
Seorang pria paruh baya di sebuah rumah bak istana sedang membaca buku dengan kacamata berada di wajah sembari duduk di sofa salah satu kamar. Rama berdiam diri menghabiskan waktu seorang diri di kamar tanpa ditemani siapapun termasuk Meethila. Pria itu meminta istrinya untuk tidak berada di kamar dan mengganggunya yang lelah karena disibukkan oleh berkas-berkas dan dokumen seharian. Belum lagi ada beberapa masalah di perusahaan atau masalah pribadinya.
Setiap manusia berhak punya waktu istirahat untuk merehatkan diri dari dunia yang melelahkan ini, termasuk Rama juga. Pria berkaos putih dengan celana pendek cream tenggelam dalam aktivitasnya membaca buku.
Rama memang suka membaca buku sejak dulu, apalagi kalau ada waktu senggang, Rama akan mengisinya dengan membaca buku. Namun berbeda dengan anaknya. Wisnu sangat anti dengan buku dan membaca, bahkan untuk membaca aturan saja dia malas walaupun dia bisa, konon katanya membaca buku, itu salah satu hal mustahil untuk seorang Wisnu Putra Aksanta.
Terkadang Rama sempat berpikir kenapa Wisnu bisa semalas itu untuk belajar dan membaca buku. Padahal Rama saja rajin orangnya, walau tak terlalu pintar tapi Rama rajin.
Rama menutup bukunya setelah jarum jam menunjukkan pukul 8. Rama memijit pelipisnya sambil menutup mata, mengistirahatkan matanya yang hampir dua jam terpaku pada buku.
Rama membuka matanya perlahan. Iris hazel miliknya langsung bisa melihat lukisan mawar merah dan putih yang tergantung indah di sudut kamar. Rama bangkit, tanpa mengalihkan pandangan dari lukisan itu, Rama mendekati tempat lukisan itu digantung. Tangan mulai keriput milik Rama meraba lukisan indah karya Sinta.
Lukisan itu pemberian Sinta saat ulang tahun Rama yang ke-20. Hadiah sederhana dan pesta sederhana dari Sinta mampu menjadi salah satu perayaan ulang tahun paling indah di hidup Rama. Pada hari itu Sinta berjuang keras untuk menyiapkan kejutan bagi Rama. Walau hanya acara kecil di taman, dengan tikar sebagai alas dan kue kecil buatannya yang menjadi pelengkap tapi itu sudah lebih dari cukup untuk membuat Rama bahagia. Di hari itu Rama berpikir bahwa hubungan dia dan Sinta akan berakhir bahagia dan menuju pada jenjang pernikahan dan hidup bahagia dengan beberapa anak.
Banyak perencanaan yang sudah Rama rancang bersama Sinta. Seperti, setelah menikah nanti mereka akan tinggal di rumah sendiri tanpa kehadiran orang tua. Menjalankan pernikahan dengan damai dan berbincang kala pulang dari bekerja. Bermain dan bercanda bersama, dan sedikit mengganggu buah hati mereka. Namun, angan-angan akan tetap jadi angan-angan kalau takdir tidak mengizinkan hal tersebut untuk jadi kenyataan.
Rama pernah sebahagia itu sampai dia sehancur ini sekarang. Menjalankan hidup tanpa Sinta, hanya mempunyai satu anak dan itupun anak yang pembangkang. Hidup Rama penuh dengan kesepian sejak dia mengakhiri hubungan dengan Sinta. Sebenarnya Rama tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan Sinta saat itu, tapi melihat bagaimana Sinta diam saja membiarkan lelaki itu mencium pipinya membuat amarah Rama tidak bisa dikendalikan. Suami mana yang terima istrinya bermain mesra di belakangnya. Rama pikir setelah dirinya bercerai dari Sinta, hidup wanita itu akan hancur berantakan namun nyatanya hidup Sinta baik-baik saja. Dia menikah dengan Arjuna dan memiliki seorang anak.
Ah, seharusnya Rama tidak mengingat itu semua. Seharusnya hal di masa lalu tidak perlu diingat lagi. Rama membuang arah pandangnya dari lukisan itu tapi hal tersebut malah membawa Rama melihat foto Sinta dengan bingkai kecil. Foto Sinta yang Rama ambil saat pernikahan mereka. Sinta yang memakai gaun pernikahan berwarna putih, tidak terlalu mewah karena mereka menikah diam-diam di pengadilan agama tanpa sepengetahuan orang tua.
Kalau Rama meminta izin pada orang tuanya sudah pasti akan mendapatkan penolakan dan kemarahan besar, begitu juga dengan Sinta yang ikut kabur bersama Rama untuk hidup berdua di sebuah pedesaan kecil. Mengingat bagaimana kedua keluarga mereka bermusuhan seperti orang gila, membuat hubungan Rama dan Sinta mendapatkan pertentangan di mana-mana.
__ADS_1
Maka dari itu nikah lari adalah opsi Rama dan Sinta untuk bisa bersama dalam waktu yang lama. Namun sayang seribu sayang, semua usaha mereka berakhir sia-sia. Saat orang tua Rama dan orang tua Sinta mengetahui keberadaan kedua anak mereka. Dengan cepat kedua orang tua Rama dan Sinta menyusul kediaman pengantin baru yang baru saja menikah selama tiga bulan.
Bisa Rama bilang, kedatangan orang tua mereka lah awal dari kehancuran hubungan Rama dan Sinta. Namun di hari itu juga Rama mengetahui kebusukan Sinta selama ini. Rama pikir, Sinta tidak membencinya seperti orang tuanya membenci Rama. Namun Rama salah, Sinta membuat pria itu jatuh cinta hanya untuk balas dendam dan menghancurkan hidup Rama.
"Mas." Atensi Rama teralihkan kala suara ketukan pintu itu terdengar di telinga.
"Masuk."
Pintu kamar terbuka menampilkan seorang wanita mengenakan piyama berwarna hijau. Meethila kembali menutup pintu mereka tapi tidak rapat, dia lebih memilih untuk menghampiri Rama.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Meethila begitu dia melihat bahwa mata Rama mulai memerah.
Rama tidak menjawab dia hanya terus menatap foto Sinta di atas nakas. Meethila mengikuti arah pandang Rama, dan untuk kesekian kali dia merasakan sakit yang mendalam. Foto wanita itu lagi, foto wanita yang membuat Rama lebih banyak menghabiskan waktu memandanginya daripada menatap Meethila yang jelas-jelas berada di hadapannya. Untuk kesekian kali, karena foto yang sama Meethila merasa bahwa dirinya kalah dari permainan yang dia bahkan tidak tahu bagaimana cara dia memenangkannya.
"Udah, Mas jangan lihatin dia lagi, kan ada aku." Meethila mencoba mengalihkan atensi Rama agar fokus ke dirinya dan melupakan Sinta. Foto Sinta sudah ada bertahun-tahun lamanya di kamar yang ia tempati bersama Rama tapi Meethila masih tetap merasakan sakit setiap kali matanya menatap foto itu meskipun hanya sekilas.
"Aku kangen dia, Meet." Tidak bisa Meethila pungkiri, Rama sering menyebutkan tentang Sinta pada dirinya.
"Mas lupain dia bisa, aku ada buat kamu," balas Meethila.
"Nggak bisa Meet, kalau aku bisa foto itu nggak akan ada di sini sekarang."
__ADS_1
"Mas, udah ya." Meethila mengelus lengan Rama.
"Aku mau lupain dia dengan nikahi kamu, Meet. Tapi aku sadar aku nyakitin diri aku sendiri dan nyakitin kamu juga." Meethila bisa mengatakan kalau baru kali ini ucapan Rama benar. Dia menyakiti Meethila.
"Mas, kita tidur aja ya," ajak Meethila.
Rama menurut dia ikut bersama Meethila menuju kasurnya. Tapi sebelum Rama merebahkan diri di kasur ada sebuah pesan masuk ke ponselnya. Rama mengambil ponselnya memeriksa pesan apa yang terkirim padanya.
Mood Rama langsung rusak saat tahu bahwa pesan itu datang dari Arjuna. Pria yang sangat Rama benci mengirimi dia pesan, walaupun pesan itu hanya pesan singkat mengenai urusan perusahaan tapi tetap saja Rama tidak menyukainya.
"Sialan." Rama membanting kotak di atas nakas yang berada di dekatnya.
Suara benda jatuh menghentikan pergerakan Wisnu sejenak. Lelaki yang berjalan melewati kamar Rama, menengok pintu kamar Rama terbuka sedikit. Hal yang sangat jarang sekali terjadi di rumah ini.
Wisnu tidak menghiraukan apa yang terjadi di dalam kamar Rama. Sampai ada sebuah kalimat yang mengharuskan lelaki itu untuk di sini lebih lama.
"Arjuna Dirgantara, aku benci sama dia." Wisnu sedikit tersentak mendengar Rama mengucapkan kata itu.
"Aku nggak akan pernah sudi kalau keturunannya bisa bersanding sama keturunanku, si pengkhianat."
Wisnu mundur beberapa langkah menjauhi kamar Rama. Kalimat yang ia dengar dari Rama barusan seakan menghancurkan semua perencanaan yang sudah Wisnu rancang. Rama tidak menginginkan keturunan dari keluarga Dirgantara bersanding dengan keturunannya sementara itu dia malah menyukai Eleena.
__ADS_1
Ah iya, Wisnu ingat, gadis itu tidak memberitahu nama lengkapnya saat berkenalan dengan Rama. Ya, Wisnu masih memiliki harapan untuk menghindari perjodohan Rama. Memacari Eleena—gadis yang disukai Rama dan merahasiakan identitas gadis itu dari Rama demi kebaikan bersama.