Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Kafe dan Arfin


__ADS_3

"Sia-sia banget anjir!" umpat Wisnu di dalam mobilnya.


Lelaki itu memukul setirnya, dan membuat Eleena sedikit tersentak. Wisnu dan Eleena berada dalam satu mobil yang sama. Rencana mereka untuk memergoki Sinta dan Rama di pusat perbelanjaan seperti yang sudah mereka rancang tidak membuahkan hasil apa-apa.


Padahal Wisnu dan Eleena sudah menunggu cukup lama untuk hal itu. Tapi nyatanya tidak ada hal yang bisa mereka temukan di tempat itu. Tiga jam yang sia-sia dan melelahkan.


Saat Wisnu dan Eleena kembali ke kafe yang sama ternyata Rama sudah pulang dan saat Eleena menelepon Sinta, jawaban wanita itu sama. Dia sudah tidak ada di mall itu.


Wisnu menghela napas kasar, sejak dia keluar dari mall, Wisnu tak berhenti untuk terus menggerutu dan mengumpati keadaan. Wisnu benci dengan hal yang sia-sia, tapi hari ini dia malah mendapatkan rencana yang sia-sia.


"Udah nggak papa. Nanti kita cari cara baru buat tahu semuanya." Eleena memegang tangan Wisnu yang mencengkram setir kemudi terlalu kuat.


Eleena mengelus tangan Wisnu, memberi ketenangan di sana. "Jangan marah-marah dulu," lanjut Eleena terus mengelus tangan Wisnu sampai sang empu benar-benar tenang dan tidak seemosi tadi.


"Sia-sia semuanya El," ujar Wisnu menghela napas panjang. Dia merasa tidak enak pada Eleena, karena rencana gagalnya Eleena harus meluangkan waktu untuk ini.


"Nggak sia-sia kok. Buktinya gue dapet lipstik sama dress." Eleena menunjukkan dua buah bungkus coklat berisi lipstik dan dress yang Wisnu belikan untuknya.


"Untung di elo, gue kagak," balas Wisnu.


"Lo juga untung kali."


"Untung apa?" Wisnu menatap Eleena sekilas.


"Beruntung karena bisa jalan sama gue."


Eleena tersenyum lebar, sedangkan Wisnu geleng-geleng kepala mendengar ucapan gadis itu.


"Lo nggak seneng jalan sama gue?" tanya Eleena karena dia tidak melihat ada raut bahagia di wajah Wisnu.


"Seneng kok. Tapi gue ngerasa kecewa aja semuanya sia-sia," kata Wisnu.


"Gue yakin bakal ada cara lain kok. Nanti gue bantu mikir gimana caranya supaya kita tahu jawaban dari semua kejanggalan ini."


Mereka berdiam diri selama sisa perjalanan. Suara deru mesin dan suara lajuan dari kendaraan lain menjadi musik di dalam mobil yang senyap. Wisnu mengantar Eleena sampai ke rumahnya. Tanpa berkata apapun Wisnu langsung pergi dari sana setelah matanya menemukan ada Arjuna di depan pintu memasukkan kedua tangan ke kantung celana, menatap tajam ke arahnya.


Wisnu mengendarai mobil dalam diam. Tidak ada suara apapun keluar dari mulutnya. Sampai akhirnya suara dering ponsel memberikan suara di mobil Wisnu.


Wisnu memakai earphone di telinganya, menjawab panggilan masuk itu.


"Halo," sapa Wisnu.


"Wis, lo ada waktu nggak?"


Wisnu meminggirkan mobilnya. Itu, suara Arfin. Wisnu mengecek nama dari orang yang menghubunginya dan benar nama yang tertera di layar ponsel itu adalah nama Arfin. Jadi Wisnu tidak salah mengenali suara Arfin.


"Ada yang mau gue omongin sama lo, Wis," tambah Arfin. "Gue shareloc nanti di mana ketemuannya."


"Fi—"


Tidak memberikan Wisnu kesempatan untuk menyelesaikan perkataannya, panggilan itu sudah diputus secara sepihak oleh Arfin. Tanpa menjelaskan lebih rinci pada Wisnu apa maksud lelaki itu meneleponnya secara tiba-tiba, Arfin memilih untuk mengakhirinya.


"Apa ini karena tadi ya? Duh, pasti dia salah paham lagi sama gue." Wisnu mengacak-acak rambutnya depresi.


Wisnu memijit pelipisnya, semua kejadian ini seakan datang berurutan tanpa ada jeda. Wisnu bahkan belum bisa mencerna dengan baik semua masalah yang singgah di hidupnya.


...***...


Lelaki berkaos putih dan celana jeans polos menatap pantulan dirinya di cermin. Dia menyemprotkan parfum. Menyisir rambutnya sampai rambut lelaki itu menutupi dahi. Wisnu memakai jam tangan berwarna silver, memasukkan ponsel ke kantung celana. Wisnu keluar dari kamar. Berjalan melewati Rama yang membaca buku di sofa.


"Mau ke mana?" tanya Rama tanpa menaikkan pandangan.


"Mau ketemu Arfin," balas Wisnu cepat.


"Arfin aja atau mau sama teman-teman kamu yang miskin itu?"

__ADS_1


Wisnu berdecak. Lelaki itu tak menjawab, dia membuka pintu langsung pergi dari rumahnya. Jika lebih lama di dalam, Wisnu akan semakin banyak mendengar perkataan- perkataan tidak menyenangkan dari Rama.


Wisnu tahu Rama memang tidak menyukai Gilang dan Baim, tapi tidak ada salahnya kan Rama tidak menghina mereka. Bagaimanapun ayah Gilang dan Baim bekerja untuk Rama.


Wisnu membawa mobil silvernya keluar dari pekarangan rumah. Mengikuti lokasi yang dikirimkan Arfin tadi, Wisnu sampai di tempat itu dalam kurun waktu 15 menit.


"Wis!" Arfin melambaikan tangannya, saat Wisnu membuka pintu kafe.


Wisnu menghampiri Arfin, duduk di depan lelaki itu. Di meja sudah ada dua kopi dan juga kue. Ada juga kotak kecil berpita dari di sebelah Arfin.


"Gue kira lo nggak akan datang, Wis," ujar Arfin membuka obrolan mereka.


"Nggak mungkin gue nggak datang kalau lo yang manggil."


"Btw, ini buat apa?" Wisnu menunjuk kotak kecil itu.


"Gift to you." Arfin mendorong kotak kecil itu ke dekat Wisnu. "Isinya jam. Dari gue, beda sama yang tadi," lanjutnya.


Wisnu membuka kotaknya, dan benar isi dari kotak berwarna hitam itu adalah jam hitam.


"Kenapa lo ngasih semua ini ke gue, Fin?" Wisnu heran kenapa Arfin rela memberikannya dua hadiah dalam satu hari. Kotak kecil yang pertama saja belum sempat Wisnu buka dan sekarang dia mendapatkan yang baru lagi dari Arfin.


Arfin tersenyum, "Gue mau minta maaf sama lo. Sorry ya, gue nggak dewasa banget. Waktu itu gue bener-bener ngerasa kecewa sama lo, lo bohongi gue soal gelang itu. Padahal kalau lo nggak bohong gue bakal tetep bikinin kok. Tapi lo nggak jujur sama gue, Wis. Gue marah karena hal itu. Gue konyol banget ya, sampai-sampai karena gitu aja, gue sampai ngehindar dari lo dan semuanya sampai seminggu lebih."


Pandangan Arfin perlahan menunduk mengingat bagaimana dia menjauhi teman-temannya tanpa alasan yang jelas. Bahkan dia juga bersikap kasar pada Wisnu setiap kali lelaki itu atau yang lainnya menghampirinya.


"Kalau Gilang nggak nasehatin gue waktu itu, mungkin gue masih tetap pada pendirian gue nyalahin lo. Tapi gue sadar, lo nggak salah. Makanya gue mau perbaiki semuanya," lanjut Arfin.


"Lo, mau maafin gue, kan?" tanya Arfin.


Wisnu agak ragu untuk menjawab. Sebenarnya dia tidak membenarkan semua ucapan Arfin. Alasan kenapa Arfin bisa marah padanya Wisnu tahu itu. Dan Wisnu akui dia memang salah. Itu semua kesalahannya, dia membohongi Arfin, memanfaatkan lelaki itu untuk menyenangkan Eleena—gadis yang jelas-jelas disukai oleh Arfin.


Wisnu menatap bola mata hitam legam Arfin. Ada sorot penuh harap di sana, Wisnu jadi tidak tega. Tidak seharusnya Arfin yang meminta maaf, karena di sini Wisnu lah yang bersalah.


Wisnu menghela napas, mengelus pundak Arfin. "Lo nggak salah Fin, nggak seharusnya lo minta maaf sama gue. Di sini gue yang salah—"


Wisnu tersenyum, "Kita berdua salah di sini," final Wisnu. "Gue udah maafin lo, dan gue juga minta maaf sama lo."


Arfin tersenyum lebar, "Makasih Wis." Arfin beranjak memeluk Wisnu.


Sebuah pelukan adalah penanda bahwa mereka kembali berbaikan dan melupakan semuanya. Tidak hanya antara Wisnu dan Arfin saja, setiap kali ada yang bertengkar di antara mereka berempat, mereka akan berpelukan untuk mengakhiri semua permasalahan.


Wisnu melepas pelukannya, mereka kembali duduk di tempat masing-masing.


"Fyi, makasih buat gift nya seharusnya nggak perlu gini juga." Wisnu memasukkan kotak kecil itu ke kantung celananya.


"Kayak nggak tau gue aja lo."


Arfin memang tipikal orang yang suka memberi hadiah. Entah itu barang-barang mahal atau barang-barang sederhana tapi terlihat indah karena itu dibuat oleh tenaga dan perasaan Arfin. Sikap Arfin yang suka memberi hadiah ini membuat banyak gadis tergila-gila ingin memacarinya.


Bahkan setelah mereka putus, para gadis itu masih berusaha untuk menjalin komunikasi bersama Arfin. Karena, jika mereka kehilangan Arfin, mereka juga kehilangan orang yang memberikan mereka hadiah-hadiah.


"Diminum kopinya," suruh Arfin.


Wisnu dan Arfin, mempertemukan dua gelas mereka sehingga tercipta suara. Mereka meminum kopi itu layaknya meminum alkohol seperti di bar.


"Oh ya, tadi lo sama El kemana aja?" tanya Arfin, menurunkan gelasnya.


"Ke mall," balas Wisnu singkat.


"Oh ya Wis, sebenarnya ada hal penting yang mau gue omongin sama lo. Tapi gue takut." Arfin menghirup udara sebanyak-banyaknya, membuat stok di dalam paru-paru sebelum dia menceritakan semua.


"Gue—"


"Hei, what's up Bro!" Suara Baim menggelegar di seluruh kafe. Dengan cengiran di wajahnya dia datang bersama Gilang duduk di sebelah Arfin dan Wisnu.

__ADS_1


"Dua doang kopinya? Buat kita kagak?" tanya Baim.


"Ngapain lo berdua ke sini?" tanya Arfin.


"Emang kita nggak boleh ke sini?" timpal Gilang. "Kita kan mau lihat lo baikan sama Wisnu."


Baim mengangguk menyetujui ucapan itu, "Bener tuh. Momen bersejarah ini harus dirayakan." Baim berucap sangat hiperbola.


"Kayak apa aja sih lo!" ketus Wisnu, mendengus. Dia sudah lama berteman dengan Baim, tapi tetap saja dia tidak bisa pungkiri Baim itu orang yang menyebalkan. Entah dari mana Gilang menemukan lelaki satu ini.


Gilang memesan dua kopi lagi, untuknya dan juga untuk Baim. Berada di di tempat yang sama dan berdekatan, keempat lelaki itu berbincang seperti biasa. Membicarakan seluruh isi dunia dan masalah kehidupan.


Karena hari ini mereka berkumpul seperti biasa lagi, Wisnu memanfaatkan kesempatan ini untuk membicarakan apa yang membuat lelaki itu beberapa hari ini kebingungan.


Masalah Rama dan juga kejanggalan antara dia dan Sinta. Bahkan Wisnu juga menceritakan rencananya dengan Eleena pada teman-temannya. Wisnu tidak berharap mereka bisa membantunya tapi setidaknya ketiga temannya bisa memberikan isi pemikiran mereka soal kejanggalan ini.


"Rupanya, selain keluarga lo sama keluarga Agustama musuhan, ada masa lalu kelam juga ya soal bokap lo," ucap Baim.


"Apa jangan-jangan, keluarga lo sama Agustama musuhan karena ini?" Ucapan Gilang ini mengalihkan semua atensi mereka. Semua mata tertuju pada Gilang.


"Konflik bokap lo sama nyokapnya Eleena itu jadi salah satu alasannya, kenapa keluarga lo bis benci banget sama Agustama sampai ke tulang-tulangnya."


Wisnu terdiam, memasukkan semua ucapan Gilang ke dalam pikirannya. Perkataan Gilang ada benarnya, ini bisa Wisnu jadikan sebagai petunjuk berikutnya.


"Mau apapun alasannya, tetap konyol keluarga Aksanta sama Agustama itu musuhan," imbuh Arfin. "Nggak ada orang yang benci itu sampai sebegitunya. Cuma karena Om Rama ketemu sama Tante Sinta sampai dipukuli kayak gitu, itu nggak masuk akal."


"Kita nggak tau konflik sebenarnya, Fin. Bisa jadi lebih dari ini," sela Baim. "Kalau kata gue, mending lo nggak usah kepo deh, Wis. Entar malah lo yang tamat karena kepo urusan bokap lo."


"Tapi gue penasaran, Im," balas Wisnu.


Gilang menepuk pundak Wisnu, "Tuan Muda. Ada saat kalanya nggak semua hal harus lo cari tau."


Memang sih nggak semua hal bisa dicari tahu, tapi Wisnu bukan tipikal orang yang acuh jika ada hal janggal mengenai keluarganya.


"Gue makin pusing mikirin ini. Nggak usah bahas keluarga lo dah." Arfin menepuk meja, mengajak ketiga temannya untuk berganti topik pembicaraan.


"Mau bahas apa emang? Ini udah seru banget."


"Entahlah, gue ke toilet bentar." Arfin beranjak dari duduknya, meninggalkan mereka tak memperdulikan ucapan Baim tadi.


"Gue takut banget, gimana kalau bokap gue tau soal El," timpal Wisnu, memijit pelipisnya.


Jika semua ini dipikirkan, hanya kepusingan yang singgah di kepala Wisnu bukan sebuah jawaban. Tapi, Wisnu tidak punya alternatif lain selain memikirkan ini semua.


Arfin keluar dari toilet, tubuh lelaki itu yang lemas nyaris membuatnya jatuh jika saja dia tidak memegang pintu toilet. Di situasi seperti ini, seharusnya rasa sakit ini tidak datang dulu.


Banyak hal yang ingin Arfin bahas bersama teman-temannya, tapi dia tidak sanggup lagi. "Gue harus pulang," batin Arfin.


Arfin berjalan pelan, memegang dinding kafe agar dia punya tumpuan. Jika Arfin tidak berpegangan pada apapun, bisa dipastikan dia akan jatuh sekarang juga.


Seperti sekarang ini, saat Arfin melepas pegangannya dari dinding dan baru beberapa langkah menghampiri teman-temannya, Arfin langsung tumbang jatuh ke tubuh Gilang.


"Arfin!"


Wisnu dan Baim segera bangkit, menghampiri Arfin yang kini dipegangi oleh Gilang karena lelaki itu jatuh tepat di depan wajah Gilang.


"Fin, lo kenapa?" Wisnu tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya, dan Arfin melihat itu.


Dengan kesadaran yang tersisa dan energi yang masih ada, Arfin berucap, "Antarin gue pulang ya."


Sesaat setelah mengatakan itu, Arfin kehilangan kesadarannya sepenuhnya. Dia tidak merespon panggilan Wisnu atau pukulan kecil Wisnu di pipinya. Wisnu membopong tubuh Arfin, membawa lelaki itu masuk ke mobilnya.


Gilang masuk ke mobil, duduk di bagian penumpang bersama Baim. Mereka menumpu tubuh Arfin di atas paha mereka berdua, sehingga posisi Arfin terlentang.


Wisnu menginjak pedal gasnya, melajukan mobilnya cepat keluar dari area kafe.

__ADS_1


"Sebenarnya lo kenapa sih Fin?" batin Wisnu.


__ADS_2