
Mobil hitam berhenti berlogo AK berhenti setelah memasuki pekarangan rumah bak istana milik keluarga Aksanta. Wisnu turun bersama Eleena. Lelaki itu mendekatkan dirinya pada Eleena yang tak bergerak dari tempat karena terpesona oleh interior dari rumah Aksanta.
Eleena tidak heran kenapa mereka menyebut kalau keluarga Aksanta adalah the biggest family's. Dari interior rumahnya saja, orang-orang pasti akan menebak kalau kekayaan yang dimiliki mereka tidak terhitung jumlahnya.
"Ayo." Wisnu menggenggam tangan Eleena tanpa izin dari gadis itu. Eleena menatap Wisnu saat dia merasakan ada sentuhan di tangan kanannya. Gadis itu hendak membuka mulut untuk berdebat dengan Wisnu karena dengan sangat tidak sopan menyentuh tangannya, tapi saat Wisnu membawa gadis itu masuk ke dalam rumahnya Eleena kehabisan kata-kata.
"Ini." Suara Wisnu menginterupsi setiap orang yang ada di ruang tamu.
Berbagai tatapan tertuju pada Eleena. Ada tatapan dari wanita tua yang menatap Eleena intens seakan-akan dia berusaha mencari kesalahan dan kekurangan Eleena dari mata yang terlapis oleh kacamata sama seperti dirinya. Ada juga tatapan acuh dari pria tua yang Eleena tebak pasti itu kakek Wisnu. Pria tua itu hanya menatap Eleena sekilas, seakan tidak peduli apa dan bagaimana gadis itu bisa bersama cucunya sekarang.
"Hai, kamu pacar Wisnu ya?" Ini tatapan yang Eleena suka. Perempuan seusai Sinta menghampiri gadis itu saat Eleena berdiri di hadapan mereka.
Meethila memberikan Eleena pelukan hangat sebagai kata selamat datang di rumah mereka. Hanya Meethila yang bisa membuat Eleena nyaman karena tatapannya. Karena di dalam sorot Meethila tidak ada sorot menghakimi, meremehkan dan membuat Eleena seakan-akan terintimidasi.
"Kamu?" Rama yang baru saja datang ke ruang tamu dikejutkan dengan kehadiran gadis yang menolongnya beberapa hari lalu dari pencurian. Yang membuat Rama semakin terkejut adalah tangan Wisnu yang menggenggam tangan gadis itu, yang berarti kalau pacar Wisnu adalah gadis sopan yang menarik perhatian Rama beberapa hari lalu.
"Halo Tuan," sapa Eleena sopan.
"Tidak usah panggil Tuan, panggil Om saja. Kamu pacar anak saya." Wisnu membulatkan matanya mendengar kata-kata itu dengan mudahnya keluar dari mulut Rama. Memang ini pertemuan kedua mereka, tapi Rama tidak pernah seramah ini pada siapapun yang notabenenya adalah teman Wisnu kecuali Arfin.
"Selamat datang di kediaman Aksanta, Nak. Saya yang mengundang kamu untuk makan malam ini," ucap Rama jelas dan sedikit penuh kelembutan, berbeda dengan nada yang biasa dia pakai ketika berbicara dengan Wisnu.
"Silahkan duduk." Meethila mengarahkan Eleena untuk duduk di kursi yang tersedia di meja makan mereka.
Meja makan panjang berwarna putih yang dialasi oleh kain panjang berwarna merah. Ada banyak hidangan yang ditutupi karena takut ada lalat atau yang sejenisnya hinggap di sana. Bahkan ada lilin yang sudah menyala di beberapa sudut meja, mereka menyiapkan makan malam bersama Eleena layaknya di sebuah restoran bintang lima.
Wisnu duduk lebih dulu, dia tidak peduli ada Eleena yang kebingungan ingin duduk di mana karena masih ada tiga kursi kosong lagi.
"Kamu nggak mau bantu pacar kamu?" tanya Rama menatap Wisnu tajam setelah dia melihat Eleena yang belum duduk karena bingung ingin duduk di sebelah mana.
"Duduk di sebelah gue," ujar Wisnu pelan dan itu langsung mendapat kerutan kening dari Rama. Wisnu melirik ekspresi Rama sekilas dan dia sadar kalau dia melakukan kesalahan. Memang ini hanya pura-pura tapi tetap dia harus bersikap layaknya kekasih yang baik untuk Eleena agar Rama tidak curiga.
Dan itu yang dilakukannya, lelaki itu berdiri memundurkan kursi Eleena yang berada di sebelahnya. Dengan penuh senyuman hangat dia mempersilahkan perempuan yang kini menjadi pacarnya duduk di sana. Setelah memastikan Eleena nyaman dengan posisi duduknya, barulah Wisnu duduk di sebelah gadis itu.
__ADS_1
Para pelayan bergerak untuk membuka satu demi satu makanan yang tersaji di meja makan. Eleena tidak dapat menghitung berapa banyak makanan yang disajikan, karena ketika gadis itu ingin menghitungnya suara Rama menginterupsi.
"Silahkan dinikmati hidangannya," kata Rama dan mendapat anggukan dari Eleena.
Gadis itu mengambil sedikit demi sedikit makanan yang ia rasa ia suka dari yang sudah dihidangkan. Eleena mengambil makanan itu sesuai dengan porsi yang biasa dia makan. Mungkin kalau menurut orang-orang itu terlalu sedikit tapi untuk Eleena ini adalah porsi yang pas. Apalagi neneknya Eleena selalu menegaskan padanya bahwa dia sebagai perempuan tidak boleh makan berlebihan atau terlalu banyak dari porsi normal pada umumnya.
"Nama kamu Eleena, kan?" tanya Rama ketika dia membuka acara makan malam itu. Eleena mengangguk kecil menatap Rama dengan senyum kecil kayaknya gadis kecil yang ketakutan padahal Rama tidak melakukan apa-apa padanya.
"Boleh saya tahu siapa nama lengkapmu, Nak?"
Wisnu langsung menatap Eleena mengingatkan gadis itu pada percakapan mereka saat masih di dalam mobil.
"Eleena Safira." Hanya dua kata. Wisnu diam-diam bernapas lega mendengar jawaban Eleena.
"Nama yang indah. Seperti orangnya, kamu cantik," puji Rama.
Eleena tersenyum canggung mendengar pujian Rama ini. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa.
Mereka makan dalam diam. Ya, Eleena merasa ini tidak enak. Hawa kecanggungan semakin menerobos masuk ke dalam tubuhnya. Kaki gadis itu seakan meminta pemiliknya untuk melarikan diri dari tempat yang terasa seperti rapat anggota kerajaan bukan makan malam keluarga.
Eleena menatap Wisnu dengan mata bulat polos seakan meminta Wisnu untuk menjelaskan lebih dalam dari kata-kata yang baru dia keluarkan.
"Di sini." Wisnu menunjuk area di bawah bibir sebelah kiri. "Mana?" Eleena masih kebingungan akan itu.
Wisnu bukan orang yang sabaran untuk menjelaskan sesuatu berkali-kali. Dia langsung saja bergerak mengambil tisu dan mengelap sisa makanan di sudut kiri bibir Eleena. Kecil memang sampai Eleena tidak sadar bahwa ada sesuatu di area wajahnya.
"Lain kali makan hati-hati," ujar Wisnu santai tapi masih saja terasa ketus di pendengaran Eleena.
"Namanya nggak tau," balas gadis itu.
"Ya karena nggak tau jadi aku kasih tau."
Eleena sedikit tertegun dengan panggilan aku-kamu dari Wisnu. Tapi dalam sekejap dia menghilangkan kebingungan itu jauh-jauh dari pikirannya. Apalagi saat dia melihat Rama dari ekor matanya, rasa takut seakan menyerang dirinya.
__ADS_1
Eleena kembali melanjutkan aktivitas makannya yang belum selesai. Tapi sepertinya itu agak sedikit bermasalah, karena rambut panjang Eleena nyaris mengenai makanan jika saja gadis itu tidak menahan rambut itu dengan tangan.
Wisnu kembali berdecak. "Makanya rambut dikuncir," ujarnya.
"Kan mau makan malam."
"Jadi karena mau makan malam nggak kuncir rambut?"
"Kalau di rumah sendiri kuncir rambut tapi inikan rumah kamu, bukan rumah aku." Eleena terus membalas argumen Wisnu. Mereka berdua berdebat seakan-akan hanya mereka yang ada di sana.
"Risih aku." Wisnu melenggang pergi dari sana, meninggalkan Eleena sendirian dengan berbagai tatapan aneh yang tertuju padanya karena kepergian lelaki itu yang secara mendadak.
Eleena diserang rasa panik, diserang rasa malu yang bercampur jadi satu. Wisnu sangat tidak tahu diri, bagaimana Eleena menjelaskan ini semua pada tatapan yang tertuju padanya. Ini semua rencana Wisnu tapi dia malah menyusahkan Eleena. Seharusnya dari awal Eleena menolak lelaki tidak tahu malu itu.
Namun sumpah serapah yang Eleena gumamkan dalam hati untuk Wisnu menghilang kala iris cokelat Eleena menemukan lelaki itu kembali berjalan ke arahnya. Dia membawa sesuatu dari tangan.
"Nih, kuncir."
"Hah?" Sebentar, Eleena bukan perempuan lemot ya tapi karena segala yang dilakukan Wisnu terlalu tiba-tiba otak Eleena sedikit berproses lebih lama untuk memahami setiap tingkah laku dari lelaki itu.
Sama seperti dia yang mengelap sisa makanan yang menempel di bibir Eleena, kini dia juga menguncir rambut Eleena tanpa seizin sang empu. Eleena tertegun hebat, siapa sangka kalau pergerakan tangan Wisnu menguncir rambutnya bisa membuat jantung Eleena seakan sedang melakukan pesta di dalam sana.
"Biasanya rambut dikepang sekarang sok-sokan gerai rambut," omel Wisnu, mengelus kepala Eleena setelah dia selesai menguncir rambut gadis itu.
Eleena bisa merasakan ada rasa panas yang merambati wajah. Perlakuan Wisnu ini, tidak pernah Eleena dapat dari laki-laki lain selain Arjuna. Wisnu dengan sangat santai seakan tidak melakukan apa-apa kembali melanjutkan makannya yang sempat tertunda.
Eleena tidak bisa berhenti menatap Wisnu yang dalam diam mulai menghabiskan makanan. Seakan gadis itu ingin meminta pertanggungjawaban dari laki-laki ini tapi dia tidak tahu apa kesalahan Wisnu untuk dia ajak debat.
"Makan." Suara Wisnu menyadarkan Eleena dari lamunan. Dia kembali dengan sikap canggungnya memakan makanan miliknya.
"Pelan-pelan makannya, Sayang, nanti keselek." Eleena sempat berhenti mengunyah karena kalimat yang Wisnu lontarkan barusan.
Jantung Eleena semakin tidak bisa diajak bekerjasama. Dia tidak pernah merasa begini sebelumnya, tapi karena beberapa perlakuan Wisnu padanya, Eleena seakan dibawa ke langit ketujuh.
__ADS_1
Siapa sangka, kalau Wisnu Putra Aksanta bisa membuat Eleena Safira Dirgantara tertunduk malu dan memunculkan rona merah di wajahnya.