Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Semakin panik


__ADS_3

Wisnu berlari keluar dari kelas tak menghiraukan panggilan Gilang dan Baim yang menanyakan dia hendak pergi ke mana. Wisnu berlari kencang melewati kerumunan mahasiswa. Dia menerobos untuk masuk ke fakultas Psikologi. Wisnu berhenti di depan kelas Eleena yang mulai dikeluarkan oleh satu persatu mahasiswa.


"Wisnu?" Wisnu menoleh, ke sumber suara.


Arfin berada di sini. Laki-laki itu sudah masuk kampus ternyata, setelah hampir satu minggu tidak datang karena sakit.


"Lo di sini?" tanya Wisnu. "Lo apa kabar? Udah baikan? Kok bisa sakit sih? Lo nggak papa, kan sekarang?" Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan Wisnu pada Arfin.


"Santai elah yang nanya!" ketus Arfin, memutarkan bola matanya.


"Gue udah nggak papa sekarang. Udah baikan lah, kalau sakitnya kenapa. Gue nggak tahu," jawab Arfin singkat yang dia rasa sudah mewakili seluruh pertanyaan Wisnu.


"Serius?" Wisnu menggulung lengan kemeja Arfin, menampilkan beberapa lebam. "Terus ini? Ini kenapa?"


Arfin tampak kebingungan untuk menjawabnya, dia bahkan harus membuang arah pandangnya untuk mencari alasan agar pertanyaan Wisnu yang ini bisa terjawab.


"Ini, dari bokap lo?" tanya Wisnu pada akhirnya. Arfin tidak tahu jawaban apa lagi selain mengangguk.


"Hidup gue berantakan, Wis. Gue nggak tau bisa sampai kapan kayak gini," balasnya.


"Lain kali cerita." Suara Gilang terdengar. Wisnu dan Arfin menoleh bersama-sama ke Gilang dan Baim yang berjalan menghampiri mereka.


Baim datang merangkul Arfin dan Gilang berdiri di sebelah Wisnu. "Kita teman lo, seharusnya kita tahu semua tentang lo. Nggak boleh ada rahasia di antara kita, itu perjanjiannya," ujar Baim.


Wisnu menyetujui, "Kita rumah lo."


"Harus tahu semua ya? Gue takut kalau kalian tahu, gue bakal sadar kalau memang sesingkat itu waktunya sekarang," batin Arfin sedikit menundukkan kepala.


"Jangan sedih, we're always beside you," ucap Gilang.


"Btw, napa lo datang-datang kampus nggak ngabarin kita?" tanya Baim.


"Kagak ngapa-ngapa, malas aja gue," balas Arfin menyebalkan seperti biasa.


"Ya elah lo terlalu bucin banget sih sampai-sampai datang langsung ke kelas cewek lo." Baim tertawa.


"Oh iya, El di mana ya? Kok dia nggak ada di kelas? Gue telpon juga nggak aktif."


Arfin membuka topik yang seharusnya dari awal dia tanya dengan Wisnu sejak lelaki itu tiba di kelas Eleena. Namun, mereka malah teralihkan dengan pembicaraan mengenai keadaan Arfin.


"Kok bisa nggak ada? Udah pulang kali," balas Gilang.


Wisnu menggeleng, "El nggak datang."


"Kenapa? Apa dia sedih karena putus sama lo?" Pertanyaan Baim ini langsung mendapat toyoran keras dari Gilang.

__ADS_1


Laki-laki itu berdiri di sebelah Arfin dan membahas mengenai perasaan Eleena.


"El, dia bahkan nggak ada di rumah?" Suara Wisnu memelan hingga yang suaranya hanya bisa di dengar oleh mereka saja.


Wisnu berjalan pergi dari sana membuang ketiga temannya mengikuti lelaki itu dari belakang. Mereka mengikuti ke arah mana Wisnu berjalan. Wisnu yang memimpin jalan di depan dan diikuti oleh ketiga temannya, sang terlihat jelas kesenjangan sosial di sini.


Wisnu mengajak mereka untuk tiba di area parkir. Membawa keempat laki-laki itu masuk ke dalam mobil birunya. Wisnu menutup atap pintu mobil yang semula terbuka.


Tanpa menghidupkan mesin, Wisnu membuka pembicaraan yang seharusnya dibicarakan pada teman-temannya sejak tadi.


"El, tu cewek udah nggak pulang ke rumah tiga hari," ucap Wisnu. "Gue nggak tahu di ke mana, gue tadi jalan ke kelasnya mau mastikan dia udah datang atau belum tapi nyatanya belum."


"Kok bisa?" Arfin yang paling tidak bisa menyembunyikan ekspresi serta nada bicaranya.


Wisnu tahu bahwa reaksi Arfin akan seperti ini, maka dari itu Wisnu membawa ketiga temannya untuk masuk ke dalam mobil. Hal ini cukup rahasia, tidak boleh ada yang tahu.


"Gimana caranya El nggak pulang ke rumah? Dia aja takut banget pulang telat tanpa izin dulu sama orang tua," tambah Arfin.


"Nah, itu juga yang buat gue bingung. Kayak, janggal aja kalau El tiba-tiba hilang kayak gini tanpa alasan."


"Jangan-jangan dia diculik!" imbuh Baim cukup menambah ketegangan di dalam.


"Itu juga yang gue takutin, Im. Kemungkinan El diculik, soalnya kemarin Tante Sinta sama Tuan Arjuna datang ke kantor bokap gue marah-marah dan nuduh bokap gue kalau dia yang udah nyulik El," balas Wisnu.


"Emang bokap lo?" Gilang bertanya. Wisnu menggeleng yakin, "Bokap gue emang gila, Lang. Tapi dia nggak segila itu untuk nyulik anak orang. Gitu-gitu bokap gue bukan orang yang kurang kerjaan untuk lakuin hal yang buang-buang waktu. Dia masih ingat kalau dia Putra Aksanta juga."


Wisnu mengedikkan bahu. "Nggak tau Fin, gue juga bingung di mana gue nyari El."


"Udah lo lacak hp nya?" tanya Baim.


Wisnu menggeleng. "Tolol banget sih!" bentak Arfin cukup keras di dalam mobil. Sontak semua pasang mata yang ada di sana menoleh ke arahnya.


"Lo punya kuasa, bego. Kenapa nggak lo lacak posisinya!" sambung Arfin.


"Santai Fin!" imbuh Gilang, menenangkan Arfin yang nampaknya sudah emosi mendengar berita ini.


"Gue juga baru tau kemarin!" balas Wisnu membentak Arfin untuk membalas nada tinggi lelaki itu.


Suasana di mobil berubah menjadi cukup panas karena perseteruan antara Wisnu dan Arfin. Kedua laki-laki ini tersulut emosi untuk membela diri dan menyalahkan satu sama lain. Baim dan Gilang saja cukup kepayahan untuk menghentikan mereka.


Hingga sebuah notifikasi dari ponsel salah satu dari mereka terdengar. Arfin dan Wisnu menghentikan pertengkaran mereka sejenak, menoleh bersama ke arah ponsel yang mengeluarkan notifikasi cukup nyaring.


Wisnu mengambil ponselnya, membuka pesan yang masuk. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Wisnu awalnya ragu untuk membukanya sampai Arfin mendesaknya dan meminta Wisnu untuk membukanya dan menghilangkan rasa penasaran yang tercipta.


Wisnu membaca pesan yang berasal dari nomor aneh itu. Dan alangkah terkejutnya dia melihat bahwa di dalam pesan itu ada sebuah video berisi Eleena.

__ADS_1


Gadis yang sedang sangat ketakutan memegang ponsel dengan sangat panik. Eleena di dalam video itu mengatakan.


"Wisnu, tolongin aku. Aku disekap sama mereka, aku nggak tau pasti di mana alamatnya tapi yang aku ingat, ini di daerah Jalan Kurnia terus kamu masuk gang kecil yang namanya itu gang Ambi. Kamu masuk ke dalam, nanti ada bangunan tua cepat ke sini sekarang. Aku takut...."


Video itu berakhir dengan cepat tak sampai tiga puluh detik. Eleena benar-benar perempuan pintar dia langsung menuju pada intinya tidak bertele-tele, meskipun setelah itu dia mendapat pukulan di kepala dan berakhir tak sadarkan diri.


Syukurnya Eleena sempat mematikan ponsel itu terlebih dahulu setelah dia memastikan bahwa pesan itu terkirim pada Wisnu. Gadis itu tidak tahu ingin memberitahu siapa yang terlintas di benaknya hanya Wisnu saja. Dia mengirimkan pesan itu lewat DM Instagram.


"El beneran diculik!" panik Baim.


Wisnu tanpa berucap, langsung menancapkan gas, mengagetkan semua orang yang ada di dalam mobil. Mereka buru-buru memasang sabuk pengaman karena dalam keadaan seperti ini pasti Wisnu akan mengendarai mobil dengan kecepatan yang gila-gilaan.


Arfin melirik ke arah tasnya yang berisi beberapa puisi untuk Eleena yang ia tulis kemarin di kamar. Dia ingin memberikan puisi itu pada gadis itu, tapi sekarang Eleena lebih penting daripada puisi. Dia ingin menemukan Eleena segera dan bertemu dengan gadis itu.


...***...


"Ponselnya El!" teriak Sinta mengambil ponsel yang sudah mati tertimbun di sela-sela rerumputan.


Arjuna dan beberapa orang yang ada di sana menghampiri Sinta. Mereka mencoba menghidupkan ponsel itu tapi sayangnya ponsel itu tidak mau hidup.


"Kalau ponselnya El di sini, itu berarti ini lokasi terakhir El," kata Arjuna.


Sinta mengangguk. Dia begitu panik sekarang, mereka sudah mencari Eleena selama tiga hari tapi tidak membuahkan hasil apa-apa. Hanya kepanikan keluarga yang terlihat.


Melinda yang berdiri di sudut tak bergabung dengan keluarganya yang sibuk membahas soal kehilangan Eleena. Gadis itu memutar bola matanya malas, dia menempelkan ponsel ke telinga kala ponsel itu bergetar karena ada panggilan masuk.


"Bu, gimana ini. Cewek rese ini sempat ngirim informasinya ke temannya," kata pria yang sedang mengikat Eleena kembali ke kursi.


"Kok bisa sih?" Melinda semakin menjauh dari sana tidak membiarkan keluarganya mendengar pembicaraannya dengan orang yang sudah ia suruh untuk menculik Eleena.


"Pesannya udah saya hapus kok Bu. Tadi saya salah banget ngelepas ni cewek karena dia bilang dia nggak bisa makan kalau tangannya nggak dibuka. Soalnya lauknya indomie," ucap pria itu.


"Terserah deh gue nggak mau tau ya. Pokoknya saya minta sama kalian jaga dia baik-baik. Jangan sampai mereka tahu, kalau bisa kalian pindah tempat aja," jelas Melinda.


Pria itu menyetujui. Melinda mengakhiri panggilannya. Perasaan hatinya berubah menjadi buruk sekarang. Dia tidak terima bahwa semua usaha dan rencananya untuk memberi pelajaran pada Eleena berakhir berantakan seperti ini.


"Nggak boleh ada yang nemuin El sebelum seminggu," gumam Melinda.


Dia hanya ingin memberi pelajaran pada Eleena, bukan menyakitinya. Melinda juga masih sadar bahwa Eleena itu sepupunya, jadi dia tidak segila itu.


"Ribet amat sih tu cewek. Cuma diculik aja banyak drama," gerutu Melinda.


Tanpa Melinda sadari, Wisnu bersama kawannya sedang menuju lokasi yang telah disebutkan oleh Eleena. Mereka itu para laki-laki pintar. Arfin menyarankan untuk mencopy videonya agar jika suatu saat orang-orang yang menculik Eleena menghapus pesan itu, mereka masih punya salinannya.


"El, tunggu aku bentar," batin Wisnu.

__ADS_1


"Semoga lo baik-baik aja, El," batin Arfin.


__ADS_2