Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga

Cinta Di Antara Permusuhan Keluarga
Perjalanan kencan Putra Aksanta


__ADS_3

Banyak pasang mata ini terbuka lebar saat salah satunya menampilkan senyum lebar. Arfin melipat kedua tangannya di dada tersenyum dengan sudut bibir, seakan kalau dia keren sekali hari ini. Wisnu memandang Arfin masih dengan tatapan terkejutnya. Begitupun Baim dan Gilang yang tak bisa berhenti menatap begitu banyak gadis di tempat ini. Arfin membooking tempat ini hanya untuk mempertemukan Wisnu dengan para gadis-gadis ini. Para perempuan temannya Arfin.


"Buset, banyak banget temen cewek lo." Baim menghitung satu persatu perempuan yang ada di sana dengan jari telunjuknya menunjuk satu demi satu gadis yang ada di tempat itu. Mulai dari ujung kanan sampai ujung kiri.


"30 njir, gila lo Fin. Playboy akut." Baim menggelengkan kepala tak habis pikir dengan pemandangan di depannya ini. Para gadis dengan berbagai macam tampilan, ada yang terlalu formal, culun, bahkan seksi. Ada perempuan yang menundukkan pandangan karena malu, ada juga yang memberikan kedipan nakal pada Baim saat matanya bertemu tatap dengan Baim.


"Mereka semua temen cewek gue, bukan mantan gue loh ya. Mantan gue nggak gue ajak." Arfin mendekat ke Wisnu. "Karena gue tau, Putra Aksanta nggak boleh pakai yang bekas," bisiknya. Wisnu melirik Arfin tajam, dan lelaki itu berjalan satu langkah menjauhi Wisnu.


"Gue kagak ngerti sama pola pikir Arfin," ucap Gilang.


"Sama. Dia pinter, tapi ada goblok-gobloknya," balas Baim masih berusaha meyakinkan diri atas apa yang dia lihat sekarang ini. Baim merasa dirinya berada di tempat penampungan para gadis.


"Guys!" Arfin menepuk tangannya meminta perhatian para gadis di sana. Saat semua pasang mata sudah mengarah pada Arfin, barulah lelaki itu memulai pembicaraan.


"Seperti yang udah gue bilang waktu itu, temen gue ini." Arfin merangkul pundak Wisnu. "Dia butuh pacar," lanjutnya. Arfin melepaskan rangkulannya, beralih lebih dekat pada teman-teman perempuannya dan berada di depan ketiga teman lelakinya itu.


"Gue mau bilang, kalau Wisnu bakal ngadain seleksi. Siapapun cewek yang bisa buat Wisnu Putra Aksanta jatuh hati ini, dia bakal jadi pacar Wisnu." Wisnu membulatkan matanya untuk kesekian kali. Wisnu rasa dia tidak pernah mengatakan akan mengencani banyak gadis dan memilih mereka untuk menjadi pacarnya nanti.


"Tapi, ada tapinya jangan seneng dulu," ujar Arfin ketika dia melihat banyak gadis tersenyum sumringah kala mendengar ada nama Aksanta di belakang nama Wisnu—Si pria tampan ini.


"Wisnu nyari cewek baik-baik. Cewek yang bisa ngerubah dia dari yang melenceng sampai lurus lagi. Jadi, kalau lu pada mau pacaran sama temen gue, harus baik-baik biar dia jatuh cinta," jelas Arfin.


Sudah banyak para gadis membicarakan tentang Wisnu di sana begitu Arfin menjelaskan tentang Wisnu tadi. Arfin berjalan mundur, menyamakan tempatnya dengan tempat ketiga temannya itu berdiri.


"Gimana? Bagus nggak? Lo bisa coba dulu ngobrol-ngobrol, satu hari satu cewek, nah nanti siapa yang paling buat lo nyaman, lo pacarin dah tuh, masih ada waktu kalau untuk dua bulan." Arfin tampak begitu semangat atas idenya kali ini.


"Gila Arfin, gue nggak ngerti sama pola pikir lo kayak mana," ucap Wisnu masih tidak bisa mencerna atas apa yang dilakukan Arfin pada hidupnya.


...***...

__ADS_1


Karena ide Arfin kemarin, di sini Wisnu sekarang. Duduk dihadapan cewek dengan dress hitam ketat, makeup menor jangan lupa. Dan dengan sangat pedenya gadis itu mengatakan kalau dirinya cantik untuk kesekian kali di depan Wisnu.


"Gue cantik, kan?" tanya gadis itu lagi, bahkan saat Wisnu masih mengunyah steak yang dia pesan. Gadis di depannya ini terlalu sibuk merias diri.


Wisnu menatap gadis di depannya ini risih, karena gadis ini terlalu centil, banyak sekali godaan untuk Wisnu, padahal Wisnu masih makan. Belum lagi lawakannya yang garing.


"Matcha, matcha apa yang ada di anggota tubuh?" Wisnu mengangkat bahu, dia malas merespon untuk tebakan perempuan itu kali ini.


"Matcha kaki, ha ha ha ha ha." Gadis itu bercanda sendiri dan tertawa sendiri. Padahal Wisnu tidak ada menampilkan senyum sejak tadi, dan yang lebih menyebalkan lagi gadis ini tertawa sambil memukul lengan Wisnu.


Wisnu menghela napas, bersama gadis ini terlalu melelahkan. Mata Wisnu mengarah pada Arfin, Baim dan Gilang yang duduk di ujung sana untuk memantau kencan Wisnu. Wisnu menggeleng pada mereka dan reaksi mereka bertiga tampak kecewa, tapi Wisnu tidak salah kalau tidak nyaman bersama gadis ini.


Kencan pertama bersama gadis dengan candaan garing, gagal.


...***...


Ini hari kedua, sekalian kencan Wisnu yang kedua. Masih di tempat yang sama seperti waktu itu, tapi kali dengan gadis yang berbeda. Wisnu sudah tak tahan bertemu dengan gadis lawakan garing itu. Untuk gadis ini cukup baik, pakaiannya sopan, pembicaraan mereka juga asik sepertinya. Wisnu tidak merasa risih sama sekali, gadis ini juga tidak melewati batas.


"Saya mau pesan, Chicken steak, spaghetti, burger, nasi goreng, mie goreng seafood, pancake, dessert apa aja yang enak di sini, salad buah, jus terong belanda, sushi, dimsum, meat ball, whitecoffe, semuanya satu."


Wisnu menelan salivanya payah mendengar sebanyak itu gadis di hadapannya ini memesan makanan. Bahkan Wisnu sampai tidak tega untuk memesan makanan untuk dirinya sendiri, dan berakhir dia hanya memesan americano.


Gadis di depannya makan dengan lahap, seperti baru kali ini dia makan setelah waktu yang lama. Dia memakan semua makanan itu sampai habis tanpa sisa bahkan tidak memperdulikan Wisnu yang hanya diam menyedot americano-nya dan melihat bagaimana cara dia makan.


Gadis itu bersendawa dengan suara yang besar. Wisnu menutup mata, saat itu juga Wisnu menyerah dengan gadis ini. Kalau mereka berpacaran uang Wisnu akan habis hanya untuk memberinya makanan, dia rakus. Wisnu bukan takut akan kehabisan uang karena harta keluarganya sendiri saja melimpah, dan mereka hanya punya satu anak, yaitu Wisnu. Tapi tetap saja Wisnu tidak akan tahan kalau bersama gadis ini nantinya.


"Mas, saya pesan ice creamnya satu ya." Bahkan saat pelayan membersihkan meja mereka bekas makanan tadi dia masih sempat memesan lagi.


Wisnu menghela napas panjang, dia kembali menggeleng menatap ketiga temannya.

__ADS_1


Kencan kedua, bersama gadis pemakan banyak ini, gagal.


...***...


Ini kencan ketiga. Tapi tempatnya berbeda, Wisnu malu kalau harus kembali ke tempat yang sama lagi, bisa-bisa mereka mengira Wisnu cowok nakal yang setiap hari gonta-ganti perempuan. Kali ini Wisnu mencari peruntungan di tempat lain.


Untuk hari ini Wisnu bertemu dengan gadis yang sepertinya, agak tomboy. Pakaiannya terlihat sama seperti Wisnu, mereka memakai kaos dan celana jeans, dan jangan lupakan rambut gadis itu yang dicepol asal dan terkesan berantakan.


Oke, kita jangan nilai orang dari sampulnya, kita belum tahu dia orang yang seperti apa. Sampai akhirnya perempuan itu bersuara.


"Lo keren, Bro." Pita suara gadis ini bahkan lebih besar daripada Wisnu. Suaranya lebih gagah dari perempuan kebanyakan.


Gadis itu mengangkat satu kakinya, dia menepuk lengan Wisnu. "Mabar," ajaknya. Wisnu menurut walaupun dia sudah mulai merasa risih.


Tapi nyatanya gadis ini tidak seburuk itu. Dia teman main game yang bagus, dia handal memainkan game kesukaan Wisnu. Gadis ini juga asik, dalam waktu cepat mereka menjadi teman, tapi Wisnu menganggap dia sama seperti ketiga temannya yang mengintip dia dari sudut restoran.


Gadis di depannya ini terkesan lebih terbuka dan tidak jaim sama sekali. Bahkan Wisnu tidak mempermasalahkan dia bersendawa besar di sana, bahkan saat gadis itu mengupil setelah makan, Wisnu tidak masalah. Lelaki itu sudah menganggap gadis ini sebagai teman perempuannya yang seperti laki-laki.


Perempuan itu keluar lebih dulu dari restoran itu. Dan segera ketiga teman Wisnu menghampiri.


"Gimana?" tanya Arfin.


"Lumayan, dia asik kalau jadi temen, tapi gue nggak mau pacaran sama dia. Dia terlalu tomboy untuk gue yang nyari perempuan elegan," jawab Wisnu.


Kencan ketiga ini, bisa dibilang gagal karena Wisnu tidak mendapat kandidat pacar. Tapi berhasil juga Wisnu mendapat teman baru.


Keempat lelaki itu akhirnya keluar dari restoran. Mereka semua memasuki satu mobil hitam milik Arfin. Seharusnya Wisnu naik mobil yang dikendarai oleh sopir, tapi dia tidak mau, lelaki itu lebih memilih diantar pulang oleh Arfin bersama dua temannya yang lain.


"Kita sambung besok lagi," ujar Arfin menekan pedal gas dan membawa mobil pergi dari restoran itu.

__ADS_1


Meskipun sopir Wisnu masih membututi lelaki itu, tapi Wisnu tidak khawatir. Asalkan dia tidak bersama dengan pak sopir dia masih sedikit bebas.


Untuk hari ini, cukup segini perjalanan kencan Wisnu. Masih ada hari esok untuk Wisnu bertemu dengan kandidat yang lain. Gadis dengan sikap yang berbeda-beda. Apakah Wisnu akan menemukan yang cocok dalam waktu dekat ini? Kita lihat saja.


__ADS_2