Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Makan malam


__ADS_3

Iris mata hazel milik seorang lelaki menatap lesuh meja yang dipenuhi dengan berbagai macam hidangan. Hidangan bak hotel bintang lima.


"Ayo." Suara berat dari seorang pria dan sedikit dorongan yang diberikannya, melangkahkan kaki lelaki berkemeja putih dengan setelan jas dan dasi hitam.


Laki-laki itu duduk di kursi berjumlah 6 buah. Yang berarti akan ada 6 orang duduk di sana. Kedua bola mata miliknya mengelilingi tempat ini. Restoran yang sepertinya sudah di booking untuk pertemuan penting seperti kata Rama.


Wisnu sesekali menghela napas dan menunduk. Paksaan dari Rama membuat Wisnu lemas. Setelah kemarin malam Rama memberitahukan bahwa dia akan dijodohkan, esok harinya Rama langsung mengajak Wisnu untuk menghadiri acara makan malam dengan orang yang sudah Rama tentukan untuk menjalin hubungan lebih dekat dengan keluarga Aksanta.


Wisnu masih belum tahu siapa gadis yang akan dia temui nanti. Tapi dari reaksi Rama kemarin malam, Wisnu bisa memastikan bahwa gadis itu bukanlah dari keluarga Dirgantara apalagi Agustama. Entah apa yang aneh dari nama itu sampai-sampai Rama sangat emosi mendengarnya.


"Tunjukkan kalau kamu anak keluarga Aksanta, Wisnu," bisik Rama. Wisnu mengangkat pandangannya ke depan, mengintip pergerakan Rama dari ekor mata.


Rama tampak sangat bersemangat untuk pertemuan kali ini, begitu juga Meethila. Wanita yang merupakan ibu Wisnu juga sangat bahagia bahkan Meethila lah yang meyakinkan Wisnu untuk menghadiri dinner kali ini.


"Berdiri." Suara Rama memaksa kaki Wisnu berdiri. Mereka memasang senyuman di wajah masing-masing.


Rama menyambut kedatangan 3 orang yang tak Wisnu kenali. Rama berjabat tangan dengan seorang pria yang sepertinya seumuran dengan Rama. Meethila juga berpelukan dengan wanita yang berada di sebelah pria tadi, sudah pasti itu istrinya.


Gadis berambut cokelat terang mengulurkan tangan di depan Wisnu. "Melia Dania Satya," ucapnya. Wisnu memandang jabatan tangan gadis itu tak berniat sama sekali untuk membalas hingga senggolan kecil dari Rama membuat Wisnu dengan terpaksa membalas jabatannya.


"Wisnu Putra Aksanta."


"Kayaknya kamu baik," puji gadis ber-dress merah muda.


Setelah perbincangan dan sambutan singkat, akhirnya Wisnu bisa duduk juga. Rama membuka dinner mereka dengan meminum teh hambar yang sudah disiapkan oleh pihak restoran.


Wisnu tidak menyukai teh ini, tidak ada rasa sama sekali, tapi kenapa Rama menyukai minuman aneh seperti ini.


"Anak kamu lebih tampan dari yang saya kira Tuan Aksanta."


Rama terkekeh pelan, "Panggil saja Rama, tidak usah terlalu formal di sini. Kita melakukan dinner kekeluargaan bukan dinner bisnis lagi." Kedua pria paruh baya itu tertawa bersama, dan Wisnu dia memutar bola matanya malas.


Wisnu paling tidak suka dengan acara seperti ini, acara formal membuat Wisnu lelah. Apalagi jika dipandang terus-menerus oleh gadis yang baru ia temui. Gadis itu pikir Wisnu akan tertarik, yang ada Wisnu malah merasa ilfeel.


"Kamu, kuliah di mana?" Mendengar suara dan nada bicara itu saja rasanya Wisnu ingin muntah. Entah memang gelagat gadis di depannya ini imut atau sengaja dibuat imut, Wisnu pun tak tahu. Yang jelas, Wisnu merasa geli.


"Kampus Binawa. Jurusan manajemen."


Gadis itu ber-oh. "Aku, di Universitas Adiba," balasnya, menunduk sambil tersenyum-senyum seperti orang gila.


"Gue nggak nanya." Rama memukul paha Wisnu pelan begitu jawaban lantang keluar dari mulut anaknya.


"Yang sopan," bisik Rama tanpa menggeser giginya dan terus menampilkan senyum dihadapan rekan bisnis yang sebentar lagi akan menjadi besan Rama.


Wisnu mendengus sebal, ini sangat drama untuk Wisnu penyuka realita.


Rama dan teman bisnisnya masih melanjutkan pembicaraan meski mereka semua sedang makan. Wisnu menjadi tidak selera dengan makanan yang dihidangkan karena tatapan menggelikan dari gadis di depannya ini.

__ADS_1


"Cewek begini cocok banget buat Arfin," batin Wisnu.


Ting


Dan benar saja, notifikasi dari ponsel Wisnu kali ini berasal dari Arfin. Semesta sepertinya mendengar suara hati Wisnu. Semesta langsung mendatangkan Arfin, walau dia masih marah dengan Arfin setidaknya Wisnu punya alasan untuk membuang pandangan dari gadis menggelikan ini.


Arfin:


Sorry banget, Wis


Gue rasa, ada yang perlu gue omongin, ini penting, dan ada kaitannya sama El.


Belum sempat Wisnu membalas, ponselnya lebih dulu diambil oleh Rama. Tangan besar dari pria itu memencet tombol panggilan ke nomor yang mengganggu aktivitas mereka.


"Halo," sapa Arfin.


"Anak saya sibuk, jangan diganggu. Terimakasih."


Rama mematikan teleponnya secara sepihak memunculkan banyak tanda tanya dari Arfin di seberang sana. Rama kembali menaruh ponsel Wisnu di sebelah pemiliknya.


"Jangan main ponsel kalau lagi makan, Nak. Papa selalu ngajarin ini ke kamu." Wisnu merasa jijik dengan perkataan Rama barusan. Sangat pencitraan. Hanya karena dia bertemu dengan rekan bisnisnya dia berubah menjadi ayah idaman. Pertemuan ini penuh dengan kebohongan.


"Maaf, saya izin ke toilet." Wisnu pergi dari sana, dan gadis berambut cokelat terang ingin mengejar namun ditahan oleh sang ayah.


Wisnu menutup pintu toilet, membasuh wajah dengan air yang mengalir dari keran di wastafel.


"Banyak banget drama!" Wisnu mengepalkan tangan. "Gue benci banget!" Wisnu mematikan keran air, beralih menatap pantulan diri dari cermin.


Wisnu datang kembali ke meja makan dan langsung disambut dengan berbagai tatapan dari berbagai manusia juga. Wisnu tersenyum canggung, sangat bingung dengan tatapan dari masing-masing orang yang ada di sana, yang Wisnu tahu tatapan Rama adalah tatapan penuh kemarahan.


"Udah selesai?" tanya gadis di depannya begitu Wisnu duduk. Wisnu mengangguk kikuk dia sudah terlalu geli untuk menanggapi gadis ini.


"Jadi, bagaimana Rama? Perjodohan ini kita tetapkan?" tanya teman bisnisnya.


"Oh, itu sudah jelas. Sepertinya, anak saya dan anak kamu juga sudah saling suka. Saya menyukai anak muda yang saling mencintai," balasnya.


Mereka berdua berjabat tangan dan berpelukan bermaksud membagi kebahagiaan karena perjodohan Wisnu dengan gadis menggelikan ini sudah di tetapkan.


"Kamu, calon suami aku sekarang," ucap gadis itu. Wisnu menatap geli dan agak menjauh dari gadi berambut cokelat terang ini. Wisnu tidak tahan.


"Bagaimana Melia? Kamu setuju? Kamu suka sama Wisnu?" Pertanyaan bertubi-tubi dilontarkan ayahnya pada Melia.


Melia mengangguk pelan sambil menunduk. "Aku mau, aku suka Wisnu." Pandangannya terangkat menatap Wisnu.


"Kamu? Setuju, kan Wisnu?" Rama bertanya.


Wisnu menggeleng, "Enggak." Semua pasang mata mengarah padanya, bahkan karena jawaban itu senyuman Melia luntur.

__ADS_1


"Aku nggak mau dijodohin, dan aku nggak mau nikah sama dia. Siapa yang suka sama cewek genit kayak gitu." Wisnu menghina Melia di kata-kata terakhirnya.


"Jaga sopan santun kamu, Wisnu," peringat Rama dengan nada pelan kali ini.


"Aku pokoknya nggak mau! Nggak mau dijodohin dan nggak mau nikah sama dia!" final Wisnu berdiri dari tempat duduknya.


Wisnu pergi meninggalkan meja makan setelah menimbulkan kekacauan. Tatapan tajam mengarah pada Rama dari ayah Milea.


"Biar saya urus anak itu." Rama berdiri, pergi dari sana menyusul Wisnu. Dan Meethila berusaha mencairkan suasana dengan mengubah topik pembicaraan agar masalah Wisnu tidak lagi menjadi pusat.


"Berhenti!" teriak Rama. Wisnu masih tidak berhenti. "Berhenti, Wisnu Putra Aksanta!" lantang Rama dan menghentikan langkah Wisnu.


Rama menarik jas Wisnu memutar tubuh putranya. Mata Wisnu menatap mata Rama. Iris hazel mereka berdua sama-sama bertemu dengan tatapan tajam masing-masing.


"Kamu gila, berbicara seperti itu tadi?"


"Enggak. Dan aku ada hak untuk menyuarakan pendapat," balas Wisnu. Rama tidak percaya dengan keberanian dari Wisnu ini. Bahkan Rama tidak memiliki keberanian sebanyak ini waktu orang tuanya menjodohkan dia dengan Meethila. Tapi Wisnu? Dia bahkan mempermalukan Rama di depan rekan bisnisnya tadi.


"Saya sudah bilang sama kamu, saya nggak peduli kamu setuju atau tidak, yang saya mau kamu menikah dengan Melia. Ini akan sangat menguntungkan untuk kita," jelas Rama.


"Nggak mau!" lantang Wisnu. "Aku bilang aku nggak mau, sampai kapanpun aku nggak mau. Jelasnya itu!"


Bugh


Tangan Rama sangat gatal untuk tidak memukul Wisnu. Untuk malam ini dia memukul anak pembangkang ini lagi.


"Masuk lagi ke dalam, kemudian kamu minta maaf. Jangan mempermalukan saya di sini," suruh Rama pelan namun ketegasan terdengar dari sana.


"Papa nggak bisa maksa aku. Aku punya hak atas hidup aku, Pa!"


Plakk


Tamparan kesekian kali melayang lagi di pipi kiri Wisnu.


"Saya sudah bilang, saya tidak peduli kamu setuju atau tidak!" bentak Rama. "Kamu nikahi dia, dan selesaikan semuanya!"


"Pa, sekali aja Papa dengerin pendapat aku, Pa. Aku anak Papa." Mata Wisnu memerah, dia berlutut di hadapan Rama.


"Pa, aku ini anak Papa, kan? Tapi kenapa Papa selalu memperlakukan aku layaknya aku bukan anak Papa. Kenapa, Pa? Aku mau bebas, mau ngelakuin apa yang aku mau, bukan dituntut sama Papa kayak gini," lirih Wisnu.


Rama tidak menjawab, malahan dia membuang arah pandangnya. Perkataan Wisnu bisa mempengaruhi Rama dan Rama tidak mau kalah karena sedikit lirihan dari Wisnu ini.


"Balik sekarang," pinta Rama jelas.


Wisnu berdiri, menggeleng. "Nggak akan." Wisnu berlari keluar dari restoran itu. Rama dengan sigap mengejarnya.


Wisnu yang penuh dengan kelicikan, masuk ke dalam mobil dan membawa lari mobil itu. Dia sudah meminta untuk sopir membawa mobilnya ke tempat ini sewaktu di toilet tadi.

__ADS_1


"Wisnu, berhenti!" jerit Rama. "Wisnu Putra Aksanta, kamu akan mati di tangan saya!" Rama mengusap wajahnya frustasi dengan tingkah Wisnu kali ini.


Entah bagaimana dia bisa menghadapi teman bisnisnya nanti. Apalagi saat mereka tahu bahwa Wisnu kabur dari sini. Semua investasi, keuntungan yang Rama miliki akan hancur sebentar lagi, dan itu karena putranya sendiri.


__ADS_2