Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Sarapan di kediaman Aksanta


__ADS_3

Sang surya menyambut semesta setelah tugas bulan untuk menerangi malam selesai. Sang surya yang apabila terbit dari timur terasa sangat indah. Udara pagi juga begitu segar. Dan suasana sarapan di kediaman Aksanta tidak berubah. Wisnu, Rama, Meethila, Kakek, Nenek, sarapan dalam keadaan diam seakan tidak peduli akan satu sama lain.


Hingga ketika Rama selesai meneguk minumannya, dia membuka suara. "Udah punya pacar?"


Wisnu tersedak makanan yang masih dia kunyah begitu pertanyaan Rama sampai ke telinga. Meethila buru-buru menuangkan minum untuk anaknya dan memberikannya pada Wisnu yang duduk di depannya.


"Makan hati-hati, Sayang," ucap Meethila.


Wisnu menyeka air dari mulutnya. Dia diam sebentar, mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Rama. Karena ayahnya ini adalah orang yang terlalu sensitif, Rama tidak bisa menerima jawaban yang tidak masuk akal, jadi Wisnu harus mencari jawaban serealistis mungkin.


"Belum, Pa. Soalnya belum ketemu sama tipe cewek yang Papa mau." Wisnu menghela napas pelan setelah mengucapkan itu. Dia melirik Rama takut, syukur saja Rama tidak menampakkan wajah penuh amarah dan tatapan tajam pada Wisnu karena jawaban ini.


"Bukan belum ketemu, perempuan baik itu yang nggak mau sama kamu," balas Rama menohok. Wisnu terpojokkan saat itu juga. Ucapan Rama kali ini, ada benarnya.


"Emang kenapa, Mas?" tanya Meethila di tengah-tengah sarapan, ingin tahu apa pembicaraan Rama bersama anaknya.


"Aku nyuruh Wisnu untuk cari pacar, kalau nggak dia kujodohin. Aku juga nyuruh nyari pacar yang baik-baik tapi buktinya udah hampir sebulan nggak ketemu juga," jelas Rama, menaruh sendok di atas piring kosong karena lauk Rama sudah habis.


"Nyari cewek baik-baik susah, Pa. Zaman sekarang nyari cewek baik-baik kayak nyari jarum dalam tumpukan jerami," keluh Wisnu.

__ADS_1


"Kan udah Papa bilang, bukan susah nyarinya tapi mereka yang pada nggak mau sama kamu. Cewek baik-baik mana coba yang mau pacaran sama bajingan kayak kamu." Setiap ucapan Rama selalu menusuk sampai menembus ulu hati Wisnu.


Rama berdiri dari duduknya, diikuti oleh Meethila. Wanita itu meninggalkan piring yang masih berisi lauk sarapan dan beralih mengambil jas serta tas Rama di sofa. Meethila memberikan jas pada Rama. Rama mengambilnya, memakainya segera. Iris mata Rama melihat jas yang kini sudah tersampir di kedua pundaknya.


"Kok, jasnya yang ini?" tanya Rama, setelah dia menyadari kalau jas yang tengah ia pakai ini bukan jas yang sering dia pakai. Rama suka jas berwarna hitam, dia selalu memakai jas itu hampir setiap hari, tapi hari ini Meethila malah mengganti jas hitam Rama dengan jas coklat.


"Mana jas aku yang biasa?" tanya Rama lagi.


"Mas, jas hitam kamu nggak ada. Semuanya lagi dicuci. Seminggu yang lalu, waktu kamu pulang hujan-hujanan itu kamu nggak bawa jas hitam yang satu lagi. Jadi, jasnya habis," jawab Meethila jelas.


Rama terdiam. Pikirannya membawa Rama ke hari di mana langit gelap malam menjatuhkan tangisnya, membawa dia bertemu dengan cinta pertamanya di hari itu juga. Hujan malam yang menjadi penghubung waktu Rama bersama Sinta walau hanya sebentar, tapi itu sudah cukup untuk membuat Rama mengobati rasa rindu yang menggelar. Rama teringat sekarang, jas hitam itu masih berada pada Sinta. Wanita itu membawa jas hitam milik Rama satu minggu yang lalu, lebih tepatnya Rama yang meminjamkannya karena Sinta merasa kedinginan.


"Beli yang baru. Hari ini aku makai jas ini aja, masih aku maafin kamu." Rama berucap datar. Dia memberi kecupan di kening Meethila tanpa senyum, lalu melenggang pergi dari rumah.


Pria tua dan wanita tua yang merupakan mertua Meethila bangkit dari duduk. Mereka berdua pergi meninggalkan meja makan. Dan yang tersisa di sini, hanya Wisnu dan Meethila saja. Wisnu menatap miris ibunya yang kini masih sibuk untuk menghabiskan makanan. Sesekali Meethila melirik jam yang melingkar di tangan. Bahkan untuk makan dengan tenang saja pun Meethila tidak bisa. Wanita itu harus buru-buru pergi ke butik.


Keseharian Meethila hanya melayani Rama saat pria itu berada di rumah. Begitu Rama pergi bekerja, Meethila harus pergi ke butik untuk mengecek keadaan di sana, padahal butik itu punya ibu mertuanya tapi Meethila diberi kepercayaan untuk mengkoordinasi semua yang ada di sana. Meethila berada di butik sampai satu jam sebelum makan siang, karena wanita itu harus memasak untuk makan siang sebelum Rama pulang. Meskipun di rumah ada koki, tapi untuk memasak yang namanya lauk untuk keluarga Meethila yang diberi tanggung jawab. Nenek Wisnu akan marah kalau Meethila tidak memasak satu hari saja. Kehidupan Meethila begitu melelahkan, bahkan setelah Rama kembali ke kantor setelah makan siang, Meethila harus melayani kedua mertuanya itu. Yang memberi pijitan, memperhatikan obat keduanya hingga harus membersihkan kekacauan yang disebabkan oleh kedua orang tua renta yang berada di kediaman Aksanta.


Meethila sudah mengorbankan banyak hal, termasuk menjaga Wisnu sendirian. Namun, tetap saja dia seakan tidak dihargai berada di rumah ini, mereka hanya butuh seseorang untuk disuruh-suruh tanpa digaji. Apalagi Rama tidak pernah memberi hak dan kewajibannya sebagai seorang suami pada Meethila. Bahkan Rama juga tak jarang untuk bersikap kasar pada Meethila. Kalau boleh Wisnu akui, dia merasa kasihan dengan Meethila. Wanita sebaik Meethila tidak seharusnya menjadi menantu Aksanta.

__ADS_1


"Ma, Wisnu pergi ke kampus ya." Wisnu menghampiri Meethila, menyalami wanita kesayangannya sebelum berangkat pergi menuju Universitas Binawa dan masih tetap bersama sopir untuk mengantar dan menjemput Wisnu.


Wisnu memutar bola matanya malas begitu dia melihat pak sopir dengan seragam putih sudah siap dan berdiri di sebelah mobil yang akan dia kendarai dan membawa Wisnu pergi dari sini. Di sepanjang perjalanan Wisnu disibukkan dengan ponsel yang berada digenggaman.


Begitu mobil putih itu tiba di parkiran Universitas Binawa, Wisnu turun segera. Masih dengan mata menatap ponsel sepenuhnya, Wisnu berjalan tanpa melihat keadaan. Dari sisi lain datang mobil merah berjalan di jalan yang sebentar lagi akan Wisnu lewati kalau lelaki itu ingin masuk ke dalam kelas atau wilayah kampus lainnya.


Tinn


Suara klakson itu mengejutkan Wisnu. Lelaki itu sampai menjatuhkan ponselnya. Wisnu mengambil ponselnya yang sudah terlihat retak di sudut. Wisnu harus meminta tanggung jawab dari pengemudi mobil merah ini. Namun sebelum Wisnu bisa bergerak dari tempatnya, pemiliknya sudah lebih dulu keluar.


Seorang gadis dengan rambut terurai dan pita merah muda. Kemeja biru lengan pendek dengan rok jeans di bawah lutut tapi tidak begitu panjang. Gadis itu, Eleena Safira Dirgantara.


"Lo jalan bisa pakai mata, kan?" Eleena langsung membentak begitu sudah bisa melihat Wisnu sempurna. "Kalau lo ketabrak, gue yang kena masalah walaupun semua orang di sini tau lo yang salah."


Seperti yang terjadi pada sebelum kejadian ini, kedua manusia ini sekarang saling menuduh dan menyalahkan satu sama lain atas apa yang terjadi beberapa menit lalu. Tidak ada di antara mereka berdua yang ingin mengalah, termasuk Wisnu yang sudah jelas-jelas salah.


"Lo emang cowok aneh ya, tinggal bilang 'maaf' aja sama gue, malah diribetin," ujar Eleena, melipat kedua tangannya di dada.


"Lo juga salah, karena lo, handphone gue retak." Wisnu menunjukkan kerusakan pada ponselnya.

__ADS_1


Eleena tidak peduli, malahan gadis itu berjalan maju, mendorong Wisnu. "Awas, gue mau lewat," ketusnya.


Tanpa mendengarkan ocehan Wisnu, Eleena membawa mobilnya melewati lelaki itu. Wisnu menendang kerikil di depannya melihat keangkuhan Eleena hari ini. Dasar, gadis menyebalkan. Eleena tidak akan pernah masuk dalam tipe perempuan baik-baik seperti kata Rama.


__ADS_2