Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Menghindar


__ADS_3

Malam sudah berakhir ini saatnya sang surya mulai menampakkan diri di alam semesta. Ketika pagi tiba dan di sebuah kamar di dalam rumah besar ada seorang laki-laki yang sedang mengancingkan kemejanya. Tak lupa dia menyisir rambutnya, merapikan rambut hitam kecoklatan itu sampai rambutnya bisa menutupi dahi, tapi tetap tidak bisa menghilangkan sepenuhnya perban putih yang masih melingkar. Lelaki itu menyemprotkan parfum ke beberapa area tertentu di tubuhnya, lalu memasangkan arloji di tangan kiri.


Tanpa senyuman Wisnu keluar dari kamar setelah mengantungi ponsel yang tadi berada di atas nakas. Tanpa membuka bibir juga Wisnu duduk di meja makan untuk sarapan dan melakukan salah satu formalitas dari keluarganya. Tidak ada yang berbeda, mereka sarapan bersama tapi seperti tidak ada satu sama lain di dalamnya, terlalu sunyi untuk kategori sarapan bersama di pagi hari.


Cukup 5 menit bagi Wisnu untuk menyelesaikan sarapan, dia langsung bangkit dan keluar dari rumah, masuk ke dalam mobil tanpa berpamitan pada siapapun. Masih sama seperti hari kemarin, dia juga diantar oleh sang sopir. Ketika mobil silver berlogo AK itu keluar dari pekarangan rumah besar Aksanta, Wisnu menghela napas panjang. Entah kapan dia diperbolehkan untuk bisa menyetir sendiri lagi, dia sudah terlalu bosan kalau terus dipantau oleh sang sopir atas setiap hal yang dia lakukan.


Wisnu keluar dari mobil begitu mobil itu terparkir rapi di parkiran Universitas Binawa. Wisnu meletakkan ransel di bahu sebelah kanan dan ponsel yang tergenggam di tangan kiri. Kaki berbalut sneakers hitam itu melangkah pergi menjauhi tempat banyak mobil berhenti.


Kaki Wisnu dia ajak untuk berbelok ke sebelah kiri, padahal arah ke kelasnya itu berada di jalur sebelah kanan tapi Wisnu pikir dia harus mampir ke kantin sebentar. Toh, Gilang dan yang lainnya juga belum datang. Kaki Wisnu memijak lantai kantin kampus yang sudah banyak disinggahi para makhluk bumi.


Iris hazel Wisnu menemukan seorang lelaki melambaikan tangan ke arahnya, itu Gilang. Dengan wajah datarnya Wisnu mendekati mereka berdua—Baim dan Gilang. Mereka saling melakukan tos sembari Wisnu duduk di kursi kantin.


"Wihh, tumben banget lo ngantin pagi-pagi," ujar Baim membuka obrolan. Wisnu menatap intens Baim yang mengenakan kemeja kotak-kotak dan rambut yang disisir rapi sampai dahi lebarnya terpampang nyata. Begitupun Gilang, Wisnu juga menatap teman kecilnya cukup intens apalagi saat Gilang menerima dua cangkir kopi dari seorang wanita paruh baya yang merupakan penjualnya.


Wisnu kembali teringat kejadian kemarin bagaimana Gilang meminta maaf padanya dari via chat sampai pada saat Wisnu menginjakkan kaki ke kampus, makanya waktu Arfin mengajak pergi ke kafe Gilang diajak oleh Wisnu.


Gilang meminta maaf dengan sepenuh hati dan mengungkapkan rasa penyesalan karena sudah mengungkapkan keberadaan Wisnu pada sang ayah. Wisnu juga tidak tega kalau harus merusak hubungannya dengan Gilang karena masalah sepele seperti ini, Wisnu juga paham kenapa Gilang melakukan hal seperti itu, Wisnu kenal betul bagaimana Gilang, dia tidak akan mengucapkan suatu hal penting jika tidak mendesak dan terpojok.

__ADS_1


Setelah Wisnu memberi anggukan kepala pertanda dia sudah memaafkan Gilang dengan sangat riangnya lelaki itu memeluk Wisnu. Mengharuskan Wisnu mendorong Gilang cukup kasar untuk melepaskan pelukan lelaki itu apalagi kondisi kelas sudah dihuni oleh dua orang mahasiswa tapi bukan Baim salah satunya, karena anak itu sudah pasti banyak urusan alias ngaret. Baim orang yang paling tidak niat kuliah sama seperti Wisnu tapi demi bisa bekerja di perusahaan Aksanta, anak itu terpaksa menempuh pendidikan di jenjang perguruan tinggi.


Gilang juga banyak menanyakan tentang kondisi Wisnu. Seperti, bagaimana jidat Wisnu bisa terluka sampai harus diperban dan bagaimana lengan lelaki itu juga terluka, tak lupa menanyakan darimana lebam-lebam di wajah Wisnu berasal yang sebenarnya Gilang sudah tau semuanya dari Abinya tapi Gilang ingin lebih meyakinkan saja kalau memang itu semua berasal karena ulah Rama.


Wisnu mulai menceritakan semuanya, mulai dari dia ingin pindah hotel dan dia melihat logo AK di mobil hitam yang ternyata sudah membututi Wisnu sejak ia keluar dari hotel. Wisnu menceritakan semuanya secara detail sampai bagaimana cara Eleena menyelamatkan lelaki itu dari lubang kematian. Hidup Wisnu sudah dipastikan akan tamat jika Eleena tidak datang, kondisi Wisnu yang begitu lemah, Wisnu yakin mereka tidak akan langsung membawa lelaki itu pulang ke rumah, melainkan membawa Wisnu ke hadapan Rama dan itu yang membuat Wisnu terus memberontak walau energinya sudah terkuras habis.


Wisnu kembali teringat akan Eleena, senyuman dari gadis itu, kelihaian tangan Eleena mengobati luka Wisnu sebelum dokter datang dan bagaimana cara Eleena membantu Wisnu masuk ke mobil dan melajukan mobil menjauhi para orang suruhan Rama. Padahal Eleena punya pilihan untuk tidak membantu Wisnu apalagi dia tahu Wisnu adalah sosok yang menyebalkan baginya, tapi Eleena tetap membantunya yang hal itu bisa saja membahayakan nyawa gadis itu sendiri, tapi Eleena tidak menunjukkan rasa takut sedikitpun.


Wisnu benar-benar dibuat kagum oleh gadis yang sekarang berjalan di area kantin. Senyum Wisnu terlihat begitu Eleena berjalan mendekati kursi mereka bertiga. Wisnu bangkit segera dia menghampiri Eleena berdiri di depan gadis itu dan menghentikan langkah Eleena. Eleena yang semulanya terfokus pada ponsel yang berada di genggaman, kini ia menaikkan pandangan demi melihat sosok yang berdiri menghalangi jalan.


Tidak ada sapaan ramah, dan senyuman hangat, melainkan tatapan tidak suka dan wajah sedikit menampilkan kemarahanlah yang bisa Wisnu tangkap dari gadis itu. Bahkan Wisnu bisa mendengar decakan dari gadis yang kini membuat jarak di antara mereka.


Sudah 2 hari Eleena menjauhi Wisnu, bahkan dia juga tidak membaca pesan dari Wisnu. Jangankan membaca pesan dari Wisnu saja tidak terkirim pada nomor Eleena maka dari itu Wisnu sempat bertanya pada Arfin apakah belakangan ini Eleena tidak aktif, tapi jawaban Arfin sedikit membuat Wisnu sakit hati, Eleena aktif seperti biasa bahkan dia juga banyak mengobrol dengan Arfin via chat.


"El." Eleena mengangkat tangannya menghentikan perkataan Wisnu yang baru saja menyebut namanya. Gadis itu sudah tidak tahan kalau harus berurusan dengan Putra Aksanta ini, hidupnya akan dikerubungi rasa takut apalagi kejadian di bar terus- menerus teringat oleh Eleena karena emoticon dari Wisnu 2 hari lalu.


"Gue rasa kita nggak usah ngobrol," ucap Eleena. Wisnu bungkam seketika, tidak tahu mengapa rasanya lidah Wisnu kelu dan Arfin yang baru saja tiba di kantin buru-buru menghampiri kedua manusia yang kini sedang berhadapan itu, Arfin takut akan terjadi keributan lagi secara kan dua orang ini susah sekali akur.

__ADS_1


"Setelah gue pikir-pikir gue nggak mau temenan sama lo." Ucapan Eleena ini menghentikan langkah Arfin yang tinggal 3 langkah lagi di belakang Wisnu. Arfin seakan berdiri di antara Wisnu dan Eleena, melihat bagaimana tatapan bingung Wisnu dan tatapan seakan ada amarah dari Eleena.


"Gue nggak suka sama lo, semua yang berhubungan dengan lo, gue nggak suka itu. Bahkan nomor lo juga block, gue males harus berhubungan sama lo," jelas Eleena semakin membuat Wisnu bungkam. Disatu sisi Wisnu akhirnya bisa mengetahui alasan Eleena tidak pernah membaca pesannya tapi disisi lain ada hati Wisnu yang terasa sakit mendengar kata-kata itu.


"Kenapa?" Wisnu menghilangkan tatapan bingung, sekarang dia juga tatapan serius terpampang jelas di wajah tampan mirip ayahnya itu.


"Karena lo nggak pantes buat dijadiin teman, lo bertingkah seakan-akan lo orang baik dengan ngasih gue bunga tapi nyatanya lo ada maksud dibalik itu semua. Lo, udah ngelakuin hal kurang ajar sama gue di bar." Oke, kini semua rasa penasaran Wisnu dan Arfin sudah terbayar, mereka tahu apa alasan Eleena bersikap seperti itu, ini semua karena masalah di bar beberapa minggu lalu.


"Dan lo, dengan sangat beraninya ngirim emoticon cium sama gue sedangkan lo, udah buat gue ketakutan setengah mati." Dada Eleena mulai sesak memberitahukan hal itu pada lelaki di depannya ini. Perlakuan kurang mengenakkan dari Wisnu kembali terputar di pikiran Eleena, bahkan tubuh gadis itu bergetar menahan tangis yang bisa pecah kapan saja.


"Gue nggak mau temenan sama penjahat kayak lo," final Eleena. Dia berjalan melewati Wisnu, menarik tangan Arfin yang berdiri di belakang Wisnu untuk mengikutinya pergi dari kantin.


Arfin tentu saja dilanda kebingungan tapi dia juga suka atas sikap Eleena yang satu ini. Arfin kira dia sudah kehilangan kesempatan untuk bisa dekat dengan Eleena karena Wisnu namun jawaban dari Eleena tadi sudah cukup menjelaskan semuanya.


Eleena membawa Arfin entah ke mana sampai mereka berdua hilang dari pemandangan kantin. Wisnu menatap kedua manusia itu tajam seperti biasa. Bisa dilihat Wisnu kembali seperti Wisnu sebelumnya, tatapan tajam yang terlalu mengintimidasi dan wajah yang sangat menjelaskan kalau dia sedang marah dan tangan terkepal yang menandakan kalau dia sedang menahan amarah.


Untuk kesekian kali, Eleena Safira Dirgantara mempermalukan Wisnu Putra Aksanta, dan itu hanya karena emoticon 'bibir' yang Wisnu salah kirim.

__ADS_1


__ADS_2