
Seorang gadis dengan kacamata bertengger di hidung menatap ke arah air mancur di sebuah taman. Sampul sebuah novel yang sepertinya novel romance terlihat, buku itu terbuka. Tangan gadis itu memegangi novel yang terbuka itu menghadapkannya ke depan matanya. Iris cokelat gadis itu terpaku pada novel yang sedang ia baca ini. Sedikit senyum tertampil, namanya juga novel romance sangat tidak mungkin kalau tidak tersenyum ketika membacanya.
Salah satu kakinya dinaikkan ke atas kaki lain. Kedua kaki beralaskan flatshoes cokelat senada dengan celana cokelatnya juga baju berwarna cream, jangan lupa ada tambahan pita cokelat muda di atas rambutnya.
Eleena menaikkan kacamatanya yang turun, mata gadis itu tidak bisa lepas dari cerita yang sedang ia baca. Butuh waktu untuk Eleena kembali mendapatkan niat bacanya ini. Beberapa hari lalu saat hujan malam melanda Eleena kehilangan minat untuk membaca novel yang sedang ia pegang. Namun sekarang niat baca itu kembali datang, apalagi saat perjalanan menuju ke taman ini, Eleena melihat sepasang kekasih tengah berjalan berdua sambil berpegangan tangan dan satu tangan perempuannya terdapat eskrim.
Eleena menutup novelnya setelah meletakkan bookmark di dalamnya. Gadis itu menatap indahnya air mancur di tengah taman. Eleena membayangkan seandainya dia punya kisah cinta yang indah layaknya keindahan air mancur di taman kota. Seandainya Eleena bertemu dengan laki-laki yang sering ia temukan di dalam novel. Seandainya Eleena bisa berjalan, menikmati senja, dan bercengkrama bersama, menilai dunia dengan sudut pandang yang bahagia bersama kekasihnya. Eleena menghela napas, indahnya hidup Eleena kalau dipikiran.
Gadis itu memasukkan novel ke dalam Totebag. Dia bangkit dari duduknya berjalan mengelilingi taman di sore hari. Taman yang sudah diisi oleh berbagai makhluk, termasuk manusia. Setiap Eleena berjalan, yang dia lihat hanyalah sepasang kekasih sedang menghabiskan waktu bersama. Ya, biasalah malam ini, kan malam weekend atau orang-orang menyebutnya 'malam minggu'. Sore saja, taman ini sudah diisi oleh banyak muda-mudi berpacaran bagaimana dengan nanti malam. Suasana taman di malam hari justru lebih indah lagi. Ada lampu warna-warni di bagian air mancur, ada banyak pedagang kaki lima yang menjejerkan dagangannya di depan taman, bahkan katanya sebentar lagi akan ada event khusus untuk sepasang kekasih.
"Nanti pas valentine day bawa aku ke sini ya, bakal ada acara khusus buat orang-orang yang pacaran. Kamu tau, nanti kita bakal di kasih tantangan, kejutan yang saling menguji kesetiaan. Ajak aku ke sini ya, Sayang," pinta gadis itu dengan sedikit rengekan pada laki-laki di sebelahnya. Laki-laki itu hanya mengangguk, dia menggandeng tangan gadisnya dan mereka berlalu melewati Eleena yang sendirian.
Itu event yang Eleena maksud. Mungkin pada saat Valentine day nanti, Eleena tidak akan ke tempat ini. Apa yang harus si jomblo Eleena lakukan ketika Valentine day, mungkin dia akan melihat para gadis dengan kekasihnya masing-masing bermesraan menikmati event ini dan Eleena akan merasa kalau dirinya buruk karena tidak punya kekasih.
Eleena kembali mendudukkan diri di kursi taman. Eleena menghela napas berat. "Kapan ya gue bisa punya pacar, pengin deh," ucap Eleena, kembali mengedarkan pandangan pada muda-mudi yang berpacaran.
"Kenapa nggak ada yang mau sama gue? Apa gue seburuk itu ya buat disukai, kenapa sih cowok-cowok itu nggak ada yang bener-bener tulus gitu sama gue. Gue pengin dapat cowok yang bisa ngasih gue kebahagiaan dan buat gue ngerasa spesial, dan bahagia setiap harinya. Gue juga pengin laki-laki yang rela menentang apapun cuma demi gue." Eleena menutup mulutnya segera, ketika dia sadar kalau ia berbicara sendiri lagi kali ini.
Sinta selalu mengatakan kalau Eleena harus menghilangkan kebiasaan buruknya berbicara sendiri. Namun, itu sulit, Eleena sudah berkali-kali mencoba untuk tidak berbicara pada diri sendiri lagi, tapi setiap kali Eleena merasa bosan seperti ketika dia mengendarai mobil pasti Eleena akan bertingkah layaknya dia punya podcast besar dan harus mengisinya segera. Atau ketika Eleena berada di kamar sendirian, pasti dia akan bertingkah layaknya seorang ratu yang memerintah bawahannya padahal dia hanya berbicara pada boneka-boneka di kamar.
"Kenapa gue bisa gila, ups." Berbicara sendiri lagi, Eleena lelah dengan kegilaannya ini.
__ADS_1
Eleena bosan, lebih baik dia pergi dari tempat ini. Eleena mengambil langkah dari sebelah kiri, sedikit menundukkan pandangan hingga tidak melihat seorang laki-laki dengan plastik kresek tertenteng di tangan, berlari ke arahnya.
"Awas!" teriak lelaki itu, namun belum sempat Eleena menghindar dia menabrakkan tubuhnya pada lelaki itu. Mereka berdua terjatuh, di depan air mancur sebagai saksi bisu dengan beberapa pasang mata melihat adegan itu dengan kata lucu.
"Jalan lihat-lihat dong, elah!" Eleena menyingkirkan anak rambut yang menutupi matanya, dia mengenal suara ini. Suara ini bukanlah hal asing lagi. Cara dia berbicara, kasar dan tidak sopan, Eleena tahu itu.
Lelaki itu berdiri, menepuk-nepuk bawah kaosnya yang kotor karena terkena debu. Eleena perlahan menaikkan pandangan, dan dia benar itu Wisnu, laki-laki menyebalkan yang sering Eleena temui di kampus. Lelaki jangkung yang berdiri di depannya sambil membersihkan kaosnya yang kotor. Laki-laki yang selalu menutupi jidatnya dengan poni.
"Lo?" Itu pertanyaan Wisnu begitu dia mendapati wajah Eleena tengah menatapnya. "Lo kebiasaan ya, di manapun nggak pernah bisa jalan yang bener. Udah gue bilang awas masih aja nabrak, lo mau apaan sih, cewek rese?"
"Heh, cowok songong daripada lo ngomel mulu, bantuin gue sakit nih."
"Nggak," tolak Wisnu, mentah-mentah.
Eleena menggapai uluran tangan Wisnu, dia berdiri dengan dibantu uluran tangan Wisnu. "Minggir, gue buru-buru." Wisnu melewati Eleena begitu saja.
Eleena memandangi punggung Wisnu yang cepat sekali menghilang dari pandangan. Plastik kresek yang sedari tadi menarik perhatian Eleena. Mau apa lelaki itu sampai-sampai harus menenteng kresek di tangan.
Eleena mengikuti ke mana Wisnu pergi dengan mengandalkan ingatan, arah mana yang Wisnu ambil, pasalnya lelaki itu sudah menghilang bak ditelan bumi.
Ingatan Eleena tentang ke mana arah Wisnu pergi, membawanya ke ujung taman. Mata Eleena diedarkan untuk mencari keberadaan Wisnu. Eleena menyipitkan matanya untuk bisa melihat sosok laki-laki berjongkok membelakanginya, seakan sedang bermain dengan sesuatu. Eleena yakin, itu pasti Wisnu.
__ADS_1
Eleena menghampiri lelaki itu. Wisnu yang berjongkok dan Eleena yang masih berdiri mampu membuat Eleena melihat aktivitas yang sedang Wisnu lakukan. Wisnu memberi makan beberapa anak kucing terlantar di taman.
"Lo ngapain?" Eleena tak kuasa untuk tidak berbicara. Gadis itu memutari tubuh Wisnu untuk bisa berjongkok di hadapan lelaki itu. Dan sekarang, 3 anak kucing yang sedang makan di suatu wadah berada di tengah-tengah.
"Menurut lo gue ngapain?" Wisnu selalu saja ketus, ini yang tidak Eleena suka dari lelaki ini.
"Lo suka kucing?" tanya Eleena saat Wisnu mengelus salah satu anak kucing bercorak putih abu-abu.
Wisnu mengangguk, menuangkan makanan ke dalam wadah tadi. "I like cat but my dad don't like it. Padahal mereka lucu, tapi nggak bisa gue bawa pulang ke rumah."
Eleena manggut-manggut, dia kembali mengajak pandangannya untuk berkeliling di sini. Seakan gadis itu sedang mencari sesuatu tapi tidak ketemu.
"Kucing-kucing ini, tinggal di mana? Terlantar, kasian ya," ucap Eleena.
"Tuh." Jari telunjuk Wisnu menunjuk ke sebuah kandang yang berada di belakang Eleena dengan tutupan rerumputan di atasnya. Eleena berbalik badan, kembali menyipitkan mata untuk melihat kandang di belakang, maklum Eleena ini rabun. Mungkin minus kacamatanya bertambah, makanya belakangan ini Eleena tidak terlalu jelas melihat sesuatu.
"Gue taruh kandang mereka di sana. Gue udah lama kenal sama tiga anak kucing ini, entah ke mana induknya, gue jadi kasian makanya gue rawat. Gue sering juga ngunjungi mereka di sini, ya palingan tiga hari sekali untuk ngasih makan. Terus sisanya kucing-kucing ini diurus sama pelayan gue. Kalau aja bokap gue nggak alergi sama kucing, udah gue bawa pulang imut tiga ini," lanjut Wisnu.
"Gue nggak tau lo punya sisi pecinta hewan."
"Gue bukan pecinta hewan, tapi lebih ke pecinta kucing aja. Nggak semua hewan gue suka," balasnya.
__ADS_1
Wisnu mengelus-elus bulu anak kucing itu bergantian. Eleena hanya diam melihat aktivitas lelaki yang asik bermain dengan kucing-kucing ini. Eleena tanpa sadar memunculkan senyum, jarang sekali dia bertemu dengan lelaki pecinta kucing. Dan ketika Eleena menemukannya, ternyata dia Wisnu. Laki-laki menyebalkan, sok, angkuh dan kelewat kasar, ternyata memiliki sisi lain seperti ini.
Memang ya, semua orang mempunyai sisi lain masing-masing, tapi Eleena tidak menyangka kalau sisi lain Wisnu seimut ini.