Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Perlakuan romantis Putra Aksanta


__ADS_3

Matahari mulai menampakkan diri setelah tugasnya digantikan selama beberapa jam oleh bulan untuk menerangi gelapnya malam. Matahari yang terlihat, membuat seorang laki-laki dari sebuah rumah besar mengerjapkan mata untuk menyemangati diri demi menjalani hari ini.


Wisnu dengan wajah bantal khas bangun tidur dan rambut yang sangat berantakan. Dia duduk di pinggir kasur, memakai sendal yang sudah tersedia disisi ranjangnya. Dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka putra tunggal Aksanta ini menapakan kaki di kamar mandi, ingin membersihkan diri dan memberikan kesegaran agar semangat menjalani drama yang mungkin sudah disiapkan untuk hari ini.


Suara air terdengar dari luar kamar mandi Wisnu. Lelaki itu mandi dalam diam, tidak ada suara lain selain air dari shower. Kamar yang bercat coklat muda dengan interior seperti terbang ke puluhan tahun lalu dapat dirasakan kalau berkunjung ke kamar satu ini. Ada beberapa barang antik dan tiga lukisan kuno yang semakin menambah hawa masa lalu dari kamar ini.


Kamar Wisnu juga tidak begitu penuh, hanya ada sofa, televisi, lemari, meja belajar dan beberapa barang yang memang dia butuhkan. Awalnya kamar Wisnu begitu ramai tapi seiring umur Wisnu bertambah dia meminta Meethila untuk membuang semua mainan dan merapikan kamarnya agar tidak terlalu penuh.


Sama seperti laki-laki pada umumnya, Wisnu juga tidak membutuhkan waktu lama untuk mandi di pagi hari. Lelaki itu keluar dengan handuk yang menutupi bagian bawah tubuh. Tangan putih berurat Wisnu membuka lemari, mengeluarkan kaos dan celana panjang untuk dia pakai di kampus nanti.


Wisnu memilih pakaian dalam sekali tatap. Apa yang pertama kali dia lihat itulah yang akan dia pakai hari ini. Wisnu bukan tipe orang yang sibuk dengan style, karena dia percaya selama seseorang berpenampilan rapih, apapun outfit yang dia pakai akan terlihat keren.


Dan itu yang dilakukan oleh Putra Aksanta ini, dia memakai kemeja berwarna biru dongker dengan motif di tengahnya. Celana panjang hitam dan jam tangan hitam dari merek terkenal yang melingkar di tangan sebelah kiri. Wisnu menyisir rambut dengan melihat pantulan diri dari cermin. Apapun yang dikenakan olehnya akan selalu keren, apalagi pakaian yang dia miliki berharga sangat mahal, dari merek ternama dan ada yang beberapa dirancang khusus untuk ia pakai.


Wisnu menyemprotkan parfum ke tubuh. Mencabut ponsel dari kabel charger kemudian memasukkan benda pipih itu ke dalam kantung celana. Wisnu mengambil ransel yang dia punya dari sofa. Ransel yang entah apa isinya sehingga terlihat sangat rata. Kan sudah dibilang, Wisnu berkuliah karena suruhan Rama dan demi mendapatkan gelar di belakang nama. Rama ingin orang yang memimpin perusahaan Aksanta nantinya adalah orang yang berpendidikan, maka dari itu Rama memaksa Wisnu untuk mengejar pendidikan selama lelaki itu masih muda, bahkan kalau bisa setelah Wisnu tamat S1 dia langsung melanjutkan study S2. Rama ingin yang terbaik apapun yang terjadi.


Wisnu membuka pintu kamar, keluar dari sana menuju meja makan untuk sarapan. Untuk bisa sampai ke meja makan, lelaki itu harus melewati ruang kerja Rama yang berada di rumah besar ini. Ruang kerja Rama adalah salah satu tempat di rumah ini yang tidak Wisnu suka. Namun kali ini, ketika mata Wisnu mendapati ada celah kecil yang terbuka dari ruangan itu ada rasa penasaran yang timbul di dalam benaknya. Apalagi iris hazel miliknya menemukan Rama sedang berbicara dengan seseorang.


"Apa Papa ngomong sama Tuan Arjuna Dirgantara ya?" batin Wisnu. Lelaki itu dengan gerakan santai dan penuh kehati-hatian mendekati celah kecil dari ruangan itu.


Dengan celah yang ada Wisnu berusaha mengintip dan menguping apa pembicaraan Rama. Dia terlalu takut kalau Rama ternyata mengetahui identitas Eleena yang sebenarnya, dia terlalu takut untuk dijodohkan lagi oleh Rama.


"Intinya saya tidak mau tahu, bagaimanapun caranya kalian harus memantau Wisnu Putra Aksanta," ujar Rama tegas. "Saya tidak percaya bahwa perempuan yang dia bawa ke rumah saya kemarin adalah kekasihnya. Perempuan itu anak baik-baik, mana mungkin perempuan baik-baik seperti dia, mau berpacaran dengan anak berandalan itu."


Mata Wisnu membelalak mendengar setiap kalimat yang keluar dari bibir Rama. Wisnu tahu kepada siapa Rama mengatakan hal itu. Anak buahnya, orang-orang yang memukuli Wisnu, orang-orang yang mengejar pencuri yang mencuri ponsel Rama. Sekarang orang-orang itu akan memantau pergerakan Wisnu lagi.


Wisnu menghela napas berat, lelaki itu mengeluarkan ponsel mengetikkan beberapa kata untuk gadis yang menjadi pacar pura-puranya sekarang.


Anda:


El, tolong lo bersikap layaknya pacar gue, bokap gue mantau pergerakan kita


^^^Eleena:^^^


^^^Serius? Bokap lo gila ya?!^^^


Anda:


Lebih dari gila, dia gak waras, setres lagi


Udah, intinya lo nurut gue aja, bersikap layaknya pacar ya, sampai gue dapat info dia udah gak mantau pergerakan kita lagi


^^^Eleena:^^^


^^^Oke 😁👌^^^

__ADS_1


Ada sebuah senyum yang terlihat dari wajah tampan miliknya ketika membaca pesan terakhir dari Eleena.


"Lucu," batinnya.


Setelah pesan yang dia kirim pada Eleena tadi pagi, di sini mereka sekarang. Di taman kampus sedang berdiam diri karena bingung ingin membuka obrolan seperti apa. Wisnu yang disibukkan dengan ponsel yang berada di tangan dan earphone di telinga. Sedangkan Eleena sibuk bermain ponsel juga tapi membaca sesuatu di sana.


Mereka duduk berjarak, dua buah cup kopi yang berada di tengah mereka yang menjadi pembatas.


Wisnu mematikan ponselnya ketika dia sudah selesai dengan aktivitas yang memerlukan dia melihat dengan sangat serius dari apa yang ditampilkan di dalam ponselnya itu. Lelaki itu juga melepas earphone, kembali meletakkan earphone itu ke tempat semula.


Lelaki berumur 20 tahun ini menghela napas pelan, dia memejamkan mata sejenak. Dia melancarkan aksinya sekarang.


"Sayang kamu mau makan apa?" Eleena sontak mengalihkan perhatiannya dari ponsel ke Wisnu. Bahkan gadis itu mengerutkan keningnya bingung atas apa yang keluar dari bibir kemerahan Wisnu.


"Apa?"


"My dad bodyguard, don't forget it," bisik Wisnu pelan. Eleena memaki diri sendiri karena lupa kalau anak buah Rama ada di sini, mengawasi pergerakan mereka.


"Aku? Aku gak tau mau makan apa?"


"Kita pergi ke kafe langganan kamu mau?" tanya Wisnu. Eleena mengangguk.


Wisnu berdiri disusul Eleena. Tangan Wisnu meraih tangan Eleena untuk ia genggam, mereka berjalan keluar dari taman sembari bergandengan tangan.


Wisnu membawa Eleena untuk masuk ke dalam mobilnya. Layaknya kekasih normal pada umumnya, Wisnu bahkan membukakan pintu mobil tempat Eleena akan duduk. Sepertinya Eleena tidak menyukai ini, tapi ya mau bagaimana lagi, mereka dipantau.


"Kafe langganan lo apa?" tanya Wisnu membuka obrolan mereka di tengah perjalanan.


"A story cafe, lo tau gak?"


"Tau. Arfin pernah ngajak ke tempat itu," balas Wisnu. "Gue yang ngajak Arfin duluan."


Wisnu tahu kafe itu, karena dia pernah membututi Arfin dan Eleena beberapa bulan lalu saat dia meminta Arfin untuk melakukan hal buruk pada gadis di sebelahnya ini.


"Makanan favorit lo apa, El?"


"Spicy chicken sama udang sambal. Kenapa?"


"Gak papa, gue harus tau itu. Soalnya kadang bokap gue iseng nanya-nanya tentang lo, kalau gue gak tau kan, bisa bahaya," jelas Wisnu.


Eleena manggut-manggut mendengarnya. Mereka kehabisan kata-kata untuk diucapkan jadi mereka melakukan setengah perjalanan dalam diam.


Mobil silver Wisnu terparkir rapi di parkiran yang sudah disediakan di kafe ini. Dia buru-buru membukakan pintu Eleena sebelum gadis itu turun dari sana. Wisnu melihat kalau mobil berlogo AK milik para anak buahnya Rama mengikuti perjalanan mereka berdua.


"You my girlfriend, don't forget it," peringat Wisnu lagi dan mendapat anggukan kecil dari Eleena.

__ADS_1


Mereka berdua masuk dengan tangan yang tergandeng. Wisnu memilih meja di sudut dekat dengan jendela, dia mengajak Eleena duduk di sana. Seperti dia membukakan pintu mobil untuk Eleena, lelaki itu juga memundurkan kursi sebelum gadis itu duduk di sana.


"Thanks," ucap Eleena.


"My pleasure. Mau langsung pesan makanan?" tanya Wisnu pada Eleena.


Eleena menggeleng, "Jangan dulu deh. Nanti aja ya."


Wisnu menuruti keinginan gadis yang duduk di hadapannya ini. Bagaimanapun dia adalah pacar Wisnu sekarang, dan sesuai dengan video yang tadi dia tonton, menuruti keinginan pacar adalah salah satu cara untuk menjadi pacar yang baik.


"El, lo sejak kapan pakai kacamata?" Wisnu kembali membuka obrolan mereka dengan pertanyaan.


"Dari dulu sebenarnya, pas gue SMA gue udah rabun tapi malas pakai aja. Baru-baru ini gue pakai karena Bunda marah," jawab Eleena.


"Bunda lo terlalu protektif sama lo."


"Kalau Bunda gak protektif, yang protektif itu Ayah. Kalau lo dekat sama Ayah gue, lo pasti bakal kagum sama dia." Mata Eleena berbinar ketika menceritakan bagian tentang ayahnya.


"Tapi gue— aku rasa Ayah kamu nggak suka sama aku." Eleena tersadar, mereka sedang diawasi. Wisnu sudah memulai dengan pembicaraan aku-kamu kalau begitu dia harus mengikut.


"Kamu yang nggak kenal sama Ayah."


"Oh ya, El, kalau boleh jujur aku suka sama gaya rambut kamu yang dikepang." Wisnu memuji kepangan Eleena hari ini. "Lebih bagus daripada digerai," lanjutnya.


"Masa sih?" Eleena merasa ada sesuatu yang tak bisa diartikan bergejolak di dalam perutnya, bahkan dia merasa kalau ada panas yang merambati wajah.


"Iya, aku serius. Your so pretty."


Telak. Eleena menundukkan kepala, tersenyum diam-diam. Bahkan tanpa sadar gadis itu memegangi kepangannya yang menjadi topik mereka kali ini.


"El, kenapa?" Kepala Eleena terangkat, dia menggeleng kaku. "Kamu sakit? Pipinya kok merah?" Tangan Wisnu bergerak mengelus pipi Eleena yang terdapat rona merah. Eleena terdiam, jantungnya berpesta di dalam sana. Apalagi ketika tangan Wisnu beralih menyentuh keningnya untuk memeriksa apakah gadis itu sakit atau tidak, Eleena seakan membeku tak berdaya.


"Kamu bisa sakit nggak?"


"Ya biasalah. Kan manusia." Eleena menjawab tegas mendengar pertanyaan Wisnu yang tidak masuk akal. "Emang kamu pikir aku ironman yang nggak bisa sakit?"


"Canda elah. Kan itu basa-basi," lanjut Wisnu.


"Basa-basinya, Basi!"


Wisnu sedikit tertegun, kalau anak buah Rama melihat Eleena seperti ini, mereka pasti akan melaporkan yang tidak-tidak ke ayahnya nanti.


"Santai El," peringat Wisnu. Tangan Wisnu bergerak, mengelus tangan Eleena penuh kelembutan.


"Jangan marah-marah," sambungnya.

__ADS_1


Eleena kembali menundukkan kepala, dia tidak bisa menunjukkan wajahnya yang memerah karena sikap Wisnu barusan. Elusan tangan lelaki itu seakan membuat dirinya terbang. Eleena, merasa Wisnu gila.


"Cantik banget sih El, jadi makin suka," batin Wisnu yang tanpa dia ketahui di wajahnya juga sudah muncul rona merah sama seperti Eleena.


__ADS_2