempuan yang memiliki nama belakang dari keluarganya, begitu dia menikah dengan sesamanya atau sekasta dengannya, maka dia harus mengikut nama suaminya. Nama belakang yang semula tersandang di namanya, harus berganti menjadi nama belakang suaminya. Itu menjadi pertanda bahwa perempuan tersebut sudah resmi menjadi anggota keluarga dari keluarga barunya itu. Dan itu juga berlaku untuk Sinta.


"Sin—"


"Tuan Aksanta, saya minta maaf. Saya rasa saya tidak mempunyai hal penting untuk dibicarakan bersama Anda. Saya ada urusan, jadi saya harus pergi," potong Sinta.


"Satu lagi." Sinta melirik tangan Rama yang masih memegang tangannya. Dia mengisyaratkan untuk melepas tangannya, dan Rama melepaskannya.


"Tuan Aksanta, perkenalkan nama saya Sinta Dela Dirgantara. Saya Nyonya Dirgantara sekarang, saya tidak memiliki hubungan apapun dengan anda," jelas Sinta.


"Sayang." Rama menengok kebelakang. Ada seorang gadis bermata cokelat berjalan ke arah Sinta.


Sinta mengajak gadis itu masuk ke dalam mobil. Itu artinya, gadis muda itu adalah anak Sinta sekarang. Hidup Sinta sudah berubah sejauh ini, dia memiliki keluarga baru, anak baru bahkan nama belakang baru.


"Sinta Dela Dirgantara," gumam Rama.


Sebuah ide terlintas dari pikiran Rama. Dia kehilangan investasi dari Tuan Satya, tapi dia juga memiliki satu cadangan untuk menyelamatkan perusahaan yang hampir hancur karena ulah Wisnu kemarin malam.


Rama tersenyum memasuki mobilnya. Dia tahu siapa yang tepat untuk bisa ia manfaatkan. Atau lebih tepatnya, membantu. Arjuna Dirgantara meminta Rama untuk bekerjasama dengannya, dan kali ini Rama akan menyetujui.

__ADS_1


"Atur pertemuan dengan Tuan Arjuna Dirgantara secepatnya," ucap Rama pada panggilan yang menyala.


Biarlah, Rama mengorbankan egonya sekarang, perusahaannya lebih penting daripada ego. Toh, keluarga Dirgantara bukanlah keluarga Agustama. Walaupun mereka berhubungan, tapi tetap saja dua hal itu berbeda.


__ADS_2