Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Bersama di bar


__ADS_3

"Mau nongkrong nggak?" Arfin datang menghampiri ketiga temannya yang berjalan keluar dari kelas setelah bel pulang kampus mereka berbunyi.


"Ke bar?" tanya Gilang. Arfin tersenyum merangkul pundak laki-laki itu.


"Gas kalau gue mah," timpal Gilang di sebelah Wisnu. "Tuan Muda, mau pergi nggak?"


"Boleh," jawab Wisnu. "Gue juga udah sumpek sama kehidupan gue belakangan ini."


Arfin tertawa, "Pusing karena harus jadi cowok yang romantis," ledeknya.


"Diem lo!" ketus Wisnu, mendengus kesal.


Fakta bahwa selama hampir sebulan ini Wisnu tidak lagi bisa menikmati waktu luang seperti biasanya sedikit menyakitkan untuknya. Lelaki itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk menuruti perintah Rama ketimbang bermain bersama teman-temannya seperti biasa.


Wisnu bahkan bisa menghitung kapan dia menikmati masa mudanya sekarang. Entah kenapa belakang ini Wisnu menjadi sangat penurut pada ayahnya. Biasanya dia akan menjadi pembangkang nomor satu buat Rama tapi sekarang dia menjadi penurut seperti ibunya. Sedikit miris tapi itulah fakta saat ini.


Keempat laki-laki itu berjalan menuju tempat parkir. Kendaraan beroda empat yang berjejer rapi di tempat itu menjadi pemandangan biasa.


"Gue sama Arfin!" seru Baim berpindah tempat ke sebelah Arfin.


"Gue sama Wisnu." Gilang melepaskan rangkulan Arfin. Lelaki itu berjalan di belakang Wisnu. Mereka berdua masuk ke mobil berwarna silver milik keluarga Aksanta. Begitu juga dengan Arfin dan Baim yang memasuki mobil berwarna hitam dengan jendela terbuka di atasnya.


"Ke bar biasa!" jerit Arfin dari mobilnya. Wisnu hanya membunyikan klakson sebagai respon.


Mobil silver milik Wisnu keluar lebih dulu dari area parkir menjauhi pekarangan kampus. Lalu disusul segera oleh mobil Arfin di belakangnya.


Wisnu dan Gilang tidak banyak membuka obrolan di dalam mobil. Hanya sedikit saja, seperti ini.


"Mau sampai kapan lo pacaran sama Eleena?" tanya Gilang memecah keheningan di mobil Wisnu yang sudah bergerak sejak lima menit lalu dari pekarangan kampus.

__ADS_1


"Sampai bokap gue yakin kalau dia beneran pacar gue."


"Gue nanya kapan, gue butuh waktunya." Gilang menegaskan ucapannya.


"Maybe two month," jawab Wisnu. "Gue tau itu lama, tapi gue yakin dalam waktu segitu bokap gue pasti udah yakin gue pacaran sama dia."


"Lo yakin dalam waktu dua bulan nggak akan ada apa-apa?" Gilang menaruh rasa curiga pada teman sejak kecilnya itu. Wisnu memang bukan tipikal orang yang mudah jatuh cinta, tapi jika dia bersama seorang gadis selama dua bulan tidak menutup kemungkinan kalau lelaki ini akan jatuh cinta.


"Nggak akan," balas Wisnu santai.


"Lo nggak akan jatuh cinta sama Eleena, kan?" tanya Gilang lagi. Wisnu menggeleng. "Tuan Muda, gue tau lo itu manusia biasa, gue juga tau kalau kodrat manusia itu salah dan lupa. Mungkin sekarang lo bilang nggak akan jatuh cinta sama dia, tapi yang namanya manusia nggak ada yang tahu masa depan kayak gimana. Bisa aja karena sering ketemu dia, sering ngabisin waktu bareng sama dia, dan selama masa lo pacaran sama dia pasti lo bakal dalamin karakter dia. Hal-hal seperti itu nggak akan menutup kemungkinan lo nggak jatuh cinta sama dia."


Wisnu meresapi perkataan Gilang ini. Sekarang, dia malah menjadi tadi pada dirinya sendiri. Belakangan ini Wisnu sering menanyakan pada dirinya sendiri, "Gue kenapa?" Pertanyaan itu selalu terlintas di kepala setiap kali melihat Eleena walau hanya sebentar saja.


Pertanyaan itu tiba tiap kali ada rasa aneh yang hinggap saat gadis itu tersenyum ke arahnya. Gadis yang dulunya menjadi musuh terbesar untuk Wisnu sekarang juga masih tapi sedikit lebih baik. Gadis itu juga menjadi alasan beberapa hari belakangan ini Wisnu sering tersenyum sendiri.


Eleena adalah satu-satunya gadis yang tak menghalalkan segala cara untuk mendapatkan hati Wisnu. Berbeda dengan yang lalu, para gadis itu sampai gila demi mendapatkan Wisnu.


Eleena itu berbeda, Wisnu merasa ada yang berbeda dari gadis yang kini statusnya menjadi pacarnya walau hanya pura-pura. Namun, Eleena berhasil membuat merasakan perasaan aneh yang membuat lelaki itu nyaris hilang akal karena berusaha mencari alasannya.


"Lo pacaran sama dia, karena Arfin."


Ah iya, itu faktanya. Wisnu hanya meminjam Eleena dari Arfin, sejatinya Eleena adalah milik Arfin. Wisnu bukanlah seorang penjahat yang tega mengambil dan merampas kebahagiaan sahabat sendiri. Hubungan Wisnu dan Arfin terjalin lebih lama daripada hubungan Eleena dan dirinya. Harus lebih mementingkan pertemanan daripada percintaan.


"Gue nggak akan jatuh cinta sama El," ujar Wisnu para akhirnya, meyakinkan Gilang dan meyakinkan dirinya sendiri juga.


...***...


Keempat laki-laki tampan duduk di salah satu bar teramai di kota. Jam berbentuk lingkaran berwarna putih itu menggerakkan jarum yang ada di tengahnya. Jarum jam menunjukkan pukul setengah enam sore, jadi tidak heran kalau tempat ini sudah ramai didatangi oleh manusia.

__ADS_1


Gelas-gelas berisi alkohol terlihat jelas di meja para laki-laki ini. Mereka meneguk sedikit demi sedikit sampai harus menambah botol lagi.


Mungkin untuk banyak orang di luar sana, alkohol adalah salah satu hal buruk yang harus dihindari. Tapi bagi Arfin alkohol adalah salah satu teman yang siap membantu Arfin untuk melupakan sejenak apa yang sudah terjadi di hidupnya. Baik itu kehidupan di rumah atau karena cintanya yang sudah menunjukkan tanda-tanda bertepuk sebelah tangan.


"Lo udah banyak minum." Tangan putih bersih milik seorang gadis menahan tangan Arfin yang hendak menambah alkohol lagi ke dalam gelas kosongnya.


Dengan mata sayu dan kesadaran yang sudah hampir hilang sepenuhnya, Arfin mendongak. Dia menatap lekat siapa gadis yang sudah dengan berani mencegah dia untuk meneguk temannya itu.


Gadis itu menggeleng, "Jangan banyak minum, Fin. Nggak baik." Suara lembut darinya memberi Arfin kesadaran bahwa gadis itu adalah gadis yang sedari tadi berkelana di pikiran Arfin selain keluarganya.


"Gue nggak suka ngeliat kalian minum-minum nggak jelas kayak gini!" lantang Eleena menatap satu persatu empat laki-laki yang berada di sana.


"Ngapain ke sini, El?" Suara Arfin terdengar sangat parau karena mabuk sudah menguasai lelaki itu.


"Nyusulin lo, jangan minum lagi." Bukan, perkataan itu bukan untuk Arfin, melainkan untuk Wisnu. Karena tatapan gadis itu mengarah pada laki-laki yang duduk di sebelah Arfin.


Arfin menatap Eleena tapi tatapan Eleena tidak mengarah padanya. Arfin menoleh ke arah Wisnu kemudian dia menoleh ke Eleena, ada senyum getir tampil di sana. Seharusnya Arfin sadar, Eleena di sini pasti untuk Wisnu bukan untuk dirinya. Eleena itu kan pacar Wisnu bukan pacarnya.


"Bokap lo nge-chat gue, lo disuruh pulang nggak boleh sering-sering ke bar," ucap Eleena.


"Ribet amat si Rama," gerutu Wisnu.


Eleena mengeluarkan ponselnya, tangan gadis itu bergerak di atas benda pipih itu menekan satu demi persatu aplikasi yang berada di sana. Gadis itu menunjukkan isi pesan Rama yang dikirim padanya agar Wisnu bisa percaya padanya.


Om Rama:


El, saya minta tolong sama kamu bawa Wisnu pulang ya, dia lagi di bar sama teman-temannya


"Rama rese," batin Wisnu mengepalkan tangan.

__ADS_1


__ADS_2