
"Sayang." Suara lembut wanita itu beserta ketukan kecilnya mengalihkan atensi Eleena yang semula tengah fokus melukis di atas kanvas kecil.
"Masuk aja Bun," jawab Eleena kembali memfokuskan diri melanjutkan lukisan yang belum selesai.
Sinta masuk ke dalam, dia merekahkan senyum ketika melihat ada Eleena yang duduk di sofa kamar dengan tangan memegang kuas dan kanvas yang sudah ada beberapa warna di dalamnya.
"Ngelukis apa, Nak?" tanya Sinta duduk di sebelah Qania setelah memindahkan pallet penuh warna ke sebelah kiri Qania.
"Bunga, tiba-tiba pengin aja ngelukis bunga, Bun." Eleena menunjukkan lukisannya yang sudah selesai setengah kepada Sinta.
"Cantik nggak Bun?" tanyanya. Sinta mengelus surai Eleena. "Bagus banget, pintar deh anak Bunda," puji Sinta.
"Belum selesai aja Bunda udah bilang bagus, gimana kalau udah selesai nanti," ujar Eleena dengan intonasi sedikit menyombongkan diri.
Sinta terkekeh kecil karena kata-kata anaknya itu. Eleena mirip sekali dengan Sinta. Bukan wajahnya lebih ke sikap dan keahlian gadis itu. Terkadang, Eleena mengingatkan Sinta akan dirinya di masa lalu. Eleena diasuh oleh Sinta sudah hampir 20 tahun lamanya. Sinta mengajari Eleena apa yang wanita itu sukai dulunya, dia juga mengajari Eleena bersikap seperti dia. Sinta tidak memaksa Eleena untuk bisa menjadi dirinya hanya saja dia ingin orang-orang yakin kalau Eleena adalah anaknya jika gadis itu beranjak dewasa. Karena Sinta ingin kebenaran tentang Eleena cukup diketahui oleh keluarganya saja jangan sampai di telinga orang luar.
"El, Bunda boleh nanya?" izin Sinta. Eleena mengangkat pandangannya dia memberi isyarat agar Sinta langsung aja mengungkapkan apa yang ingin dia sampaikan.
"Kamu, sama Wisnu pacaran ya?"
Pergerakan Eleena terhenti. Dia yang hendak menaruh warna coklat di kanvas untuk menambah batang-batang pada gambar bunganya terpaksa menaruh kuas itu kembali ke pallet.
"Kok Bunda nanya begitu?" Eleena menyingkirkan lukisannya. Gadis itu berpikir kalau pembicaraan dia dan Sinta akan panjang jadi dia akan banyak sekali menghentikan pergerakannya untuk menaruh warna-warna itu pada kanvas karena harus fokus mendengar ucapan Sinta.
"Ngga papa El, Bunda cuma penasaran karena tadi kamu pakai bahasa aku-kamu sama Wisnu, makanya Bunda nanya."
Eleena terdiam, dia lupa kalau dia memang memakai bahasa aku-kamu pada Wisnu tadi. Dan itupun karena lelaki itu yang mulai lebih dulu. Padahal Wisnu sudah bilang kalau tidak ada lagi anak buah Rama yang mengikuti mereka tapi Eleena seakan tidak bisa mengendalikan mulutnya untuk tidak menggunakan bahasa aku-kamu dan yang lebih mengherankan Wisnu juga ikut menggunakan bahasa itu. Wajar saja Sinta bertanya seperti ini sekarang.
"Nggak pacaran kok Bun, kalau El pacaran pasti El bilang sama Bunda," tuturnya, mengelus tangan mulai keriput Sinta.
__ADS_1
"Kalau kamu nggak pacaran, jadi tadi apa? Kamu temenan sama Wisnu? Nggak temenan sama Arfin lagi?" Bertubi-tubi pertanyaan itu dilontarkan Sinta pada anaknya yang malang karena masih harus memikirkan jawaban apa yang masuk akal dan dapat dipercaya oleh ibunya.
"El temenan sama Wisnu, Bun tapi sekedar aja kan Bunda sendiri yang nyuruh dia nganter El tadi. Kalau Arfin, El masih temenan sama Arfin kok, Arfin teman terbaik El."
"Kalau Wisnu teman tersayang kamu?"
"Iya."
Skakmat. Eleena spontan mengeluarkan kata itu tanpa sadar. Dia, bahkan tidak tahu bagaimana caranya kata itu bisa dengan lancar terucap dari bibir tipis miliknya.
"Cie, kamu suka ya sama Wisnu?" Sinta menggoda anaknya karena jawaban 'iya' yang dilontarkan Eleena padanya tadi.
"Nggak Bunda," rengek Eleena.
Sinta tertawa puas membuat Eleena merasa sebal. Satu fakta Sinta itu jahil, rasanya hidup wanita itu tidak tenang kalau dia tidak menggangu Eleena atau Arjuna. Kejahilan Eleena kadang membuat Arjuna kesal tapi Arjuna tidak pernah marah pada istrinya karena dia tahu bagaimana sikap perempuan itu bahkan sebelum mereka menikah. Arjuna sudah mengetahui sikap Sinta sejak perempuan yang sekarang menjadi istrinya ini menjalin hubungan asmara dengan Rama.
"Event? Di taman?"
Sinta mengangguk semangat. "Iya, Nak. Itu buat acara valentine, gimana kalau kamu sama Wisnu pergi bareng ke sana pas valentine. Pasti seru," usul Sinta penuh gairah.
"Nggak!" Suara berat nan tegas itu menginterupsi Eleena dan Sinta yang duduk di sofa kamar. Mereka sontak menengok ke arah pintu kamar. Pintu itu terbuka, tidak tertutup dan di ambang pintu berdiri Arjuna dengan tatapan tajam dan rahang tegas.
"Ayah nggak mau kamu deket-deket lagi sama Wisnu," pinta Arjuna tapi malah terdengar seakan perintah yang jatuhnya ke dalam ranah pemaksaan.
"Juna, Wisnu itu temennya El. Bolehin dong El main sama dia, El butuh refreshing." Sinta berucap sembari menghampiri Arjuna yang masih setia berdiri di ambang pintu kamar Eleena tanpa bergerak sedikitpun dari sana.
"Aku pulang nggak berarti nggak, Sin," tegas Arjuna.
"Loh kenapa? Wisnu sama El kan temen, biarin mereka pergi bareng. Biar anak kamu nggak di rumah terus." Sinta masih terus memberi balasan untuk argumen Arjuna agar pria itu tidak terlalu tegas dan memberikan hawa menakutkan di kamar Eleena.
__ADS_1
"Mau dia temennya El, mau bukan, aku nggak suka sama dia. Dan aku nggak mau anakku kena pengaruh buruk dia." Arjuna melenggang pergi dari sana begitu saja setelah dia rasa dia sudah selesai mengucapkan kalimat yang seharusnya dia katakan sejak dulu.
"Juna!" jerit Sinta memanggil Arjuna tapi orang yang dipanggil tidak merespon sama sekali.
Eleena sedikit menundukkan pandangan. Yang dikatakan oleh Wisnu benar, Arjuna tidak menyukainya. Dan mungkin alasannya itu karena Wisnu adalah anak Rama. Arjuna tidak menyukai Rama dan segala hal tentang pria itu termasuk anaknya begitu juga dengan Rama. Tapi kenapa mereka malah menjalin kerjasama, ini sedikit membingungkan.
Sinta menatap punggung Arjuna yang perlahan menghilang setelah dia berbelok masuk ke ruangan lain di rumah besar mereka. Setiap orang punya alasan ketika dia tidak menyukai orang lain. Begitu juga Arjuna, pria itu punya alasan kuat mengapa dia bisa tidak menyukai Wisnu. Karena masalah puluhan tahun lalu yang terjadi antara Arjuna dan Rama hubungan mereka berdua renggang sampai sejauh ini. Karena masalah Arjuna dengan Rama, Arjuna sampai tidak menyukai Wisnu. Karena Sinta tahu, kalau Wisnu adalah anak Rama. Ya, Arjuna tidak menyukai Wisnu karena Wisnu adalah anak dari Rama—lelaki yang pernah memberi luka dan menghancurkan kepercayaan Arjuna.
...***...
"Gimana kalau kamu sama Eleena pergi ke event taman yang diadain di hari valentine?"
Usulan Rama yang entah sejak kapan berada di kamar Wisnu sedikit membuat lelaki berumur 20 tahun itu terlonjak dari tidurnya. Wisnu menatap Rama bingung, dia baru saja memejamkan matanya sampai akhirnya usulan Rama membuat Wisnu kelewat kaget.
"Ini tanggal 12 Februari." Rama melihat kalender kecil di atas nakas kamar Wisnu. "Papa mau, tanggal 14 Februari bertepatan sama valentine kamu ajak Eleena untuk jalan-jalan di taman," lanjutnya.
"Taman?"
"Taman yang pernah Papa tunjukin waktu kita pulang dari ketemu klien."
Ah, taman itu rupanya. Wisnu tahu taman itu karena dia menyimpan anak kucingnya di sana.
"Pa—"
"Pas valentine kamu pergi bareng sama Eleena, nggak ada bantahan." Rama menutup pintu kamar Wisnu benar-benar tidak memberi lelaki malang itu untuk membantah ataupun memberi sanggahan.
Wisnu mengacak rambutnya frustasi. Semua semakin sulit sekarang, dia pikir dengan dia berpacaran dengan Eleena dan mengenalkannya pada Rama semua masalah sudah selesai. Namun Rama malah mau membuat hubungan Wisnu dan Eleena sejauh itu. Mereka sudah berbicara, bersikap layaknya seorang kekasih dan sekarang harus berkencan layaknya kekasih juga.
Wisnu kembali merebahkan tubuhnya, menatap langit-langit kamar. Hidup Wisnu kacau, dia sekarang harus memutar otak agar Eleena mau diajak untuk pergi bersamanya. Rama itu menyusahkan, dan itu fakta.
__ADS_1