Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Mall hari ini


__ADS_3

Eleena memasukkan barang-barangnya ke dalam ransel hitam. Begitu bel nyaring terdengar di semua telinga mahasiswa Universitas Binawa, dan dosen keluar dari kelas, Eleena buru-buru memasukkan buku-buku serta barang-barang di atas meja ke dalam tas.


"Lo mau ke mana?" Melinda mencegat langkah Eleena saat gadis itu beranjak pergi meninggalkan kelas.


"Jangan buru-buru El, we need talk," tambahnya.


"Sorry, Mel. Gue ada urusan." Eleena menyingkirkan tubuh Melinda dari hadapannya dengan menggeser posisi gadis itu.


Melinda berbalik badan, menatap heran keberanian Eleena menyingkirkan ia dari hadapan gadis itu. Eleena memang gadis pemberani tapi seharusnya keberanian dia diturunkan sedikit jika berhadapan dengan Melinda.


Melinda mengepalkan tangan melihat punggung Eleena yang perlahan lenyap ditelan keramaian mahasiswa.


"I hate you, Eleena," gumam Melinda, menghentakkan kaki pergi ke luar kelas.


Eleena berjalan menyusuri lorong panjang kampus. Mata gadis itu mencari ke sana kemari keberadaan seseorang. Namun keramaian mahasiswa, membuat Eleena yang memakai kacamata tidak dapat menemukan dia.


"Ayo." Lelaki itu datang dari belakang, menarik tangan Eleena tiba-tiba dan membawa gadis itu mengikuti dirinya.


Siluet lelaki itu sangat mudah untuk Eleena kenali. Meskipun dia berjalan membelakangi Eleena, gadis itu masih tahu kalau Wisnulah lelaki yang menarik tangannya sekarang.


Wisnu terlalu khas, mungkin kalau lelaki lain Eleena masih agak sedikit bingung untuk mengenali. Tapi Wisnu, Eleena bisa dalam sekejap mengenali lelaki itu meskipun dia berbalik badan. Aroma Wisnu begitu berbeda, dan cara lelaki itu menarik tangan Eleena juga berbeda.


Cengkraman tangan kuat dan sedikit menyakitkan.


"Lo semangat banget," ujar Eleena, karena Wisnu berjalan begitu cepat bahkan seperti berlari kecil.


"Nanti keburu kelar pertemuannya," balas Wisnu, tanpa menengok ke Eleena.


Wisnu berhenti dan Eleena juga tentu berhenti. Tangan Wisnu yang masih menarik Eleena di belakang tubuhnya terlepas saat Arfin berdiri di hadapannya.


Eleena melihat tangannya yang sudah tak lagi dipegang oleh Wisnu. Eleena maju perlahan, berdiri di sebelah Wisnu untuk melihat apa alasan Wisnu berhenti dan melepas tangannya.


Arfin tersenyum kecil, seharusnya dari awal lelaki itu tidak perlu menebak siapa gadis yang berada di belakang Wisnu. Seharusnya dari awal Arfin tidak perlu menghampiri Wisnu dan melihat semua ini. Seharusnya dari awal tidak usah.


"Fin—" Perkataan Wisnu terhenti begitu matanya menangkap sebuah kotak kecil berwarna hitam dengan pita putih di atasnya berasal dari tangan Arfin.


"Kotaknya ucul. Pengen," ujar Eleena gemas ingin mengambil kotak itu dari tangan Arfin tapi segera Arfin menjauhi kotak hitam itu dari Eleena dan menggoyangkan jari telunjuknya sebagai tanda larangan.


"Kalau lo mau, nanti gue buatin. Tinggal bilang aja mau isinya apa, entar gue bikinin. Yang ini buat Wisnu," ucap Arfin, menampilkan senyum lebarnya seperti biasa.


Wisnu terdiam, dia tidak bergerak bahkan saat Arfin menyodorkan kotak kecil itu pada dirinya. Wisnu menunjuk dirinya sendiri untuk memastikan, dan jawaban Arfin adalah anggukan.


Pergerakan Wisnu terlalu lambat. Arfin mengambil tangan Wisnu, dan menaruh kotak kecil itu di telapak tangannya.


"For you. Sorry ya gue marah sama lo waktu itu. Ini permintaan maaf gue." Arfin menepuk pundak Wisnu.


"Have fun sama El!" Arfin melambaikan tangannya pergi dari tempat.


Sakit lagi. Ini bukan pertama kali, tapi rasa sakitnya masih sama juga. Arfin berniat mengajak Wisnu untuk pergi bersama, memulihkan hubungan mereka yang sempat retak karena Arfin yang tak dewasa.


Arfin akui dia memang sangat kekanak-kanakan, dia memang pencemburu. Namun setelah mendapat pencerahan dari Gilang kemarin malam, Arfin sadar bahwa dia tidak bisa menghancurkan persahabatannya hanya karena rasa cemburu.


Arfin bisa belajar untuk menjadi dewasa. Salah satunya ini, menerima Wisnu menghabiskan waktu bersama Eleena. Karena bagaimanapun Eleena masih lah kekasih sahabatnya.


"Sabar, tiga hari lagi," kata Gilang, merangkul pundak Arfin, pergi bersama lelaki itu.


Waktu hubungan Wisnu dan Eleena memang tinggal tiga hari lagi. Setelah tiga hari, Eleena dan Wisnu berubah menjadi orang asing. Dan Arfin punya kesempatan untuk menjadikan Eleena miliknya.


...***...


Eleena keluar dari mobil Wisnu. Gadis itu masuk ke dalam pusat perbelanjaan kota yang sudah ramai diisi berbagai manusia. Wisnu menggandeng tangan Eleena tanpa sadar, mengajak gadis itu mengikutinya ke manapun dia berjalan.


"Bokap lo di mana?" tanya Eleena.


"Kayaknya masih di kafe." Wisnu menaiki lift bersama dengan Eleena. Menuju salah satu kafe di mall itu yang berada di lantai 4.


Pintu lift terbuka, mereka segera menuju ke salah satu kafe rami pengunjung. Wisnu membawa Eleena mengintip dari kaca yang ada. Wisnu sedikit berjongkok dan menyuruh Eleena untuk mengikutinya.


Wisnu mencari-cari di mana Rama berada. Tapi sayangnya mata Wisnu tidak menemukan presensi ayahnya. Malahan dia menemukan klien yang hari ini mengadakan meeting bersama Rama.


"Anjir, hilang si Rama!" umpat Wisnu memelankan intonasi suaranya.


"Hilang maksud lo?" Wisnu mendesis, menempelkan jari telunjuknya di bibir Eleena. "Pelanin suara lo!" peringatnya.


"Maaf," cicit Eleena, menurunkan jari telunjuk Wisnu dari bibirnya.


"Jadi, kita gimana?" tanya Eleena. "Masuk?"


Wisnu tersenyum simpul, "Masuk ke dalam sama dengan nyari mati sih kalau kata gue."


"Jadi mau ngapain?" tanya Eleena.


"Nyari nyokap lo." Wisnu menarik tangan Eleena, pergi dari kafe itu. Mengelilingi satu demi satu tempat berisi barang-barang mahal di mall ini.


"Kemarin, lo sama Arfin ngapain aja?" tanya Wisnu, disela perjalanan mereka.


"Kita ke bioskop aja."


"Cuma bioskop?" tanya Wisnu lagi.


Eleena mengangguk. "Nggak beli barang-barang gitu?" Wisnu berbalik badan, menatap Eleena. Eleena menggeleng untuk menjawab pertanyaan Wisnu.


"Mau belanja nggak?" tawar Wisnu. Eleena tidak memberi jawaban, dan itu membuat Wisnu geram.


Wisnu menarik tangan Eleena, membawa dia dan gadis itu masuk ke dalam tempat yang menjual berbagai macam tas dan sepatu wanita.

__ADS_1


"Pilih lah apa yang mau lo beli," suruh Wisnu.


"Lo yang bayar?"


"Lo lah. Kan lo kaya."


Eleena menatap Wisnu malas sedangkan sang empu malah asik tertawa karena berhasil membuat Eleena kesal. Wisnu selalu saja mengganggu Eleena, dia itu menyebalkan.


"Gue bercanda. Gue yang bayar nanti," ucap Wisnu, menghentikan tawanya.


"Serius? Lo nggak bercanda kan?"


"Kagak, El. Kali ini gue serius deh, dua rius bahkan." Wisnu mengangkat jarinya membentuk huruf V.


Eleena tersenyum lebar sampai menampakkan deretan gigi putih. Eleena berkeliling, diikuti Wisnu di belakang. Aroma mawar dari gadis itu menyihir Wisnu, selalu.


Wisnu tak bisa berhenti untuk mengikuti atau menatap gadis yang sibuk memilih satu demi satu sepatu di sana. Rambut Eleena tergerai, dan wangi sampo yang dipakai gadis itu menyeruak di indra penciuman Wisnu.


"Dia kok bisa cantik banget ya," batin Wisnu.


"Jangan ini deh, gue mau yang lain." Eleena menarik tangan Wisnu, membawa lelaki itu masuk ke tempat penuh dengan make up dan skincare kesukaan setiap wanita.


"Nanti aja beli sepatunya nya, gue mau beli make up dulu," ujar Eleena.


"Banyak amat yang mau lo beli," cibir Wisnu.


"Nggak papa kan lo bayar," balas Eleena tersenyum lucu di depan Wisnu.


"Kalau dibayarin itu tau diri dong." Wisnu memukul pelan kepala Eleena.


"Kan yang bayarin Putra Tunggal Aksanta, jadi nggak papa nggak tau diri." Eleena menjulurkan lidahnya sebagai ejekan pada Wisnu.


Bukannya marah, Wisnu malah merasa gemas pada gadis mungil di depannya ini. Wisnu mengacak-acak rambut Eleena menyalurkan kegemasannya.


"Rese!" Eleena memukul lengan Wisnu agar lelaki itu berhenti mengacak rambutnya yang kini berantakan.


"Berantakan jadinya," keluh Eleena.


Wisnu terkekeh kecil. "Maaf deh." Tangan Wisnu bergerak, menyisir rambut Eleena untuk rapi kembali seperti semula. Meskipun tidak sepenuhnya rapi, setidaknya tak seberantakan tadi.


"Lain kali jangan main acak-acak rambut ya," peringat Eleena. "Karena gue jantungan."


"Iya-iya," balas Wisnu.


"Wis, ayo kita beli lipstick." Eleena menarik tangan Wisnu, mengajak lelaki itu ke jejeran lipstik berwarna-warni yang memanjakan mata wanita.


"Cantik-cantik banget warnanya." Eleena melihat satu persatu warna yang tersusun di rak. Membuka tutupnya dan mencium wangi dari lipstik itu.


"Bagus nggak?" Eleena menarik tangan Wisnu, menjadikan punggung tangan lelaki itu sebagai pengetesan warna lipstik.


"Menor banget warnanya," ucap Eleena, melihat warna di tangan Wisnu.


"Ini cantik kayaknya." Seakan tak mendengar jeritan Wisnu, Eleena masih menaruh warna lipstik merah muda ke punggung tangan kekasihnya itu.


"Pakai tangan lo dong!" sentak Wisnu. Eleena menatap Wisnu dengan mendongakkan kepala. Memberikan Wisnu tatapan serius, "Jangan komen bisa nggak sih?!"


"Lo nyoret-nyoret tangan gue, El," jawab Wisnu.


"Minjem doang, nanti kan bisa dibersihkan."


Wisnu hanya bisa menghela napas. Ingin rasanya dia berteriak dan memulai pertengkaran dengan gadis satu ini. Tapi dia akan malu jika memulai pertengkaran dengan Eleena, secara tempat ini dihuni oleh kebanyakan wanita. Jika dia berdebat dengan Eleena sudah dipastikan Wisnu yang akan disalahkan.


Wisnu hanya bisa menurut dan pasrah tangannya penuh dengan warna-warna lipstik. Wisnu mendengus sebal.


"Lo nggak ikhlas?" tanya Eleena tiba-tiba.


"Nggak ikhlas apaan?"


"Kalau lo nggak ikhlas, biar gue ganti pacar!" celetuk Eleena.


"Kan emang bentar lagi kita putus."


Bungkam. Eleena terdiam, tak berkutik. Candaannya dibalas serius oleh Wisnu. Memang sih dia dan Wisnu akan segera menjadi mantan. Tapi setidaknya Wisnu jangan mengingatkan gadis itu.


Eleena membuang arah pandangnya, mengambil asal lipstik yang tertata rapi di rak. "Ini aja."


Eleena berjalan lebih dulu meninggalkan Wisnu menuju meja kasir. Wisnu memandangi punggung Eleena dengan tatapan yang tak bisa diartikan. Ada sorot kesedihan tapi disisi lain ada rasa lega dan juga kasihan disaat yang bersamaan.


Wisnu menghela napas, pergi menyusul Eleena yang sudah sampai di tempat kasir untuk membayar. Wisnu memberikan kartunya pada kasir sebelum Eleena berbalik badan dan mengambil kartunya dari dalam tas.


"Totalnya 125.000 ya, Pak," seru sang kasir menyatukan kedua tangannya, mengembalikan kartu debit berwarna hitam itu pada pemiliknya.


Wisnu memberikan bungkus berwarna coklat pada Eleena. Bungkus yang lumayan besar, tapi hanya berisi satu barang saja di sana. Dengan ukuran kecil pula, kadang Wisnu tidak mengerti kenapa pihak pusat perbelanjaan ini membuang-buang kantung mereka hanya untuk pelanggan yang membeli satu barang.


"Mau ke mana lagi?" tanya Wisnu, keluar dari toko itu.


Eleena menggeleng lesu. Gadis itu berjalan lebih dulu dari Wisnu. Putra Aksanta itu menghela napas lagi, suasana hati Eleena berubah dan dia rasa itu karena dirinya.


"Apa omongan gue ada yang nyakitin El ya?"


Terkadang, sebagai manusia kita tidak tahu kapan ucapan kita bisa menyakiti orang lain tanpa sadar.


"El!" seru Wisnu. Eleena berbalik, Wisnu mendatanginya.


"Mau makan atau belanja lagi?" tanya Wisnu, begitu berada di depan kekasihnya.

__ADS_1


"Gue nggak mau apa-apa," balas Eleena disertai gelengan pelan.


"Gue belanjain dress deh." Wisnu menarik tangan Eleena tanpa izin sang empu. Tidak seperti tadi, yang hanya diam saja membiarkan Wisnu menarik tangannya kini Eleena sedikit memberontak meminta Wisnu untuk melepaskan cengkeramannya dari tangan Eleena.


Namun yang namanya Putra Aksanta dia tidak mendengar siapapun. Dia melakukan hal yang menurutnya benar meskipun menurut orang lain salah.


Wisnu masuk ke dalam toko penuh dengan berbagai macam pakai wanita bersama Eleena. Dengan tangan yang masih menarik lengan Eleena, Wisnu mengajak gadis itu masuk lebih dalam ke tempat itu.


"Pilih deh mau yang mana," ucap Wisnu, menunjukkan berbagai macam mode serta warna pakaian pada kekasihnya.


"Gue bilang gue nggak mau, Wis. Seharusnya lo nggak usah maksa." Eleena menekan kata-katanya, menghempaskan tangan Wisnu lalu berbalik badan dan pergi dari sana.


Tapi kesigapan Wisnu, menghentikan langkah gadis itu. Wisnu berdiri di depan Eleena, mencegah gadis itu untuk beranjak pergi ke manapun gadis itu ingin lewat. Wisnu menutup semua jalan untuk Eleena.


"Lo marah sama gue, kan?"


Eleena tidak menjawab. Gadis itu memutar bola matanya malas, menyilangkan kedua tangan di dada. Suasana hatinya sedang tidak bagus, dan penyebab utamanya adalah Putra Aksanta di hadapannya ini.


"Lo mau apa? Jangan marah sama gue dong," tambah Wisnu, menjewer kedua telinganya.


Eleena tidak peduli, gadis itu hanya memberi dengusan sebagai jawaban.


"El, kita ke sini bukan buat marah-marahan," tutur Wisnu.


"Lo duluan yang mulai!"


"Emang gue ngapain?"


"Lo bilang kita mau putus." Pandangan Eleena berubah sendu, "Gue tau kita emang bakal putus tapi nggak usah diperjelas juga. Gue sedih tau," lanjut gadis itu.


"Lo sedih mau putus sama gue?"


Eleena sontak mengangkat pandangannya. Mempertemukan irisnya dengan iris hazel Wisnu seperti biasa.


"Lo sedih karena itu?" tanya Wisnu lagi.


Untuk pertanyaan satu ini Eleena tidak bisa menjawabnya. Karena, Eleena sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya dia rasakan. Kenapa belakangan ini dia begitu candu berada di dekat Wisnu dan juga merasa sedih setiap kali mengingat bahwa Wisnu memberi jatah untuk hubungan mereka.


"Biar lo nggak sedih, gue beliin dress deh. Kan lo suka dress." Wisnu menggenggam tangan Eleena, tersenyum ke arah gadis itu. Membawa Eleena masuk ke dalam lagi.


Biasanya jika berada di tempat seperti ini, para wanita lah yang memimpin jalan. Namun untuk kejadian satu ini, Wisnu rela memimpin jalan untuk mencari pakaian terbaik untuk kekasihnya yang kini marah pada dirinya.


Wisnu berhenti pada salah satu dress berwarna lilac. Dress sepanjang lutut, dengan pita putih berbentuk bunga mawar di tengahnya.


"Suka sama yang ini nggak?" Wisnu memperlihatkan dress lilac itu pada Eleena. "Ini aja lah ya yang gue beli, warna lilacnya cantik, sama kayak lo. Lo kan suka lilac."


Tak memberikan Eleena kesempatan untuk menjawab atau berkomentar Wisnu langsung memanggil salah satu retail toko itu. Menyuruhnya mengemas dress lilac yang membuat lelaki itu jatuh cinta pada pandangan pertama.


Mereka menuju meja kasir. Eleena masih diam belum mengeluarkan suara. Karena Eleena kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan apa yang dia rasakan.


Wisnu tidak bersama Eleena saat gadis itu melihat dress dengan warna yang sama dan mode yang sama waktu itu. Saat Arfin menarik tangan Eleena keluar dari toko sebelum Eleena sempat memesan dress itu cukup membuat Eleena kecewa.


Tapi sekarang, seperti sebuah kejutan Wisnu membelikannya dress yang sama. Padahal jarak hari dia pergi bersama Arfin dengan hari ini adalah empat hari. Jadi tidak mungkin, Wisnu mengingat bagaimana model dressnya kalaupun lelaki itu membututi Eleena saat itu.


"Nih." Wisnu memberikan bungkusan itu pada Eleena.


"Mau ke mana lagi?" tanya Wisnu, duduk di salah satu kursi yang tersedia di toko itu. Mereka belum keluar dari tempat ini.


"Kok lo tau sih, gue mau dress ini?"


Eleena menanyakan hal yang seharusnya dia tanya sejak Wisnu menyuruh seorang retail toko untuk membungkusnya.


"Tau apanya?"


Eleena bisa lihat tidak ada unsur kebohongan di mata Wisnu. Lelaki itu sungguh tidak mengetahui apapun soal dress incaran Eleena empat hari lalu.


Eleena menggeleng pelan. Gadis itu memunculkan senyum. Kebetulan untuk kesekian kali. Eleena tidak pernah meminta Wisnu untuk mengenal dirinya tapi Wisnu bahkan bisa mengetahui isi hati Eleena tanpa gadis itu perlu mengutarakan.


Eleena tidak salah saat dia mengatakan bahwa Wisnu itu berbeda. Wisnu tidak sama dengan kebanyakan lelaki pada umumnya. Awalnya Eleena mengira bahwa Wisnu bahkan lebih buruk dari lelaki kebanyakan tapi setelah mengenal Wisnu sejauh ini, Eleena bisa menyimpulkan bahwa Wisnu itu berbeda.


Arfin benar, untuk mengenali Wisnu butuh waktu yang lama. Wisnu itu tidak bisa dirangkai dengan kata-kata, karena dia terlalu berbeda.


"El, hapusin warnanya dong." Wisnu menunjuk warna lipstik yang belum hilang dari punggung tangannya.


Eleena terkekeh, dia lupa untuk membersihkan yang satu itu. Eleena membuka ranselnya mengeluarkan tisu basah. Perlahan, Eleena mengelap noda lipstik di punggung tangan Wisnu menggunakan tisu basah.


Tanpa mereka sadari, ada seorang pria bersetelan jas melihat interaksi mereka berdua. Tangan pria itu bergerak memotret pemandangan di depan. Dia jarang mendapat momen seperti ini, apalagi momen ini datang dari anaknya sendiri.


Rama tersenyum, melihat betapa tenangnya Wisnu saat berada di dekat Eleena. Rama tidak salah saat dia mengatakan bahwa Eleena adalah perempuan yang tepat untuk Wisnu. Karena, dari sekian banyak gadis di dunia, Wisnu ingin berpacaran dengan gadis itu saja sudah menunjukkan bahwa Eleena spesial.


Rama dengan senyumannya berjalan mundur dari tempatnya. Rama tidak melihat ke belakang karena matanya fokus pada Eleena dan Wisnu di depan sana. Sampai akhirnya Rama tak sengaja menabrak tubuh seorang wanita yang tengah memilih dress.


"Maaf." Rama segera berbalik badan, membantu perempuan itu.


Sinta menggeser anak rambutnya yang menutupi wajah. Begitu wajah Sinta terlihat jelas, wajah Rama juga terlihat di matanya. Laki-laki dengan tubuh lebih tinggi darinya, Sinta bertemu lagi dengan lelaki itu.


Bahkan disaat seperti ini, Sinta bertemu dengan Rama. Tidak ada sedikitpun terlintas dalam pikiran Sinta tentang sosok Rama. Tapi melihat ada pria itu di depannya, membuat Sinta ragu akan isi pikirannya sendiri.


"Sin." Rama hendak meraih tangan Sinta tapi dengan cepat Sinta menepis tangan Rama.


"Nggak ada yang harus dibicarakan, Ram. Aku nggak mau jadi bahan pertengkaran kamu sama ayah kamu. Cukup dulu aja, sekarang nggak lagi."


Sinta pergi melewati Rama. Keluar dari toko itu. Rama tidak menghentikan atau menyusul Sinta. Pria itu juga sadar dia tidak punya hak apapun untuk meminta Sinta mendengarkannya.


Hubungan mereka berdua berakhir secara buruk. Dan hubungan kedua keluarga mereka juga masih sangat buruk. Tidak ada celah untuk bisa memperbaiki semuanya, termasuk cinta antara dia dan Sinta.

__ADS_1


__ADS_2