
Gemar sekali kau lukiskan bintang untukku
Sungguh lihai tanganmu menata kembali hati
Yang hampir mati, kan ku letakkan hangat....
Di tengah dekap kita
Jangan biarkan ku pulang, ke rumah yang bukan Engkau....
Alunan musik dan lagu dengan nada indah itu mengalun di kamar Arfin yang tengah duduk di meja belajar, menuliskan kata-kata indah di sebuah kertas.
Lelaki itu begitu serius tenggelam dalam setiap huruf yang ia tulis. Laki-laki dengan wajah pucat dan senyum yang terpampang setiap dia menuliskan kata-kata indah mewakilkan seseorang yang ada di hatinya.
"Indah, kayak El," ucap Arfin pelan meletakkan pulpen di atas meja. Dia melihat, membaca ulang apa yang ia tulis barusan.
Dengan mata teliti, Arfin memastikan bahwa tidak ada cacat di dalam puisi yang ia tulis untuk Eleena. Dia sangat memilih untuk kata-kata ini. Dia harus memastikan bahwa Eleena akan menyukai puisi buatannya ini. Eleena, harus menyukai salah satu dari dirinya.
Sial. Di tengah senyuman Arfin, rasa paling menyakitkan itu datang lagi. Arfin memegangi ujung kursi kuat, menyalurkan rasa sakit itu di sana. Arfin berdiri, menuju kasurnya pelan-pelan. Lelaki itu duduk di ujung kasur, membuka sebuah laci dari nakas.
Arfin mengeluarkan beberapa obat dari dalam, dan dia meminumnya. Berharap bahwa rasa sakit itu akan hilang.
"Kangen sama El," gumam Arfin, menutup matanya perlahan.
Nyatanya, Arfin belum mengetahui bahwa Wisnu sudah mengakhiri hubungannya dengan Wisnu. Dia belum mendapatkan kabar apapun dari teman-temannya. Ingin dia menanyakan kepada Eleena, tapi itu pasti akan menyakiti hati Eleena.
Arfin tahu, Eleena sudah mencintai Wisnu.
...***...
Eleena terus bergerak, memberontak saat orang-orang itu ingin memasukkannya ke dalam sebuah ruangan. Kedua tangan Eleena yang terikat dan mulut yang dilapisi oleh selotip berwarna hitam.
__ADS_1
Salah satu pria itu mendudukkan Eleena kasar di sebuah kursi. Dia memegangi Eleena agar tidak kabur untuk kedua kalinya. Pria itu memberikan isyarat kepada temannya untuk mengambil tali dan mengikat tubuh Eleena.
Eleena terus memberontak sampai dia harus dipegangi oleh dua orang sekaligus agar tidak bergerak dan memperlama proses pengikatan gadis itu.
"Diam lo cewek, tolol!" umpat pria itu memukul kepala Eleena dengan tangannya.
"Lo itu nyusahin. Tinggal duduk diam aja susah banget. Lo pikir dengan kabur dari kita bakal enak? Enggak. Lo makin kepayahan, goblok!" imbuh pria satunya.
Sudah tiga hari Eleena menghilang dari rumah. Dia tidak tahu dia berada di mana saat ini. Keadaan gadis itu begitu kacau. Rambut acak-acakan dan kacamata yang menghilang entah ke mana, menyebabkan gadis itu kesusahan untuk melarikan diri dari keempat pria yang saat ini sedang mengumpatinya karena gadis itu nekat berlari keluar dari gedung ini kemarin.
"Lo di sini aja, jangan ke mana-mana ya. Jangan nyusahin lagi lo!"
Para pria itu keluar dari ruangan itu. Menyisakan Eleena sendiri di dalam. Namun ada satu pria yang menyempatkan diri untuk memberi Eleena kedipan nakal sebelum menutup pintunya dan membiarkan Eleena kegelapan di tempat itu.
Eleena mencoba berteriak, memberontak untuk bisa lepas dari ikatan ini. Tali yang mengelilingi Eleena begitu kuat hingga membuat Eleena menangis kala mencoba untuk lepas darinya.
Eleena hanya bisa berteriak dalam diam, ingin mengeluarkan suara tapi hanya terdengar erangan saja. Selotip hitam itu tidak bisa Eleena lepas. Gadis itu begitu tersiksa.
Eleena yang memberontak untuk masuk ke dalam mobil terpaksa dipukul oleh mereka di bagian belakang kepala sampai gadis itu pingsan dan tidak lagi menimbulkan suara. Eleena tidak tahu kenapa orang-orang itu membawa Eleena ke tempat ini.
Mereka itu penculik, penculik jahat yang sudah mengurung Eleena di sini selama hampir tiga hari. Jika saja aksi melarikan diri Eleena kemarin berjalan dengan lancar, mungkin sekarang Eleena sudah berada dalam dekapan bundanya.
Eleena kembali meraung, meminta untuk dikeluarkan dari ruangan gelap yang hanya berisi cahaya kecil lewat lubang di sebelah kiri. Eleena menggoyangkan kursinya, menggerakkan tubuhnya berharap bahwa ikatan menyakitkan ini akan lepas namun nyatanya tidak. Ikatan itu malah semakin menyakiti Eleena.
Gadis malang dengan pelipis yang terluka dan tidak memakai alas kaki serta pakaian yang sudah kotor. Eleena terlihat sangat menyedihkan berada di tempat ini. Melihat penampilan Eleena sekarang, tidak akan ada orang yang menyangka bahwa dia adalah Putri Tunggal Dirgantara.
Selang satu jam sejak pintu itu tertutup, kini pintu kayu berwarna coklat itu mulai terbuka. Menampilkan empat pria yang datang menghampiri Eleena dan menghidupkan lampu di ruangan itu.
"Nggak ngamuk lagi lo?" tanya seorang pria, menyilangkan kedua tangannya di dada.
"Nih. Makan dulu, kita nggak mau lo mati." Pria itu menyodorkan sepiring nasi berisi lauk seadanya ke Eleena.
__ADS_1
"Lo makan, biar kita bisa gajian." Pria satunya mendekati Eleena, membuka selotip dari mulut Eleena. Akhirnya, Eleena merasakan sedikit kelegaan saat selotip itu lepas dari mulutnya.
Pria yang berada di sebelah kiri menarik sebuah meja di depan Eleena. Meletakkan piring berisi makanan di atasnya. "Lo makan ya."
Setelah itu mereka kembali keluar dari ruangan, tanpa mematikan lampu dan Tampa membuka ikatan yang melingkar di tubuh Eleena.
Bukannya memakan makanan yang telah disajikan, Eleena lebih memilih untuk menumpahkan air matanya sejenak. Bukan karena makanannya yang tak layak, tapi untuk memakan ini semua Elemen butuh banyak perjuangan.
Gadis itu harus menunduk untuk memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya tanpa menggunakan tangan. Dia langsung memasukkan makanan itu dan mengunyahnya sambil menangis tanpa suara.
"Bunda...." Eleena menangis tak tahan.
Seumur hidupnya Eleena tidak pernah diperlakukan seburuk ini oleh orang lain. Dia selalu mendapat perlakuan istimewa bukannya malah diperlakukan layaknya hewan oleh manusia.
"El, kangen Bunda, kangen Ayah, El mau pulang," lirih Eleena.
"El mau pulang...."
"Aku mau pulang!" Eleena kembali berteriak dan menangis histeris di dalam.
"Wisnu, aku mau kamu di sini. Aku nggak bisa sendiri, Wisnu aku mau kamu. Tolong selamatkan aku, Wis. Aku udah nggak tahan," batin Eleena menutup matanya menumpahkan seluruh air mata.
Di luar ruangan tempat Eleena berada, salah satu dari empat pria itu menelepon seseorang. Orang yang sudah memerintahkan mereka untuk menculik Eleena dan juga orang yang akan membayar mereka dengan uang yang besar karena telah berhasil menculik anak Dirgantara.
"Bu, jadi dia gimana Bu? Mau disikat aja?" tanya pria itu.
"Jangan pernah melakukan apapun tanpa izin pada saya terlebih dahulu. Saya tidak ingin terjadi apapun padanya, saya hanya ingin membuatnya jera agar dia sadar bahwa bermain-main dengan saya itu kesalahan besar."
Panggilan langsung berakhir, gadis yang menghadap ke jendela luar, meletakkan ponsel di atas nakas. Dia tersenyum miring, tidak menyangka bahwa rencananya berhasil juga.
"Setelah ini, lo bakal sadar El, untuk nggak terlalu deketin Arfin dan buat tu cowok nolak gue," ucapnya pelan.
__ADS_1