
"El, tunggu!" Wisnu berlari menghampiri Eleena yang berdiri lumayan jauh di depannya.
Gadis berambut setengah kepang yang awalnya berjalan menuju mobil merah yang terparkir di sudut, terpaksa membalikkan badan begitu teriakan Wisnu terdengar.
Laki-laki itu berdiri di depan Eleena. Tidak langsung berucap karena dia harus menormalkan napas terlebih dulu setelah berlari lumayan jauh hanya untuk menghampiri gadis yang saat ini statusnya masih menjadi pacarnya.
"Napa lo?" tanya Eleena.
"El—"
Ucapan Wisnu terpotong karena nyatanya lelaki itu masih sesak akibat berlari jauh. Eleena menyuruh Wisnu untuk menormalkan napas dulu, dan memberikan Wisnu air mineral dari botol minumnya.
Wisnu meneguk air dari botol itu sampai habis. Dan Eleena sebagai pemiliknya hanya bisa terdiam melihat air yang seharusnya ia minum habis.
"Gila lo!" Eleena mengambil kasar botol minumnya dari tangan Wisnu. Gadis itu melihat lekat, botol yang sudah tidak ada air tersisa di dalamnya.
"Lo kalau haus beli dong, jangan ngabisin punya orang!" sebal Eleena, memasukkan botol itu ke dalam Totebag.
"Sorry El, sesak gue." Wisnu cengengesan, menunjukkan bahwa dia memang ada kendala pada napasnya.
"Nyebelin banget!" Eleena berbalik badan. Rasa kesal pada Wisnu, membuat Eleena lupa menanyakan apa tujuan lelaki itu menghampiri dirinya.
"El tunggu!" Wisnu menarik tangan Eleena, membuat tubuh gadis itu berbalik dan menabrak tubuhnya.
Wisnu menahan tubuh gadis itu, dan saat ini jarak terkikis di antara mereka. Seperti berpelukan tapi menciptakan jarak, Wisnu bisa menghitung berapa jengkal jarak yang tercipta antara wajahnya dengan wajah Eleena.
Iris hazel lelaki itu terlihat jelas. Eleena tidak bisa berpaling untuk menghindarinya, jangankan berpaling Eleena bahkan tidak tahu lagi bagaimana cara untuk bergerak. Wisnu menahan tubuhnya di atas tubuh lelaki itu. Eleena terkepit, dan tidak bisa bergerak ke mana-mana.
"Cantik banget goblok!" Jika Wisnu bisa berucap seperti itu, mungkin sekarang detak jantung yang menggema di dadanya tidak ada lagi. Jika Wisnu bisa berteriak bahwa melihat Eleena dari jarak sedekat ini membuatnya gila. Namun nyatanya Wisnu hanya bisa berucap seperti itu di dalam hati, tanpa mengutarakan langsung pada gadis di depannya.
Mereka berada dalam posisi seperti itu dan terjebak dalam atmosfer itu hampir lima menit lamanya. Jika saja suara dari mahasiswa lain yang menggoda mereka tidak terdengar, mungkin Wisnu belum melepaskan tangannya dari tubuh Eleena.
__ADS_1
"Sorry, El," ucap Wisnu, memalingkan pandangannya karena malu atas apa yang terjadi barusan.
"Nggak papa," balas Eleena, yang sama-sama tidak menatap Wisnu.
"Mau ngapain?" tanya Eleena.
Ah iya, Wisnu baru ingat apa tujuannya sekarang. Menatap Eleena dalam jarak sedekat tadi, membuat Wisnu lupa apa alasannya.
Wisnu menatap Eleena kembali, setelah berkutat dan memilih harus menatap Eleena atau tidak saat membicarakan hal ini, akhirnya Wisnu memilih untuk menatap gadis itu, meskipun karena tatapannya sendiri detak Wisnu tak beraturan dan seakan ingin pingsan karena tak bisa mengendalikan perasaan.
"El, sebelumnya sorry banget kalau lo tersinggung sama ucapan gue kali ini. Tapi gue mau jujur soal kenapa gue minta lo untuk nyembunyiin identitas lo dari bokap gue," ujar Wisnu.
"Bukannya itu karena keluarga lo musuhan sama keluarganya Bunda ya? Kan lo udah pernah ngasih tau gue waktu di mobil," balas Eleena.
Wisnu menghela napas, siap atau tidaknya kebenaran ini harus Eleena ketahui. Jadi, kalau seandainya gadis itu menerima amarah Rama karena pria itu tahu kebenarannya, Eleena tidak akan merasa sakit hati.
"Itu bukan alasan utamanya El."
"El, gue rasa, papa benci sama bokap lo karena ada sesuatu di masa lalu. Dan ini pasti masih ada kaitannya sama bunda lo," lanjut Wisnu.
Eleena terdiam, mencerna semuanya. Eleena tidak marah dengan pengakuan Wisnu. Tapi yang membuat gadis itu terkejut adalah Rama sangat membenci Arjuna sampai-sampai tidak membiarkan keturunannya untuk bisa bersama dengan keturunan Arjuna.
Eleena kira hanya keluarga Aksanta dan Agustama saja yang memiliki rasa benci, tapi antara Rama dan ayahnya juga memiliki rasa yang sama. Sekarang Eleena tahu kenapa Arjuna sangat tidak menyukai Wisnu. Wisnu itu anak dari Rama, dan Arjuna membenci Rama.
Mungkin, kebencian Arjuna ini ada kaitannya dengan foto yang Eleena temui di tumpukan baju Sinta. Foto itu pasti awal dari semua hal yang harusnya Eleena ketahui sejak lama. Eleena harus mengetahui tentang foto itu terlebih dahulu jika dia ingin mengetahui hal yang lebih dalam.
"El." Wisnu menjetikkan jarinya di depan Eleena, membawa gadis itu kembali dari lamunannya.
"Lo kenapa?" tanya Wisnu.
Eleena menggeleng kuat, "Nggak papa." Eleena melirik ponsel yang ia genggam, dia bingung haruskah Wisnu mengetahui soal foto yang ia temukan atau tidak. Eleena masih ragu apakah foto itu benar-benar Sinta dan Rama, meskipun kemungkinan besar itu memang kedua manusia yang sekarang menjadi orang tua mereka, tapi tetap saja Eleena tidak boleh gegabah mengungkapkan hal itu.
__ADS_1
"El, lo mau bantuin gue kan buat tau ini semua? Ini janggal banget, El. Gue nggak bisa hidup dalam kejanggalan kayak gini," ucap Wisnu.
Eleena tidak langsung mengangguk, tapi melihat tatapan Wisnu yang menyimpan begitu banyak harapan bahwa jawaban Eleena adalah sebuah anggukan tidak tega membuat Eleena menggeleng.
"Yes." Wisnu mengepalkan tangannya di udara, seakan lelaki itu mendapatkan hal yang istimewa padahal hanya sebuah anggukan saja.
"Kalau emang beneran ada sesuatu antara bokap gue sama nyokap lo, kalau mereka ketemu pasti bakal beda." Eleena menautkan alisnya bingung atas ucapan Wisnu.
"El, besok papa bakal ada meeting di salah satu kafe yang ada di mall. Kalau lo bisa bawa nyokap lo ke sana, itu bagus. Kita bisa lihat secara langsung apa yang terjadi antara mereka berdua. Gue mau menghilangkan rasa penasaran gue, gue nggak bisa hidup dalam rasa penasaran kayak gini," sambung Wisnu.
Untuk ini Eleena setuju. Dia juga dilanda kebingungan dan penasaran. Eleena harus menuntaskan rasa penasaran ini, dan dia akan mengikuti rencana Wisnu.
Tanpa mereka sadari, kebersamaan mereka membahas tentang Rama dan Sinta dilihat oleh Meethila. Wanita itu berdiri lumayan jauh dari mereka, tentu saja dia tidak dapat mendengar apa isi pembicaraan Wisnu dan Eleena. Tapi wanita itu tersenyum melihat interaksi antara anaknya dan kekasihnya itu.
Meethila menghela napas. Kenyataan bahwa dia dan Rama tidak bisa berinteraksi seperti itu, membuka luka Meethila. Pernikahan yang sudah terjalin selama 20 tahun, tapi tidak menghasilkan apa-apa. Tidak menghasilkan cinta ataupun anak.
Kadang Meethila berpikir, takdirnya yang begitu buruk sehingga dia terikat pernikahan dengan Rama dan harus menerima fakta bahwa Rama tidak mencintainya, atau sebuah anugerah karena pernikahannya dengan Rama membawa Meethila bisa merasakan menjadi seorang ibu lewat kehadiran Wisnu.
Mungkin, kalau Meethila menikah dengan orang lain dan bukannya Rama, saat ini Meethila sudah menjadi janda yang menangis di dalam kamar meratapi hidupnya karena kenyataan dia tidak bisa memiliki anak tidak diterima oleh lelaki manapun.
Namun nyatanya keluarga Aksanta masih mau menerima Meethila dengan kondisinya yang seperti itu. Kadang Meethila merasa curiga kenapa keluarga Aksanta begitu tidak ingin melepas Meethila padahal mereka terobsesi untuk mempunyai seorang keturunan.
"Ayah udah bilang, Ayah nggak suka sama dia El." Arjuna datang secara tiba-tiba, melepas tangan Eleena dari genggaman Wisnu.
Arjuna dengan wajah datarnya menarik tangan Eleena, menjauh dari Wisnu secara paksa.
"Ayah, jangan marah. El bisa jelasin."
Meethila terdiam. 'Ayah', Eleena mengucapkan Arjuna sebagai ayahnya. Meethila tahu betul siapa Arjuna itu. Pria dengan nama Dirgantara di belakangnya, dan jika Eleena menyebut pria itu sebagai ayah, sudah dipastikan dia adalah anak dari Dirgantara.
"Eleena anak Tuan Arjuna Dirgantara?" Meethila menengok ke arah Arjuna yang memasukkan Eleena ke dalam mobilnya. "Kalau Rama tahu, pasti dia marah," batin Meethila.
__ADS_1
Meethila tidak tahu harus bagaimana menyampaikan berita ini pada Rama. Kebenaran soal Eleena sudah diketahui Meethila. Meethila menjadi orang kedua anggota Aksanta yang mengetahui identitas Eleena.