Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Waktu bersama


__ADS_3

Jalan raya penuh kendaraan dan berakhir dengan kemacetan. Bunyi klakson menggelegar di mana-mana. Bunyi nyaring dari orang-orang yang tak sabaran memekikkan telinga yang mendengar.


Dan di dalam mobil merah milik seorang gadis, terdengar alunan musik western. Dia, Eleena Safira Dirgantara menengok ke arah Arfin Fano Alyas—laki-laki yang saat ini duduk di sebelahnya. Eleena yang mengemudi dan Arfin duduk sebagai penumpang. Sedikit aneh, karena biasanya yang menyetir itu laki-laki dan perempuan jadi penumpang tapi untuk kasus satu ini, agak berbeda.


"Kira-kira lo mau ke mana?" Eleena membuka percakapan antara dia dan Arfin. Lampu merah dan kemacetan yang sudah terjadi sejak 15 menit ini, mengheningkan keadaan di dalam. Hanya suara deru mesin, klakson dan jeritan orang-orang saja yang menjadi komunikasi antara keduanya.


"Nggak tau." Arfin menjawab simpel. Tidak ada penambahan lagi, mata lelaki itu tertuju pada tumpukan kendaraan di depan.


Eleena menghela napas, sedikit sedih melihat Arfin seperti ini. Namun, apa boleh buat keadaan Arfin memang jauh dari kata baik-baik saja sekarang. Eleena yakin, Arfin pasti sedang kalut dengan berbagai masalah yang ada. Mulai dari masalah keluarga, pertemanan atau mungkin masalah kampus. Menjadi seorang mahasiswa wajar saja punya masalah di kampus, mungkin Arfin juga punya.


Eleena melajukan mobilnya saat dia melihat kendaraan di depan mulai bergerak. Meskipun dengan laju pelan, mobil Eleena terus bergerak di jalanan tidak seperti tadi yang berhenti total karena kemacetan panjang.


Keheningan kembali tercipta. Arfin tidak ada mengeluarkan sepatah kata, hanya fokus menatap jalanan saja tanpa menengok ke Eleena. Eleena baru pertama kali melihat Arfin seperti ini, dia pikir Arfin bukan tipikal orang yang bisa diam tapi nyatanya saat melihat Arfin diam saja, Eleena malah merasa gelisah.


"Kalau kita makan bakso, lo mau nggak?" Eleena masih berusaha untuk membuka obrolan bersama Arfin, tapi jawaban dari lawan bicara gadis itu berupa gelengan kepala saja.


Eleena menghela napas untuk kesekian kali, dia membiarkan mobilnya itu melaju entah ke mana. Dengan keheningan yang membuat tak nyaman, Eleena terus melanjutkan perjalanan sampai Arfin mau berbicara padanya lagi.


Eleena melihat Arfin dari ekor matanya, Arfin seperti orang yang kehilangan harapan. Tidak ada sinar keceriaan seperti yang biasa lelaki itu tampilkan. Eleena tidak tahu apa masalah Arfin sebenarnya. Yang pasti, Eleena mengetahui bahwa hubungan lelaki itu bersama ketiga temannya sedang tidak baik-baik saja.


Mobil Eleena kembali berhenti. Gadis yang membawa kendaraan berwarna merah dengan empat ban itu entah ke mana, kembali terjebak di lampu merah.


Tangan Eleena bergerak, mengganti musik yang ada. Musik western yang semula terdengar, kini berubah menjadi pop Indonesia. Ada banyak jenis lagu di playlist Eleena. Dan ini salah satu lagu kesukaan Eleena.


Kau adalah darahku. Kau adalah jantungku


Kau adalah hidupku, lengkapi diriku


Oh sayangku, kau begitu


Sempurna


Nada demi nada, lirik demi lirik terdengar di telinga kedua insan di dalam mobil ini. Sejak Arfin datang ke dalam pelukan Eleena, gadis itu sadar bahwa Arfin sedang tidak baik-baik saja. Mungkin alasan Arfin menghindar dari semua orang, karena dia ingin meredam dengan sendirinya. Menemukan ketenangan dalam kesendirian.


Eleena sebagai anak Psikologi di kampusnya, paham betul bahwa cara orang menghadapi masalah itu berbeda-beda. Ada yang menyendiri untuk mendapatkan ketenangan dan pikiran yang jernih. Ada juga yang berbaur dengan lingkungan sekitar demi melupakan masalah yang ada. Mungkin, Arfin itu pilihan yang pertama.


Melihat keadaan Arfin seperti ini, membuat Eleena berinisiatif untuk mengajak lelaki itu berjalan-jalan bersamanya. Menggunakan mobil Eleena, Arfin diajak mengelilingi kota.


"El, do you love someone?" Pertanyaan Arfin memecah lamunan Eleena.


Gadis itu menoleh ke Arfin. Dia tidak menyangka bahwa lelaki yang kini menatap jalanan bertanya seperti itu untuk membuka topik pembicaraan.


Eleena hendak membuka mulut menjawab pertanyaan Arfin, namum suara klakson kendaraan di belakangnya menghentikan niat gadis itu. Lampu sudah hijau, dan Eleena harus segera melajukan mobilnya jika tidak ingin mendapat amukan dari orang-orang di sekitar.


"Kok lo nanya gitu?" Eleena balas bertanya.


"Nggak papa, El. Kalau nggak mau jawab juga nggak papa." Arfin menoleh ke Eleena. "Mau pergi ke pantai nggak?" tawar Arfin.


"Pantai?" Arfin mengangguk. "Siang hari panas gini, lo mau ke pantai. Yang benar aja." Eleena geleng-geleng kepala, seharusnya Arfin mempunyai ide destinasi yang lebih baik.


"Kan enak ke pantai, El."


"Nggak mau. Gue nggak bawa sunscream. Nanti belang lagi kulit gue."

__ADS_1


Arfin manggut-manggut. Lelaki itu beralih menatap cuaca dari jendela di sebelahnya. Memang, hari ini kelewat panas. Ke pantai bukan opsi yang baik.


"Kita ke kafe aja, mau nggak?" tawar Eleena.


"Nggak ah. Masa kafe mulu, bosan gue."


Mendengar jawaban Arfin itu, tanpa sadar memunculkan senyum Eleena. Lelaki yang sedari tadi terdiam tanpa mau berkata, kini dia sudah mulai menolak ajakan Eleena. Itu salah satu kemajuan. Eleena harus mempertahankan kondisi ini.


"Jadi mau ke mana, Arfin?"


"Ke mana aja asal sama lo. Soalnya kalau bareng lo gue nyaman."


Mulai, Arfin mulai kembali menjadi dirinya. Si Raja gombal dan penakluk para gadis dengan setiap kata-kata dan sentuhannya. Arfin sangat ahli dalam bermain kata, dan membuat semua gadis terpana. Eleena juga pernah terpana karena lelaki itu, tapi tidak pernah sampai terbawa perasaan.


"Gombal banget lo!" balas Eleena.


"Gue serius, El." Arfin jujur, untuk hal ini dia jujur. Setiap kata yang dia lontarkan mengenai Eleena adalah sebuah kebenaran yang ada di hatinya. Karena rasa nyaman yang ada, Arfin berani menangis di pundak Eleena.


"El, mau ke bioskop?" Arfin bertanya, setelah matanya menemukan ada sebuah CINEMA XXI yang baru saja dilewati mobil Eleena.


"Itu, di sana bioskopnya!" Arfin menunjuk ke belakang, tempat yang dimaksud olehnya. Eleena meminggirkan mobil merahnya, menoleh ke Arfin sepenuhnya.


"Bioskop di mana?" tanya Eleena.


Arfin menghela napas, berdecak kecil. "Udah kelewatan El," jawab lelaki itu.


"Loh."


Meskipun geleng-geleng kepala atas sikap Arfin, Eleena tetap menurut. Mobil merah miliknya berbalik arah, berjalan perlahan agar mata Eleena yang memakai kacamata bisa menemukan studio bioskop seperti yang Arfin katakan.


***


"Makasih ya Mbak," kata Arfin setelah mendapat dua buah tiket film yang sudah ia sepakati bersama Eleena sekarang tadi.


Arfin melihat jeli waktu yang tertera di tiket itu. Masih ada waktu 45 menit sebelum film dimulai, dan menunggu tanpa melakukan apa-apa itu hal gila yang membosankan.


"Lama banget empat puluh lima menit," keluh Eleena, ikut menengok tiket itu.


"Kita kelamaan." Jika saja mereka datang lebih cepat, Mun Arfin dan Eleena sudah berada di dalam studio bioskop menonton film yang tersaji.


"Jadi, mau ke mana?" tanya Eleena.


"Kita belanja aja. Gimana?" Arfin menawarkan itu dengan penuh semangat dan pengharapan. Posisi mereka berada di dekat mall, mungkin belanja bukan ide yang buruk.


"Boleh." Eleena langsung mengiyakan tanpa membantah atau berpikir.


Arfin tersenyum lebar, dia menggandeng tangan Eleena, membawa gadis itu pergi dari sana dan menuju pusat perbelanjaan. Arfin terus menggandeng tangan Eleena tanpa sedikitpun memberi celah untuk gandengan itu terputus. Terserah apa yang dikatakan dan dipikirkan orang-orang terhadapnya, yang Arfin tahu dia butuh ketenangan bukan hanya menjadi


"El, lo suka apa?" tanya Arfin.


"Apa aja suka."


Terdengar suara decakan dari Arfin, "Spesifiknya apa?"

__ADS_1


Eleena mengedikkan bahunya. Untuk saat ini, Eleena juga bingung, dia ingin apa. Banyak barang bagus bertebaran di mall ini, sangat sulit jika harus memilih dalam waktu 45 menit.


Arfin mengajak Eleena ke manapun dia bergerak. Saat lelaki itu melihat-lihat berbagai jenis kaos, kemeja dan juga celana pria. Bahkan saat Arfin singgah ke tempat jam tangan mewah. Hanya melihat, tidak membeli.


Eleena menghela napas, untuk apa Arfin memasuki tempat ini jika tidak ada yang ingin dibelinya. Itu hanya buang-buang waktu, astaga.


"Suka dress, El?" tanya Arfin, berhenti di depan toko dress. Eleena mengangguk. Bukan Arfin yang mengajak gadis itu, melainkan kini Eleena yang memimpin jalan, memilah satu persatu dress cantik terpampang di sana.


Arfin mengekori Eleena, sambil sesekali melirik arah jarum jam di arlojinya. Eleena berhenti cukup lama di depan satu dress, berwarna lilac. Tangan gadis itu bergerak hendak menyentuh dress itu, namun kalimat Arfin menghentikan semuanya.


"Udah mau mulai nih. Yuk balik."


Eleena belum sempat menjawab, Arfin sudah menarik tangannya keluar dari toko itu. Pandangan Eleena masih tertuju pada dress itu. Padahal Eleena menyukai dress itu, tapi Arfin tidak membiarkan Eleena menghabiskan waktu untuk memperhatikan dress itu lebih dalam. Arfin tidak mengetahui apa yang Eleena inginkan.


Kedua insan ini, mengantri untuk melakukan pembelian popcorn beserta minuman untuk menemani saat film sudah dimulai. Arfin melirik arloji yang melingkar di tangan, tersisa 20 menit sebelum film pilihan mereka dimulai.


Arfin dan Eleena menunggu, sembari bercengkrama sesekali. Sampai orang yang berada di depan Arfin, pergi dan kini giliran mereka memesan apa yang mereka inginkan.


Arfin membelikan dua popcorn dan Eleena membeli dua minuman. Padahal Arfin sudah mengatakan bahwa dia yang akan membayar semuanya, tapi rasa tidak enak Eleena, memaksa Arfin untuk menuruti keinginan gadis itu membayar minuman mereka.


Eleena memegang dua buah cup minuman, dan Arfin memegang dua buah popcorn dengan tiket filmnya ia letakkan di kantung kemeja.


"El, nggak papa kan nonton bareng gue?" Arfin memastikan lagi, saat mereka berdua sudah duduk di kursi masing-masing.


"Aman, Fin. Demi lo apa sih yang enggak." Eleena membalas santai, tidak mengarah ke mana-mana. Namun, hati Arfin yang tak bisa dikondisikan, malah membuat lelaki itu jantungan. Meskipun duduk santai, Arfin seakan berlomba dengan detak jantungnya.


Mereka berdua memasuki satu demi satu popcorn dan juga minuman ke dalam mulut masing-masing.


"Enak nggak popcorn nya?" tanya Eleena. Arfin mengangguk, memasukkan beberapa biji popcorn lagi ke mulutnya.


Film di mulai, ruangan yang semulanya penuh dengan suara mendadak senyap. Semua mata terfokus menonton film yang terputar.


"Kenapa milih ini?" tanya Eleena. Gadis itu memegangi kuat lengan Arfin, mencari perlindungan dari tangan kekar itu.


"Seru, El," kata Arfin. "Emangnya lo nggak suka film horor ya?" tanya Arfin.


Eleena menggeleng pelan, menunjukkan wajah melasnya. Ah sial, mata Eleena yang membesar, dan reaksi gadis itu yang kaget setiap kali ada jumpscare seperti sebuah boneka untuk Arfin. Itu terlalu lucu, Arfin tidak bisa menahan untuk tidak mengacak-acak rambut gadis di sebelahnya ini.


"Kenapa nggak bilang kalau nggak suka," ujar Arfin.


"Nggak enak nolak lo," jawab Eleena. Sebenarnya dari awal pilihan Arfin bukanlah pilihan Eleena. Eleena bukan gadis pecinta horor, bahkan kalau bisa dia menghindari horor dalam hidupnya. Eleena itu penyuka film-film romance, bukan film horor penuh dengan hal menakutkan seperti ini.


Arfin menggenggam tangan Eleena. "Nggak usah tonton filmnya, lihatin gue aja. Sambil makan popcorn. Gue kan juga ganteng kayak aktornya." Arfin tertawa kecil, berusaha menyairkan suasana agar Eleena tidak terlalu takut.


Sepanjang film diputar, Eleena hanya menutup mata. Meskipun mata tertutup, Eleena masih saja ketakutan karena telinga gadis itu masih berfungsi dengan baik. Lewat pendengarannya, Eleena bisa tahu apa yang sedang diceritakan oleh film itu.


Arfin menguap. Tiba-tiba rasa ngantuk hinggap. Arfin menaruh kepalanya di pundak Eleena. Mata Eleena masih tertutup, tapi dia tahu betul bahwa seseorang yang menyenderkan kepalanya di bahunya adalah Arfin.


Menyenderkan kepala di bahu Eleena adalah hal ternyaman yang bisa Arfin dapatkan saat ini. Dengan film yang masih menyala. Dan tangan yang terus menggenggam Eleena, mata Arfin tertutup sempurna. Lelaki yang tadinya fokus menonton filmnya, kini lelaki itu terbang ke alam mimpi segera.


Mata Eleena terbuka perlahan, dia melirik ke Arfin. Gadis itu mendengus sambil tersenyum. Bisa-bisanya di tengah film horor seperti ini, Arfin tertidur. Senyum Eleena yang terpampang karena melihat wajah Arfin, kini hilang saat mata gadis itu kembali melihat lebam di pergelangan tangan Arfin.


Entah seberapa sakitnya itu. Eleena merasa sangat iba dengan lelaki yang sekarang tertidur di pundaknya itu. Tangan Eleena bergerak, mengeluarkan salep yang tadi sudah dia masukkan ke dalam tas. Perlahan dan penuh kelembutan, Eleena mengoleskan salep ke luka Arfin, berharap luka itu tidak akan menyakiti temannya lagi.

__ADS_1


__ADS_2