Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Kerikil dan Pertengkaran kecil


__ADS_3

Matahari sudah menaiki puncak tertinggi siang ini. Kembali menyengat kulit jika berada di bawahnya terlalu lama. Membuat tubuh penuh keringat dan mengharuskan untuk mencari udara segar bila tidak ingin menjadi makhluk hidup yang dijemur di bawahnya.


Begitu juga dengan yang terjadi pada Arfin, lelaki itu keluar dari area kantin dengan menenteng segelas cup berisi kopi dingin untuk dia santap saat sudah keluar dari area kampus. Karena, jika ingin menuju tempat parkir kampus mereka harus melewati gagahnya panas dari sang surya.


Arfin berhenti di bawah atap terakhir sebelum melangkahkan kaki untuk meninggalkan atap itu dan berjalan di bawah panas matahari. Arfin menyedot kopinya, sembari melihat sesekali sang surya yang menyinari semesta tapi membuat banyak manusia merasa kepanasan karena cahayanya.


Arfin menyeka keringat di dahi. Dia juga mengipasi diri menggunakan tangan, minum kopi saja tidak cukup untuk menghilangkan panas menyengat dari matahari ini.


"Panas banget gila," ucap Arfin pelan, terus mengipasi diri dengan tangan yang digerakkan. Sayangnya, di tempat ini hanya terdapat dua musim saja, musim panas dan musim hujan. Jika sudah masuk musim hujan maka hampir sepanjang hari akan mendung dan turun tetesan air mata dari semesta. Begitupun kalau sudah memasuki jadwal musim panas, panas menyengat dari matahari bisa membuat mereka cepat mati.


Arfin menyedot kopinya sekali lagi. Kali ini dia sudah memantapkan niat untuk melewati panas ini. Arfin melangkah mengajak kakinya agak sedikit berlari untuk cepat-cepat sampai di tempat parkir dan tidak berlama-lama berada di bawah sinar matahari. Namun, sayangnya area parkir Universitas Binawa tidak memiliki atap juga. Arfin bisa merasakan betapa panasnya mobil miliknya dijemur di bawah matahari.


Arfin hendak melangkah mendekati kendaraan beroda empat berwarna silver itu, tapi melihat Wisnu dari kejauhan, Arfin mengurungkan niatnya malahan dia berganti untuk menghampiri Wisnu yang berjalan bersama Baim dan Gilang.


"Guys!" sapa Arfin menyamakan langkah ketiga temannya itu. "Lo pada mau langsung pulang?" tanya Arfin.


"Yoi," balas Baim segera. "Gue bareng sama Gilang," lanjutnya.


"Lah, kok bareng sama gue?" Langkah Gilang terhenti, dia sampai harus memiringkan kepala agar bisa melihat Baim jelas, apalagi jarak mereka berdua terhalang oleh Wisnu yang berdiri di tengah-tengahnya.


"Ya nggak papa kali, Lang. Motor gue rusak, tadi aja gue ke kampus mesan ojol, masa gue pakai ojol lagi. Rugi." Baim menjawab cengengesan, dan Gilang tidak bisa melihat di mana rasa malu Baim dalam mengatakan itu.


"Kagak mau gue," tolak Gilang mentah-mentah.


"Yaelah sama temen sendiri aja lo pelit banget, Lang. Giliran Wisnu aja lo langsung nurutin tanpa ba bi bu." Mereka melanjutkan langkah yang tadi sempat terhenti karena menjawab ucapan Baim.


"Kalau Tuan Muda yang minta beda lagi," balas Gilang. "Gilang kan babunya Wisnu bukan lo, Im," sambung Arfin merangkul pundak Baim.


"Pelit-pelit," cibir Baim.


"Biarin." Gilang membalas ketus.


Arfin hanya jadi bagian tertawa melihat pertengkaran dua orang ini. Baim dan Gilang memang sering bertengkar seperti ini, dan pertengkaran mereka jadi hal yang menyenangkan di tongkrongan. Sedangkan Wisnu sudah berdecak ketika matanya menangkap sopir berseragam putih itu berdiri di samping mobil putih menunggu Wisnu untuk masuk ke dalamnya dan melakukan perjalanan pulang ke rumah.


"Lo masih dianter jemput sama sopir?" tanya Gilang.

__ADS_1


"Gara-gara bokap gue tuh." Wisnu mempercepat langkahnya mendahului ketiga laki-laki yang tadi berjalan sejajar bersama.


Lelaki itu berhenti kala sorot matanya melihat ada mobil merah akan melintas. Wisnu tahu itu kendaraan itu milik siapa. Lelaki itu berbalik badan, menghadap mobil merah yang sebentar lagi akan menabrak dia jika sang pengemudi tidak buru-buru menginjak rem.


Tinn, Tinn


Eleena berkali-kali menekan klakson agar Wisnu bisa pergi dan dia bisa melajukan mobilnya kembali. Eleena menghela napas, menurunkan kaca mobil. Gadis itu mengeluarkan kepalanya lewat kaca mobil yang sudah terbuka.


"Minggir, gue mau lewat!" pekik Eleena pada Wisnu. Namun bukannya menurut, Wisnu malah melipat kedua tangannya di depan. "Minggir!" ulang Eleena lagi.


"Gue mau minggir kalau lo ganti rugi karena udah rusakin handphone gue," balas Wisnu jelas dan sedikit meninggikan suara, sengaja agar ketiga orang di belakangnya bisa mendengar. Tiga orang itu, tentu saja Arfin, Baim, Gilang.


"Udah gue bilang, gue nggak salah. Yang salah itu elo, siapa suruh jalan sambil main hp," balas Eleena mulai merasa kesal.


"Gue nggak mau tau, pokoknya lo ganti rugi!" tekan Wisnu.


Eleena mendengus, memutar bola matanya malas. "Lo minggir, atau gue tabrak?"


"Silahkan aja tabrak kalau berani." Wisnu menantang Eleena sekarang. Eleena mengangguk mantap, dia kembali masuk ke dalam mobilnya. Kalau lelaki itu ingin ditabrak Eleena bisa melakukannya. Dia pikir, Eleena gadis seperti apa yang tidak bisa menerima tantangannya. Kalau Eleena saja bisa melawan beberapa pria bertubuh besar yang menyerang Wisnu sendirian, maka hal mudah untuk menabrak lelaki di depannya ini.


Eleena mengklakson sekali lagi, memberi kesempatan terakhir pada Wisnu untuk minggir dan jangan menguji kesabaran Eleena.


Kedua tangan Wisnu yang semulanya menyilang di atas dada perlahan diturunkan, lelaki itu tidak bisa menyembunyikan wajah paniknya saat mobil Eleena sedikit lagi akan menabrak dia.


"Minggir Wisnu, goblok!" teriak Arfin.


Wisnu spontan lompat ke sebelah kiri untuk menghindari mobil Eleena, dan ya itu berhasil. Begitu Wisnu sudah terjatuh di atas tanah karena lompatannya, Eleena menghentikan mobilnya. Ketiga teman Wisnu menghampiri lelaki itu membantu Wisnu untuk berdiri.


Eleena kembali menurunkan kaca mobil. "Kan, gue udah bilang sama lo jangan main-main sama gue!" tegas Eleena.


Wisnu mengepalkan tangannya, untuk kesekian kali gadis ini merendahkan Wisnu dihadapan banyak orang. Eleena menaikkan kaca mobilnya, dan hendak melajukan kendaraan beroda empat itu keluar dari sekitaran Universitas Binawa.


Amarah Wisnu kembali lagi, laki-laki itu menendang kuat kerikil di depannya, dan kerikil itu jatuh mengenai body mobil merah terang Eleena. Lecet langsung terpampang nyata di sana. Eleena memberhentikan mobilnya, begitu dia mendengar ada suara yang mengenai kendaraan yang tengah dia kemudikan ini. Eleena membuka sabuk pengaman, keluar dari mobil. Dia berputar ke sisi kiri mobil. Dan benar saja mata Eleena langsung membelalak begitu ada lecetan panjang di mobil merah kesayangannya ini.


Eleena membalikkan badannya, sorot mata Eleena langsung menatap Wisnu, dia tahu ini pasti ulah dari laki-laki yang berdiri di sebelah Arfin.

__ADS_1


"Wisnu!" teriak Eleena. "Mobil gue lo apain?!" Eleena menghentak kakinya. Gadis itu meratapi lecet yang berada di mobilnya ini.


"Ini mobil kesayangan gue, hadiah dari ayah gue pas ulang tahun gue," rengek Eleena. Arfin mendekati gadis itu berdiri di sebelahnya. "Maafin Wisnu ya, El. Tadi dia nggak sengaja," ucap Arfin.


"Gue nggak mau lo yang minta maaf, harus dia yang minta maaf!" Eleena menunjuk Wisnu dengan jari telunjuknya tanpa memindahkan pandangan dari Arfin.


"Heh, gue rasa kita impas ya sekarang. Lo udah buat hp gue retak sekarang gue buat mobil lo lecet, itu namanya impas." Wisnu sama seperti biasa, sangat angkuh dan tidak pernah mau mengakui kesalahan. Eleena pikir setelah kejadian dia membantu Wisnu, lelaki itu akan berubah dan menjadi lebih ramah padanya tapi nyatanya sama saja, Wisnu hanya baik sesaat setelahnya kembali lagi ke pertama, menyebalkan.


Eleena menghampiri Wisnu, gadis itu menarik kasar kerah baju Wisnu. "Lo mau minta maaf atau—"


"Atau apa?" potong Wisnu.


Eleena menutup matanya sejenak, menghela napas dan melepaskan kerah Wisnu. "Gue bakal aduin lo sama bokap lo!" ancam Eleena.


"Lo emang tau siapa bokap gue?" Eleena bungkam karena pertanyaan ini. "Emang lo pernah lihat bokap gue? Nggak, kan."


"Gue bakal aduin lo sama nyokap gue!" sentak Eleena.


"Gue nggak takut."


Setiap balasan dari Wisnu menambah kekesalan Eleena. Gadis itu seperti berdebat dengan anak kecil saja, terlalu menyebalkan.


"Wisnu Putra Aksanta—"


"Eleena Safira Dirgantara," potong Wisnu lagi.


"Lo mau tanggung jawab sama mobil gue yang lecet apa nggak?" Eleena menunjuk mobilnya tanpa membalikkan tubuh.


Wisnu menggeleng, "Lo mau benerin ponsel gue apa nggak?"


"Gue benci sama lo, Wisnu!" teriak Eleena.


"Sama!" balas Wisnu.


Eleena menginjak kaki Wisnu dengan flatshoes hitam yang dia gunakan, dan itu kembali menyakiti kaki Wisnu lagi. Eleena sudah pernah melakukan hal ini dulu, dan sekarang dia melakukannya lagi.

__ADS_1


"Besok, gue bakal tagih tanggung jawab lo." Eleena meninggalkan Wisnu dan masuk ke dalam mobilnya. Dia membawa mobil itu keluar dari pekarangan kampus.


Sangat menyebalkan, Eleena tidak tahu bagaimana caranya mengatakan lecet di mobilnya ini pada Arjuna jika pria itu bertanya. Eleena memukul setir mobilnya, Wisnu sangat menyebalkan. Eleena benci lelaki itu.


__ADS_2