
Eleena memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah kediaman keluarga Dirgantara. Gadis itu keluar dari mobil merah kesayangannya. Eleena memasuki rumahnya dengan pertanyaan yang masih belum hilang di kepala.
Ucapan Wisnu dan segala kalimat yang dilontarkan lelaki itu, tertanam di benak Eleena. Semua hal tentang Sinta dan Rama yang dikatakan Wisnu sampai membuat Eleena tidak fokus. Nyaris saja dia menabrak seseorang yang menyeberang. Jika saja, orang itu tidak berteriak dan menyadarkan Eleena dari lamunannya, mungkin sekarang Eleena sudah berada di rumah sakit atau kantor polisi karena menabrak orang lain.
Eleena berjalan masuk ke dalam rumah besar miliknya. Namun, presensi seseorang yang berjalan ke arah gadis itu menghentikan langkah Eleena. Perempuan dengan senyuman manis, berjalan ke arahnya.
Eleena membeku, seakan-akan dia sedang dihampiri oleh orang yang menakutkan, padahal itu adalah Sinta—wanita kesayangannya.
"Kamu udah pulang, Sayang." Sinta mengelus surai Eleena, mengajak anak gadisnya itu duduk di sofa.
Seperti terhipnotis, Eleena mengikuti Sinta yang berjalan untuk duduk di sofa. Sinta menampilkan senyum indahnya, menuangkan air ke gelas lalu memberikannya pada Eleena.
Eleena mengambil gelas itu dari tangan Sinta lambat, seakan masih ragu dia harus mengambilnya atau tidak.
"Kamu pasti capek banget habis pulang kuliah. Makanya Bunda buat kue untuk El." Sinta bangkit dari duduknya, "Bentar ya." Sinta pergi dari sana, menuju ke arah dapur.
Tak sampai lima menit, wanita itu kembali lagi. Sebuah piring berisi kue coklat di atasnya ditaruh di meja depan Eleena duduk.
"Ini Sayang." Sinta mengambil satu potong kue coklat buatannya, dia mengarahkannya ke Eleena, menyuruh gadis itu membuka mulut untuk disuapi.
Bukannya membuka mulut, Eleena malah menaruh kue coklat itu kembali ke piring. Sinta melihat itu dengan kebingungan, Eleena tidak pernah menolak untuk disuapi olehnya tapi kini anak kesayangannya menaruh kembali hal yang sudah ia ambil.
"El, kamu kenapa?" tanya Sinta.
"Bun, El mau nanya." Eleena mengajak Sinta untuk bangkit dari sofa saat dia melihat ada pelayan rumahnya sedang membersihkan vas bunga.
Tanpa berkata apa-apa, Sinta mengikuti ke mana Eleena mengajak perempuan itu pergi. Eleena menyuruh Sinta duduk di pinggir kasur, kemudian dia menutup pintu dan mengunci pintunya. Berharap tidak akan ada orang yang masuk dan mengacaukan semua pertanyaan yang sudah Eleena rancang untuk ditanyakan pada Sinta.
Eleena duduk di sebelah Sinta. "Kenapa Sayang?" tanya Sinta, saat Eleena sudah duduk cantik di sebelahnya.
"Bun, Bunda dulu pernah punya mantan nggak?" Eleena membuka topik dengan pertanyaan ambigu seperti itu. Pertanyaan yang bahkan Sinta sendiri juga tidak tahu bagaimana cara ia menjawab.
"Mantan?" Eleena mengangguk. Sinta menjawab lumayan lama, kalau ditanya soal seseorang di masa lalu, pikiran Sinta pasti langsung tertuju pada Rama. Karena hanya pria itu saja masa lalu di hidup Sinta.
Akhirnya Sinta menggeleng sebagai jawaban, tanpa mau membuka mulut untuk menjelaskan.
"Bunda ketemu sama Ayah terus langsung nikah sama Ayah, kan? Bunda nggak ada hubungan sama orang lain selain Ayah kan? Bunda cuma cinta sama Ayahnya El, kan?" Eleena menembak Sinta dengan pertanyaan bertubi-tubi.
Semua pertanyaan itu membuat Sinta sesak. Wanita itu seperti kehilangan akal dan napas untuk menjawab. Selama 20 tahun dia tinggal di rumah ini bersama Eleena, gadis di sebelahnya ini tidak pernah menanyakan hal seperti itu padanya. Eleena tidak pernah berani mengulik masa lalu Sinta, tapi kenapa sekarang anak itu bertanya.
"Kenapa kamu nanya gitu?" Alih-alih menjawab, Sinta malah melempar pertanyaan juga.
"Bunda jawab aja," balas Eleena tegas. Baru kali ini Sinta merasa anaknya membentak dirinya, padahal selama ini Eleena tidak pernah berani meninggikan suara saat berbicara dengannya atau dengan Arjuna.
"Itu privasi Bunda. Kamu nggak boleh tau." Sinta bangkit dari duduknya, berjalan ke arah pintu, tapi Eleena mencegat tangan Sinta yang hendak memutar handle pintu.
__ADS_1
"El bukan anak kecil, Bunda. El berhak tau soal hidup Bunda," ucap Eleena.
"Kamu nggak sopan kayak gitu, El!" Nada Sinta meninggi, menghempaskan tangan Eleena. Anaknya sudah menjadi tidak sopan.
"Bunda, El cuma mau tau. Bunda punya hubungan apa selain sama Ayah, karena kata Wisnu waktu papanya sama kakeknya berantem, mereka nyebut nama Bunda."
Telak. Sinta membeku begitu mendengar penuturan Eleena. Seakan tak bisa lagi berdiri tegak, Sinta sampai melemas dan nyaris terjatuh. Untung saja Eleena sigap menahan ibunya, dan membantu Sinta duduk kembali di kasurnya.
Eleena menuangkan air ke gelas untuk diberikan ke Sinta dan diminum oleh wanita itu.
"Bunda, bunda kenapa? El salah ya? Minta maaf, Bun." Eleena mengulang kalimat maaf berkali-kali sambil mengelus telapak tangan Sinta. Berharap ibunya tidak akan marah dan mau berbicara bukannya menatap kosong dinding kamarnya.
"Rama sama Tuan Aksanta yang bertengkar?" Sinta mulai mengalihkan pandangannya ke Eleena, meskipun tatapan wanita itu masih kosong.
Eleena menelan salivanya payah, lalu mengangguk kaku. Dia yakin Sinta bisa melihat anggukannya meskipun tatapan wanita itu entah ke mana walau mengarah ke arahnya.
"Nyebut nama Bunda?" Eleena mengangguk lagi.
"Mereka nyebut nama Bunda apa?"
"Sinta Dela Agustama."
Selesai. Sinta tidak tahu harus bagaimana lagi. Dua anggota Aksanta itu, menyebut namanya dengan Agustama di belakang. Sinta tidak bisa memikirkan apapun lagi, wanita itu berdiri. Mencoba keluar dari kamar Eleena, meskipun agak sempoyongan. Ketika Eleena mencoba membantu Sinta menolak keras.
Wanita itu berjalan pelan keluar dari kamar anaknya. Pikiran Sinta kosong hanya terisi dengan nama lengkapnya disebut oleh anggota Aksanta. Sinta tidak tahu apa-apa, yang ia tahu setelah ini semuanya akan semakin buruk. Sinta sudah berusaha lepas dari bayang-bayang Aksanta selama 20 tahun.
"Tuhan, jangan permainkan saya lagi," batin Sinta.
...***...
Malam hari tiba. Sinta tengah sibuk menyiapkan makan malam. Setelah hampir tiga jam wanita itu mengurung diri di kamar, menyibukkan diri untuk memikirkan soal Aksanta dan kejadian puluhan tahun lalu. Kini Sinta mengalihkan pikirannya untuk menyiapkan makan malam untuk anak dan suaminya yang sudah kelaparan.
Arjuna membaca di sofa dekat ruangan makan, dan Eleena mengendap-endap masuk ke kamar Sinta dan Arjuna. Gadis itu masuk perlahan, dan menutup pintu kamar sangat pelan. Tidak menimbulkan suara sedikitpun.
Rasa penasaran Eleena belum terjawab, malahan melihat reaksi Sinta seperti itu rasa penasaran Eleena semakin bergejolak. Jika Sinta tidak ingin membicarakan tentang keluarga Aksanta padanya, Eleena yakin bahwa ada sesuatu di kamar ini.
Kamar milik Sinta dan Arjuna pasti menyimpan rahasia yang Eleena tidak tahu. Karena katanya, semua rahasia itu selain diketahui oleh pemiliknya dan Tuhan, tapi diketahui juga oleh kamar tempat beristirahat.
Tangan Eleena bergerak membuka lemari Sinta. Mencari-cari setiap hal yang bisa menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di kepala. Eleena membuka satu demi satu berkas yang tersimpan di lemari, membuka satu demi satu celah yang ada di tumpukan baju untuk menemukan sesuatu di sana.
Sampai akhirnya kecerobohan Eleena menjatuhkan beberapa tumpukan pakaian Sinta dari dalam lemari.
"Bodoh!" umpatnya pada diri sendiri tapi masih mengendalikan nada bicara agak tidak terdengar sampai keluar kamar.
Namun, sepersekian detik kemudian iris cokelat gadis itu menemukan ada selembar kertas yang terlihat seperti keras foto tapi terbalik. Kertas itu bersemayam di tengah-tengah tumpukan pakaian Sinta.
__ADS_1
"Foto nggak sih itu?" gumam Eleena, mengambil kertas foto yang terbalik itu.
Eleena membalikkan foto itu dan alangkah terkejutnya gadis itu saat menemukan apa yang ada di dalam kertas foto lusuh yang dia pegang sekarang.
"Bu-bunda?"
Kertas foto lusuh itu berisikan foto Sinta serta Rama memakai pakaian pengantin dengan senyum terpampang jelas di wajah. Eleena tidak mungkin salah lihat, itu benar-benar wajah Sinta. Senyuman khas dari wanita yang saat ini menjadi ibunya tidak mungkin tidak dikenali Eleena. Dan Rama, Eleena sudah pernah bertemu dengan Rama, dia tidak mungkin salah mengenali Rama.
Eleena mengeluarkan ponselnya, memotret apa yang dia temukan. Setidaknya jika Sinta menemukan foto ini kemudian membuangnya, Eleena punya sesuatu untuk menjadi jawaban walau masih abu-abu.
Suara langkah kaki terdengar dari luar. Eleena buru-buru meletakkan kembali tumpukan pakaian Sinta ke dalam lemari. Namun naas, sebelum Eleena bisa merapikan semua pakaian yang jatuh Sinta sudah datang lebih dulu.
Wanita itu menatap Eleena yang terdiam karena sudah tertangkap basah. Sinta menghampiri anaknya yang memegang satu dress miliknya.
"Kamu ngapain?" tanya Sinta.
"Ini, Bun. Minjam baju Bunda, cantik soalnya." Eleena menunjukkan dress Sinta yang dia pegang. Dengan senyuman aneh, Eleena berharap bahwa Sinta tidak akan curiga.
Eleena melirik ke kertas foto yang masih belum sempat ia timpa dengan dress terakhir karena Sinta sudah lebih dulu menangkap basah dirinya.
"Kalau kamu mau, bilang sama Bunda, Nak. Jangan main ambil aja."
Eleena tersenyum malu, menyenderkan tubuhnya ke lemari Sinta agar pintu lemari itu tertutup dan Sinta tidak menemukan ada foto itu.
"Maaf Bun," ucap Eleena.
Sinta tersenyum, "Ya udah nggak papa. Ambil aja dress Bunda. Tapi sekarang kita makan ya." Eleena mengangguk.
Sinta mengelus surai anaknya lalu pergi lebih dulu keluar dari kamar meninggalkan Eleena sendiri, atau wanita itu yang tak tahu anaknya mengikutinya atau tidak.
Eleena menghela napas lega. Gadis itu buru-buru membuka lemari lagi, menaruh kertas foto lusuh itu, di sela-sela pakaian Sinta yang sudah ia tumpuk. Tidak mungkin Eleena meletakkan kembali dress yang sudah ia ambil. Bisa-bisa Sinta curiga karena Eleena tidak jadi menggunakan dress itu.
"Bunda ada hubungan sama Tuan Rama." Eleena membuka ponselnya dan melihat foto yang berhasil ia ambil. "Gaun pengantin, hubungan Bunda sama Tuan Rama, pasti lebih dari yang gue tau."
"Eleena Sayang!" Sinta kembali masuk ke kamar dan Eleena segera mematikan ponselnya.
"Bunda kira kamu udah jalan ternyata belum." Sinta menarik tangan Eleena, membawa gadis itu keluar bersamanya menuju meja makan untuk makan malam seperti biasa.
Eleena menatap punggung Sinta yang masih terus berjalan menarik tangannya sampai mereka tiba di meja makan.
Arjuna melambaikan tangan, pada Sinta dan Eleena yang baru datang. Pria itu menyuruh Eleena dan Sinta untuk duduk agar makan malam segera dilangsungkan.
Eleena melirik Arjuna, semua teori konspirasi tentang hubungan Sinta dan masa lalunya bersama Rama semakin membingungkan Eleena. Ditambah lagi, Eleena merasa bahwa Arjuna juga menyembunyikan sesuatu darinya.
Foto yang dia temukan di lemari Sinta, seakan memberi Eleena sebuah petunjuk dan menyuruh gadis itu untuk mencari tahu lebih lanjut tentang semua ini.
__ADS_1
"Itu beneran Bunda sama Tuan Rama atau nggak ya? Kenapa pakai baju pengantin? Bunda sama Tuan Rama sedekat apa ya? Apa yang Bunda tutupi dari gue?"
Pertanyaan-pertanyaan baru itu muncul di kepala Eleena. Dan untuk menemukan jawabannya, Eleena harus mencari tahu. Tapi dia tidak akan mencari tahu sendiri, melainkan bersama Wisnu.