
"Jangan lupa berfoto." Suara nyaring dari perempuan yang berdiri agak jauh dari mereka membuyarkan lamunan Wisnu dan Eleena yang sudah tercipta sejak tadi.
Eleena menatap Wisnu lagi seakan menunggu laki-laki itu untuk bertindak lebih dulu.
"Kamu mau foto?" tanya Wisnu bangkit dari duduknya. Eleena mengangguk kecil.
Wisnu berdehem singkat, mengulurkan tangannya. Dengan isyarat mata Wisnu menyuruh kekasihnya untuk meletakkan tangannya di atas telapak tangannya yang terbuka.
Dengan gerakan perlahan dan sedikit lambat, Eleena meletakkan telapak tangan putih miliknya berada di atas telapak tangan Wisnu. Seperti tadi, Wisnu membawa gadis itu untuk mengikuti ke mana arah dia berjalan. Mereka menghampiri sang instruktur untuk bertanya di ruangan mana mereka akan melakukan hukuman karena telah melanggar peraturan yang ada.
Instruktur pria itu mengarahkan Wisnu dan Eleena untuk masuk ke sebuah ruangan kecil. Terlihat seperti studio foto. Mereka berdiri dan ada kamera di depannya.
"Pakai atributnya," peringat instruktur wanita.
Eleena menghela napas kasar. Matanya melirik setumpuk barang-barang yang ada di ranjang berwarna merah muda dengan pita putih di tengahnya.
"Alay banget warnanya njir," umpat Wisnu, menatap jijik atribut itu. Tangan lelaki itu mengambil bando berwarna merah muda dan segera dia melempar bando itu kembali ke tempat asal dengan raut wajah seakan mual dengan warnanya.
"Warna pink-nya bikin geli." Badan Eleena seketika merinding melihat kumpulan atribut di ranjang.
"Pakai ini." Wisnu dengan iseng memakaikan bando berwarna merah muda seluruhnya. Bando berbentuk telingan kucing.
"Lucu banget." Wisnu tertawa kencang melihat bando itu terpakai di kepala Eleena. Sedangkan orang yang ditertawakan memasang wajah cemberut.
"Lo lucu banget sumpah." Wisnu memegangi perutnya yang keram karena tertawa terbahak-bahak.
"Lo pakai ini juga." Eleena menjepitkan jepitan berwarna pink dengan bentuk bunga warna putih di tengahnya.
"Ucul banget anak Mami." Eleena mencubit pipi Wisnu yang terdiam karena jepitan itu sudah terpasang di sela-sela rambutnya.
"Nggak lucu!" ketus lelaki itu. "Menurut gue lucu, wlek." Eleena menjulurkan lidahnya sebagai tanda ejekan untuk Wisnu.
"Waktu kalian tersisa lima menit lagi. Gunakan waktu sebaik-baiknya!" Suara seorang wanita dari luar ruangan itu terdengar di telinga kedua manusia yang daritadi asik bercanda.
"Buru woi!" Eleena menarik baju Wisnu agar lelaki itu berada di sebelahnya. "Gaya," suruh Eleena.
Wisnu dan Eleena bergaya di depan lensa kamera yang sudah siap memotret mereka. Bermacam gaya mereka coba, mulai dari gaya piece, love sign bahkan gaya seakan saling memeluk satu sama lain.
Di tengah potret itu mereka menyempatkan untuk bercanda dan sedikit mengusili satu sama lain. Seperti Wisnu yang menarik helai rambut Eleena dan Eleena memukul lelaki itu, semua itu terabadikan dalam lembar foto yang keluar setelah mereka memencet tombol end.
"Cantik banget gue." Eleena mengambil paksa beberapa lembar foto yang berada di tangan Wisnu. "Gue cantik banget, tapi lo jelek." Eleena menunjuk salah satu foto yang di mana di dalamnya itu terdapat Eleena yang sedang menaruh jari telunjuk di pipi yang digembungkan sedikit sedangkan wajah belum siap untuk difoto terlihat jelas dari raut wajah Wisnu.
"Gue tetap cakep kok." Wisnu membela dirinya sendiri. Dia tidak terima dibilang jelek oleh orang lain, karena selama dia hidup baru Eleena yang menyebutnya tidak tampan.
"Sudah selesai?" tanya instruktur begitu Wisnu dan Eleena keluar dari studio foto.
Semua pasang mata mengarah ke Wisnu dan Eleena. Mereka seakan menahan tawa. Ada yang dengan menutupi mulutnya dengan tangan ada juga yang berbalik badan bahkan ada yang menahan bibirnya untuk tidak terbuka dengan cara mengulum senyum.
Eleena dan Wisnu menatap heran pada tatapan banyak orang pada mereka. Kedua insan ini tidak merasa ada yang aneh jadi mereka tidak perlu bertingkah seperti ini.
"Atributnya bagus, kan?" Pertanyaan dari instruktur perempuan ini memberitahu Eleena apa maksud dari tatapan dari setiap manusia yang ada di sana.
Eleena menarik tangan Wisnu kasar menuju ke sebuah cermin di sana. Dan benar saja, bando pink berbentuk telinga kucing dan jepitan rambut dengan hiasan bunga putih di tengahnya—mereka belum melepaskan kedua atribut itu dari kepala mereka.
"Geli banget gue." Wisnu buru-buru melepaskan jepitan itu dari rambutnya begitupun Eleena yang langsung menurunkan bando berbentuk telinga kucing begitu dia melihat lewat pantulan cermin benda itu belum terlepas dari kepalanya.
Seisi ruangan penuh dengan gelak tawa. Melihat bagaimana Eleena dan Wisnu yang tidak sadar akan kelucuan mereka dan ketika mereka melepaskan atribut itu dengan rasa malu yang menggelar di sekujur tubuh.
"Kalian lucu banget," kekeh salah satu pengunjung yang berada di tempat itu.
Eleena menatap sekitarnya dengan wajah memerah, sedangkan Wisnu sedikit menunduk dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Rasa malu ini bisa membunuh Wisnu sekarang juga. Lelaki itu bahkan tidak kuasa untuk menaikkan pandangan karena malu yang begitu menguasai.
...***...
"Sekarang saatnya kita pergi ke pusat berkarya."
Instruktur itu mengarahkan semua orang pergi ke suatu tempat. Tempat yang cukup besar cukup untuk banyak orang masuk di dalamnya.
"Bagi pihak laki-laki silahkan ikuti teman saya dan pihak perempuan silahkan ikuti saya." Instruktur perempuan itu mengajak Eleena bersama yang lainnya masuk ke ruangan pertama. Khusus untuk perempuan.
Eleena mengedarkan pandangan, dia terpesona dalam sekali tatap. Tempat itu dipenuhi oleh barang-barang yang bisa diubah menjadi sebuah mahakarya indah.
"Jadi, kalian bisa memilih salah satu atau lebih dari satu benda dan alat yang ada di sini lalu buatlah karya indah untuk dijadikan hadiah sebelum kalian pulang dari sini," ucap instruktur laki-laki yang membawa Wisnu serta yang lainnya.
Wisnu menatap satu persatu bahan dan alat yang ada di sana. Lelaki itu mengacak rambutnya, dia bukan orang yang kreatif jadi bagaimana bisa Wisnu melakukan hal seperti ini. Wisnu menatap ke arah instruktur, ingin rasanya dia bertanya kalau tidak melakukan ini akan mendapatkan hukuman apa, tapi rasa malu yang ia dapat ketika di ruangan sebelumnya mengurungkan niat Wisnu. Sebagai manusia Wisnu tidak ingin mengulang kesalahan yang sama dua kali.
"Buatlah dengan penuh cinta karena ini hadiah untuk kekasih kalian tercinta!" seru instruktur perempuan.
Eleena langsung menuju tempat kanvas dan pallet warna berada. Perempuan itu sangat gemar melukis, begitu melihat ada benda kesukaannya menjadi list benda yang bisa dijadikan hadiah, Eleena tidak perlu pikir panjang untuk memilih apa lagi.
Namun, karena ini adalah hari Valentine dan lukisan yang dibuat oleh perempuan itu nantinya akan dihadiahkan pada Wisnu, Eleena jadi sedikit kebingungan ingin melukis apa.
__ADS_1
Eleena melirik lembaran foto di dalam tasnya. Senyum kecil muncul di wajah cantik milik Eleena. Gadis itu menemukan ide lukisannya sekarang.
Eleena mulai menggambar sketsa dan mengoleskan warna demi warna ke kanvas putih berukuran sedang. Eleena larut dalam aktivitasnya. Untuk urusan melukis, Eleena bisa dengan mudah menyelesaikannya asalkan tidak ada yang menggangu gadis itu.
Eleena melukis dengan damai sedangkan Wisnu di sini masih kebingungan apa yang bisa ia lakukan untuk memberi gadis yang berada di ruangan sebelah hadiah. Para laki-laki di sini sudah mulai berkreasi untuk membuat hadiah pada sang kekasih.
Wisnu berjalan mondar-mandir mencari ide apa yang bisa dia buat sekarang. Wisnu duduk dipinggir lantai, otak lelaki itu tidak bisa digunakan untuk hal-hal seperti ini. Wisnu tidak bisa. Sampai pada akhirnya salah satu nama muncul di benaknya. Arfin.
Wisnu segera menghubungi Arfin.
"Apaan?" sapa Arfin di seberang sana yang terdengar ketus.
Wisnu berdecak kecil, "Gue butuh bantuan," ucapnya.
"Mau ngapain?"
"Eleena sukanya apa sih?" Pertanyaan dari Wisnu seakan membangkitkan semangat Arfin.
"El, suka sama banyak hal," jawab Arfin.
"Apa aja? Gue butuh nih."
Arfin terdengar berdehem singkat dari sana. "El suka lukisan, bunga mawar merah, kue coklat, ice cream cokelat, gelang mutiara, jepitan rambut, puisi—"
"Lo tau gak caranya buat gelang mutiara?" potong Wisnu segera.
"Tau."
"Kita video call lo kasih tau gue gimana caranya buat gelang mutiara soalnya di sini gila," jelas Wisnu.
"Gue tau kok. Semangat lo."
"Lo tau darimana?" tanya Wisnu.
"Ada teman gue yang kencan juga, cewek dia," jawab Arfin.
"Lo kasih tau gue ya cara buat gelangnya sekalian puisi juga, kan lo anak sastra," pinta Wisnu.
"Aman."
Panggilan berakhir. Panggilan yang mulanya adalah panggilan suara kini berganti menjadi panggilan video. Wajah tampan Arfin terlihat jelas di ponsel milik Wisnu. Mereka mulai berkomunikasi di sana. Arfin mengarahkan Wisnu untuk mengambil apa saja bahan yang dibutuhkan dalam pembuatan gelang mutiara ini.
Wisnu mendengar dengan seksama dan mengikuti setiap perkataan Arfin. Termasuk saat dia menulis puisi indah di kertas.
"Waktu habis!"
Eleena meletakkan kuas itu kembali ke pallet. Gadis itu menatap puas hasil lukisan yang dia buat selama hampir tiga jam. Gadis itu mencuci tangannya, membersihkan setiap cat yang menempel di tangan putih itu.
"Sekarang, bawa hadiah kalian kita menuju ke tempat di seberang sana." Eleena menengok tempat di seberang sana. Ruangan terbuka yang sudah ditaburi oleh kelopak bunga, penerangan dari lampu serta lilin yang menyala di dalam sebuah vas kaca.
Eleena membawa lukisannya pergi bersama keluar dari tempat itu. Mereka berjalan menuju tempat yang dimaksud. Di sana sudah banyak orang berkumpul. Dan dari sekian banyak orang di tempat itu, mata Eleena selalu bisa menemukan Wisnu. Laki-laki itu berdiri jauh darinya tapi Eleena dengan kekuatan dari kacamata menemukan lelaki itu.
Wisnu membalas tatapan Eleena ketika dia sadar bahwa ada sepasang mata yang sedari tadi melihatnya. Wisnu menyunggingkan bibir dan itu membuat Eleena mendengus.
"Kita berada di akhir acara dan seperti yang tertulis di papan yang kalian sudah baca tadi pagi, sekarang ini adalah waktunya untuk berdansa."
Gemuruh tepuk tangan terdengar menandakan bahwa mereka sangat menunggu acara yang ini.
"Kami akan memutar musik dan kalian akan berdansa bersama pasangan masing-masing selama tiga menit, setelah itu baru penyerahan hadiah," jelas instruktur laki-laki.
Alunan musik terdengar. Sama seperti yang lainnya, Wisnu dan Eleena saling mendekati satu sama lain. Mereka berdua berdansa mengikuti alur yang ada. Setelah mengamankan hadiah ciptaan mereka, kedua insan itu tenggelam dalam indahnya dansa.
"Makasih untuk hari ini," ucap Wisnu di sela-sela dansa mereka. Eleena tersenyum malu, jarang sekali dia mendengar Wisnu mengucapkan kata-kata seperti itu.
"Tumben," balas Eleena.
"Nggak papa." Jawaban Wisnu begitu ambigu untuk Eleena tapi perempuan itu tidak ingin ambil pusing. Mereka melanjutkan dansa sampai musik yang terputar berhenti.
Ketika musik berhenti, dansa selesai. Para instruktur mengarahkan para pasangan untuk mengambil hadiah masing-masing dan berdiri di depan pasangan mereka.
"Berikan hadiah yang sudah kalian buat pada pasangan kalian ya!"
Eleena memberikan hadiahnya terlebih dahulu. Sebuah lukisan. Wisnu sedikit terkejut melihat lukisan itu. Lukisan yang menggambarkan salah satu potret mereka saat di studio foto dengan atribut konyol nan menggemaskan. Di lukisan itu, Eleena menempelkan bentuk setengah hati di pipi bagian kanan dan Wisnu membuat dua jarinya membentuk huruf V di atas kepala Eleena. Terlihat menggemaskan, apalagi di lukisan ini Eleena benar-benar detail menggambarkan bagaimana wajah Wisnu dan wajah gadis itu ketika berfoto. Senyuman lucu, dan raut menggemaskan dari masing-masing mereka.
"Cantiknya," puji Wisnu menaikkan pandangannya pada Eleena setelah dia menatap lukisan itu cukup lama.
"Ya dong, kan yang buat Eleena." Eleena membusungkan dadanya bangga atas hasilnya. "Mana punya kamu?" Eleena bertanya.
Wisnu mengeluarkan kotak lumayan kecil yang ia taruh di kantung celana. "Aku nggak tau kamu suka atau nggak, tapi terima aja ya." Wisnu menyodorkan kotak berwarna putih dengan pita biru di atasnya kepada Eleena. Wisnu mendekatkan dirinya pada Eleena. "Baca puisinya kapan-kapan aja ya, gue malu," bisik lelaki itu.
"Kamu nulis puisi?" Wisnu menempelkan jari telunjuknya di bibir Eleena gara gadis itu diam. Kalau sampai instruktur taman ini mendengar akan ada drama berikutnya dan Wisnu sudah malas menuruti semua drama mereka dari pagi sampai malam ini.
__ADS_1
"Maaf," cicit Eleena.
Eleena membuka kotak itu, mata gadis itu berbinar begitu dia melihat ada gelang mutiara kesukaannya.
"Aaaa cantik banget." Eleena menyodorkan gelang itu bersamaan dengan tangannya, meminta Wisnu untuk segera memakaikan gelang indah itu ke pergelangan tangan kecil Eleena.
Gelang dengan mutiara berwarna putih bersih tapi ada manik-manik emas terselip di tengah-tengahnya dan juga tali pengikat yang ada pita berwarna emas di tengahnya. Eleena menyukai hadiah ini.
"Makasih banyak," ucap Eleena menatap gelang yang sudah terpasang di tangannya.
"Sama-sama, Sayang." Wisnu spontan menutup mulutnya setelah kata-kata itu terucap dengan lancar dari mulutnya. Begitu juga Eleena yang spontan menatap Wisnu ketika mendengar kata itu keluar dari bibir kemerahan laki-laki itu.
"Maaf," lanjut Wisnu.
Eleena tersenyum kecil, mengangguk. Dia memahami Wisnu dan bisa memaklumi ketidaksengajaan dari lelaki itu. Tanpa Wisnu tahu karena ketidaksengajaan yang dia lakukan Eleena rasanya ingin runtuh karena tidak bisa menahan tubuhnya saking bergetarnya lutut gadis itu.
Setelah semua selesai, mereka diperbolehkan untuk keluar dari taman itu. Sebagian besar pasangan setelah keluar dari taman itu semakin dekat satu sama lain. Termasuk Eleena dan Wisnu. Walaupun mereka tidak membuka suara selepas keluar dari taman tapi tundukkan dari kepala mereka bisa menjelaskan ada perasaan aneh yang timbul karena kejadian ini.
Mata Wisnu tak sengaja menangkap bando berbentuk telinga kucing itu masih ada di tas Eleena.
"Bentar deh." Wisnu berhenti diikuti oleh Eleena. Wisnu mengeluarkan bando itu dari dalam tas, dia memasangkan bando itu ke kepala Eleena.
"Kamu cantik pakai ini, tadi aku bercanda aja waktu bilang kamu lucu," tutur Wisnu, memberi elusan kecil di surai rambut Eleena. "Aku fotoin ya?" tawar Wisnu.
Laki-laki itu berjalan mundur beberapa langkah, mengeluarkan ponsel dari kantung celana. Wisnu menyalakan kamera, menyuruh gadis di depannya untuk bergaya agar bisa dia abadikan di dalam galeri.
Eleena bergaya seperti biasanya. Seharusnya yang keringat dingin itu Eleena karena dia yang difoto oleh Wisnu. Tapi nyatanya malah Wisnu yang merasa jantungnya seperti diajak berlari maraton padahal hanya memotret saja.
Wisnu menatap sejenak hasil foto yang dia ambil. Senyum kecil muncul di wajah tampan milik lelaki itu. Namun buru-buru dia menormalkan kembali ekspresinya, Eleena tidak boleh tahu kalau Wisnu sudah mulai menyukainya.
"Pulang?" tanya Wisnu. "Kita beli es krim coklat nanti," sambungnya.
Eleena mengangguk semangat seperti dia sedang ditawari es krim oleh ibunya bukannya Wisnu. Wisnu masih menggenggam tangan Eleena membawa gadis itu menuju mobil yang terparkir rapi di sana.
Aktivitas yang dilakukan Eleena dan Wisnu sejak tadi selalu diawasi oleh seseorang. Dan itu adalah salah satu instruktur laki-laki taman ini. Pria itu menekan beberapa digit nomor kemudian menempelkan ponsel itu ke telinga.
"Halo Pak, mereka sudah pulang. Semuanya berjalan dengan sangat baik, mereka lebih romantis dari yang saya kira. Mereka berpacaran sungguhan Pak, bahkan tadi Tuan Wisnu memfoto gadis itu, Pak." Pria itu melaporkan secara rinci pada sosok yang sedang ia telfon ini.
"Terimakasih."
Panggilan itu terputus dan di kamarnya Rama sedang tersenyum. Tidak sia-sia dia menciptakan event Valentine seperti ini untuk anaknya.
...***...
Wisnu menaruh handuk asal setelah dia mengeringkan rambut dengan kain itu. Ini sudah malam tapi Wisnu merasa gerah jadinya lelaki itu mandi sebentar.
Wisnu menatap lagi lukisan dari Eleena yang kini terpajang di dinding kamarnya. Lelaki itu mendekati lukisan itu, setelah satu hari yang melelahkan, Wisnu mendapat hadiah sebuah lukisan indah dari Eleena.
"Terimakasih untuk hari ini," ucapnya.
Begitu juga dengan Eleena. Setelah dia mengganti baju menjadi piyama, gadis itu mengeluarkan buku kecil dari dalam tas yang ia bawa sejak mereka berada di taman samping pulang.
Eleena membuka salah satu lembarannya, dia menuliskan beberapa kata di sana.
Alasan untuk suka sama Wisnu:
- Dia suka kucing
- Baik sama Bunda
- Setia kawan
- Tau bunga kesukaanku
- Tau alergi aku
- Ngasih aku gelang mutiara
- Bilang aku cantik terus foto aku
- Buatin aku puisi
- Lucu
Eleena tidak menyangka bahwa bagian lembaran ini akan terisi. Dia masih ingat akan apa yang dia bicarakan pada Arfin. Dia akan mencari alasan untuk menyukai lelaki itu baru dia mau berpacaran dan sekarang, Eleena tidak menyangka dia sudah punya banyak alasan untuk menyukai Wisnu.
"Terimakasih untuk hari ini," gumam Eleena menatap kertas puisi yang sudah ia baca.
...***...
Haloha semuanya, huhh akhirnya kita sampai di akhir ya. Ini akhir dari kencan pertama Wisnu dan Eleena. Aku gak nyangka cuma kencan begini doang bisa sampai 4 chapter :)
__ADS_1
Kalau aku gabung semua chapter jadi satu bisa lebih dari lima ribu kata, makanya aku pisah-pisah, semoga kalian gak bingung ya.
See you 👋💜