Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Kisah di kala hujan


__ADS_3

Banyak kendaraan berlalu lalang di jalan raya. Dan rintikan kecil dari langit membuat jalanan yang dilalui perlahan-lahan basah. Suasana malam ini terlihat tidak istimewa bagi seorang gadis yang tinggal di rumah bak istana. Gadis berpita merah muda yang menjadi pengikat rambutnya agar tidak berantakan, memandangi langit malam tanpa kehadiran bulan dan bintang dari balkon kamar. Kacamata yang bertengger di atas hidung dan piyama berwarna merah muda bercelana pendek dan berlengan pendek, warna piyamanya sesuai dengan pita yang dipakai gadis itu.


Gadis itu menghela napas berkali-kali, rasanya hidup ini terasa membosankan, nyaris tidak ada hal menyenangkan yang singgah dalam hidupnya. Eleena melirik novel yang belum selesai ia baca, novel itu masih terbuka seakan menunggu Eleena menyelesaikan bacaannya. Namun Eleena tampak enggan melanjutkan kisah yang belum selesai ia baca.


Eleena kembali memandangi langit malam yang masih menurunkan rintik-rintik. Sejatinya setiap manusia berada di bawah langit yang sama. Jikalau kamu memandangi langit malam ini, bisa saja ada orang lain di luar sana yang memandangnya juga. Wisnu melihat rintik-rintik hujan membasahi jalanan dari jendela kamar.


Wisnu menyukai hujan, apalagi hujan dengan rintik-rintik tak terlalu deras seperti ini, ingin sekali rasanya Wisnu berlari ke luar rumah dan duduk bersimpuh di bawah hujan. Atau merentangkan tangan sambil menutup mata, menikmati setiap tetesan air hujan yang jatuh mengenai wajah. Tetesan hujan ada kalanya bisa memberi ketenangan. Bagi sebagian orang, mungkin hujan hal yang menakutkan karena bisa menyebabkan sakit jika berlama-lama di bawahnya. Namun bagi Wisnu, hujan adalah salah satu nikmat Tuhan. Salah satu hadiah semesta yang bisa Wisnu syukuri di dunia.


Wisnu menatap cukup lama setiap tetesan hujan itu, rintikan itu mengajak Wisnu untuk melamun sembari menikmati hawa dingin yang menembus kulit.


Selain Eleena dan Wisnu, ada juga orang ketiga di antaranya. Lelaki berkaos coklat dan celana pendek cream itu seperti biasa duduk di rooftop rumah. Asap panas dari cokelat panas yang ia buat memberi sedikit kehangatan, saat hawa dingin malam melanda.


Sama seperti sebelumnya, tiada hari tanpa Arfin memandangi langit malam. Senja memang indah, tapi langit malam juga tak kalah indahnya. Niat Arfin hanya ingin memandangi langit malam yang didampingi bulan dan bintang. Namun, awan gelap dan rintikan hujan membawa bulan dan bintang kesayangan Arfin pergi. Mereka tidak terlihat, hanya ada rintikan hujan yang perlahan semakin deras. Maka dari itu Arfin terpaksa berteduh di bawah atap yang berada di dekat rooftop. Biasanya Arfin duduk di tengah-tengah rooftop sangat menikmati langit malam kesukaannya.


Langit malam itu indah, bisa memberi ketenangan tapi jika bercampur dengan hujan, keindahan langit malam seketika hilang. Arfin tidak menyukai hujan, lelaki itu akan sakit jika ia terkena hujan, jangankan untuk waktu yang lama saat Arfin menyebrang jalan dan dia terkena hujan saja Arfin bisa sakit keesokan harinya.


Ketiga manusia itu tenggelam dalam lamunan langit malam bercampur rintikan hujan. Dan di sini, Sinta menunggu jemputannya datang. Wanita itu menenteng tas hitam memandangi hujan yang semakin deras, bahkan Sinta yang meneduh saja bisa terkena basahnya. Wanita itu berdiri di depan sebuah toko. Ada pertemuan dengan teman lamanya, dia berpikir ingin mampir singgah sebentar ke toko ini untuk sedikit bernostalgia saat masa kecil. Toko itu menjual mainan yang dulu gemar sekali Sinta mainkan, dan ada juga makanan khas masa kecil Sinta.


"Bu, saya sudah mau tutup. Ibu bisa pergi dari sini ya." Penjual itu menghampiri Sinta, menyuruh wanita itu pergi dari sana. Sinta memandangi hujan sejenak, sudah terlalu deras tapi tidak baik juga kalau Sinta di sini lebih lama. Sudah saatnya Sinta mencari tempat berteduh di tempat lain.


Sinta melangkah pergi menerobos hujan yang kini semakin deras. Tas hitam Sinta ia taruh di atas kepala untuk menghindari tetesan air hujan. Namun, belum sampai Sinta di tempat berteduh, ada sebuah tangan besar membawa payung berdiri di depannya memayungi Sinta yang sudah basah.


"Jangan main hujan, Sin." Sinta mendongakkan kepala, saat itu juga Sinta mempertemukan iris hazel Rama dengan iris cokelat miliknya. Tangan yang memegang payung dan memayungi dia adalah Rama, Sinta pikir tadi Arjuna, tapi semesta malah membawa Rama.


"Jangan di sini." Tangan kanan Rama memegangi payung untuk memayungi dia dan Sinta, dan tangan kiri digunakan untuk menarik Sinta pergi dari tempat itu.


Sinta dan Rama berhenti tepat di tengah jalan raya, ketika ada suara klakson Rama langsung membawa Sinta pergi. Tidak peduli mau Sinta setuju atau tidak. Mereka berdua berhenti di pinggir jalan. Tanpa atap di atasnya tapi ada payung besar milik Rama yang menjadi penghalau air hujan.


"Biasanya kamu sering bawa payung, tapi sekarang aku yang mayungi kamu." Rama berucap seperti itu, dan Sinta perlahan menundukkan pandangan, dia menatap jalanan yang sudah basah. Ada sedikit rasa sakit yang terselip di hatinya saat Rama berucap.


"Nggak bawa mobil," jawab Sinta. Kedua manusia ini kembali saling terdiam, tanpa mengucapkan kata, sibuk tenggelam di pikiran masing-masing.


Pikiran Sinta mengajaknya kembali kepuluhan tahun lalu. Saat hujan deras melanda dan kondisinya sama. Hujan deras di langit malam. Sinta yang membawa payung memayungi Rama yang berdiri di bawah air hujan sambil menutup mata, seakan-akan pria itu menikmati setiap tetesan air hujan yang jatuh mengenai wajah dan membasahi badan.


Namun, pada waktu itu hubungan Rama dan Sinta masih baik-baik saja. Mereka terikat dalam satu perasaan dan hubungan yang sama, tidak ada rasa canggung di dalamnya hanya ada kehangatan kala Sinta mengajak Rama berteduh di sebuah tempat makan dan memesan dua cangkir kopi. Hawa panas dari kopi itu memberi kehangatan pada Rama dan Sinta kala dingin hujan melanda.


Dulunya, saat hujan tiba, Rama suka membawa Sinta berdiri di tengah-tengahnya. Berputar di atas jalanan sambil tertawa riang gembira, melepaskan semua rasa sesak yang membengkak di dada. Namun, dulu adalah dulu, kisah indah waktu itu tidak bisa terjadi di masa sekarang apalagi pada dua orang asing seperti mereka ini.


Deru napas Rama menembus kulit Sinta. Masih sama, deru napas Rama masih hangat setiap kali menembus kulit Sinta seakan mampu memberi kehangatan pada Sinta yang kedinginan. Sinta mengelus lengannya yang tidak tertutup oleh kain dikarenakan pakaian Sinta berlengan pendek, dan sialnya tidak ada syal ataupun jaket di tas hitam kecil miliknya.

__ADS_1


Rama merasakan perempuan di sebelahnya ini tampak kedinginan. Pria itu melirik jas hitam yang terpakai pas di kedua pundak Rama. Rama menyodorkan gagang payung kehadapan Sinta, menyuruh perempuan itu untuk memeganginya sebentar. Sinta menurut, dari iris cokelatnya dia melihat Rama melepas jas, dengan perlahan dan sangat hati-hati Rama menaruh jas miliknya di pundak Sinta, dalam diam Rama kembali mengambil payung dari genggaman tangan Sinta.


"Pakai aja, nanti sakit," suruh Rama. Sesak kembali mengerubungi dada Sinta, ingin sekali kedua irisnya ini mengeluarkan air mata tapi seakan dia lupa bagaimana cara mengeluarkannya. Dengan tangan gemetar, Sinta memakai jas itu ke tubuhnya, jas Rama yang terbilang besar seakan membungkus tubuh kecil Sinta.


"Kenapa nggak bawa payung?" tanya Rama lagi. "Lupa." Kali ini Sinta menjawab jujur, siapa yang menduga akan turun hujan malam ini.


"Biasanya rajin baca prediksi cuaca jadi selalu sedia payung sebelum hujan," ucap Rama.


Bibir Sinta melengkung membentuk senyuman, "Tadi lupa bacanya." Ada rasa malu terselip di kata-kata Sinta. Dia harus sadar kalau daya ingatnya semakin menurun karena bertambahnya usia.


"Kamu lucu ya." Sinta terdiam. "Karena kamu lupa baca prediksi cuaca jadi lupa bawa semuanya. Biasanya kamu selalu bawa payung ke manapun kamu pergi, atau bawa jaket biar nggak kedinginan tapi sekarang kamu lupa semuanya. Kamu juga lupa bawa jam tangan, kan? Terus kenapa kamu malah bawa tas hitam? Bukannya kamu nggak suka ya sama warna hitam? Hak kamu juga, itu terlalu tinggi, kalau jalan harus hati-hati biar nggak jatuh. Jangan pernah jalan buru-buru kalau pakai hak kayak tadi, kamu sering banget jatuh kalau pakai hak."


Tanpa sadar air mata menetes membasahi pipi Sinta. Sesak sekali rasanya, mendengar Rama masih mengingat segala hal tentang dirinya. Hal-hal yang Sinta suka dan tidak suka, hal yang sering Sinta lakukan dan tidak, Rama masih mengingat semuanya.


Sinta tidak akan pernah bosan untuk mengatakan Rama masih sama, tidak ada yang berubah sedikitpun dari pria di sebelahnya ini. Perhatian kecil Rama, tatapan sendu dan tajam dari Rama, amarah Rama, kerapuhan Rama, semuanya sama. Kata orang, manusia akan berubah seiring berjalannya waktu tapi untuk Rama, tidak. Sinta seakan bertemu dengan Rama 23 tahun lalu, saat pertama kali hubungan mereka dimulai. Saat rasa cinta tumbuh di antara keduanya, saat mereka menikmati dunia dengan canda dan tawa, bermain-main dan menghabiskan waktu di bawah sinar mentari dan bulan, melihat dunia dari sudut pandang yang bahagia.


"Kenapa kamu masih ingat itu?" tanya Sinta, meremas kuat jas hitam Rama menyalurkan rasa sesaknya di sana.


"Semua tentangmu nggak bisa aku lupain, Sin, meskipun aku mau." Tetesan air mata kembali jatuh ke pipi Sinta. "Semua hal yang berkaitan tentang kamu semuanya masih sama Sinta, termasuk perasaan aku. Aku pikir dengan jauhi kamu dan mulai hubungan baru kamu bisa pergi dari ingatan aku, tapi nyatanya aku salah. Aku nyakitin diriku sendiri dengan maksa untuk lupain kamu," lanjut Rama.


Kedua manusia ini kembali terdiam, menatap jalanan basah yang masih dilalui oleh banyak kendaraan. Mereka masih berdiri di tempat yang sama, tidak bergerak sedikitpun dari tempat. Dalam diam, mereka seakan bertukar pikiran tanpa mempertemukan pandang.


"Kamu juga ngapain di sini?" Sinta balik bertanya, menimbulkan senyuman Rama. Perempuan di sebelahnya ini masih sama, saat mereka mempertemukan iris mereka Sinta tidak berubah.


Iris Sinta seakan tenggelam dalam senyuman kecil Rama, indah, hanya itu.


"Kamu nggak berubah, Sin," kekeh Rama. "Kamu juga nggak berubah, masih perhatian kayak dulu." Balasan Sinta ini kembali menimbulkan kecanggungan di antara mereka. Sinta menutup matanya merutuki diri tidak bisa menahan untuk mengucapkan hal itu.


"Aku tadi lewat sini, nggak sengaja ketemu kamu lagi lari jadi aku samperin." Rama membuka suara untuk mengubah topik pembicaraan yang tadi sempat membuat mereka terdiam.


"Oh, aku tadi ketemu temen lama," sambung Sinta mengikuti arah pembicaraan Rama.


"Sin, kamu apa kabar?"


"Baik. Kamu sendiri?"


Rama terdiam sejenak, seakan mengolah kata untuk ia ucapkan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman dan membuat Sinta nyaman.


"Aku juga baik, tapi... kosong."

__ADS_1


Sinta mengerti maksudnya, karena sejujurnya Sinta juga merasa ada kekosongan di dalam dirinya, kekosongan yang masih berusaha Sinta cari sampai sekarang. Kekosongan yang membuat hidup Sinta seakan tak bermakna walau hidup bergelimang harta. Sinta memiliki segalanya, kasih sayang, harta, anak, suami tapi itu semua tidak bisa mengisi kekosongan yang ada di hatinya.


Duarr


Suara petir terdengar. Sinta lantas memeluk Rama yang berada di sebelahnya. Pelukan erat yang menjatuhkan payung dari genggaman Rama. Tubuh perempuan itu bergetar, Rama pikir Sinta sudah tidak takut pada petir setelah kepergiannya tapi nyatanya masih sama. Setiap kali suara petir bergumuruh itu terdengar di telinga Sinta dia semakin mengencangkan pelukan.


Tangan Rama bergerak menutupi telinga Sinta yang masih memeluknya erat. Dibawah hujan deras kedua manusia ini membuat perasaan nyaman kembali tumbuh. Rama tahu apa yang harus dia lakukan saat petir terdengar di telinga Sinta dan Sinta tahu apa yang harus dia lakukan juga.


Rintik hujan membasahi mereka berdua, Sinta yang masih memeluk Rama dan Rama yang terus menutupi kedua telinga Sinta dengan kedua tangannya.


"Takut..." lirih Sinta.


"Jangan takut, ada aku." Suara Rama ini selalu berhasil memberi Sinta ketenangan. Disaat dirinya hancur dulu suara Rama lah yang selalu Sinta cari. Rama dulu memiliki peran penting dalam hidup Sinta, tapi sekarang, mungkin sudah tidak.


Masih sama, Arjuna selalu menjadi orang ketiga di antara mereka. Arjuna yang berdiri di sebelah mobilnya membawa payung yang sudah terbuka dan memayungi dirinya agar tidak terkena tetesan hujan. Pria itu terdiam di tempat, mengatasi rasa sesak yang melanda di dada melihat istrinya memeluk orang yang dulu paling berperan penting di hidupnya.


Kaki Arjuna diajak melangkah, dia mendekati Rama dan Sinta yang terlihat sangat nyaman pada aktivitas satu sama lain.


"Sinta." Suara Arjuna ini membuka mata Sinta. Dia melihat Arjuna yang datang membawa payung. Sinta sontak melepaskan pelukannya dari Rama, begitupun Rama yang menurunkan tangannya dari telinga Sinta.


"Juna, ini—" Perkataan Sinta terhenti kala Arjuna berdiri di depannya memayungi istrinya yang sudah basah kuyup karena hujan.


"Tadi ada petir, Sinta takut petir makanya dia meluk saya, saya tidak memiliki hubungan apapun dengan istri anda, Tuan Dirgantara," jelas Rama, takut kalau Arjuna akan salah paham pada mereka. Arjuna tidak menjawab apapun, dia mengajak Sinta untuk pergi dari sana meninggalkan Rama.


"Lain kali jangan pakai hak lagi, nanti kamu bisa jatuh," ucap Rama saat mereka berdua sudah mendekati mobil.


Sinta berbalik badan, melihat Rama berdiri di bawah hujan. Hanya beberapa saat dia melihat Rama, sebelum Arjuna menyuruhnya untuk masuk ke dalam mobil.


"Masuk, nanti kamu sakit. Kamu udah basah." Arjuna membuka pintu mobil dan Sinta masuk di dalamnya. Diikuti oleh Arjuna yang masuk ke dalam mobil dan duduk di bangku kemudi.


Sinta menurunkan jendelanya, dia kembali menatap Rama di seberang sana. Rama yang tersenyum ke arahnya sambil memunculkan senyum padahal air sudah membasahi seluruh tubuhnya. Rama melambaikan tangan ke arah Sinta, lambaian tangan perpisahan yang paling Sinta benci, mau dulu atau sekarang.


"Hati-hati Sinta!" jerit Rama sekuat mungkin agar perempuan itu bisa mendengar di tengah ributnya suara deras hujan.


Sinta memunculkan senyum getir, "Jangan berdiri di bawah hujan, Ram. Kamu bisa sakit besok, kalau kamu sakit aku nggak ada di sana," ucap Sinta yang tentu tidak bisa didengar oleh Rama tapi mampu didengar Arjuna dengan sangat jelas.


Arjuna menutup matanya sejenak, dia menutup jendela mobil di sebelah tempat duduk Sinta. Pria itu menginjak pedal gas dan membawa mobil itu pergi dari sana.


Sinta membetulkan posisi duduknya, menghadap jalanan di depan. Rasa kosong itu kembali tiba, rasa kosong yang sangat ingin Sinta singkirkan bagaimanapun caranya. Sinta memang memiliki segalanya, tapi Sinta, tidak memiliki Rama.

__ADS_1


Perspektif orang terhadap hujan dan langit malam berbeda-beda, ada yang merasa hampa, tenang dan takut. Sejatinya apapun yang ada di dunia itu adalah anugerah Tuhan, termasuk hujan di kala malam. Mungkin lewat hujan ini Yang Maha Kuasa ingin memberi sedikit kejutan di dalamnya. Setiap hujan pasti ada kisah di dalamnya. Konon katanya, kisah dikala hujan merupakan kisah terbahagia atau kisah tersakit. Selalu ada kisah, di balik derasnya hujan.


__ADS_2